
Rena telah menyelesaikan wisudanya. gelar sarjana telah Ia sandang. dimana Hanif menginginkan gelar itu tertulis dikartu undangan.
Rena pamit sekejap kepada paman Rasyid dan bang Nisar untuk pulang kampung. setelah melepas rindu Ia berjanji akan balik lagi ke medan untuk memjenguk paman Rasyid.
setelah mendapat ijin dari semuanya, Rena akhirnya pulang juga. Ia rindu akan kampung halamannya yang telah lama tak pernah Kembali.
Ia memilih untuk naik kereta Api. setelah jadwal keberangkatan tiba, Rena sudah mendapatkan nomor kursinya. melalui perjalanan 5 jam lamanya, akhirnya Ia sampai di stasiun. kampung halaman.
Toni sudah menunggunya sejak tadi didepan pintu gerbang stasiun, melihat kedatangan kereta, Ia begitu sangat bahagia, karena sudah lama tak bertemu dengan kakaknya.
Rena telah berada di pintu gerbang stasiun. Ia menghampiri Toni, adik bungsu yang memiliki banyak jasa dalam kehidupannya.
"kak...apa kabar..selamat ya atas wisudanya?" ucap Toni sembari menyalim tangan kakaknya.
"makasih adikku yang paling baik sejagad raya.." balas Rena dengan senyum sumringah. Rena begitu senang bertemu dengan adiknya, tentu juga karena Ia dapat kembali ke kampung.
****
Mereka telah sampai didepan rumah. Munah orang pertama yang menyambutnya dengan sejuta rasa rindu pada anak gadisnya.
"assallammualaikum bu.." ucap Rena sembari memeluk Munah Ibunya. rasa rindu yang mendalam membuat Munah terisak dalam pelukan Rena. Ia juga bangga, karena akhirnya Rena lulus kuliah tepat waktu.
Rena melepaskan pelukannya. memberikan oleh-oleh bingka Ambon khas Medan, yang menjadi makanan favorite Munah.
"terimakasih sayang..?" ucap Munah sembari mencium pipi Rena, dan Rena membalasnya dengan senyuman.
"ayo masuk sayang.." ucap Munah sembari menggandeng tangan Rena. saat melangkah masuk, terdengar handphone berdering. sebuah nama 'My Love', jika waktu pertama berkenalan Ia memberi nama 'Hai' kini Ia telah mengubahnya.
Rena tersenyum senang mendapat telefon tersebut. Munah dan Toni saling pandang melihat tingkah Rena. "hai..kak..aku sudah sampai dikampung, dan ini bersama ibu.." ucapnya dengan nada manja.
Munah masih penasaran dengan siapa Rena menelefon, karena Ia dan bang Nisar sengaja merahasiakannya, untuk memberikan surpise.
"boleh bicara pada ibu..?" ucap Hanif dari seberang telefon.
"boleh...ne aku berikan sama ibu ya..." ucap Rena sembari memberikan handphonenya ke ibunya.
Munah yang penasaran dengan orang diseberang telefon, meraih handphone Rena. lalu menempelkannya ditelinganya, Toni yang sedari tadi penasaran mengambil handphone tersebut, lalu me-loudspeakerkannya.
__ADS_1
"Hallo ..assallammualaikum..bu.." suara lembut Hanif dari seberang telefon.
"Hallo..waalaikum salam..dengan siapa ini..?." jawab Munah kembali.
"perkenalkan bu...saya Hanif..teman dekatnya Rena.." ucap Hanif dengan lembut dan sopan. siapa saja yang mendengarnya akan terpukau.
"oh..ya..sudah berapa lama menjadi teman dekat Rena..?" ucap Munah dengan hati-hati..
"baru 2 minggu bu..tapi berniat untuk serius.." ucap Hanif, yang membuat Munah terperangah..
"ma..maksudnya nak Hanif apa ya..?" ucap Munah penasaran, begitu juga dengan Toni.
Munah dan Toni saling pandang, mereka melihat kearah Rena meminta jawaban dati ucapan Hanif.
"Insya Allah, sebulan lagi saya berkunjung kerumah ibu..? untuk memperkenalkan diri.." ucap Hanif dengan nada keseriusannya.
"haaah..?" tak hanya Munah dan Toni yang terkejut. namun Rena juga. karena Hanif tak pernah memberi tahunya. Ia hanya mengatakan akan datangn3 bulan lagi untuk membawakan hantaran belanja.
"semoga niat baik kamu dibalas Allah dengan kebaikan.." jawab Munah dengan lembut.
"terimakasih bu..sudah dulunya bu..masih ada pekerjaan..salam kenal dari saya..assalammualaikum" ucap Hanif dengan sopan.
Rena menundukkan kepalanya.."apakah ibu marah..?" ucap Rena dengan lirih.
Munah mendekati Rena.."bagaimana mungkin ibu bisa marah, jika niat puteri ibu menjalankan perintah sunnah untuk menikah.." jawab Munah dengan sarkas..
Rena menayapa ibunya.."jadi ibu setuju kalau kak hanif menikahi Rena..?" ucapnya sembari tersenyum.
Munah menganggukkan kepalanya.."mana mungkin ibu menolaknya, dengan mendengar suaranya saja ibu bisa memastikan dia pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidup kamu.." ucap Munah sembari memeluk puterinya.
Ia tak menyangka, puterinya sebentar lagi akan memjalani kehidupan yang baru, dimana Ia akan belajar apa artinya bertanggungjawab pada sebuah kehidupan pernikahan.
Rena melepaskan pelukannya.."Rena lapar bu..boleh minta dimasakin ikan mas Arsik ya..?" ucap Rena manja..
"ye...baru datang mintanya yang aneh-aneh saja. ucap Toni sembari memanyunkan bibirnya.
Rena menyikut siku Toni.."biarin..weee..." Rena balas memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"boleh..tapi besok ya..kalau hari ini gak sempat" ucap Munah dengan bujukan..
Rena mengangguk menyetujui.."makasih bu...."ucap Rena, sembari mengecup pipi kanan Munah.
***
Esoknya Munah kepasar, Ia membeli seekor ikan Mas berukuran tujuh ons. Ia akan memasak ikan mas arsik sesuai permintaan Rena, Ia mencari biji Andaliman, yang menjadi syarat khusus untuk resep bumbu Arsik karena tanpa Andaliman, itu bukan masak Arsik, tapi asam pedas biasa.
ini rempah khas dari daerah batak, biji Andaliman. Ia memiliki aroma khas dalam membuat masakan.
setelah selesai berbelanja Munah mempersiapkan sekuruh bahan-bahannya. mengolah ikan Mas dengan nama ikan mas Arsik, yang menjadi ciri khas masakan suku batak.
jika pembaca berjalan ke kota Medan cobalah masakan khas yang satu ini, dijamin akan ketagihan.
dan ini hasil ikan mas arsik, masakan khas batak dengan campuran biji rempah andaliman. dengan menambahkan kecombarang, daun kucai, dan kacang panjang. bumbunya hampir mirip asam pedas, namun yang membedakannya adalah andalimannya.
Munah memasaknya dengan penuh cinta seorang ibu. sehingga masakan itu bertambah nikmatnya.
Rena memperhatikan semua yang dikerjakan ibunya, karena Ia sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Ia harus belajar memasak dari ibunya.
setelah selesai, Munah menyajikannya khusus untuk Rena, " semoga kamu senang ya dengan masakan ibu" ucap Munah dengan senyum kharismanya.
"semua masakan ibu, Rena pasti suka..kita makan bareng-bareng ya bu..sekalian Toni juga.." ucap Rena, sembari menyendokkan nasi ke piringnya, Ia sudah tak sabar untuk makan, aroma masakan itu begitu menggugah selerahnya.
saat sedang asyik makan, Handphone Rena berdering..sebuah pesan masuk, Rena membukanya. pesan dari nomor baru, namun Ia tau siapa yang mengirimnya.
Rena menjadi gemetar, Toni yang sedang makan bersama mereka menjadi penasaran, lalu dengan cepat menyambar handphone milik kakaknya. Ia membaca isi pesan yang membuat wajah kakaknya berubah pucat.
"brengsek..masih berani juga Ia mengganggu ketenangan kak Rena.." tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu.." Toni berguman dalam hatinya.
Ia merasa bahwa pria yang mengirimi pesan tersebut sudah sangat keterlaluan. jika tak dihentikan, maka akan sangat menganggangu mental kakaknya.
"setelah ini kakak harus ganti nomor. itu jalan terbaik." ucap Toni dengan tegas.
__ADS_1
Rena mengangguk. isi pesan itu telah menganggangu selera makannya.