Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Pov Paman Rasyid


__ADS_3

""ambilkan air minum" ucap Paman Rasyid lemah.


"tapi takarannya tidak boleh ditambah bang" jawab tante Marti dengan lembut.


"tapi aku sangat haus sekali" rengek paman Rasyid.


Tante Marti merasa serbah salah. takaran minum untuk penderita gagal ginjal tidak boleh melebihi dari yang disarankan dokter. Karena akan berdampak sangat fatal.


Setiap hari, paman Rasyid hanya boleh meminum air dengan takaran 120 ml/harinya.


Setiap kali makan, hanya 30 ml saja, dan selingan tengah hari 30 ml.


Lalu bagaimana kita yang masih sehat terkadang abai dalam meminum air, semua untuk menyehatkan fungsi ginjal. Manusia yang sehat ginjalnya disarankan meminum air juarang lebih 5 liter perharinya Karena ketika ginjal rusak, Ia tidak dapat mengolah kelebihan air putih


Rasa haus itu membuatnya sangat tersiksa.


Tiba-tiba saja, Tante Marti merasa sesak buang air. Ia bergegas ke kamar mandi.


Kesempatan itu dimanfaatkan paman Rasyid untuk mengambil air minum yang terdapat diatas nakas.


Ia meminumnya dengan segera, dengan sepuasnya. Tanpa mengindahkan aturan dokter. Ia seperti orang yang sangat dahaga.


Namun tiba-tiba saja paman Rasyid merasa sesak. Ia kesulitan bernafas.


Tante Marti yang baru saja keluarvdari kamar mandi, melihat Pamana Rasyid seperti kesulitan bernafas. Ia terperangah, lalu tergesah-gesah menghampiri suaminya.


"bang... Kenapa bisa begini bang..?" tante Marti tampak kalut. Ia melihat air didalam teko berkurang banyak.


"astahhfirullah halladzim.." ucap Tanye Marti lemah. Ia dapat menebak jika Suaminya telah ceroboh menghabiskan air minum dengan menyalahi aturan dokter.


Tante Marti segera menelefon bang Nisar. "sayang.. Kamu dimana?" ucap Tante Marti dengan perasaan kalut.


"ada apa Ma..?" jawab Nisar dari seberanga telefon.


"cepat pulang, papa kamu kesulitan bernafas." perintah tante Marti, Lalu mematikan sambungan telefonnya.


 


Tante Marti dan bang Nisar segera melarikan paman Rasyid ke tumah sakit. Dokter segera menanganinya.


Hasil pemeriksaan Ialah, jkka paman Rasyid kelebihan cairan. Sedangkan ginjalnya tak mampu mengolah dan melarutkannya. Sehingga berimbas pada paru-parunya yang terendam cairan tersebut.

__ADS_1


Dokter telah mengupayakan penyelamatan. Namun takdir berkata lain, Paman Rasyid tak mampu melawan penyakitnya. Ia menyerah pada Takdirnya.


Paman Rasyid menghembuskan nafas terakhirnya, dengan membawa penyakit yang dideritanya. Semoga mati syahid.aamiin.


~ada beberapa orang yang dikategorikan mati syahid. Mati berperang dijalan Allah, mati melahirkan, mati karena penyakit, mati tenggelam. Namun semua itu tidak akan mendapatkan kemuliaannya, jika yang meninggal tersebut masih memiliki sangkutan hutang terhadap manusia yang lain. Maka jangan bermain-main dengan hutang~


Tante Marti merasakan dunianya berputar. Pandangan menjadi gelap. Lalu Ia tak sadarkan diri. Nisar membopong tubuh ibunya. Kini kerepotannya menjadi bertambah. Ia meminta Ocha istrinya untuk mengurus seluruh administrasi pemulangan jenazah papanya. Karena Nisar juga lagi menangani Mamanya yang tak sadarkan diri.


 


Seluruh keluarga dihubungi. Kabar menyebar terus, hingga akhirnya sampai kepada Rena.


Sebelum kejadian paman Rasyid meminum air itu. Ia sempat menanyakan Rena pada tante Marti.


"Rena bagaimana kabarnya Dik?" ucapnya lemah.


"baik bang. Kan baru saja berpamitan tadi sama abang.?" jawab tante Marti lembut. Tap Ia merasa aneh dengan suaminya, karena seolah tidak mengingat apa yang baru saja dilaluinya.


"berapa anaknya sekarang..?" tanyanya lagi.


Tante Marti melengus lemah. "dua bang. Kan tadi anaknya ikut salim sama abang?" jawab Tante Marti dengan sabar.


"kenapa bang Rasyid tiba-tiba bertanya tentang Rena.? Padahal baru saja Rena berpamitan dengannya. Apakah Bang Rasyid menjadi pulikun akut..?" Tanye Marti berguman lirih pada hatinya.


"Abang merasa lega jika Ia sudah menikah. Karena tugas abang sebagai pengganti ayahnnya sudah selesai." ucapnya dengan lirih.


"belum selesai bang.. Kan anaknya masih kecil. Jadi pengen main sama kakeknya. abang juga cerita pengen main kerumahnya. Makanya cepat sembuh, biar kita bisa main kesana." ucap Marti dengan perasaan sakit. Karena Ia tau, tingkat kesembuhannya tidak mungkin, kecuali cangkok ginjal.


Dan perobatannya selama ini hanya untuk memperpanjang fungsi ginjal tersebut saja. Namun untuk sembuh jauh panggang dari api. Atau juga istilahnya, sangat tidak mungkin terjadi.


"Abang merasa cukup puas bisa menjadi saksi dipernikahannya. Semoga suaminya menyayanginya, kasihan anak itu, dari kecil sudah menjadi seorang yatim" ucapnya lirih.


"Abang kenapa bahas Rena.? Abang Masih kangen sama Rena? Kalau Iya, biar ditelefonkan, agar Rena menginap disini beberapa hari lagi." ucap tanye Marti lembut.


Paman Rasyid hanya diam tak bergeming. Pandangannya tetap kosong.


"Jangan. Kasihan dia, merawat dua anak kecil sangat repot." jawab Paman Rasyid datar.


"ya kalau masih kangen biar ditelefonkan." sebelum mereka sampai ke Bandara." ucap Marti dengan lembut.


Paman Rasyid masih diam.

__ADS_1


"suaminya siapa namanya.?" tanya Paman Rasyid ngelantur.


"Hanif" jawab Marti singkat.


"sampaikan pada Hanif, jangan pernah meyakiti hati Rena. Dan katakan pada Hanif untuk menjaga Rena dengan baik, Kasihan dia." jawab paman Rasyid lirih.


"iya, nanti disampaikan." ucap Marti


"kapan pergi..?" tanya Paman Rasyid ngelantur.


" pergi kemana?" jawab Marti bingung.


"ya pergi jauh.. Jalan-jalan gitu" ucapnya datar.


[deeeeegh]


jantung Marti serasa ingin copot, entah mengapa perasaannya sangat tidak enak saat ini.


Ia menatap suaminya yang terlihat seperti berbeda dari biasanya. .


"abang haus. Ambilkan minum" ucap Paman Rasyid dengan memohon.


"tapi sehabis makan tadi sudah minum?. Abang tidak boleh minum melebihi takaran yang dianjurkan dokter." jawab Marti dengan sabar.


"tapi abang sangat haus.." ucapnya memohon.


Dan akhirnya semua terjadi tanpa ada yang mengetahuinya.


-----------


Rena sampai ke kota Medan. Saat Ia sampai, jenazah sudah dikebumikan 30 menit sebelum Ia sampai dirumah duka.


"pa...man.." ucap lirih. Bahkan Ia tak melihat pamannya untuk yang terakhir kali.


Ia menangis dengan isakan tertahan. Hatinya begitu sakit. Andai saja Ia mendengarkan perkataan Hanif beberapa jam yang lalu mungkin Ia akan menyaksikan saat-saat terakhir pamannya.


Ia sangat memyesalinya. Namun waktu tak dapat diputar ulang. Menyesal diakhir tiada guna. Nasi sudah menjadi bubur. Namun bubur itu masih bisa diolah menjadi bubur ayam.


Rena menuju kamarnya yang pernah Ia tempati waktu itu. Ia mengambil wudhu, lalu membacakan wirid yasin, yang Ia khususkan untuk Pamannya. Dengan derai mata yang yak mampu Ia bendung.


Setelah selesai membaca suratul Yasin. Ia bergegas menuju makam paman Rasyid, membawa taburan bunga dan air untuk ziarah.

__ADS_1


Sembari membaca hadiah suratul Fatiha, Rena menatap makam itu dengan nanar. Laku Ia menaburkan bunga rampai yang dibawanya.


"terimakasih atas segala kebaikanmu selama ini paman, semoga yang engkau berikan kepadaku, menjadi amal jariyah yang menyelamatkanmu dialam kubur. aamiin." Rena menutup doanya.


__ADS_2