
Pagi ini semua tampak berbahagia, digedung hotel yang telah disewa sebagai penyelenggara acara resepsi sudah menggelar acara dengan sangat mewah sesuai dengan permintaan yang punya hajatan.
Adillah tampil begitu sangat anggun. Begitu juga halnya dengan Ridwan, sudah tampak gagah dengan balutan pakaian pengantin adat melayu.
Sedangkan Rena dan Hanif beserta besannya menggunakan seragam keluarga. Dimana wanita memakan brokat berwarna peach tua berpadu dengan kain songket untuk bawahannya. Sedangkan para pria memakai atasan berbahan kain songket, termasuk Khanza dan keluarga inti lainnya.
Dekorasi pernikahan didominasi dengan putih gading dengan biru peach muda, sehingga senada dengan seragam keluarga.
Saat acara sedang berlangsung, seorang wanita berusia 40-an tampil begitu menawan dengan balutan brokat dan kain songket yang senada dengan tuan rumah. Ia datang sembari mendorong sebuah kursi roda, dimana seorang gadis cantik duduk diatasnya dengan kondisi yang dipaksa untuk bersemangat.
Meskipun Ia dalam kondisi pesakitan, namun setelah mengetahui jika gadis yang selama ini selalu menolong mereka merupakan saudarinya, maka Ia tampak begitu ingin menghadirinya.
Dari kejauhan, Rena memanggil seseorang dan membisikkan sesuatu. Lalu orang tersebut menghampiri wanita yang tak lain adalah Wina.
"Bu... Anda diminta naik keatas pelaminan, ada satu kursi untuk orangtua pengantin disana." ucap orang suruhan tersebut.
Seketika ajah Wina bersemu merah, Ia tidak menyangka hati Rena begitu putih, bagaikan salju, begitu lembut.
Wina memandang Rena dari kejauhan, lalu Rena menganggukkan kepalanya, dengan senyum tipisnya. Namun Ia bingung dengan Duma, tidak mungkin Ia meninggalkan gadisnya itu sendirian tanpa teman.
"Ibu tenang saja, saya akan menemaninya selama Ibu berada disana" jawab orang suruhan tersebut.
Wina bernafas lega, lalu Ia melangkah menuju pelaminan dan duduk di sisi Rena "Terimakasih, atas segalanya" ucap Wina tak mampu berkata-kata.
"Dia puterimu, dan juga puteriku, maka kamu juga memiliki hak yang sama" jawab Rena dengan lembut.
Hanif sebenarnya merasa jengah dengan kehadiran Wina, namun genggaman jemari Rena membuatnya luluh tak berdaya, ya... Wanita itu selalu saja membuatnya menuruti apa saja yang diinginkannya, baginya Rena bagaikan madu, manis namun menyehatkan, dan Ia tak dapat menolak apapun keinginannya.
__ADS_1
Sementara itu, Duma didampingi oleh orang suruhan tadi dan didorong menuju meja undangan.
Pria yang tak lain seorang bodyguard tersebut membawakan Duma berbagai makanan dan meminta Duma untuk menikmatinya. Namun sakit yang dideritanya membuat selera makannya menurun dan Ia menderita sariawan yang berkepanjangan, sehingga sulit untuk menelan makanan.
Saat acara sedang berlangsung dengan meriah, tiba-tiba bodyguard itu mendapat panggilan penting "Aku tinggal sebentar ya Dik, ada telefon penting" ucap bodyguard itu dengan sopan.
Duma hanya mengangguk lemah. Sementara itu, acara foto bersama akan berlangsung. Wina meminta ijin kepada Rena untuk mengikut sertakan puterinya yang kini sedang berada dikusri roda.
Rena mengangguk mengijinkan. Namun Wina tampak kebingungan untuk membawa Duma keatas pelaminan.
Saat itu, Seorang pemuda tampan datang menawarkan bantuan "Bisa saya bantu, Bu?" ucapnya sopan.
Wina merasa senang, akhirnya ada yang membantunya, dan Ia meyakini pemuda itu keluarga inti, karena memakai seragam yang sama.
Duma menoleh kearah belakang, mencari sumber suara yang sepertinya sangat Ia kenal. Seketika raut wajahnya berubah drastis, Ia tak menyangka jika akan bertemu pemuda pujaaannya ditempat ini.
Tanpa pemikat sukma, Pemuda itu menggendongnya menaiki pelaminan ala bridal. Hatinya begitu berdegub kencang, Ia tak hentinya memandang wajah tampan itu sembari mengalungkan tangannya dileher sang pemuda, meskipun pemuda itu tampak memandang fokus jalan yang akan dilalui mereka.
Duma tampak terhuyung, lalu Khanza membantunya tetap tegak, memegang pinggang ramping sang gadis agar tidak sampai tersungkur.
Tindakan refleks yang dilakukan Khanza membuat Duma tak mampu berkata-kata, hatinya kini begitu sangat bahagia.
Setelah pemotretan selesai, Khanza membawa Duma kembali ke kursi rodanya, lalu mendorongnya ketempat semula.
Khanza ingin beranjak pergi, namun suara lirih Duma menahannya "Terimakasih" ucapnya dengan lirih, Ia masih bagaikan mimpi dapat bertemu pemuda itu.
Khanza menatapnya dengan tenang, lalu memberikan senyum manis pertamanya. Sesaat degub jantung Duma berdetak 10 kali lebih kencang, Ia tersenyum bahagia, tak pernah Ia merasakan sebahagia ini.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, bodyguard tersebut datang dan meminta maaf karena terlalu lama bertelefon.
Lalu Khanza berlalu pergi, dan gadis itu menatap kepergian sang pemuda dengan tatapan nanar hingga pemuda itu menghilang dari pandangannya.
Duma kembali didorong ke meja tamu semula, Ia merasa lapar, tidak seperti biasanya yang selera makannya berkurang drastis, namun pertemuannya dengan Khanza membuatnya menjadi lapar.
Ia mengambil beberapa makanan yang tadi dibawakan oleh bodyguard tersebut, Ia mulai mengunyahnya dengan lembut, terkadang Ia tersenyum sendiri, mengenang sikap manis Khanza barusan.
Adillah tampak akan berganti pakaian pengantin lainnya, Ia sudah turun dari pelaminan dan bersiap dengan pakaian lain. Sementara itu, Wina juga turun untuk menemui Duma.
Sesampainya disisi Duma, Wina meminta maaf karena sudah meninggalkannya " Maaf sayang, Ibu meninggalkanmu seorang diri" ucap Wina merasa bersalah. Namun Duma merasa tidak keberatan. Lalu Keduanya bercengkrama dan memakan hidangan yang tersedia.
Bodyguard itu meninngalkan keduanya dan beranjak pergi.
Setelah sekian lama, akhirnya Adillah kembali lagi kepelaminan dengan balutan adat Minangkabau yang merupakan suku dari Ibunda Ridwan. Lalu Wina diminta kembali untuk keatas pelaminan.
"Sayang, Ibu harus keatas lagi, kamu tidak apa-apa-kan sendirian" tanya Wina bimbang.
"Tak mengapa Bu, Duma baik-baik saja" jawab Duma meyakinkan.
Lalu Wina bernafas lega, dan Ia kembali ketas pelaminan, untuk menjadi bagian dari orangtua Adillah.
Sementara itu, Adillah tampak tersenyum bahagia, karena Ia sudah dapat menerima kenyataan jika Ia memiliki dua orang Ibu. Ia mencoba menata hatinya, memaafkan segala kekhilafan yang dilakukan oleh Wina terhadapnya dahulu. Ia juga berharap jika Ibunya itu kembali kejalan yang benar dan bertaubat.
Para tamu semakin lama semakin ramai, membuat suasana semakin hiruk pikuk dan menyesakkan.
Hal ini membuat Duma merasa bosan, Ia ingin berjalan-jalan mencari udara segar. Ia mendorong kursi rodanya dengan perlahan, melewati para tamu undangan yang terkadang tal jarang memperhatikannya dengan tatapan miris.
__ADS_1
Duma tak menghiraukan tatapan para tamu yang ditujukan kepadanya, Ia terus mendorong kursi rodanya, hingga sampai melewati gedung resepsi.
Duma kini sudah berada diluar gedung, dan menuju sebuah taman mini untuk menenangkan hati dan fikirannya dari segala hiruk pikuk kemeriahan pesta.