Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
draft


__ADS_3

Duma mengintai melalui koridor Mall. Ia terus memeperhatikan Khanza yang tengah tampak serius dengan beberapa orang. Sepertinya Ia sedang meeting dengan rekan bisnisnya.


Duma tidak pernah merasakan debaran yang begitu memburu didadanya. Selama ini baginya uang dan kesenangan serta gaya hidup hedonisme sudah begitu mengakar pada dirinya.


Namun.. Pemuda itu terlihat berbeda baginya.


Ketika sedang serius menatap pemuda itu, tiba-tiba saja Khanza melirik padanya. Sesaat Duma membulatkan matanya.


Ia merasa sangat kikuk saat dirinya ketahuan sedang mengintai. Seketika Ia menarik dirinya dan merapatkan tubuhnya ke dinding.


Duma menengadahkan kepalanya. Ia memejamkan sejenak matanya, mencoba mengusir bayangan wajah pemuda itu. Ia mengontrol detak jantungnya.


setelah merasakan gemuruh didadanya mereda, Duma melirik jam yang tertera pada layar phonselnya menunjukkan pukul emam sore. Maka Ia harus bersiap ke Bar untuk bekerja.


Duma berjalan menyusuri Mall dan menuju keluar jalanan utama untuk mencari angkutan umum.


Sesampainya di jalanan, sebuah mobil menghampiri tepat disisinya. Pemilik mobil membuka kaca mobil dan tampak seirang pria dewasa sedang menatapnya dengan senyum nakal.


"Bos..? Koq bisa disini..?" tanya Duma sumringah.


"Masuklah.. Kita obrolin didalam mobil." ucap Pria tersebut.


Duma bergegas membuka pintu mobil, lalu masuk kedalamnya.


Pria dewasa yang dipanggil Bos itu menutup kaca pintu mobil. "Sebelum ke Bar sepertinya kita singgah dulu di hotel. Aku sangat merindukanmu baby. " ucap William sang manager Bar, sembari memegang dagu gadis muda itu.


Duma bergeliat manja mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang Manager.


Mereka menuju jalan sisingamangaraja, mencari hotel yang dapat dijadikan tempat untuk memadu kasih.


Sesampainya dihotel yang mereka tuju, mereka melakukan chek in, lalu bergegas masuk kedalam kamar hotel dengan sangat terburu-buru.


Sesampainya didalam kamar hotel, William seperti orang yang kerasukan dan terlihat sangat lapar.


Ia menyergap Duma dengan sangat liar..


"Ow.. Pelan-pelan saja sayang.. Gak perlu terburu-buru seperti ini.." ucap Duma dengan manja, ketika melihat William yang tampak tak sabar saat ingin bercinta dengannya.

__ADS_1


william sudah tak mampu lagi menahan hasratnya yang begitu tampak sangat menggebu. "Kau membuatku begitu gila baby.. Aku selalu membayangkanmu setiap saat dalam hidupku.." ucap William dengan nada parau sembari memeluk erat tubuh Duma.


Duma memanfaatkan situasi tersebut dengan baik. "Sayang.. Aku tidak bisa melayanimu dengan baik jika aku sedang badmood.." bisik Duma dengan nakal ditelinga William.


"Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan mood mu baby.." tanya William tak sabar.


"Aku butuh mobil untuk kendaraanku berangkat dan pulang kerja. Aku tidak mungkin pulang kerja larut malam tanpa kendaraan." Bisik Duma dengan lembut.


William melepaskan pelukannya, lalu mengambil phonselnya.."berikan nomor rekeningmu.." Ucapnya dengan nada serius.


Duma tersenyum licik. Lalu mengambil phonselnya, dan memberikan nomor rekeningnya.


Maka dengan mudahnya, William mengirimkan sejumlah uang dengan nilai yang dapat digunakan untuk membeli sebuah mobil.


Setelah mendapatkan notif dari banking bahwa ada sejumlah uang masuk kerekeningnya, maka Duma tersenyum dengan seringai.


Ia merasa begitu sangat mudahnya untuk mendapatkan uang. Bahkan hanya dengan menjual madu cinta, Ia dapat menjerat siapa saja yang Ia inginkan.. Kecuali seorang pemuda yang sampai saat ini menjadi begitu sangat membuatnya penasaran.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, maka Duma segera memberikan pelayanan full service kepada William, Ia ingin membuat pria itu tidak dapat melupakannya, dan hal itu akan dengan mudah untuk memorotinya.


Duma menyetujuinya, lalu segera bersiap untuk kekamar mandi dan membersihkan dirinya.


William sudah pergi saat Duma sedsng berada dikamar mandi. Ia meninggalkan Duma dan segera menuju Bar.


🐍🐍🐍👻👻🐍🐍🐍


jam menunjukkan pukul 8 malam. Duma terlambat 1 jam dari jam kerjanya, namun Willam sudah memberikan jaminan kepadanya.


Duma berjalan dengan perasaan yang sangat senang. Ingin rasanya Ia libur bekerja hari ini, namun semua sudah dijadwalkan, karena Ia akan menjadi penyambut seorang tamu sepecial yang akan menggunakan Bar tersebut sebagai tempat perjamuan pebisnis.


Duma membawa minuman yang dipesan oleh para tamu. Wisky dan vodka yang berada dinampan Ia bawa dengan lenggokan yang menggoda. Namun diantara minuman berakohol itu, ada satu gelas berisi lemon. Duma merasa sedikit penasaran dengan pemesan tersebut.


William sengaja menjadikan Duma sebagai pengantar minumannya karena Ia yang cukup mempesona diantara para waiters lainnya.


Duma membawa pesanan tamunya dengan penuh pesona, berharap akan ada dari mereka ada yang akan memberikan tips kepadanya.


Ia memasuki ruangan yang menjadi tempat untuk para tamunya itu. Ia menghampirinya para tamu dengan sangat anggun.

__ADS_1


Semua tamu itu terpukau dengan pesona yang ditampilkannya.


Namun Duma penasaran dengan seorang Pria yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.


Duma menuangkan minuman pada gelas yang khusus untuk minuman berakohol tersebut.


Ia memberikannya kepada setiap tamu, namun seseorang berkata "berikan gelas lemon itu pada Tuan Muda.." ucap seorang pria berpakaian hitam itu.


Duma lalu memberikannya. Namun Ia terperangah, karena mengetahui jika Pria itu adalah Khanza.


Khanza menatapnya sejenak, namun segera berpaling dan melanjutkan perjanjian kontrak kerjanya.


Khanza diutus perusahaan Hanif Ayahnya untuk melakukan kerjasama terhadap perusahaan distributor yang berada di negeri Tiongkok.


Duma melihat jika pandangan pemuda itu begitu sangat datar, dan juga dingin.


Seorang tamu meminta untuk menemaninya minum. Entah perasaan apa yang tiba-tiba membuatnya seperti seakan mati kutu.


Ia yang semula berharap mendapatkan uang tips, tiba-tiba menjadi hambar.


Ia menemani tamunya dengan setengah hati. Fikirannya yang terus tertuju kepada khanza yang sedetikpun tak berkesan untuk melihatnya.


Duma semakain geram. Ia terus merafalkan mantra pemikatnya. Berharap Khanza akan terpedaya olehnya.


Namun tampaknya pemuda itu tidak sedikitpun menampakkan kesan yang begitu berpengaruh atas mantranya.


Duma semakin penasaran, hingga Ia tersadar seorang tamu yang sedang dalam pelayanannya telah menyusuri lekuk tubuhnya.


Tak selang berapa lama, Sepertinya Khanza telah selesai melakukan perjanjian kontrak dengan koleganya.


Setelah itu berbasa basi dan saling berjabat tangan dengan rekan bisnisnya.


Khabza beranjak dari duduknya, lalu pergi melintasi Duma dengan tatapan dingin dan datar, bahkan tanpa melihat kepadanya.


Duma yang kini sedang tersudut pada pekerjaannya, merasa gelisah sendiri dengan sikap Khanza yang tampak tidak terpengaruh dengan mantranya.


"Mengapa mantraku tidak berpengaruh padanya..? Bukankah setiap orang yang terkena mantraku akan bertekuk lutut dan memberikan apapun yang aku inginkan..?" Duma menjadi bingung sendiri. Ia merasa jika Khanza sangatlah berbeda, dan hal ini baru pertamanya Ia temui.

__ADS_1


__ADS_2