
Duma hanya diam saja didalam mobil Adillah. Gadia diaebelah tampak lebih dewasa dari usianya, namun wajahnya terlihat baby face.
Pakaian gadis itu juga sopan, bukan sepertinya yang sangat minim, dan bahkan Ia mengakui bahwa dirinya begitu sangat kotor. Entah sudah berapa banyak pria yang memuntahkan lahar ditubuhnya.
Namun Ia juga tak menampik jika dirinya memiliki hasrat yang sangat besar akan hal itu.
Setiap kali Ia mencoba menghindari, namun hasrat itu datang semakin menggebu. Iabtidak bisa hidup sehari saja tanpa pelampiasan hasrat dunianya.
"Asal darimana dik.?" tanya Adillah ramah. Suaranya saat menyebut kata 'Dik' membuat kesejukan dihatinya. baru kali ini Ia dipwrlakukan begitu sangat baik dan Ia merasa sangat tersanjung.
"Dari tebing tinggi kak.." jawabnya jujur.
"Ooo.. Dekat sini juga donk.." ucap Adillah sembari tersenyum tulus padanya.
"Ya Tuhan.. Senyum itu begitu manis, dan menyejukkan jiwa siapa saja yang melihatnya." Duma berguman dalam hatinya.
Adillah kemudia kembali menyetir dengan fokus, membelah keramaian kota medan.
Sebenarnya rumahnya sudah terlewat, namun Ia dengan senang hati mengantarkan Duma.
Saat melintasi daerah sei kambing dan berbelok ke arah Kapten muslim, Adillah melirik kearah rumah kos milik Wina yang juga dulu pernah diantarnya. "Apa kabarnya Ibu itu.? Apakah Ia baik-baik saja atau sedang kembali bekerja ke dunianya..?" Adillah berguman lirih dalam hatinya.
Setelah Ia beberapa menit, Ia mendengar jika Duma hendak turun disebuah gang kecil.
"Aku turun disini saja Kak.." ucapnya lirih sembari menunjukkan sebuah gang kecil.
Adillah menepikan mobilnya ditepian jalan. Lalu Duma turun dari mobil. Sebelum Ia menutup pintu mobil, Ia mengulurkan seporsi bubur ayam kepada Adillah.
"Ini buat kakak, Aku cuma tinggal sendirian, tadi niatnya buat abang becak, tapi dia sudsh duluan pergi." ujuar Duma sembari tersenyum.
Adillah menerimanya, sebagai menghargai orang yang sudah memberikan sesuatu. Karena pepatah mengatakan 'Meminta tidak diberi masih bisa ditahan sakitnya, namun memberi ditolak, itu rasa sakitnya akan lebih parah'.
"Terimakasih ya.." jawab Adillah tulus.
"Sama-sama.. terimakasih juga sudah mengantarkanku sampai kemari.
"Senang membantu.. Siapa nama kamu..?" tanya Adillah lagi.
"Duma.." jawabnya singkat.
__ADS_1
"Adillah.." jawab Gadis manis itu.
Lalu Duma menutup pintu dan berjalan menuju rumah kosnya yang berada disisi gang kecil tersebut.
Adillah lalu memutar kembali Mobilnya, dan kembali pulang.
👻👻👻👻👻👻
Adillah berjalan masuk kedalam rumah. Ia melihat Khanza baru saja pulang, itu tampak dari Ia baru saja memakai pakaian santai.
"Kakak dari mana.?" tanya Khanza, ketika melihat Adillah menenteng 2 bungkus makanan yang menggunakan wadah cup itu.
"Baru beli makan malam, ini ada bubir ayam, kebetulan ada dua, kalau mau ambil satu. Tafi pemberian dari teman. Dia kelebihan belinya tadi." celoteh Adillah, sembari duduk di sisi Khanza, lalu memerikan satu cup Bubur ayam untuk Khanza.
Khanza menerimanya, kebetulan Ia sedang sangat lapar. Mereka menyantabnya dengan sangat lapar.
"Kak.. Kapan Ibu datang kemari..? Aku kangen banget sama ibu.." ucap Khanza setelah selesai menyantab bubur ayamnya.
"mungkin minggu-minggu ini, kemarin dibatalin, karena Papa ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya." jawab Adillah, sembari mengambil botol air minum yang ada diatas meja.
"Kakak kekamar duluan ya, ngantuk.. Besok ada kelas dikampus, dan setelah itu ada tugas dari Papa untuk membantu merekap data pemasukan." ujar Adillah sembari melangkah pergi menuju ke kamarnya.
Sementara itu, Khanza bersandar disandaran sofa, Ia memejamkan matanya. Terlintas dibenaknya wajah gadis itu.
Khanza berusaha terus membacanya, hingga akhirnya bayangan wajah gadis itu menghilang dari pandangannya.
Cantik, aduhai, ya..semuanya ada pada gadis itu. Namun, bagaimana mungkin Khanza tertarik padanya, jika saja prilakunya yang begitu sangat menyedihkan.
Khanza mengehela nafas beratnya, lalu beranjak masuk kedalam kamar, Ia membaringkan tubuhnya ditepian ranjang, lalu mencoba berbaring meregangkan tubuhnya yang sangat begitu lelah.
👻👻👻👻
"tolong...tolong..tolong..
Suara teriakan samar-samar menggema ditelinga Khanza.
Ia seolah-seolah berada di padang rumput ilalang. Suara itu tampak seperti begitunsangat pilu dan menyayat hati.
Khanza menyibak rerumputan yang begitu sangat tebal. Suara lengkingan meminta tolong begitu sangat menyayat hati.
__ADS_1
Hingga akhirnya khanza berada disebuah tebing jurang. Tampak didalam jurang itu api berkobar dan seperti lidah yang menjulur ingin menyambar apa saja yang didapatnya.
Tombak-tombak besi nan tajam berdiri kokoh menyambut segala yang datang, siap menghujam.
Tampak olehnya seorang gadis cantik nan ayu rupawan, sedang bergelantungan di sebuah tebing bebatuan yang tampak kelelahan, dan meminta tolong, agar diselamatkan dari jurang api dan tombak besi yang siap menyambutnya.
Khanza seperti pernah melihat gadis itu. Ia melihat mata itu begitu putus asa, dan mengharapakan sebuah uluran tangan.
Khanza melihat kesekelilingnya. Ia menemukan sebuah ranting kayu yang masih basah. Ia berharap dapat menolong gadis itu sambaran lidah api yang terus menjulur-julur..
Khanza menjulurkan ranting itu, berusaha agar sigadis dapat meraihnya. Namun..
Kriiiiiiiing....
Sebuah panggilan masuk dari papanya Hanif.
Khanza mengatur nafasnya yang menderu karena merasa seakan genderang mau perang. Setelah merasa normal, Ia menyambutnya.
"Hallo, Assalammualaikum, Pa.." ucap Khanza dengan suara parau.
"Waalaikum salam.. Kamu sudah tidur ya..? Maaf Papa menganggu, ini Mama tiba-tiba kangen minta telfonkan kamu. Dari kemarin perasaannya gak tenang terus, tapi nomor kamu sangat sulit dihubungi, dan ini baru tersambung." ujar Hanif dari seberang telefon.
"Ooo..Sampaikan sama Mama Khanza baik-baik saja Pa.. Mungkin mama kangen ma Khanza, jadi bawa perasaan. Dan maaf, akhir-akhir ini phonsel gak aktif karena menyelesaikan beberapa pekerjaan agar bisa lebih fokus." jawab Khanza lirih.
"Iya Sayang.. Mama mengerti.. Kamu baik-baik sajakan..?" ucap Rena dari seberang telefone.
"Mamaaa.. Kirain Masih Papa yang diajak ngobrol.." jawab Khanza tersipu malu.
"Mama kangen banget sama kamu sayang. Nanti Mama usahakan datang berkunjung. Titip salam sama kakak Adillah ya.. Baik-baik disana, dan selalu akur." Pesan Rena dengan bijak.
"Iya Ma.. Khanza akan selalu ingat pesan Mama. Mama jaga kesehatan ya.. Kalau sudah senggang nanti datang berkunjung ketempat Khanza.." pinta Khanza dengan sungguh.
"Iya sayang.. Ya sudah.. Kamu istirahat ya.. Dah sayang.." ucap Rena
"iya.. Ma.."
Sambungan telefon terputus.
Khanza menarik nafasnya berat. Ia masih memikirkan tentang mimpinya.
__ADS_1
Apa sebenarnya yang menjadi firasat mimpinya tersebut.. Dan gadis itu..
Bukankah dia...