
Melihat Hanif baik-baik saja. Membuat Bernard merasa kesal.
"mengapa Ia masih hidup? Bukankah seharusnya Ia sudah meregang nyawa.?" Bernard berguman kesal dalam hatinya.
"Aku sudah berkorban uang dan tenaga, namun hasilnya nihil. Atau jangan-jangan Aki itu menipuku..? Dasar Sial..!!" Bernard menggerutu dalam hatinya.
Ia melihat mobil Rena keluar dari halaman rumahmya, Ia sengaja membiarkan mobil yang dikendarai Rena melaju didepannya. Setelah memiliki jarak, Bernard membuntutinya dari belakang.
Bernard melihat Rena keluar dari mobil dengan dua orang anak berseragam SD. Setelah mengantarkan kedua anak Itu, Rena tampak sedang bertelefon dengan seseorang. "Mengapa Ia masih selangsing dulu? Seperti masih awal aku mengenalnya, tidak ada perubahan setelah melahirkan." Bernard berdecak kagum.
"nyesal aku dulu buat dia mengemis cinta padaku, tapi kini berbalik aku yang mengemis cinta padanya." Bernard berguman lirih.
Rena kembali ke mobilnya, lalu melaju menuju arah yang bukan kembali kerumahnya.
"mau kemana dia? mengapa tidak pulang kerumah?" Bernard merasa kepo.
Bernard terus membuntuti mobil Rena. Hingga Rena berhenti disebuah toko. Tampak Ia membeli kosmetik. Setelah itu kembali lagi mengendarai mobilnya.
Ketika berada dijalanan sunyi, Bernard kembali menghadang mobil Rena. Ia turun dan kembali menggedor kaca mobil Rena.
Akhirnya Rena keluar dari mobilnya. "hai.." sapa Bernard.
"heeeem.." jawab Rena malas.
"apa kabar..?" ucap Bernard, sembari menyisir rambutnya dengan jemarinya.
Rena tidak menjawab pertanyaan Rena, Ia ingin kembali lagi masuk kedalam mobil, namun Bernard dengan cepat mencegahnya.
Kehilangan kesabaran, Rena menyemprotkan parfum spray yang sengaja dibelinya di toko kosmetik tadi. Ia sudah mencurigai jika yang membuntutinya tadi adalah Bernard.
Saat Bernard merasa perih dengan matanya, Rena mendorong tubuh Bernard agar menjauh dari mobilnya. Lalu dengan cekatan Ia meninggalkan Bernard yang masih dengan rasa perih dimatanya.
"Siaall..!!" kemana sih bodyguard yang dijanjikan Hubby..? Dari tadi belum juga nongol." Rena menggerutu.
Ia memikirkan nasib kedua buah hatinya, yang kini masih berada disekolah.
"apa-apaan sih itu orang? Masih juga kurang kerjaan ngekori terus. Dulu belagu amat." gerutu Rena. Ia berulang kali menghubungi Hanif, Ia ingin menanyakan bodyguard yang belum juga muncul.
krriiiiiiiiing
Panggilan masuk dari Hanif "ada apa sayang..?" ucap Hanif dengan lembut.
__ADS_1
"bby..!! dimana sih bodyguard yang Hubby bilang tadi? Udah jam segini belum juga nongol. Itu orang terus ngekori Rena" ucap Rena dengan kesal.
Hanif menjauhkan sedikit handphone dari telinganya, suara Rena yang mengomel sedikit pengang ditelinganya.
"jadi kondisi Kamu bagaimana sekarang sayang? Dan sekarang ada dimana?" ucap Hanif dengan was-was.
"sudah Ren semprot tu matanya dengan parfum spray, jadi saat ini Ia masih mengurusi matanya yang perih." jawab Rena masih kesal.
"waaah..Istri Hubby pinter juga rupanya." ucap Hanif memuji Rena.
"Ya ammpuun bby.. Ini bukan waktunya bercanda, buruan tu kirim bodyguard, Ren takut kalau dia akan menyasar Khanza dan Adillah." jawab Rena kesal.
"iya sayang.. Sudah dulu ya, biar hubby hubungi bodyguard itu" ucap Hanif berusaha tenang. Ia dapat merasakan kepanikan Rena. "siapa sebenarnya orang yang sudah mencari bahaya denganku?" Hanif berguman lirih.
Ia menelefon bodyguard tersebut, menanyakan tentang keberadaannya. Dan ternyata Ia sedari tadi sudah mengikuti Rena. Namun Ia belum melihat tanda-tanda bahaya yang signifikan.
Setelah mengetahui Rena dapat mengatasinya, maka bodyguard itu hanya masih sebatas memantau saja.
"sepertinya nyonya mengenal orang tersebut bos..!" ucap Bodyguard itu.
"Maksud kamu apa?" ucap Hanif penasaran.
"tadi saya melihat mereka mengobrol sebentar, namun saat pria itu ingin menarik nyonya, dengam cepat Ia menyemprotkan spray ke wajahnya." ucap bodyguard itu menjelaskan.
"mungkin saja, Bos.." jawab Bodyguard itu singkat.
Hanif terdiam sejenak. "siapa orang itu? Tetapi mengapa Rena seperti ketakutan? Jika Ia memiliki hubungan dimasa lalu, maka Rena tidak mesti sampai ketakutan dan mengomel." Hanif menerka-nerka dengan fikirannya.
"coba cari tau siapa orang itu, jika membahayakan, buat Ia jera dan tidak mengganggu nyonya lagi" titah Hanif kepada bodyguard tersebut.
"baik bos, akan saya laksanakan..!!" jawab Bodyguard itu dengan tegas.
Lalu Hanif mengakhiri panggilan telefonnya dengan bodyguard tersebut.
Hanif menelefon Rena.
"hallo sayang.." ucap Hanif dengan tenang.
"gimana bby? Apa dah ada kabar dari bodyguard itu?" cecar Rena dengan panik.
"emangnya kenapa sayang? Mengapa kamu sepanik itu?" ucap Hanif mencoba mengontrol hatinya.
__ADS_1
"ya karena orang tersebut sangat membahayakan." jawab Rena ketus.
"oooo.. Begitu..Bodyguard itu sudah ada sedari tadi, Ia hanya masih memantau situasinya saja." jawab Hanif.
"ma..maksud Hubby apa?" ucap Rena dengan terbata.
Hanif menarik nafasnya dengan berat. Lalu menghelanya.
"tidak apa-apa.. Bodyguard itu hanya masih memastikan tingkat kebahayaan orang tersebut, jika ia sangat berbahaya, maka Hubby tidak akan segan-segan membuatnya jera.!" ucap Hanif sedikit dengan nada tinggi.
"oo..baguslah..!" jawab Rena sekenanya.
Lalu Hanif mengakhiri telefonnya.
"jika dari nada bicaranya, sepertinya Rena tidak memiliki simpati apapun pada orang tersebut. Apa itu membuktikan, jika orang tersebut pernah menyakiti hatinya dimasa lalu." Hamif berguman lirih.
Bernard masih merasakan perih dimatanya. Rasa panas dan gatak akibat percikan spray tersebut, membuatnya merasa sangat tersiksa. Matanya memerah dan sulit untuk dibuka.
Ia meraba mobilnya, lalu mencari botol minuman air mineral. Ia membasuh matanya. "sungguh teganya dirimu padaku Rena." ucap Bernard dengan lirih.
Ia tidak pernah menyangka jika mendapatkan serangan mendadak dari Rena.
"aku hanya ingin mengobrol denganmu, itu sudah mampu membuatku mengurangi rasa rinduku." Bernard berguman lirih dalam hatinya.
Setelah selesai membersihkan matanya dari pengaruh spray tersebut, kini Ia mencoba memejamkan matanya, meredam rasa perih tersebut.
Setelah beberapa menit kemudian ia merasakan perih dimatanya mulai berkurang.
"awas kamu Rena, akan kubuat lagi kamu mengemis cinta padaku. Setelah itu, kamu akan merasakan bagaimana rasanya saat kamu mengejarku seperti dahulu." ucap Bernard dengan kesal.
Saat ini hatinya begitu sakit, mendapatkan perlakuan buruk dari Rena.
Namun apakah pernah Bernard berfikir jika dahulu Ia yang telah membuat derita dan kesengsaraan bagi wanita itu, namun kini Ia berbalik menuduh Rena sebagai orang yang tidak memiliki rasa empati.
Bernard kembali ke Kerinci. Ia telah menyusun sebuah siasat untuk membuat Rena kembali bertekuk lutut padanya. Sebagaimana dulu Rena pernah mengemis cinta padanya, maka hal itu akan Ia lakukan lagi.
Ia akan membuat Rena mengejar-ngejar cinta untuknya.
Bernard memasuki kamarnya, Ia mencari akun Rena. Selama ini Ia meng-add akun Rena menggunakan akun wanita. Sehingga Rena mengkonfirmasi pertemanannya.
__ADS_1
Dengan pertemanan itu, Ia mampu mengikuti setiap postingan Rena. Sehingga dengan mudah melacak keberadaan Rena.