
Adillah melangkah menyusuri koridor kampus. Kali ini Ia mendapat kelas tambahan untuk memberikan materi kuliah dimata Kukiah psikologi umum.
Sesampainya dikelas, Ia disambut dengan riuh oleh para mahasiswa yang sudah lama menantinya.
bagaimana tidak, seorang asisten dosen yang masih terbilang cukup mudah, dengan paras nan ayu rupawan, membuat para Mahasiswa selalu menunggu kehadiran si dosen cantik tersebut.
Dimana selain cantik, Adillah juga memiliki pengetahuan yang luar biasa. Sehingga membuatnya juga disegani oleh para mahasiswa.
Saat memberikan materi kuliah, tampak Ridwan melintas dari depan pintu kelas. seketika mata mereka beradu, ada debar yang tidak biasa. Yang mana debaran itu membuatnya hampir tremor.
Pria berusia 45 tahun itu, telah menggetarkan hatinya. Rasa yang tak biasa, membias keseluruh jiwanya.
Segera Adillah membuang pandangannya. Lalu melanjutkan materinya.
Setelah usai perkuliahan. Adillah menuju parkiran, berniat hendak pulang karena ada tugas dari papanya tentang perekapan hasil penjualan selama dikota medan.
Adillah sudah membuka pintu mobil, dan berniat hendak masuk. Namun sebuah tangan mencekalnya.
Adillah terkejut, lalu melihat siapa yang sedang menghalanginya.
"Pak Ridwan.." seru Adillah kaget.
Pria itu hanya menatap datar. "Bisa ngopi bareng..?" ucapnya tanpa expresi.
Adillah tiba-tiba merasa berdebar mendapatkan tawaran seperti itu. Ia seperti terkena demam dengan tiba-tiba.
Adillah hanya mengangguk, tak mampu menolak untuk permintaan dari Dosen seniornya.
"Tetapi kita naik mobil masing-masing saja ya Pak.." pinta Adillah, mencoba menetralkan deru degub jantungnya.
Ridwan mengangguk, karena Ia juga tidak ingin menjadi bahan gosipan dikampus nantinya.
Lalu Ridwan mengirimkan lokasi yang akan mereka tuju.
Seketika Adillah melajukan mobilnya, menuju lokasi yang dimaksud ileh Ridwan.
Sesampainya disana, ternyata Ridwan telah sampai, disebuah warung lontong. Warung itu pernah menjadi saksi biksu, saat 20 tahun yang lalu Ridwan bertanya kepada seorang gadis manis, yentang dimana kampung halamannya.
Warung itu juga menjadi saksi bisu, saat Ridwan mendapatkan jawaban polos gadis itu, dan Ia begitu sangat tidak dapat melupakan gadis itu.
__ADS_1
Hingga akhirnya Ia mencoba menerima kenyataan pahit, jika Ia harus patah hati, karena gadis pujaannya telah dipinang oleh seorang pria tampan tanpa aba-aba.. Sakit.. Ya tentu sangat sakit, sakit tak berdarah.
Sejak saat itu, Ridwan menjadi pribadi yang dingin. Tak ada cinta dihatinya. Ia menganggap cinta hanya sebuah omong kosong belaka.
Rasanya begitu perih, saat ditinggal pas sayang-sayangnya.
Namun..
Sekian, lama Ia menutup pintu hatinya, tiba-tiba saja pintu itu terbuka karena kehadiran seorang gadis yang membuatnya begitu terpana. Sama seperti saat Ia pernah jatuh cinta untuk pertama kalinya, pada seorang gadis manis yang bernama Rena.
Dan gadis bernama Adillah ini, begitu sangat berbeda, Ia tampak begitu special, sehingga dapat menggetarkan hatinya.
Meskipun Ia takut ditolak, karena umur mereka yang terpaut jauh, yaitu terpaut 20 tahun lebih, namun Ia tak berhenti mencoba, berharap gadis itu menerima apa adanya.
Selama ini, banyak gadis yang mencoba mendekatinya, namun hatinya masih terkunci rapat untuk menerima cinta. Ia masih tidak ingin membukanya, karena hatinya masih terkunci rapat.
Tampak olehnya Adillah sedang melangkah menghampirinya. Dimeja sudut sama saat Ia dan gadis masa lalunya pernah duduk dan makan disana.
Adillah tampak begitu anggun, berjalan dwngan sahaja yang menambah keanggunannya.
"lama menunggu pak.? Maaf, soalnya saya belum begitu hafal jalan ini." jawabnya polos.
Ridwan mengangguk, dan mencoba memahami apa yang disampaikan oleh sang gadis.
Namun oerku diacungi jempol, karena jalan yang lumayan rumit dapat ditemukannya, meskipun sulit. Seperti saat ini, Ridwan menemukan tambatan hatinya.
"Duduklah.." ucapnya dengan tenang.
Sikap Ridwan tampak lebih dewasa dari sebelumnya. Apalagi diusianya yang sudah cukup matang.
"Apakah kamu suka lontong sayur..?" tawar Ridwan kepada Adillah.
Adillah mengangguk.."Ya..saya menyukainya. Lontong Medan memang berbeda." jawab Adillah jujur.
Ridwan mencoba menanggapinya dengan senyuman, senyum yang sudah lama tak terlihat, sejak Ia merasa patah hati.
Ridwan memesan lontong itu kepada si mbak pedagang, yang kini juga sudah mulai menua.
Saat ini, Adillah duduk tepat dihadapannya. Akh.. Wajah gadis itu, begitu sangat ayu. Sinar wajahnya tampak begitu mempesona. Namun Ridwan mencoba menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Kamu selain dari menjadi asisten dosen, memikiki kegiatan apa saja..?" tanya Ridwan dengan hati-hati.
Sebuah pertanyaan yang tampak kaku dan juga tampak umum.
"Membantu Papa dalam menyusun rekap penjualan." jawab Adillah jujur.
sesaat pesanan mereka datang. Dua porsi lontong sayur, dengan aroma gulai nangka muda yang begitu amat menggugah selera.
Adillah menghentikan ucapannya. Ia merasa amat tergiur untuk segera menyantabnya.
"Mari kita nikmati terlebih dahulu santapan ini, pasti kamu sangat menyukainya." ucap Ridwan, menghentikan obrolan mereka.
Adillah menanggapinya dengan anggukan.
Lalu mereka menyantap pesanannya. Sesekali Ridwan mencuri pandang pada gadis itu. Tampak jika gadis itu bukanlah type yang begitu menjaga image saat sedang makan.
Semua itu terlihat dengan caranya yang tanpa maku-malu melahab habis hidangan itu, lalu menyeruput es teh manisnya.
Ridwan tersenyum geli melihat tingkah gadis itu. Entah mengapa Ia begitu sangat bersemangat ketika melihat gadis yang kini ada dihadapannya. Hatinya sedang berbunga. Ia tidak mampu melukiskan semuanya dengan kata-kata.
Setelah mereka menyelesaikan santapannya. Ridwan mulai kembali ingin mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat begitu berat untuk diucapkannya.
"Apakah kamu sudah memiliki seorang pacar..?" tanya Ridwan hati-hati.
"Belum.." jawab Adillah meluncur begitu saja. seketika Ia tersadar akan kekonyolannya. Lalu wajahnya memerah karena malu, dan hal itu membuat Ridwan tersenyum geli.
Akh.. Jawaban yang begitu sangat Ia nantikan. Meskipun gadis itu tampak malu-malu, namun Ia yakin akan isi hatinsang gadis, yang juga menaruh isi hati padanya.
Seketika wajah Ridwan berubah sumringah. Gelora dijiwanya yang sempat padam, kini tersulut kembali oleh api asmara yang begitu tampak mulai membakar.
Gadis itu.. Telah begitu mampu membuatnya berbunga.
"bolehkah saya nanti malam mengajakmu dinner..?" pertanyaan terakhir yang ingin didengar langsung oleh Ridwan.
Tampak Adillah tersenyum malu-malu, lalu menganggukkan kepalanya.
seketika senyum manis mengembang diwajah Ridwan. Ya..senyum itu begitu tampak manis.
"Baiklah.. Nanti malam saya akan menjemputmu, dan saya harap kamu tidak mengingkari janjimu." ucap Ridwan dengan berharap penuh.
__ADS_1
Sang gadis tertunduk malu. Baginya ini adalah kencan pertamanya, apalagi bersama pria yang sudah dewasa. Bahkan Adillah memperkirakan usia Ridwan itu tidak jauh dari usia Papanya. Hanya saja penampilan dan wajahnya tampak seperti masih berusia 30-an tahun.
Adillah juga tak mampu membohongi perasaannya, jika ada getaran lain dihatinya.