Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Safri Saragih


__ADS_3

hari masih sangat pagi. pukul 6.00 wib. Rena bergegas mandi. setelah selesai mandi, Ia berdandan ala kadarnya, lalu menyambar tas sandangnya, handphone serta sejumlah uang.


ketika orang-orang masih ada berada didalam kamarnya, Rena mengendap-endap keluarbrumah. memiliki kunci cadangan, merupakan keberuntungannya pagi ini.


Ia keluar rumah, lalu berjalan tergesah-gesah. setelah mencapai jalan utama, Ia menyetop abang betor yang sudah banyak lewat mencari penumpang untuk mengkais rezeki. biasanya tujuan mereka adalah kepasar tradisional, untuk menjajakan jasa angkut barang kebutuhan pokok, seperti sayuran dan ikan segar.


salah satu betor berhenti, Ia mendapatkan penumpang dipagi hari, yaitu Rena. betor melaju membelah kota Medan yang masih dingin dan gelap.


Rena meminta abang betor untuk mengantarkannya ke loket bus mini. Rena ingin mengambil trip keberangkatan pertama. setelah sampai diloket, Ia bergegas turun dari badan becak, membayar ongkos dan segera membeli tiket bus.


penumpang masih sepi, setelah lama menunggu, Ia memasuki badan bus, mencari kursi penumpang yang dianggapnya paling nyaman.


setelah pukul 7.00 wib, bus berangkat. Rena bernafas lega. Ia akan menuju rumah Bernard.


***


setelah kejadian Pertemuan dengan raga Pria yang tak dikenalnya, kini hati Bernard merasa tidak tenang. Ia merasa seseorang mengusik urusannya. jika sampai Rena sembuh, maka tidak akan ada lagi ATM berjalannya.


Bernard memegang dadanya yang terasa sakit karena serangan ghaib oleh pria yang tak dikenalnya. Ia harus bergerak cepat. sebelum pria yang diperkirakan berumur 40 tahun itu mendahuluinya.


Bernard melakukan ritual 'Pemikat Sukma', Ia membayangkan wajah Rena, lalu menyebut nama Rena berulang kali, bahkan ratusan kali tanpa henti.


Ia memastikan Rena akan datang menemuinya. gadis itu akan mengemis cintanya. Bernard tersenyum licik.


***


Rena sampai di depan rumah Bernard pukul 10 pagi. setelah menempuh 3 jam perjalanan, Ia merasa lelah. namun Ia tak perduli, Ia harus bertemu dengan Bernard.


Bernard yang sudah mengetahui akan kedatangan Rena, sengaja menunggunya dikamar.


[tok...tok...tok..] Rena mengetuk pintu rumah Kontrakan dua pintu tersebut. namun tak ada jawaban. Rena mengetuknya kembali.


suara ketukan pintu rumah itu mengganggu bagi Imelda yang mengontrak bersebelahan dengan orangtua Bernard. karena Imelda sedang menidurkan anaknya.


Imelda keluar dari rumah, lalu melihat Rena yang sedang mengetuk. Ia sudah mengenali wajah Rena, karena beberapa kali sudah datang kerumah itu.


"cari si Bernard kah kau dik?" ucap Imelda dengan logat bataknya.


Rena mengangguk sembari tersenyum.


Imelda yang yang kesal lalu berteriak. "hei.. Bernard, keluarlah kau dulu dari kamar kau itu. hari sudah siang. ini ada cewek kau datang ha..!" ucap Imelda dengan suara melengking. lalu masuk kedalam rumahnya dan mengunci pintu.


teriakan Imelda membuka kedok Bernard bahwa Ia berada didalam rumah, namun sengaja berlama-lama membukakan pintu untuk Rena.


"sial..berisik banget si eda Ni.." ucap Bernard mengumpat, dan mau tak mau harus membuka pintu untuk Rena.


Bernard membuka pintu.. Rena yang melihat pria pujaannya didepan mata, menghamburkan diri memeluk Bernard. sekian lama tak bertemu membuatnya semakin erat memeluk tubuh pria mungil tersebut.


Diam sengaja diam tak membalas pelukan Rena. lalu Ia melepaskan pelukan tangan Rena dari tubuhnya.


"aku kangen kamu sayang.." ucap Rena dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


Bernard hanya tersenyum datar. seolah tak mengharapkan kehadiran Rena yang begitu memujanya.


"kamu pulanglah, aku tak ingin melihat wajahmu lagi." ucap Bernard dengan angkuhnya.


"a..a.apa salahku padamu? mengapa kamu memperlakukan seperti ini?" ucap Rena terbata. hatinya begitu sakit. ternyata kedatangannya tak dihargai dan tak diinginkan.


"aku tidak menginginkanmu lagi. pergilah.." ucap Bernard dengan angkuhnya. meski sebenarnya Ia hanya berpura-pura dan masih membutuhkan Rena, sebagai ATM-nya.


Bernard sengaja membuat Rena semakin tergila-gila padanya, karena ia ingin membalas dendam atas serangan yang dilakukan seorang pria malam itu. Ia ingin mencoba kemapuan pria itu, apakah mampu untuk menyelamatkan Rena yang kini dalam pengaruh sihirnya.


"tapi aku mencintaimu sayang.. aku tak bisa hidup tanpamu.. ku mohon padamu.." ucap Rena yang menangis dan tergugu.


Bernard tak perduli, Ia membuang mukanya, seolah mearsa jijik dengan gadis malang itu.


tanpa Bernard sadari, sepasang mata memperhatikannya dar sebalik jendela samping.


mata itu terlihat iba melihat Rena yang diperlakukan tidak baik oleh Bernard. hatinya ikut sakit melihat perlakuan Bernard yang tak pantas. lalu Ia menghilang, bersembunyi dibalik pagar tumbuhan yang tumbuh didepan rumah tetangga.


Bernard menarik tangan Rena keluar rumah, Ia menyeret tangan gadis itu hingga kedepan pintu. "pergilah, aku katakan padamu, aku tak sudi melihatmu lagi." ucapnya dengan angkuh.


Rena memeluk betis kaki bernard yang mungil, mengibah padanya, agar Bernard memberikan belas kasih padanya.


namun Bernard semakin besar kepala. ia merasa bangga begitu sangat dicintai.


Imelda yang mendengar keributan itu, mengintai dari kaca jendelanya. Ia menatap geram kepada Bernard. rasanya Ia ingin menjambak rambut Bernard yang sudah memperlakukan gadis malang itu sesuka hatinya.


Bernard mengusir Rena yang memohon cinta padanya, Ia menyeret Rena hingga pintu luar, lalu mengunci pintu rumahnya.


Rena seperti orang linglung. Ia tak tau harus melakukan apa. ingin menggedor pintu rumah Bernard tapi masih tersimpan rasa malu terhadap tetangga sebelah rumah.


Ia berjalan sembari menangis dan tergugu. matanya begitu sembab. tanpa Ia sadari Ia telah sampai dipinggir jalan utama. Ia mencari pohon rindang di tepi jalan untuk berteduh.


Rena melihat sebongkah batu besar tergeletak dibawah pohon. Ia duduk diatas bongkahan batu tersebut, sembari merenungi nasibnya yang tidak beruntung saat ini.


Tubuh Rena terguncang menahan isakannya. sesaat Ia terkejut dengan sebuah tangan yang menyentuh pundaknya. Rena menoleh kesamping kanan, dimana tangan itu milik seorang pria dewasa sekitar umur 50 tahun.


Rena tersentak kaget memandang wajah pria itu, karena dengan tiba-tiba saja berada disisi kanannya, yang entah dari datangnya.


"lagi apa boru? kenapa sampai menangis dipinggir jalan?" ucap Pria itu dengan logat batak namun lembut. kata-katanya laksana salju yang mendinginkan hati Rena. (boru\=anak perempuan)


Ia mengulurkan tangannya, memberikan sebungkus kecil tisu basah. Rena menerimanya. lalu menyeka air matanya dengan tisu pemberian pria yang baru dikenalnya.


Rena tak menjawab pertanyaan pria itu, Ia masih tergugu menahan tangisnya.


mata pria itu menatap lurus kedepan jalanan.. Ia menghela nafasnya, ada seperti penyesalan dan kekesalan disana.


""dari mana boru datang..?" tanyanya lagi tanpa menoleh kepada Rena.


"dari Medan pak.." ucap Rena dengan dengan nafas yang tersengal.


Entah mengapa, Rena merasakan kenyamanan saat berbicara dengan pria tersebut. tangisnya mulai mereda.

__ADS_1


jika boru merasakan sesuatu yang tidak normal, bacakanlah "tabbadyadah, habilah habi watab." ucapnya memberikan nasehat.


Rena menoleh kearah bapak tersebut. Setelah meneliti wajah bapak tersebut sepertinya tidak asing baginya. namun entah dimana Ia pernah melihatnya.


pria itu menjulurkan tangannya, mencoba berkenalan. lalu Rena menyambutnya. "safri saragih" ucap pria itu memperkenalkan dirinya.


"Re...na.." ucap Rena terbata. Ia lalu menundukkan pandangannya.


"bapak adalah ayah Bernard.. maafkan bapak yang tidak mampu mendidik anak laki-lakiku menjadi seorang pria yang baik.." ucap pria itu tanpa menoleh kearah Rena. tatapannya seolah sedang menanggung beban berat. rasa bersalah menggelayuti hatinya.


"haaa..? a..a..pa?" ucap Rena terperangah. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan ayah dari pria pujaannya. "namun mengapa sifat mereka berbanding terbalik." ucap Rena dalam hatinya.


pria itu menatap Rena dengan penuh sarkas dan kewibawaan. "andai saja bapak memiliki cukup uang, aku akan meminangmu menjadi menantuku, tetapi bukan untuk Bernard, melainkan untuk abang Bernard." ucap pria itu meluncur saja tanpa batasan.


"haa...?" Rena yang patah hati karena sikap Bernard, harus bertambah pusing lagi mendengar ucapan pria yang mengaku ayah Bernard.


"sudah lama sekali aku menginginkan seirang menantu.. namun saat akan mendapatkannya, ternyata perangai anakku sangatlah buruk." Safri saragih, menarik nafasnya. memberi jeda pada ucapannya.


"gadis semanis kamu tidak pantas untuknya. aku masih memiliki seorang anak laki-laki lagi yang memiliki perangai yang baik."


Rena seolah tak percaya dengan ucapan Safri Saragih. Ia masih bingung dengan apa yang diucapkan Safri.


"tetapi aku mencintai Bernard pak, aku tidak bisa menukar hatiku untuk pria lain" ucap Rena menegaskan. Rena mengakui bahwa Ary kakaknlaki-laki Bernard memang lebih tampan bak artis korea, tubuh profosional, dan sikap yang juga berbalik 360°. namun entah mengapa, perasaannya hanya pada Bernard seorang.


pertemuannya dengan ayah Bernard, sepertinya membawa sebuah ide gila yang ada di benaknya. Ia sepertiny menyusun sebuah rencana untuk mendapatkan Bernard. cinta membutakan matanya.


Safri Saragih tersenyum kecut. Ia tak mengerti mengapa anak lelakinya begitu sangat rendah, bahkan tak bermoral dalam memperlakukan seorang wanita.


"Bernard pernah menuntut ilmu kanuragan, dari seseorang. namun Ia menyalah gunakan ilmu yang dipelajarinya. jika boruku merasakan sesuatu yang ganjil, ingatlah pesan bapak tadi." ucapnya lagi.


Safri mengambil handphone butut dari saku celananya, lalu meminta nomor Rena, dengan senang hati Rena memberikannya, lalu menghubungi nomor Rena. "jika memerlukan bantuan atau mempertimbangkan tawaran bapak, Boru bisa menghubungi nomor ini." ucapnya dengan tulus.


Rena hanya mengangguk mengerti, namun entah mengapa rasa cintanya lebih besar daripada harus mendengar sebuah nasehat, dan nomor yang diberikan pak Safri akan memudahkannya memantau Bernard. Rena bersorak dalam hatinya.


Safri Saragih membelai rambut Rena, ada kepdihan disana, Ia merasa gagal menjadi seorang ayah.


Rena melirik jam tangannya, sudah pukul 2 siang. Ia memilih pulang. Ia berpamitan kepada ayah Bernard, menyalim tangan pria tersebut, lalu beranjak dari duduknya dan menghentikan seorang abang betor. Rena menaiki badan betor, menoleh kepada Safri Saragih, lalu betor melaju dan menghilang dari pandangan Safri.


***


kepergian Rena tadi, membuat Bernard tertawa puas. Ia kembali melakukan ritual 'pemikat sukma' untuk mengikat hati Rena.


didalam perjalanan pulang, rasanya Rena ingin turun dari bus, lalu berbalik kembali kerumah Bernard. mengemis cinta pria tersebut.


perasaan itu semakin kuat, membuat kegelisahan Rena semakin bertambah. para penumpang lain memperhatikan Rena, mereka melihat mata gadis itu yang sembab. duduknya tidak tenang dan penuh kecemasan.


Rena meng-aktifkan handphonenya kembali, sedari kepergiannya pagi tadi, Ia sengaja mematikannya. bertujuan agar tidak ketahuan keluarganya.


begitu handphonenya aktif, ada ratusan pesan masuk bertubi-tubi. pesan dari bang Hanan dan Nisar yang kebingungan mencarinya karena Ia harus berobat hari ini.


pesan dari keluarhanya Ia abaikan, Ia mengirimkan pesan kepada Bernard.

__ADS_1


"sayang, aku tak mampu hidup tanpamu, jangan pernah tinggalkan aku, aku sanggup menyerahkan keperawananku untukmu, asalkan kamu tetap mencintaiku, jika kau tetap pergi dariku, aku akan meng-akhiri hidupku" Rena mengirimkan pesan itu dengan hati yang pilu. air matanya meluncur deras.


Rena seperti hilang akal, dihatinya hanya ada Bernard, tak pernah tergantikan dengan cinta yang lain. rasa takut saat kembali kerumah yang akan menerima omelan bang Hanan dan Nisar tak Ia hiraukan. Ia akan memberikan keterangan yang akan mengejutkan semua anggota keluarga.


__ADS_2