
Duma kembali mendorong kursi rodanya dengan perlahan menggunakan kedua tangannya. Ia memilih tempat yang sedikit tersudut agar tak terganggu dengan yang lainnya. Ia mengirimi pesan kepada Wina, jangan mengkhawatirkannya, karena Ia berada ditaman.
Gadis itu menatap taman mini yang dihiasi beberapa tumbuhan bonsai yang ditata sedemikian rupa, sehingga menampilkan kesan indah dan nyaman. Tak banyak orang yang sedang berlalu lalang, dan tampak sepi.
Duma memainkan phonsel pintarnya. Ia berselancar didunia maya. Tanpa sengaja Ia membaca sebuah judul artikel yang mengupas tentang penyakit HIV & AIDS.
Merasa penasaran, Ia menggulir dan membaca setiap penjelasan yang diberikan oleh si penulis artikel yang merupakan seorang dokter.
Seketika Ia terbeliak, Ia tak mengira jika segala ciri-ciri penyakit yang mematikan tersebut kini sedang dialaminya. Bahkan penyebab dari penyakit berbahaya tersebut memang sering Ia lakukan.
Duma bahkan tak menyangka, jika penyakit yang dideritanya itu tak ditemukan obat untuk menyembuhkannya.
Seketika Ia memucat. Ia tak menduga jika selama ini Ia menderita penyakit menular dan berbahaya, bahkan mematikan. Namun Ia tak mengerti, mengapa Wina, Ibunya menyembunyikan rahasia sebesar ini padanya.
"Berarti aku sudah menularkan banyak penyakit kepada banyak orang "Pak Joe?" tiba-tiba Ia teringat akan gurunya saat masa SMA dulu, Ia tak rela jika guru tersebut tertular karena ulahnya. Ia menangis sesenggukan menyesali segala perbuatannya.
Jika para hidung belang tertular penyakitnya, Ia tak menyesalinya, bahka William sekalipun, Bos yang sudah mencampakkan, Ia tak menyesali jika mereka tertular, Ia tersenyum sinis jika mampu membawa mereka bersama kematian.
Namun, Joe, gurunya itu, Ia sangat menyesalinya. Ia juga menyesali pernah memikat Pak Joe, gurunya hanya demi untuk kesenangan belaka.
Saat Ia berperang dengan fikirannya, tiba-tiba saja Ia merasakan organ in*timnya terasa sangat panas, Ia merasakan jika sesuatu keluar dari sana, yaitu darah bercampur nanah. Untungnya Wina telah bersiaga memakaikan diapers dewasa untuk Duma, demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, karena cairan darah bercampur dafah itu bisa keluar kapan saja.
Seketika Duma merapatkan giginya menahan rasa sakit yang begitu teramat sakit saat bersamaan keluarnya cairan tersebut.
Seketika Ia berkeringat dan menggigil, tak sesiapapun yang mengetahui penderitaannya saat ini.
gadis itu merasakan seluruh sendi-sendi ditulangnya ngilu dan Ia tak mampu menggambarkannya seperti apa.
Ia mencoba mencengkram kedua pegangan kursi roda untuk membantunya menahan rasa sakit yang kini menderanya.
Disaat Ia merasakan dirinya dijujung kematian, seketika seorang pemuda menghampirinya, tatapan mata gadis itu terlihat nanar.
Pemuda yang tak lain adalah Khanza ingin menggendongnya "Jangan... Jangan sentuh Aku, nanti kamu tertular oleh penyakitku, biarkan saja Aku begini" cegah Duma dengan kalimat yang terbata dan nafas yang terasa sesak.
Ia terus menepiskan tangan Khanza yang ingin membantunya. "Diamlah, dengan menggendongmu tidak akan menulariku, Aku sudah tahu apa yang terjadi padamu, maka diam dan tenanglah." ucap Khanza dengan sedikit nada penekanan, lalu menggendong gadis itu dan membawanya ke mobil.
__ADS_1
Khanza membawa Duma menuju rumah sakit untuk mendapatakan penanganan medis. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tak biasa.
Sesampainya dirumah sakit, Khanza kembali menggendong Duma yang sudah tampak kritis, lalu menuju ruangan UGD. Tampak para perawat menghampirinya dan membawa troli ranjang pasien.
Khanza meletakkan tubuh Duma disana, lalu perawat berjalan cepat membawa Duma yang sudah tampak begitu mengkhawatirkan.
Khanza menunggu didepan ruang UGD, Ia tampak begitu cemas, belum pernah Ia merasakan dan mengkhawatirkan seseorang, dan ini untuk pertama kalinya.
Sesaat dokter keluar dari ruangan UGD dan mencari Khanza.
"Maaf, Pak. Apakah bapak kekuarganya?" tanya dokter tersebut.
Khanza menganggukkan kepalanya "Iya... Saya keluarganya" jawab Khanza meyankinkan.
"Sebaiknya kumpulkan saja seluruh keluarga, karena pasien sudah dalam kondisi kritis dan sebaiknya keluarga menemaninya saat terakhir" ucap dokter itu memberitahu.
Khanza menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya.
"Baiklah dok, saya akan menghubungi keluarga" jawab Khanza dengan nada lemah.
Khanza dengan berat hati menekan nomor yang menjadi komunikasi terakhir Duma saat memainkan phonselnya.
Ia menghubungi nomor dengan nama 'Ibu' dalam panggilan aplikasi Whaatshap.
Setelah berbicara dengan orang tersebut, Ia mengakhirinya, dan bergegas menuju ruangan tempat dimana Duma dirawat.
Ia membuka pintu ruangan tersebut. Tampak Duma terbaring lemah dengan cairan infus yang kini membantunya bertahan untuk beberapa saat.
Tampak mata gadis itu terpejam. Khanza menghampiri ranjang pasien. Ia menarik kursi kosong, dan meletakkannya disisi dekat dengan posisi leher gadis itu.
Ia duduk dengan lemah, lalu meraih jemari tangan sang gadis, menggegamnya dengan lembut, sembari memandang wajah ayu yang kini tampak layu.
Sesaat Duma mengerjapkan kedua matanya, mencoba melihat siapa yang menggenggam jemarinya dengan hangat. Saat melihat siapa yang dihadapannya, Ia tersenyum bahagia, dan merasakan sisa hidupnya begitu indah.
Ia ingin mengucapapkan sebuah kalimat diakhir hidupnya, Ia ingin mengatakannya kepada pemuda itu untuk terakhir kalinya, dan Ia ingin pemuda itu mendekatkan telinganya kepadanya.
__ADS_1
Khanza mengerti apa yang diinginkan sang gadis, Ia mendekatkan telunganya kepada mukut sang gadis lalu Duma mengucapkan sebuah kalimat dengan terbata-bata.
"I... Love... U" ucapnya tanpa penyesalan, dan akhirnya Ia dapat mengungkapkan isi hatinya untuk yang pertama dan terakhir kalinya, Ia merasa lega.
"I love U to" jawab Khanza dengan lirih. Lalu tampak Duma tersenyum sangat bahagia, dan seketika Ia kembali mengalami sesak, lalu tiba-tiba tak sadarkan diri.
Khanza melepaskan gengamannya, laku menghubungi dokter untuk memeriksa kondisi Duma.
Sesaat kemudian dokter datang memeriksa kondisi gadis itu, Ia dinyatakan koma. Bersamaan dengan itu, Wina dan juga Rena beserta Hanif juga datang menjenguk, masih dengan lengkap pakaian pesta.
Melihat kondisi Duma yang sangat memprihatinkan, Hanif menelefon dan meminta sopir membelikan buku yasin khusu, atau mereka menyebutnya yasin 40 khusus ditoko buku terdekat.
Tak berselang lama, sopir tersebut membawa buku yasin diminta oleh Hanif. meskioun Ia membenci manyan kekasihnya, namun melihat kondisi Duma yang memprihatinkan, rasa kemanusiaannya lebih diutamakan.
Hanif mengetahui Duma kesulitan untuk melepaskan nyawanya karena tersandung Ilmu pemikat Sukma yang dikini sedang bersarang ditubuhnya, dan Ia tak tahu jalan membuangnya.
Hanif memasuki kamar kecil yang berada diruangan tersebut, Ia mensucikan dirinya dari hadas kecil dengan berwudhu.
Setelah selesai berwudhu, Hanif meminta Khanza untuk menyingkir dari kursi tersebut, lalu Hanif kini duduk dikursi tersebut.
Kemudian Ia memulai membacakan suratul yasin yang dkhususkan untuk Duma, Ia membaca surah tersebut secara khusyuk. Hanif terus berulang kali membacanya hingga sampai 7 kali mengulanginya.
Lalu dengan dengan terakhir kali ayat yang dibaca, seketika Duma mengeluarkan buih dari mulutnya.
Buih itu semakin lama semakin banyak, Hanif mengambil tissu dan membersihkannya, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Seketika nafas Duma memburu, matanya masih terpejam, Ia terlihat tampak seperti tercekat ditenggorokannya.
Khanza mendekatinya, membisikkan kalimat dua syahadat ditelinga kanan Duma dengan perlahan, berharap Duma mengikutinya dengan apa yang diucapkan olehnya.
Sesaat Duma bagaikan menarik satu tarikan nafas bersama dengan kalimat syahadat terakhirnya. Lalu Ia tak bergerak lagi, dengan bibirnya yang tersenyum.
Seketika tanpa sadar Khanza meneteskan air matanya yang tak pernah Ia keluarkan untuk gadis manapun sebelumnya.
Lalu Wina menangis histeris, tak mampu membendung kesedihannya.
__ADS_1
*Setiap Ilmu yang kebathinan yang dimiliki oleh seseorang, terkadang mempersulit jalan kematian orang tersebut. Maka jangan pernah menuntut ilmu yang dapat merugikan diri sendiri.*