
Wina pulang dengan membawa luka hatinya. Ia begitu sangat kesal pada Hanif.
Ia mungkin melakukan kesalahan karena telah berselingkuh darinya. namun itu semua karena karena sikap Hanif yang terlalu pasif saat berpacaran.
selama hampir tiga tahun berpacaran, Hanif hanya memanjakannya dengan membeli barang-barang mewah. bahakan Hanif akan menuruti semua keinginannya.
namun satu hal yang membuatnya jemu menjalin cinta dengan Hanif, Karena pria itu terlalu dingin dan terlalu pasif.
berpacaran hanya sebatas menggengam tangan saja. membuat Wina merasa bosan. Ia menginginkan hal lebih. saat Wina mengajaknya menikah, Ia mengatakan sabar dulu, karena Ia masih mempersiapkan rumah impian mereka.
namun semuanya berakhir dengan sia-sia. saat Wina tak mampu membendung hasratnya menggebu, Ia melampiaskan kepada Roy. pria brengsek yang kini telah kabur darinya.
saat Ia sedang bercinta dengan Roy, ternyata Hanif saat itu datang dengan membawa sekotak cincin berlian bermata biru, yang akan dihadiahkan untuknya. sebagai tanda keseriusannya.
namun semuanya harus hancur dengan segala pengkhianatan yang dilakukan wina untuknya.
"rumah mewah itu seharusnya milikku. bukan untuk wanita itu.!!" Wina mengumpat dengan kesal.
"aku harus mencari cara untuk mencelakai istrinya Hanif. aku harus merebut kembali Hanif dari perempuan itu." Wina menggeretakkan giginya, pertanda Ia sangat marah.
"aku akan meminta bantuan papa untuk menjebak Hanif." ucapnya dengan nada licik.
Wina meninggalkan gedung kantor milik Hanif dan melenggang dengan semangat.
****
"papa.." sapa Wina dengan manja kepada Fredy yang masih berkutat dengan laptopnya.
Fredy memandang Wina sejenak lalu melanjutkan kegiatannya. "ada sayang..?" ucap Fredy dengan datar.
"Pa.. bantuin Wina donk..?" ucap Nya dengan nada manja.
"bantuin apa sayang..?" ucap Fredy, tanpa melihat Wina yang sedang berbicara kepadanya.
Wina merasa kesal karena diabaikan. Ia lalu mendekati Fredy dengan memasang wajah manyun. "Pa...lihat Wina dong kalau lagi diajak ngobrol" ucapnya sembari menghampiri Fredy.
__ADS_1
Fredy menghentikan sejenak pekerjaannya. "Bantuin apa sih sayang..?" ucap Fredy berusaha berbicara lembut kepada puterinya.
Wina memasang wajah senang setelah Fredy mulai memperhatikannya. "Pa.. bantuin Wina untuk mendapatkan Hanif kembali ya..?" uvapnya dengan nada memohon.
Fredy mengernyitkan keningnya." bagaimana caranya..?" Fredy bertanya dengan nada penasaran.
Wina membisikkan sesuatu. dan Fredy mengangguk menyetujuinya.
tiba-tiba Fredy terbatuk "uhuuuk..uhuuuk.." Fredy menutup mulutnya dengan sapu tangan. saat Ia Ia menjauhkan saputangannya, Ia melihat ada bercak darah disapu tangan itu.
Fredy merasa terkejut. "kenapa papa bisa batuk darah..?" ucap Wina penasaran. dan Fredy batuk kembali, dan darahnya semakin banyak.
"kita kerumah sakit pa.." ucap Wina segera membawa fredy kerumah sakit.
****
seorang dokter memeriksa hasil rontgen milik Fredy. "Tidak ada penyakit didalam tubuh bapak. semuanya sudah terdeteksi dengan benar." ucap Dokter itu menjelaskan.
sang dokter juga merasa bingung, mengapa tidak ada satu penyakitpun yang terdeteksi.
Dokter kembali bingung dengan penyakit yang sedang dialami pasiennya. Ia memberikan resep antibiok dan obat pereda rasa sakit, serta untuk mengurangi batuknya.
"mengapa tidak ada penyakit dalam tubuh saya dok. sedangkan batuk saya mengeluarkan darah." ucap Fredy penasaran.
Dokter itu merasa tersinggung, karena dianggap tidak memiliki dedikasi dalam pekerjaannya.
"tetapi seperti yang terdeteksi oleh alat tersebut, tidak ditemukan penyakit dalam tubuh bapak." ucap Dokter itu sedikit kesal.
"bukan maksud saya menyinggung dokter. tetapi seperti yang dokter lihat, Batuk saya mengeluarkan darah. tetapi dokter mengatakan saya tidak memiliki penyakit. " ucap Fredy juga tak kalah kesal.
Dokter itu memijat kening dibagian antara tautan alisnya. "mungkin bapak bisa pulang dahulu. nanti akan saya diskusikan bersama dokter uang lain tentang penyakit yang bapak alami. dan hasilnya akan saya kabari seminggu lagi" ucap Dokter tersebut.
Fredy dan Wina menganggukkan kepalanya. "Baiklah pak..kami pulang dulu jika sudah ada kabar silahkan hubungi saya." ucap Fredy. sembari bangkit dari duduknya. lalu berpamitan pada dokter tersebut.
***
__ADS_1
Fredy dan Wina memasuki mobilnya. "ada yang aneh gak sih pa dengan penyakit papa..?" ucap Wina dengan penasaran.
Fredy menganguk setuju. "sebaiknya kita temui mbah Diro.. kita tanyakan padanya. mungkin Ia mengetahui penyebabnya." ucap Fredy kepada Wina.
mereka berdua sepakat akan pergi kerumah mbah Diro. namun belum sempat mereka pergi, telefon Wina berdering. panggilan telefon masuk dari Mama Melisa.
"Hallo Ma..ada apa..?" ucap Wina dengan nada sedikit kesal.
"Hei..wina.. anak mu itu dari tadi nangis terus. cepatan balik, urus tu anak. jangan taunya cuma bisa buat anak, tapi gak tau buat mengurusnya..!" ucap Melisa dengan mengomel diseberang telefon.
"Ma..itukan cucu Mama juga, bantu jugalah buat Urus sofia" ucap Wina tak kalah ketus.
Melisa semakin berang mendengar ucapan Wina "Hello..Mama sibuk.. mama mau arisan dulu dengan teman sosialita mama. cepetan balik dan anak harammu itu..!" Melisa tak kalah sengit membalas ucapan puterinya.
Ferdy merasa kesal dengan perdebatan Istri dan anaknya, yang sama-sama memiliki watak keras kepala.
"Sudahlah Win..sebaiknya kita tunda dulu kerumah mbah Diro. Besok kita cari waktu yang tepat" Ucap Fredy, sembari menghidupkan mesin mobilnya.
"Iya Ma..Wina pulang..tapi suruh si mbok jagain bentar." ucap Wina dengan ketus.
"Ya sudah.. buruan..!!" jawab Melisa dengan cepat. lalu mengakhiri panggilan telefonnya.
wina mendengus dengan kesal. Ia meratapi nasibnya yang sial. "ini semua karena sofia.. anak itu sudah menggangu dan menyita hariku. apa sebaiknya aku buang saja anak itu" ucap Wina dengan kesal.
sejak Sofia hadir dalam hidupnya, Wina merasa sangat tersiksa, dimana Ia harus bangun tengah malam saat bayi itu harus meminta susu. bahkan terkadang Ia harus mengganti popoknya saat bayi mungil itu buang air besar. Wina ingin rasanya melenyapkan bayi tersebut dari hidupnya. ketika dalam kandungan, Wina sudah berusaha ingin melenyapkan bayi itu namun usahanya gagal. sehingga bayi itu bertahan dan lahir kedunia dengan bibir sumbing.
cacat yang dibawa sofia membuat Wina sangat malu, jika harus bertemu dengan teman-temannya. Ia sangat membenci bayi itu. bayi yang tak pernah Ia harapkan kelahirannya. dan bayi itu juga sudah menjadi aib bagi keluargnya.
jika harus memilih.. maka bayi itu juga tidak berharap untuk dilahirkan kedunia.
Wina terus berfikir, bagaimana caranya Ia untuk membuang bayi nya. Ia sudah bertekad untuk tidak menaruh belas kasih pada bayi mungil itu.
tujuannya kini Ialah bagaimana caranya Ia dapat meraih kembali cinta Hanif.
Hanif adalah tujuan hidupnya. Ia tidak Rela jika Hanif jatuh kedalam hidup Rena, wanita sederhana yang tanpa polesan wajah, namun mampu membuat Hanif bertekuk lutut padanya.
__ADS_1