Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Ridwan dan Rehan


__ADS_3

setelah selsesai perobatan sebulan berlalu, kondisi fisik Rena mulai membaik. berat badannya yang dulu ideal kini berangsur kembali membaik.


Rena berusaha menghapus tiap jejak bersama Bernard, bahkan akun facebooknya juga Ia blokir.


Rena kini tengah sibuk mempersiapkan sidang skripsi yang sudah diujung mata. Ia fokus mempelajari setiap bab-nya.


Rena pergi kekampus untuk mengurus administrasi yang menjadi syarat agar bisa sidang, Rena pergi sendiri, karena Amy sedang ada urusan keluarga.


Rena berjalan menyusuri gang komplek, kini Ia tiba jalan utama, Ia sedang menunggu angkot untuk sampai kekampus. tiba-tiba saja, sebuah mobil CRV menepi dipinggir jalan, tepat ditempat Rena berdiri. pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya, lalu tampak Ridwan yang sedang mengemudi.


"masuk..berangkat bareng aku yuk..?" ucap Ridwan menawarkan tumpangan, sembari membuka pintu depan mobil.


Rena membalas dengan senyum, lalu mengangguk dan masuk kedalam mobil. "terimakasih ya" ucap Rena tersenyum tipis.


Ridwan mengangguk, sembari melajukan mobilnya. "Amy kemana?" ucap Ridwan sembari fokus menyetir, karena suasana pagi itu sangat ramai dan sedikit padat, ditambah lagi adanya perbaikan trotoar, yang menambah kemacetan.


untuk menghindari kemacetan, Ridwan memgambil jalan pintas. "kita sarapan lontong sayur dulu yuk?" ucap Ridwan yang lalu menepikan mobilnya ditempat penjual lontong sayur yang ada ditepi jalan.



ini penampakan lontong sayur ya pemirsa, kalau orang Jakarta menyebutnya ketupat karena memasakknya menggunakan janur kelapa, tapi kalau Medan atau Sumut menggunakan daun pisang sebagai alat memasaknya. ada topping mihun goreng, tauco kacang panjang, sambal teri kacang, dan gulai nangka muda atau sesuai selera.


Ridwan dan Rena memasuki warung lontong tersebut. lalu Ia memesan 2 porsi lengkap dengan teh manis panasnya. mereka mengambil tempat duduk disudut ruangan.


sembari menunggu pesanan datang, mereka mengobrol ringan seputar perkuliahan. hingga akhirnya Ridwan berusaha mengutarakan isi hatinya yang sudah lama sekali Ia pendam.


meski pernah mengalami penolakan, namun tak membuatnya menjadi dendam ataupun menjauhi Rena.


"kalau boleh tau, kampung kamu dimana Ren?" ucap Ridwan penuh hati-hati. Ia takut jika pertanyaannya akan menjadi boomerang bagi dirinya. Rena menatap Ridwan, lalu menatap kembali lurus kedepan.


"aku tinggal di Kisaran-Asahan. ucapnya singkat. lalu pesanan mereka datang, dan mereka menyantapnya. "kapan-kapan aku boleh main kekampung halamanmu ya?" ucap Ridwan lembut, selembut marshmallow.


Rena tersedak, lalu mengambil minum untuk menghentikan sedakannya. lalu Ia buru-buru menghabiskan makanannya. Ridwan tersenyum tipis melihat sikap Rena, Ia seperti orang yang sedang di sapa setan saja.


"apakah aku begitu menakutkan baginya? sampai ingin bermain kerumahnya saja ia begitu sangat ketakutan." Ridwan berguman dalam hatinya.


tak mendapati jawaban dari Rena, Ia pun bergegas menyelesaikan sarapannya. lalu mereka beranjak masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan kekampus.


mereka membisu sepanjang perjalanan, Rena merasa tak enak hati. "emmm...kamu sudah daftar sidang skripsi belum Rid?" ucap Rena memecah kebisuan mereka. Ridwan terkekeh melihat sikap Rena yang seolah menghindari pertanyaannya tadi saat diwarung lontong. "emmmm...sudah belum ya..?" aku juga lupa?" ucap Ridwan menggodanya.


Rena mengernyitkan keningnya, Ia terlalu serius menanggapi jawaban Ridwan. " dua hari lagi penutupan pendaftaran lho Rid? ucap Rena dengan nada serius.


Ridwan mengangkat bahunya, seolah acuh tak acuh dengan informasi yang diberikan oleh Rena.

__ADS_1


"memang apa yang kamu fikirkan sampai melupakan informasi dari kampus.?!" ucap Rena sembari menatap Ridwan dengan penasaran.


"karena aku mikirin kamu..?" ucap Ridwan meluncur begitu saja dari mulutnya.


Rena terperangah mendengar jawaban Ridwan, seketika Ridwan menghentikan laju mobilnya, lalu menarik Rena dan dengan refleks menautkan bibirnya.


Rena termangu dengan mata yang membulat, Ia seperti tak percaya apa yang dilakukan Ridwan dengan cepat dan spontan. seketika Ridwan melepaskan tautan bibirnya, lalu menatap lurus kedepan.


mereka kembali membisu, karena yang baru saja dilakukannya hanya tindakan spontan dari Ridwan. "maafin aku" ucap Ridwan dengan lirih, lalu kembali menyetir mobilnya menuju kampus.


***


mereka tiba diparkiran, namun masih dalam kebisuan. mereka merasa kikuk satu sama lain. "maafin aku Ren? kuharap kamu tidak membenciku. aku khilaf" ucap Ridwan menyesali perbuatannya. Rena hanya menjawab senyum datar.


Ia keluar dari mobil Ridwan. saat itu Rehan yang baru saja masuk keparkiran menggunakan motor sportnya. Ia melihat Rena keluar dari mobil Ridwan, hatinya menjadi panas. "busyet..gua kena tikung duluan, gerak cepat juga tu anak" ucap Rehan dengan nada cemburu.


Ia lalu menghampiri keduanya, " Hai Rena yang manis... mau jalan bareng denganku?" ucap Rehan sembari mengulurkan tangan dan membentangkan jemarinya, seolah sedang meminta cinderela berjalan dengan sang pangeran.


Ridwan melihat sikap Rehan yang lebih lebay dan sok romantis, Ia menjadi merasa eneg. Ia segera mencekal pergelangan tangan Rena untuk menjauhi Rehan yang menjadi saingannya dalam merebut hati gadis pujaannya.


sebelum Ridwan berhasil membawa Rena, Rehan dengan cekatan menghadang keduanya, menghalangi jalan mereka. seketika dua pemuda tampan itu berdebat. Rena yang merasa pusing dengan sikap keduanya, mencari celah agar bisa kabur.


saat Ridwan ingin menepis tubuh Rehan agar tidak menghalangi jalan mereka, Ia melepaskan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Rena. lalu Rena mengambil kesempatan untuk kabur dari keduanya.


kedua pemuda yang menyadari gadisnya kabur, saling pandang dan saling menyalahkan satu sama lain.


Rena tiba dirumah paman Rasyid hampir senja. Ia merasa lelah, Ia pulang dengan menggunakan angkot.


Ia bergegas masuk kekamarnya, lalu mandi membersihkan dirinya. setelah selesai menunaikan shalat maghrib, Rena berencana untuk pergi ke toko buku Gramedia yang ada di sun plaza Medan.


Ia berniat ingin membeli buku yang sesuai dengan footnote di skripsinya. Ia berdandan seadanya. setelah berpamitan pada Nisar, Ia pergi menggunaka Betor. sekalian berjalan-jalan malam menikmati keindahan gemerlapnya ibukota Sumut.


sesampainya Di Sun Plaza Medan, Ia bergegas masuk menuju toko buku tersebut. Ia berjalan dikoridor dengan rak-rak buku yang membuat Rena ingin membeli semuanya. Rena adalah orang yang memiliki kegemaran membaca. melihat begitu banyak buku, membuatnya seakan ingin membeli semuanya.


Rena menuju pada rak buku tentang pendidikan, satu buku karya karangan Dr. E. Mulyasa , M.Pd menjadi pilihannya. Ia mengagumi author hebat tersebut. bahkan Rena hampir mengoleksi semua buku karangan beliau.



saat asyik memilih buku, Rena memutar tubuhnya untuk mengambil salah satu buku yang menjadi perhatiannya saat pertama tiba tadi...lalu..[bruuuuk.]...Rena menabrak seseorang yang sedang juga memilih buku dirak sebelahnya.


buku yang dipegang Rena terjatuh, dan Ia juga limbung kekanan. dengan sigap sebuah tangan menangkap pinggang rampingnya, sehingga Ia tak sampai jatuh dilantai.


mata mereka beradu dalam pandangan syahdu. dan orang tersebut adalah Rehan. Pemuda itu membantu Rena untuk tegak. "Rena...siapa sangka kita ketemu disini."ucap Rehan berbinar.

__ADS_1


siapa sangka Ia akan bertemu gadis pujaannya ditoko buku. Rehan juga sedang mencari buku referensi untuk skripsinya, dan memperkaya pengetahuannya untuk menghadapi sidang skripsi yang sebentar lagi akan digelar.


"kamu cari apa sayang? " ucap Rehan lebay.


"cari Ice cream" jawab Rena sekenanya. Rehan terkekeh mendengar jawaban ketus Rena. "kamu belum berterimakasih pada pangeran yang telah menyelamatkanmu dari lantai yang keras" ucap Rehan meminta balas budi atas pertolongannya tadi.


"terimakasih sebanyak-banyaknya aku ucapkan padamu" jawab Rena ketus. Rehan menyunggingkan senyumnya, sembari menaikkan kedua alisnya.


Rena memungut bukunya yang jatuh, lalu beranjak ingin pergi kekasir. Rehan mengekorinya dari belakang.


saat akan membayar bukunya, Rehan segera menyerahkan credit card-nya, "sekalian sama yang ini mbak." ucap Rehan, sembari menyerahkan bukunya.


kasir menerima credit card milik Rehan, lalu menghitung jumlah seluruh harga buku milik Rehan dan Rena. setelah selesai, Rena bergegas hendak pulang. namun Rehan mencegahnya. "pulang bareng aku yuk Ren..?" ucap Rehan dengan nada memohon.


Rena menghela nafasnya, berfikir sejenak. "baiklah..terimakasih juga sudah membayar buku milikku.." ucap Rena sembari tersenyum manis.


"aduuh..Rena..meleleh hatiku melihat senyummu." ucap Rehan dengan gombalannya. hatinya sedang berbunga.


Rena yang mendengar ucapan Rehan menggelengkan kepalanya.


Rehan muncul dengan motor sportnya.



kira-kira seperti itulah gambaran motor sport milik Rehan ya pemirsa.. author ngehalunya tinggi banget ya kan.. daripada ngehalu sendiri, author ngajak pemirsa ngehalu berjamaah, kali aja suatu saat bisa beneran punya motor idaman.. aamiin..


Rena naik ke boncengan, sebenarnya Ia risih juga jika harus merapat dalam boncengan motor. Rehan melajukan motornya. hatinya sedang bahagia, karena baru kali ini Ia berhasil membawa Rena dalam boncengannya. selama ini Ia sangat sulit mengajak Rena pulang bareng.


dasar yang namanya laki-laki, selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Rehan bukannya membawa Rena pulang, malah menepikan motornya di sebuah cafe yang menyediakan menu ayam cabe Ijo.


"kita makan malam dulu ya Ren, perutku dah keroncongan" Rehan mencoba beralibi.


Rena hanya pasrah saja, bahkan saat Rehan menanyakan pesanan, Rena cuma mengikuti saja pesanan yang dipesan oleh Rehan.


sembari menunggu pesanan datang, Rehan menarik jemari tangan Rena. "Ren...sudah lama aku menyukaimu. sesudah wisudah nanti, maukah kau menjadi Istriku..? aku memiliki yayasan perguruan, kita akan bekerja bersama disana." ucap Rehan dengan lembut, penuh pengharapan.


Rena menarik tangannya dari genggaman Rehan, menarik nafasnya dengan berat. sesaat terdengar suara telefonnya berdering.


[kriiiing...] sebuah panggilan nomor baru, Rena mengangkatnya, dan.."Hallo Renaku sayang.."terdengar suara pria yang sangat Ia kenal. yaitu suara Bernard, pria brengsek yang sudah membuat hidupnya menderita.


Rena diam tanpa jawaban. lalu Ia mereject nomor panggilan tersebut, dan memblacklistnya. Ia sudah hambar dengan segala rayuan Bernard.


Rehan memandangi wajah rena yang diam termenung setelah mendapat telefon barusan. namun Ia bukan type cowok kepo. Ia menyadari bahwa hati Rena sepertinya sedang tidak mood. Ia tidak ingin memaksa Rena memberikan jawabannya malam ini.

__ADS_1


pesanan datang, Rehan mengajak Rena makan, menyadarkan Rena dari lamunannya. Rena tersenyum datar. "aku akan fikirkan terlebih dahulu Re.." ucap Rena lirih.


Rehan mengangguk, "aku tidak memaksamu memberikan jawabannya malam ini. namun aku menunggu saat kau sudah benar-benar siap.." jawab Rehan penuh harapan.


__ADS_2