
Setelah sebulan pulang dari berlibur, Hanif merasakan hatinya semakin berwarna
Ia merasa jika Rena yang menjadi pelabuhan hatinya yang sangat begitu berharga.
[Huuueek..huuekk..]
Rena mengalami mual. Sedari tadi Ia berada dikamar mandi.
Hanif yang sedang bersiap untuk bekerja, merasa heran dan khawatir, karena Rena tak jua keluar dari kamar mandi. Ia mencoba memeriksa kedalam kamar mandi.
Ia melihat Rena yang menghdap washtafel sembari memuntahkan isi perutnya.
Hanif menghampirinya, rasa cemas menggelayuti hatinya. "Kamu kenapa sayang..? Ucap Hanif, dengan perasaan was-was..
Rena Menoleh kearah Hanif, dengan wajah pucat pasi.
Hanif yang melihat kondisi Rena, begitu sangat terperanjat. "Kamu perlu kedokter sayang." Ucap Hanif. Dan tanpa persetujuan dari Rena, Ia membopong tubuh Rena yang kelihatan sangat lemas. Ia membaringkan tubuh Rena diranjang dengan lembut.
Lalu menelefon dokter pribadi keluarganya.
*****
Hanif terus memeluk tubuh Rena dengan rasa khawatir.
Dokter datang dan memeriksa kondisi Rena. Sesaat kemudian, "selamat ya pak Hanif, sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah." Ucap dokter tersebut dengan senyum bahagia.
"A..apaa..? Benarkah..?" Ucap Hanif terbata.
"Makasih ya Rabb.. " sembari mengecup kening Rena. "Makasih juga ya sayang.." ucapnya dengan lembut dan hati yang begitu bahagia.
Dokter itu mengemasi peralatan medisnya, lalu memberikan resep obat untuk mengurangi rasa mual dan vitamin untuk kesehatan janin tersebut.
Setelah itu,Ia permisi untuk pulang.
Setelah dokter itu pergi, Hanif tak henti-hentinya mengecup kening Rena. Ia merasakan kebahagiaan yang tak terhingga.
"Kamu mau hubby beliin apa sayang..?" Ucap Hanif dengan lembut dan penuh cinta kasih.
Rena hanya menggelengkan kepalanya, Ia lagi tak berselera. Karena apapun yang dimakannya akan keluar lagi.
Hanif menjadi khawatir akan kondisi Rena yang belum makan sedikitpun. "Sayang.. jika hubby yang masakin, kamu mau makan ya..?" ucap Hanif lembut. mencoba merayu Rena, agar memakan sesuatu.
Rena menghela nafasnya, sebenarnya perutnya sangat lapar, tapi seleranya yang hilang.
"bby.. Ren pengen makan terong tamburlah.." ucap Rena denga manja. entah mengapa tiba-tiba saja Ia pengen makan terong tambur.
"haaah..? masakan apa itu yank..? Hubby baru dengar" ucap Hanif bingung
Rena tersenyum geli, melihat wajah bingung Hanif.
__ADS_1
"itu loh bby, terong ungunya dibakar, trus disiram pakai sambal matah dan perasan air limau" ucap Rena menjelaskan.
"ooo.." Hanif manggut-manggut. "kalau Hubby masakin, beneran mau makan..?" ucap Hanif dengan penuh harap.
Rena mengangguk, setuju.
"kalau begitu hubby belanja dulu ya..?" ucap Hanif sembari beranjak dari tempatnya.
"ikut.." ucap Rena manja.
Hanif tersenyum, tanda setuju.
Rena segera bangkit dari tidurnya, melangkah dengan semangat.
****
Hanif menghentikan mobilnya di maall Pekanbaru. Rena sebenarnya merengek minta dibawaiin ke pasar tradisional, karena Ia teringat masa sewaktu tinggal di Medan.
bukannya Hanif tidak ingin membawa Rena ke pasar tradisional, tetapi kondisi Rena yang sedang tidak memungkinkan dan sangat sensitif akan mengkhawatirkan nantinya jika tiba-tiba merasa mual.
Dengan segala bujuk rayu, akhirnya Rena mau juga dibawa ke Mall.
saat memilih bahan yang akan dipakai untuk membuat terung tambur, Rena melihat ada buah delima. buah itu adalah kegemarannya. karena semasa dikampung, Ia memiliki pohonnya.
Ia ingin membelinya beberapa buah. "kamu mau beli buah ini anggi..?" . Rena mendengar seseorang sedang berbicara tepat disampingnya. Rena seperti mengenali suara itu. Ia menoleh kearah sumber suara tersebut.
alangkah terkejutnya Ia, ketika melihat orang yang berada disampingnya. "Bang Anjuuu..?" ucap Rena sedikit berteriak.
"hei.. apa kabar Rena..?" ucap Anju sumringah, sembari mengulurkan tangannya.
"baik bang.. kabar abang gimana..?" ucap Rena semangat.
"alhamdulillah baik.. kenapa bisa kebetulan kita bertemu disini..?" ucap Anju senang.
"aku sudah menikah bang, dan suamiku membawaku kemari" ucap Rena dengan ceria.
"oh ya..syukurlah.. akhinya kamu lepas da..ri.." Anju menggantung ucapannya. karena Ia melihat seorang pria tampan sedang menuju menghampiri Rena, sembari membawa troli.
Rena menoleh kearah pandangan Anju. "oh ya bang.. ini Hanif suamiku.." ucap Rena dengan senyum bahagia, sembari memperkenalkan Hanif pada Anju.
"Anju.." ucapnya memperkenalkan diri.
"Hanif.." sembari mengulurkan tangan, dan mereka saling jabat.
"gila.. beruntung banget si Rena, lepas dari yang hancur, dapat yang ganteng.." Anju berguman dalam hatinya.
sesaat datang seorang wanita yang sedang mengandung, menghampiri Anju. "oh ya Ren.. kenalkan, ini istriku Rosna" sembari tersenyum.
lalu mereka terlibat obrolan kecil. "abang kenapa bisa disini juga..? ucap Rena penasaran.
__ADS_1
"abang bekerja disalah satu pabrik pengolahan minya goreng." ucap Anju menyebutkan nama perusahaan tempat Ia bekerja.
Rena memandang Hanif, saat mendengar nama perusahaannya bekerja. Hanif memberikan kode agar Rena tidak melanjutkannya bertanya lebih jauh.
"oh ya bang.. aku sudah selesai belanja, kalau abang ada waktu, mainlah kerumah kami." ucap Rena tulus, sembari menyebutkan alamat rumahnya.
"Insya Allah.." jawab Anju. lalu mereka berpisah.
saat keluar dari kasir, Rena tiba-tiba sesak pipis, Ia meminta Hanif menunggunya diparkiran, karena Ia akan kekamar kecil, dan menyelesaikan hajatnya.
Rena keluar dari kamar kecil, lalu menuju cermin yang disediakan disana. lalu keluar dari toilet, dan tanpa sengaja Ia berpapasan dengan Anju lagi. mereka saling sapa kembali.
namun Anju memberikan kabar yang mengejutkan untuk Rena.
"Ren...apa kamu tau kabar Bernard yang sekarang..?" ucapnya dengan lirih.
"aku tidak ingin tau, dan tak ingin mencari tau.." ucap Rena dengan datar sembari beranjak hendak pergi.
"baguslah.. namun aku hanya ingin memberitahumu, jika Ia mengalami depresi, dan sulit untuk disembuhkan." ucap Anju, sembari berlalu pergi tanpa melihat Rena sedkitpun.
Rena berdiri terpaku..menatap kepergian Anju. " itu bukan salahku.." ucap Rena, sembari berlalu.
***
sesampainya dirumah, Hanif bersiap mengolah bahan yang sudah mereka beli. Rena membantu membuat sambal matah, sedangkan Hanif membakar terong ungu yang dibelah dua memanjang.
lalu hidangan telah siap disantap.
ini visualnya ya, kalau ngiler silahkan dicoba, didapur masing-masing..😴😴
Rena begitu bersemangat memakan masakannya yang dibantu oleh suami tercinta.
"bby..kenapa Hubby tadi merahasiakan dari Anju sahabat Ren tadi.." ucap Rena sembari menguyah makanannya.
Hanif memandang Rena dengan tatapan teduh, tenang dan menenangkan. "terkadang tidak semua orang harus tau tentang siapa kita sebenarnya." ucap Hanif sarkas.
Rena mengangguk mengerti. "selain tampan, Hubby juga pintar ya.." ucap Rena meluncur begitu saja.
Hanif mengernyitkan keningnya "a...aapa..? coba ulangi lagi.. Hubby gak dengar.." ucapnya sembari menggoda Rena, meski sebenarnya Ia lagi tersanjung dengan pujian Rena.
Rena tertawa geli melihat sikap Hanif yang tiba-tiba berubah menjadi berbunga hatinya.
"oh ya, sayang.. Anju itu sebenarnya siapa..?" ucap Hanif dengan selidik.
"uuhhhuuuuk.." Rena tersedak saat mendengar pertanyaan yang tak pernah Ia harapkan.
Rena terburu-buru meneguk air minumnya, lalu berpura-pura tidak mendengar pertanyaan dari Hanif.
__ADS_1
****