
"Ren...Rena..." Nisar memanggil Rena.. " tak ada sahutan..Nisar penasaran. Ia mencoba mengetuk pintu berulang kali.
[tok..tok..tok..] "Rena...kamu ada didalam..?" Nisar mencoba berulang kali memanggil tak ada juga sahutan.
"apa aku chek kedalam saja ya..? gak sopan sih..! tapi sudahlah. untuk memastikan saja." lalu Nisar menarik handle pintu.
[kreeeeeek..] suara pintu dibuka. Ia memandang kesekeliling kamar. sepi.. tak ada siapapun.
"kemana dia..? apa pergi kekampus..?" Nisar ingin menutup pintu, namun matanya tertuju pada selembar kertas diatas kasur. Ia penasaran lalu, melangkah mengambil kertas itu.
Nisa membaca setiap baris kata yang tertulis dikertas itu. surat dengan kops surat kampus Rena.
"Rincian biaya wisuda..? dan hari ini tanggal terakhir pembayaran..? lalu mengapa Rena tak memberitahunya." Nisar mencoba mencari jawaban semua itu.
bahkan Ia melihat surat itu dikeluarkan sudah lebih dari seminggu.
"akan aku tanyakan nanti padanya jika Ia sudah pulang." Nisar mengambil surat itu dan membawanya. lalu Ia pergi meninggalkan kamar.
****
Rena sampai dirumah paman Rasyid pukul 5 sore.
Ia bergegas masuk kekamarnya. membersihkan diri lalu shalat Ashar. setelah itu Ia merebahkan dirinya. Ia memikirkan perkataan Amy saat dikampus.
"sepertinya aku harus berterus terang kepada Ridwan dan Rehan. mereka berhak tau, karena akan sakit jika harapan kita digantung seseorang"
Rena menatap langit-langit kamarnya. bayangan wajah Hanif terukir indah dimatanya.
Rena memandangi cincin berlian bermata biru. cincin yang mengukir indah dijemari manisnya.
"terimakasih ya Rabb..kau kirimkan Dia untukku.."Rena merasa syahdu.
[tok...tok..tok..] suara pintu diketuk dari luar.
"Ren...buka pintunya.. ne abg mau bicara.." ucap Nisar sarkas.
Rena bangkit dari pembaringannya, Ia sedikit gemetar, karena tidak biasanya bang Nisar bicara seperti ini.
__ADS_1
Ia beranjak membuka pintu kamarnya. bang Nisar masuk nyelonong saja, lalu mengunci pintu kamar. Ia memegang kertas rincian pembayaran penyelenggaraan wisuda.
"apa ini..? mengapa kamu tidak mengatakan kalau hari ini hari terakhir pembayaran..? apa kamu mau menunda wisuda tahun depan..?" ucap bamg Nisar dengan nada tinggi. sembari Ia mengacungkan surat itu kehadapan Rena.
Rena menundukkan kepalanya, dia terisak mendengar suara keras bang Nisar. "maafin Rena bang..Rena takut membebani abang dan tante..sedangkan biaya perobatan paman semakin membengkak.." ucap Rena sembari tergugu.
Nisar memandang Rena, "ini sudah menjadi tanggung jawab papa sebagai saudara laki-laki tertua ibumu. kalau hanya 5 juta abang masih sanggup." ucap Nisar merendahkan nada bicaranya.
"tapi Rena sudah melunasinya..?" ucap Rena yang masih menunduk..
Nisar membulatkan matanya.."apa..? dari mana kamu mendapatkan uang itu..? jawab..?! jangan katakan jika kamu mendapatkan dengan jalan yang salah..?!" ucap Nisar penuh selidik.
Rena menggelengkan kepalanya, "tidak bang..sumpah Rena gak mendapatkannya dari jalan sesat" Rena menutup mulutnya dengan jemarinya.
Nisar melihat cincin berlian bermata biru berada dijemari manis Rena. Nisar memastikan harganya sangat mahal. lalu Ia menarik pergelangan tangan Rena.
"ini apa Rena..? siapa yang memberikannya untukmu..? jawab abang..?!" Nisar memperlihatkan cincin yang melekat dijemari Rena.
Rena tak menyadari jika Ia belum mengatakan pertemuannya kepada Hanif. Ia memastikan bahwa bang Nisar sedang menudingnya menjadi ayam kampus. yang biasa bermain dengan om-om genit.
"Seseorang memberikannya kepada Rena bang..kakak sepupu Amy.. tiga bulan lagi Ia dan kelurganya akan datang dari pekanbaru untuk melamar Rena." ucapnya dengan kejujuran.
Rena mengangguk. dan menengadahkan wajahnya menatap bang Nisar.
"kalau benar, minta Ia untuk menemui abang nanti malam." ucap Nisar, sembari mengacak rambut Rena. "ya sudah..abang keluar dulu."
Nisar beranjak meninggalkan Rena. mungkinkah pria ini yang dikatakan pak ucok yempo hari..? jika benar, maka kami harus merestuinya." ucap Nisar dalam hatinya.
Rena menutup pintu kamarnya, Ia bernafas lega.
lalu Ia menghubungi Hanif, meminta sang malaikat hatinya untuk menemui keluarganya malam nanti.
****
Hanif bersiap-siap untuk menemui Rena. memenuhi undangan Nisar, abang sepupu Rena.
Ia mengenakan pakaian casual, memperlihatkan tubuh kekarnya. senyum kharisma selalu menghiasi wajahnya. dengan pandangan yamg teduh, membuat siapa saja akan menyukainya.
__ADS_1
Hanif sampai didepan pagar rumah paman Rasyid.Ia keluar dari mobilnya, lalu melangkah dengan penuh kewibawaan. Rena menghampirinya. "kak..Hanif..aku kira kakak gak mau datang.." ucap Rena manja.
Hanif memandang dengan senyum manisnya. "tidak mungkin kakak menolak undangan dari keluarga calon istriku..dan sekalian kakak mau pamit sama kamu, karena esok terakhir di Medan. ada pekerjaan yang harus kakak buru." ucap Hanif dengan tenang.
Rena merasa tersanjung sekaligus bersedih, karena Ia akan LDR-an dengan pria berhati malaikat ini.
dijendela kamar lantai dua, Nisar mengamati dari balik tirai jendela. tingkah Nisar membuat ocha penasaran." kamu lagi mengintai siapa yank..?" Ocha penasaran dan ikut mengintai.
"itu siapa yang..? cowok Rena ? " ucap Ocha kepo.
Nisar mengangguk. "apakah kamu ingat pesan pak Ucok tempo hari..?" mungkinkah itu pria yang menjadi jodoh Rena kelak..?" Ucap Nisar sembari memoleh kearah Ocha.
"iya ingat..tapi tampan banget yank, bahkan sangat tampan.." ucap Ocha memuji Hanif.
Hanif uang mendengar istrinumya memuji pria lain didepannya, langsung melayangkan cubitan dipinggang ramping istrinya "aaawww...sakitlah yank..?" ucap Ocha meringis menahan sakit.
"itu hukuman karena kamu sudah memuji pria lain dihadapanku.." ucap Nisar dengan wajah masam.
Ocha tersenyum geli dengan sikap suaminya. "kamu cemburu ya yank..? " ocha menyenggol lengan kiri Nisar. Ia terkekeh geli.
"cuma kamu yang paling tampan dan.paling aku cintai.."gombal ocha sembari melayangkan ciuman dipipi Nisar.
Nisar menyambutnya dengan nyengir kuda.
"yuuuk..turun..kita sambut tamunya. tapi awas kalau kamu kegenitan ya." ancam Nisar. yang membuat Ocha terkekeh dengan sikap konyol suaminya.
***
Hanif duduk di sofa ruang tamu bersama Nisar. disana juga sudah ada tante Marti dam.paman Rasyid. mereka berbincang tentang kondisi paman Rasyid. Hanif mendengarkan dengan seksama.
sepertinya paman Rasyid dan Tante Marti langsung menyukai Hanif pada pertemuan pertama mereka.
Nisar dan Ocha turun dari lantai dua. tangan Nisar terus memegang pergelangan tangan Ocha. seperti takut Ocha akan berlaku genit.
mereka duduk di sofa bersamaan. Hanif bangkit dan menjabat tangan Hanif, lalu menangkupkan tangannya didada saat menyapa kak Ocha.
Nisar melihat jika ada ketulusan dihati Hanif. Ia berharap jika Hanif kelak membawa kebaikan bagi Rena.
__ADS_1
kesan pertama yang begitu indah.
mereka mengobrol dan saling sapa. sepertinya rambu-rambu lampu hijau telah berada ditangan Hanif. Restundari Semuanya telah Hanif kantongi. tinggal menunggu masa ijab kabul.