
Rena menangis tanpa sebab. Setelah pertemuannya dengan Bernard, membuatnya semakin menggila.
Saat bertemu denagn Bernard, hatinya sangat berbunga. Namun disisi lain, Ia melihat bayangan Hanif.
hati dan akalnya kini saling bertentangan. Ia tidak dapat memilih yang mana.
Hatinya begitu mendamba akan Bernard, tetapi akalnya mengatakan ada Hanif yang tulus padanya.
Terkadang Ia tiba-tiba merasa ingin menangis tanpa sebab. Tugasnya sebagai istri mulai memudar. Bahkan kedua buah hatinya kini dijemput oleh pak Mamang.
Hanif merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan istrinya. Namun Ia masih meragikannya apa.
"Pa...mengapa mama selalu murung..? Bahkan Mama sudah tidak pernah menjemput kita lagi.." ungkap Khanza pada suatu pagi.
Hanif menarik nafasnya dengan berat. "kamu yang sabar ya sayang.. Jangan nakal sama Mama.. Mungkin Mama sedang tidak enak badan. Jangan buat mama kesal." ucap Hanif, sembari membelai lembut ujung kepala Khanza.
"pa.. Setiap saat itu koq selalu ada Oom kecil yang menunggu didepan pintu pagar." ungkap Adillah dengan polos.
Deeeeegh..
Jantung Hanif serasa berhenti. "maksud kamu apa sayang.?" tanya Hanif penasaran.
"itu lho pa.. sudah 2 hari ini Dilla liat ada Oom kecil yang selalu berada di depan pagar pa." Adillah tampak nyerocos.
"orangnya seperti apa sayang?" tanya Hanif penuh selidik.
"kecil, putih, rambutnya lurus.pa" jawab Adillah.
Hanif terdiam sejenak. Papa tinggal dulu ya.. Papa ada urusan sebentar. Jangan nakal." Titah Hanif kepada keduanya.
"baik pa.."jawab mereka dengan serempak.
Hanif segera menuju kamarnya. Mengambil hanphonenya. Lalu memeriksa cctv dibagian depan.
"haah..bukankah dia juga yang aku lihat saat kemarin didepan warung bakso..? Apa ada hubungannya dengan Rena?" Hanif terus menelusurinya.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Hanif melihat Rena berlari keluar, lalu berkomunikasi kepada pria itu, dan sesaat kemuadian pergi menggunakan mobil yang diikuti oleh pria itu.
Hati Hanif hancur berkeping. Ia tak menyangka jika perubahan Rena ada hubungannya dengan pria itu.
__ADS_1
"siapa dia..? Mengapa tiba-tiba saja dapat merubah istrinya dalam sekejap.
Ia melirik istrinya yang berada dibalkon Kamar, matanya terus menatap keluar. Mencari seseorang disana. tampak Rena menangis terisak, hingga matanya menjadi sembab.
"apakah Ia sedang menunggu pria itu..?"Hanif berguman lirih dalam hatinya. Ada cemburu merasuk kalbu.
Ia mencoba untuk tenang. Ia belum menemukan bukti konkritnya. Maka Ia harus mencari kebenarannya tanpa gegabah.
Hanif mencoba bersabar menghadapinya. Ia melangkah mendekati Rena yang sedari tadi menangis terisak.
"Sayang.. Kamu sedang apa disini..? Kamu sedang menunggu seseorang..?" ucap Hanif setenang mungkin.
Rena tergugup. Lalu menyeka air matanya. Akalnya masih dapat mengenali jika Hanif adalah suaminya, namun hatinya berada ditempat yang tidak seharusnya.
Rena menggelengkan kepalanya. Ia mencoba berbobong dengan perasaannya.
"kita turun makan dulu yuk..?" ucap Hanif dengan nada selembut mungkin. Saat ini hatinya mungkin sakit, tetapi Ia belum memiliki buktinya.
Rena menggelengkan kepalanya, tidak inginkan sesuatu apapun.
Hanif merapatkan bibirnya, Ia tau sedari tadi Rena belum memakan sesuatu apapun. Ia turun kebawah, lalu mengambil sepiring nasi dan beserta lauknya dan segelas air putih.
Ia kembaki kekamar, dan menuju balkon. Ia mengambil kursi kosong, lalu menghadap kepada Rena. "makan dulu ya sayang, katena menunggu seseorang itu juga butuh tenaga." ucap Hanif sembari menahan ritme setiap katanya.
Sesuap demi sesuap akhirnya nasi itu habis juga. Dan Hanif membawa piring kotor tersebut ke washtafel. Hanif mencengkram meja washtafel dengan kedua tangannya. Lalu menengadakan kepalanya. Menahan bulir bening yang hampir tumpah.
Bukannya Ia seorang pria yang rendah. tetapi baginya mempertahankan biduk rumah tangganya adalah sebuah keharusan. Apalagi ada Khanza dan juga Adillah yang menjadi tempat untuk alasan bertahan.
Mencari wanita pengganti sangatlah mudah baginya. Apalagi dengan ketampanan dan kekayaan yang dimilikinya, tentu tidak sulit untuk hal itu. Bahkan seratus wanita juga dapat Ia dengan mudah Ia dapatkan.
Namun Ia adalah type orang yang jika sudah jatuh hati, maka Ia akan mencintainya sepenuh hati.
Ia telah menjatuhkan pilihan hatinya pada Rena, dan itu tidak mudah baginya untuk melepaskannya begitu saja.
"papa..."sapa Khanza dan Adillah bersamaan.
"Iya sayang.." jawab Hanif dengan suara bergetar. Ia tidak mungkin terlihat lemah dihadapan kedua buah hatinya.
"pa.. Kita main di maal yuuk pa.. Ajak mama juga." rengek Khanza.
__ADS_1
Hanif mencoba tersenyum kepada keduanya. Seolah-olah semuanya baik-baik saja.
"tapi mama sedang tidak enak badan sayang, masa kita harus paksa mama sih.." ucap Hanif berbohong. Ia masih ingin menjaga marwah istrinya dihadapan kedua anaknya.
Khanza dan Adillah berubah manyun. "kenapa gak dibawa kedokter saja sih pa kalau sakit?" protes Khanza dengan jawaban papanya.
Hanif semakin bingung dengan pernyataan Khanza yang kini sudah mulai bertambah tata bahasanya.
"kita pergi bertiga saja tidak apa-apakan sayang.. Nanti kalau mama sudah sembuh kita baru ajak mama main bareng ke Mall." Hanif mencoba merayu sang putera.
"Ok pa.." seru keduanya dengan semangat. Lalu mereka berlari menuju mobil. Hanif mengekorinya dari belakang.
Saat akan menaiki mobil, Khanza dan Adillah berseru dari bawah dan menatap ke atas balkon.
"mamaaa... Kami main ke mall dulu ya..?" ucap Keduanya sembari melambaikan dengan semangat. Rena melongok kebawah, lalu mencoba untuk tersenyum meski terpaksa.
Hanif yang melihatnya merasa terhiris hati dan peradaannya, namun mencoba menepis segalanya.
Hanif membawa keduanya untuk bermain di Mall, karena saat ini Ia juga ingin membuat kedua bocah itu merasa senang, dan Ia tak ingin membuat keduanya patah harapan, karena keinginannya tidak tercapai.
Hanif keluar dari pagar rumahnya, memasuki jalanan utama. Ia melihat sebuah mobil yang baru saja melintasinya.
Deeeeegh
Gemuruh dijantung kian tak beraturan. "Dia.." Hanif berguman lirih. Ia merasakan firasat yang tidak enak. Namun saat Melihat Khanza dan Adillah yang tampak bersemangat untuk pergi Mall, membuatnya merasa bimbang.
akankah ia membatalkan niatnya mengajak Khanza dan Adillah ke Mall, atau mengikuti pria yang baru saja Ia curigai.
"pa..kita nanti ke T*me Zone ya pa.. Khanza sudah lama gak main kesana." teriak Khanza sembari bercanda dengan Adillah.
Hati Hanif seperti berada dipersimpangan. Antara memikirkan kebahagiaan puteranya atau berputar arah pulang. Namun mematahkan harapan anaknya adalah seauatu yang sangat sulit.
"Ya Rabb.. Jaga dia.. Jika Ia masih jodohku, maka satukanlah kami dalam ikatan suci pernikahan, hingga sampai akhir hayat." doanya dengan penuh pengharapan kepada Rabb-Nya.
Akhirnya Ia lebih memilih untum membawa kedua buah hatinya ke Mall, dengan memantau pergerakan Rena dari cctv yang tersambung di handphonenya.
Saat sampai di Mall, ketiganya langsung menuju lantai atas tempat arena bermain anak. Hanif memberikan card bermain yang telah diisi saldonya.
Sesaat ia teringat sesuatu. " Khanza dan Adillah bermain disini dulu ya, nanti papa kemari lagi. Jangan kemana-mana. Papa ada urusan sebentar." titah Hamif kepada keduanya.
__ADS_1
Lalu mereka menjawab dengan anggukan.
Hamif berlalu dari keduanya, ada sesuatu yang ingin dibelinya, dan hal itu sangat penting.