Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Dendam


__ADS_3

"Sial...!!"umpat Duma, saat sang pemuda meninggalkannya begitu saja.


Rasa sakit hati yang begitu dalam menimbulkan rasa dendam dihatinya. Ia akan terus berupaya untuk dapat menaklukkan sang pemuda, seseorang yang sudsh membuatnya gila.


Mobil Khanza melintasinya dengan begitu saja, dan Ia dapat melihat pemuda itu berlalu tanpa ada sedikitpun menoleh untuk meliriknya.


"Lihat saja kau..! Aku pastikan suatu saat kau akan bertekuk lutut dihadapanku dan akan mengemis cinta padaku, maka saat itu kau akan merasakan bagaumana rasanya diabaikan.." Duma berguman lirih dengan nada penuh ancaman. Tatapan matanya tajam mengikuti arah mobil Khanza yang terus melaju dan menghilang.


Duma kembali berjalan memasuki Bar dengan hati yang sangat galau dan sakit. Hingga Ia tidak menyadari jika Rika sudah berada disisinya dengan tatapan yang sangat kesal.


"Heei.. Gadis sialan..! Mana uang dan phonselku..?!" tanyanya dengan nada sengit.


Duma menoleh kepada Rika yang sedang berbicara padanya dengan tatapan tajam.


"Apa yang kau maksud..? Aku mengambil uang dan phonselmu..? Bukankah kau memberikannya dengan suka rela..? Lalu bagaimana kau bisa menuduhku mengambilnya..?" ucap Duma dengan senyum sinis.


Mendadak Rika menjadi bengong, lalu mengerutkan keningnya. "Masa sih..?" tanyanya dengan nada bingung, sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Iya.. Mungkin kamu sekarang berubah menjadi pelupa." jawab Duma dengan senyum liciknya, Ia terus berupaya untuk mempengaruhi fikiran Rika yang kini tengah kebingungan.


Melihat lawan bicaranya yang sedang kebingungan, Duma berjalan meninggalkan meja Bar, dan menuju parkiran. Sepertinya malam ini Ia sedang tidak ingin bekerja, pertemuannya dengan Khanza telah membuatnya berubah menjadi tak bersemangat.


Ia mengambil phonselnya, lalu menelefon William, meminta ijin untuk pulang, meskipun managernya itu tidak mengijinkannya, Ia tetap pulang malam ini.


Sementara itu, Khanza yang kini berada didalam mobilnya, mencoba menetralisir segala debaran didadanya. Ia terus merafalkan kalimah..


"Tabbatyadah...Abiilahabiwwatabb..". Sang pemyda mencoba melawan debaran dihatinya yang Ia rasa tidak wajar.


"Gadis itu sepertinya mencoba memikat hatiku dengan cara kotornya." Khanza berguman lirih dalam hatinya.


khanza masih mengingat pesan Hanif, sang ayahanda, jika ada sesuatu hal diluar nalar kita yang mesti harus kita ketahui dan cara mencegahnya.


Lalu Ia kembali fokus menyetir dan membelah jalanan dengan terus mengharapkan perlindungan dari yang maha kuasa.


Sebagai pemuda Ia mengakui jika gadis itu cantik, menarik dan juga memiliki lekuk tubuh yang aduhai. Tentu semua hal yang diinginkana pria ada pada sang gadis, namun bukan itu sesuangguhnya kecantikan yang didambakan, ada sisi lain yang lebih indah.


Khanza juga tidak mengerti mengapa Ia selalu dipertemukan oleh gadis itu. Hampir setiap saat Ia selalu bertemu dan berhadapan dengan sang gadis. Ditambah lagi rekan bisnisnya yang selalu mengajak pertemuan ditempat tersebut, sehingga tanpa sengaja membuat mereka selalu bertemu.

__ADS_1


Khanza telah sampai didepan rumah. Ia melihat sebuah mobil lain terparkir didepan rumah. "Papa dan Mama..? Kapan mereka sampai..dan mengapa tidak memberi kabar..?" Khanza berguman lirih dalam hatinya, saat mengenali mobil yang terparkir diperkarangan rumah mereka.


Pemuda itu bergegas turun dari mobilnya. Ia ingin segera menemui kedua orang tua yang dirindukannya.


Saat memasuki rumah, Ia melihat Rena sang mama sedang duduk disofa menantinya.


"Mama..." teriak Khanza, lalu menghambur kepada Rena dan memeluknya bak seorang bocah berusia empat tahun.


Pemuda itu tak henti-hentinya mengecup pipi mamanya dengan penuh kerinduan.


"Kapan nama datang..? mengapa tidak memberi kabar kepada Khanza terlebih dahulu, agar Khanza bisa lebih awal pulang.." cecar sang pemuda dengan gemas.


Rena memandang puteranya itu dengan penuh kelembutan. "Mama sengaja tidak memberitahumu, agar kamu tetap fokus pada pekerjaanmu dan memberi surpise kepada kamu." jawab Rena dengan lembut.


"Mamaa.." ucap Khanza manja.


Tak berselang lama, tampak Hanif sang papa keluar dari kamar tamu yang khusus buat kedua orang tuanya jika datamg berkunjung.


"Papa.." ucap Khanza, lalu menyongsong sang Papa dan menyalim tangan orangtuanya tersebut.


Sesaat Hanif memandang wajah sang putera, ada sesuatu yang berbeda, namun Ia masih menyimpan dalam hatinya.


"Kak Adillah mana Ma..?" tanya Khanza penasaran, saat tak melihat keberadaan kakaknya tersebut.


"Masih dikamar, mungkin baru selesai shalat isya, karena Ia juga baru pulang bekerja." jawab Rena menjelaskan.


"Ma.. Ka Adillah sudah punya pacar.." Bisik Khanza mengadu.


Rena tersenyum geli mendengar aduan sang putera, yang mana Ia merasa itu sangat kekanakan.


"Oh..ya.. Berarti anak gadis mama sudah jatuh cinta, dan Mama bakal punya menantu donk.." ucap Rena sembari tersenyum.


Khanza tersenyum ringan menaggapi pernyataan mamanya.


"Ya sudah.. Kita makan malam yuk.. Sembari menunggu kakakmu selesai shalat." Ajak Rena sembari menuju meja makan.


Hanif mengikuti keduanya, lalu duduk dimeja makan menghadap hidangan.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Adillah keluar dari kamar dan menuju meja maka untuk bergabung.


Khanza yang duduk disisi Rena menyikut lengan mamanya, memberi kode tentang aduannya barusan. Sesaat Rena membolakan matanya, meminta agar Khanza tidak usil kepada kakaknya.


Dilain sisi, Hanif melihat wajah sang puteranya tampak seperti sedang mengalami sebuah serangan ghaib yang kini sedang gencar dilakukan oleh seseorang.


Namun, Ia masih merahasiakan semuanya, Ia tidak ingin melihat sang istri merasa gelisah akan hal ini jika saja mengetahui tentang apa yang terjadi pada puteranya.


******


***********


Pagi ini begitu cerah, langit biru tampak begitu indah.


"Ma.. Jalan-jalan yuk..?" ajak Khanza kepada Rena.


"Kemana sayang..?" tanya Rena menanggapinya dengan santai.


"Mama maunya kemana.?" tanya Khanza balik bertanya. Sementara Hanif melihat ulah Khanza yang begitu terlalu manja kepada Rena merasa sangat diabaikan.


"Mama mau shoping.. Gimana..? Setelah itu kita kerumah kakak sepupu Mama, Kak Nisar." uajr Rena memberi pilihan.


"Oke deh Ma.. Apa sih yang enggak buat Mama.." jawab Khanza dengan cepat, hatinya begitu bahagia melihat kedatangan sang Mama yang sudah lama dirindukannya.


Sementara itu, Hanif berdehem.. Ia merasa begitu diacuhkan sedari tadi, sehingga mencoba memberi kode jika Ia ada diantara Rena dan Khanza.


Seketika keduanya menoleh kearah Hanif yang berpura-pura sibuk bermain phonselnya.


"Papa ikut ya..?" ucap Khanza yang sudah memahami jika papanya sedang merasa diabaikan.


"Tidak.. Kalian saja pergi, papa sedang ada urusan.. Salam buat Kak Nisar dan kak oca ya sayang.." ucap Hanif kepada Rena sang Istri.


"Iya Hubby.. Nanti Ren sampaikan ya kalau ketemu.." jawab Rena sembari tersenyum.


"Ya sudah.. Ayo kita berangkat sekarang Ma.." ucap Khanza tak sabar.


"Ayolah.. "jawab Rena, sembari beranjak dari duduknya, dan mengekori langkah Khanza yang sudah lebih dulu bergerak.

__ADS_1


"Ikut.. Aku nebeng kekampus, mobilku masuk bengkel.." ucap Adillah sembari berlari kecil menyusul Rena dan Khanza.


__ADS_2