
"Bu.. Tunggu di sofa bentar, ya, Adilla mau shalat dzuhur bentar ya.." ucap Adillah sopan.
Adilla beranjak pergi masukk kekamarnya. Ia berniat hendak shalat dzuhur terlebih dahulu.
Wina duduk bersandar disofa. Entah perasaan apa yang membuatnya begitu nyaman saat bersama gadis tersebut. Ada perasaan bahagia, namun Ia tak dapat mengartikannya apa.
Wina memejamkan matanya, membayangkan sisa hidupnya yang kesepian. "andai saja waktu dapat ku putar kembali, mungkin aku tidak akan membuang anak-anakku. Menjalani masa tua tanpa seorang anakpun terasa begitu sangat menyedihkan.
"Dimana sofia sekarang? Apakah Ia masih hidup? Atau dimakan hewas buas.?" Wina berguman dalam hatinya.
Wina masih mengingat betapa bencinya Ia saat membayangkan bibir sumbing Adilla yang membuatnya begitu sangat malu jika membawanya keluar dan bertemu orang banyak.
Wina menghela nafasnya dengan berat.
Ia mencoba melupakan kisah beberapa puluh tahun yang lalu. Ia Tidak ingin terkungkung dalam rasa bersalah.
Saat Wina larut dalam alam fikirannya. Adillah muncul dari arah pintu kamarnya.
Lalu menghampiri Wina, sembari memberikan sebuah cardigen berlengan panjang berwarna hitam gelap.
"Bu.. Pakailah ini, agar ibu terlihat lebih cantik." ucap Adillah dengan sangat hati-hati dan sopan, sembari mengulurkan senyum termanisnya dan ketulusan.
Wina terperangah, lalu beranjak bangkit darinduduknya, sembari menyambar cardigen tersebut. Lalu memakainya.
"ibu suka.?" tanya Adillah dengan ramah
Wina mengangguk.
"ibu Mau beli lagi? Kita ke Mall, atau kepasar modern sekitar sini? Seperti pasar petisah.?" tanya Adillah dengan lembut.
"yang mana saja, karena Ibu tidak memilki uang." ucap Wina dengan tertunduk malu.
Adillah menatap dengan sendu. "baiklah.. Kita pasar modern saja, nanti Ibu bisa pilih apapun disana." ucap Adillah dengan senyum yang sangat ramah.
Wina merasakan sebuah kehangatan didalam senyum Adillah.
Mereka beranjak bangkit, lalu berbalik arah kepasar modern Petisah yang jarakmya hanya beberapa menit saja dari rumahnya.
"kalau tidak ada halangan, insya Allah papa dan Mama besok datang berkunjung kemari Bu, apakah Ibu mau berkenalan dengan mereka..?" tanya Adillah sembari menyetir.
Wina terperanjat ditanya seperti itu.
"Emm.. Besok ibu ada pekerjaan, terimakasih segalanya ya..?" jawab Wina menghindari.
Ia tidak mungkin berkenalan dengan orang tua gadis itu, yang ada Ia nantinya tidak dapat berteman lagi dengan gadis itu jika sampai kepluarganya mengetahui Wina adalah wanita si kupu-kupu malam.
Adillah menghela nafas kecewa. Entah apa yang membuatnya begitu sangat ingin berdekatan dengan wanita yang Ia tau pasti jika itu adalah seorang Wanita Malam.
Namun nalurinya mengatakan, Ia menyukai wanita itu, serasa dekat dan senang.
Tak lama kemudian Ia menepikan mobilnya diparkiran. Mereka menaiki eskulator menuju lantai 2 pasar.
"mari Bu.. Kita cari apa yang ibu butuhkan." ucap Adilla dengan lembut.
__ADS_1
Wina mengangguk. Ia mulai memilih beberapa tank top dan rok mini. Adillah hanya tersenyum melihat itu semua.
Setelah selesai dengan berbelanja, mereka akan makan siang.
"kita makan Bu? Yang enak panas-panas begini..?" tanya Adillah dengan ramah.
"Bakso urat sepertinya enak.." ucap Wina dengan semangat. Karena sesungguhnya Ia sangat lapar.
"emm.. Boleh juga tuh, yuuk, cuuus..lah.." ucap Adillah semangat.
Wina menganggukkan kepalanya sengan senang.
Mereka bergegas menuju warung baksonyang ada disekitar lantai dasar pasar.
Merwka menuju halaman parkir, didekat mereka parkir, ada sebuah warung bakso yang sangat enak dan juga ramai pengunjungnya.
Mereka memasuki warung tersebut. Lalu mengambil bangku kosong, dan duduk saling berhadapan.
Saat Itu mata Wina seketika membulat, saat Ia melihat seorang gadis aduhai yang sedang menikmati semangkuk bakso yang berada dilesehan dipojok warung.
Duma.. Ya gadis penuh pesona itu juga sudah berada diwarung Bakso. Ia tertawa dan bercengkrama manja, dengan seirang pria yang memakai topi dan kacamata hitam.
"bukankah itu guru Joe kalau tidak salah.." ucap Wina, mencoba mengingat nama pria yang disebut Duma saat percintaan tadi, dilorong gang.
Tampak gadis itu seperti begitu sangat lihai dalam memikat lawan jenisnya.
Wina memperhatikan setiap pengunjung yang membeli bakso diwarungbini, semuanya tampak melirik Duma.
Sepertinya pesona Duma begitu sangat kentara, mampu menarik semua perhatian mata jahat para lelaki.
Ia dapat melihat jika Duma tampak begitu bangganya, saat semua pria memperhatikannya.
Wina merasa sedikit kesal, Ia membayangkan jika nanti Duma menjadi pesainganya di Bar.
pesanann mereka datang. Lalu Wina menyantap bakso tersebut dengan sangat lahab.
Sembari makan, Wina sesekali melirik kearah gadis itu. Saat mata mereka beradu, tampak Duma seperti tersenyum sinis.
Duma seolah-olah adalah primadona yang layak diperebutkan. Wina semakin kesal dan rasanya ingin menyiramkan sambal cabai rawit itu wajah gadis tersebut, Namun Ia mencoba menahan hatinya. Karena tidak etis juga jika harus ribut ditempat umum seperti ini.
Setelah menghabiskan pesanannya, Adillah mengajak Wina untuk berbelanja bahan pokok ke pasar sei Kambing yangvtidak jauh dari lokasi mereka.
"kita kepasar Sei Kambing ya Bu, mau belanja kebutuhan bahan pokok.."ucap Adillah sembari menyeruput teh botolnya dengan cepat.
Wina mengangguk setuju, ntah apa yang membuat Wina begitu sangat senang berada disisibsang gadis yang baru saja dikenalnya.
Adillah memanggil pelayan, lalu menanyakan harga pesanan mereka. Pelayan itu membawa nota bon, lalu menyerahkannya kepada Adillah.
Setelah membayar pesanan, mereka bergegas meninggalkan warung bakso tersebut, dan menuju parkiran.
Saat akan meninggalkan warung bakso, Wina sempat melirik kearah gadis tersebut dan ditatap olehDuma dengan tatapan sinis.
Wina seakan terbakar. Namun lagi-lagi Ia harus mencoba mengontrol emosinya.
__ADS_1
Wina mengekori Adillah menuju parkiran. Lalu mereka melanjutkan perjalanan nya menuju pasar sei kambing.
Sesampainya disana, Mereka mulai mencari bahan kebutuhan pokok. Layaknya seseorang sedang melakukan sidak pasar, mereka menyusuri semua pedagang beras, untuk membeli barang yang mereka butuhkan.
Adillah pergi ketoko sembako milik seorang melayu yang sudah menjadi langgannya.
Adillah membeli 2 karung beras, gula, minyak goreng, mie instan cup, dan bahannya lainnya.
Setiap Ia membeli sesuatu, pasti selalu 2 item. Karena Ia berniat untuk memberikannya kepada Wina.
Setelah selesai berbelanja, Adilla membayar keseluruhannya. Belanja yang dibelinya Sudah hampir mirip dengan orang yang akan buka warung, karena sangat banyaknya.
pelayan tokonya membantu Adilla membawa semua barang tersebut kedalam mobilnya.
Setelah selesai berbelanja, Adillah mengantarkan Wina kerumah kosnya.
"masih jauh Bu..? Tanya Adilla dengan lembut.
"itu, yang didepan situ.." tunjuk Wina pada sebuah rumah kos yang terdiri dari beberap petak rumah.
Adillah menepikan mobilnya ditepian gang sempit.
Lalu mereka turun dari mobil. Saat Wina berjalan menuju ruamh kosnya, Ia memanggil Wina..
"Bu..sini bantuin saya bawa sembako ini.." ucap Adillah lembut.
Wina menghentikan langkahnya. Lalu Ia membuka bagasi mobil. Mengeluarkan karung beras, dan sembako lainnya.
Adillah menyerahkan karung beras 20 kg kepada Wina, lalu Ia sendiri membawa sembako yang lainnya.
"yuuuk.." ucap Adillah.
Wina terperangah, Ia tidak menyangka mendapatkan kiriman malaikat tak bersayap hari ini. ingin rasanyanIa menangis, namun Ia mencoba menahan bulir bening itu agar tidak jatuh kepipinya.
Wina sudah sampai didepan pintunya, Ia membuka pintu rumahnya, lalu mempersilahkan Adillah masuk.
"saya masih ada pekerjaan lain Bu, maaf ya, lain kali saya pasti singgah." ucap Adillah sopan.
Wina hanyan tersenyum menanggapinya.
"saya permisi dulu ya Bu, saya terburu-buru." ucap Adillah sembari melirik arlojinya.
"terimakasih.. Untuk segalanya.." ucap Wina tulus.
Adillah menganggukkan kepalanya.
Wina permisi untuk pulang, saat beberapa langkah, Ia menghentikan langkah kakinya. Laalu menoleh kearah Wina yang masih memandanginya.
"Bu..." ucap Adikkah lirih.
"Ya..."
"malam ini jangan bekerja di Bar dulu ya.? Kan sudah ada sembako.." ucap Adillah penuh pengharapan.
__ADS_1
Wina tersenyum datar, lalu menganggukkan kepalanya.
Adillah tersenyum sumringah, lalu beranjak pergi dari ruamh kos Wina.