Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Kak Hanan dan Dana


__ADS_3

Rena yang mengalami morning sickness, berusaha untuk tetap menjaga asupan gizi untuk dirinya dan calon buah hatinya.


Rena meminum susu khusus untuk ibu hamil dalam masa tri semester. Selama masa kehamilannya, Rena sangat suka memakan sayuran. Ia memakan sayuran yang mengandung asam folat tinggi, seperti bayam dan kacang-kacangan. Terutama kacang kedelai. Ia sangat rutin membuat susu soya.


Asam folat dan omega 3 sangat penting bagi pertumbuhan janin. Karena mencegah resiko cacat dan membantu kecerdasan anak. Sumbernya berasal dari sayuran, kacang-kacangan, seperti kedelai dan kacang hijau, daging, telur dan ikan. Ikan yang banyak mengandung omega 3 dan 6 ialah ikan tuna, tongkol dan patin.


Rena sedang mencoba menu berbeda setiap harinya. Ia lebih suka masakan yang hanya direbus saja. Agar kadar gizinya tidak hilang saat proses penggorengan


Rena menghidangkan sarapan untuk Hanif, berupa nasi goreng seafood. Hanif yang sudah siap dimeja makan, menyantapnya dengan lahab.


[kriiiing...]


suara handdphone berdering. nama kak Hanan yang tertera, Rena mengangkatnya. "Hallo..assalammualaikum..kak." ucap Rena lembut.


"waalaikumsalam.."jawab Hanan dengan panik.


Rena mengernyitkan keningnya. "ada pa kak..? kenapa kelihatan sangat panik..?" ucap Rena dengan khawatir.


terdengar suara isakan dari kak Hanan.."Kak Tina..Ren..." ucap Kak Hanan, dengan tergugu.


"Iya..kak Tina kenapa bang..?" cecar Rena dengan penasaran.


"kak Tina masuk rumah sakit, dan butuh biaya untuk operasi. kandungannya diluar rahim. dan abang tidak punya pegangan uang.." ucap bang Hanan dengan bergetar.


[deeeeggg....] jantung Rena berdegup lebih kencang.


"kalu kamu ada pegangan uang, boleh abang pinjam dulu Ren..nanti abang usahain buat bayarnya." ucap Hanan menghiba.


Rena menarik nafasnya dengan berat. disatu sisi Ia hanyalah seorang istri yang tidak menghasilkan uang, disatu sisi Ia tidak tega dengan kondisi bang Hanan.


bang Hanan selama ini telah banyak berjuang untuknya. bahkan sejak ayah mereka meninggal dunia, bang Hanan yang ikut membantu mencari nafkah untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya yang masih kecil.


Ia bahkan hanya mengenyam pendidikan SD saja, agar ketiga adiknya tetap dapat melanjutkan pendidikannya. (anak kelahiran tahun 70-an, tamat sekolah SD, tapi postur tubuhnya serasa udah SMA..)


kini kak Hanan sedang dalam kesulitan. namun, Rena bingung harus menolongnya dengan cara apa.. ingin meminta kepada Hanif, suaminya Ia merasa segan.


"perlu berapa emangnya bang..?" ucap Rena dengan sangat pelan.

__ADS_1


"biaya operasi dan untuk uang tunggu selama menjaga dirumah sakit, kurang lebih 15 juta Dik.." jawab bang Hanan.


[deeeeeegh..] jantung Rena seakan berhenti berdegub.


"emmmmm...ntar Rena usahakan ya bang.. nanti Rena kabari lagi" ucap Rena dengan sedikit gemetar. Ia merasa bingung harus mencarinuang sebanyak itu dalam sekejab.


"ok..kabari abang kalau ada atau tidaknya ya dik..?" jawab Bang Hanan dengan nada penuh harapan.


"iya bang..assalammuaikum.." ucap Rena mengakhiri telefonnya.


Rena terdiam dengan seribu bahasa. Ia meneguk susunya dengan perasaan galau. tatapannya terlihat nanar.


Hanif yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan Rena yang Ia duga dari keluarganya berdehem.


"eheeem.." seolah-olah seperti sedang tersedak makanan. lalu mengambil minum dan meneguknya.


suara deheman Hanif, tak juga membuat Rena sadar dari lamunannya. Hanif merasa jika kabar yang baru didengar Rena sebuah masalah yang sangat besar, sehingga istri tercintanya itu begitu sangat melamun.


Hanif meraih jemari tangan Rena, berusaha memberikan kenyaman pada istrinya. Rena yang jemarinya disentuh langsung tergagap, dan menghentikan lamunannya. Ia menatap kikuk kepada Hanif sembari tersenyum datar.


"ada masalah apa sayang..?"


"emmmm..anu..kak Hanan.." Rena menggantung kalimatnya.


"bisa ceritakan sama hubby, apa yang sedang terjadi." ucap Hanif lembut. memberukan kehangatan pada hati Rena.


Rena menatap Hanif dengan tatapan sendu. Ia segan bercampur bingung. Ia segan jika harus meminjam uang sebanyak itu pada suaminya, untuk kepentingan keluarganya. dimana Ia baru beberapa bulan saja menjalani pernikahannya, dan Ia sendiri tidak bekerja.


Rena sangat takut, jika Ia meminta uang dalam jumlah yang banyak, akan menimbulkan perseftik jika Ia dan keluarganya menjadi benalu bagi Hanif.


Ia sedang berfikir keras untuk mencari jalan keluarnya.


"kenapa dengan kak Hanan?" ucap Hanif lembut.


"emmm...istri kak Hanan masuk rumah sakit"


"kandungannya diluar rahim"

__ADS_1


"dan harus operasi, namun kak Hanan tidak memiliki uang untuk biayanya.." ucap Rena lirih.


Hanif mengernyitkan alisnya. "kandungan diluar rahim..? Hubby baru dengar" ucap Hanif penasaran.


Hanif teringat akan Rena sang istri yang sedang mengandung juga. Ia merasa jika saja posisi itu pada mereka, tentu akan menimbulkan perasaan yang sangat khawatir.


"berapa yang dibutuhkan kak Hanan..?" ucap Hanif dengan lembut.


Rena menoleh kearah Hanif, sepertinya ada sebuah harapan dari pertanyaan yang diucapkan Hanif.


"15 juta.." ucap Rena lirih sembari menunduk. Ia tidak berani menatap Hanif. karena Ia merasa sangat malu untuk meminta uang dalam jumlah yang sangat besar untuk keluarganya.


Hanif melihat gelagat Rena yang merasa sungkan padanya. Ia tersenyum menatap Rena. Ia merasa Rena sangatlah berbeda, jika masa itu Wina sangatlah mudah meminta uang untuk kebutuhan ini dan itu, namun Rena begitu merasa sulit mengungkapkan keiinginannya.


"mintalah nomor rekening kepada Kak Hanan, dan kirimkan segera kepada Hubby." ucap Hanif sembari membelai lembut jemari Rena.


Rena terperangah, tak percaya mendengar apa yang sedang diucapkan Hanif, suaminya.


"benarkah..? kakak mau membantu kak Hanan?" ucap Rena dengan nada bergetar, anatara senang dan haru.


Hanif menganggukkan kepalanya. " iya sayang.. bukankah keluargamu, kini juga menjadi bagian keluarga Hubby juga..?" ucap Hanif sarkas.


Rena langsung menciumi punggung tangan Hanif. "terimakasih Hubby.. sudah menjadi suami yang sempurnah buat Ren.." ucapnya, dengan mata berkaca-kaca.


Rena meraih Handphonenya, melakukan penggilan keluar kepada kepada kak Hanan denga begitu bersemangat. terlihat tangannya yang bergetar karena masih tidak percaya dengan semua yang dialaminya.


Rabb-nya begitu sangat baik pada-Nya, mengirimkan insan berhati malaikat kedalam hidupnya.


"hallo kak...kirimkan nomor rekening kakak." ucap Rena dengan nada bergetar. tanpa sadar Ia menitikkan air matanya. menatap Hanif, lalu memeluk suaminya yang tampan plus berhati malaikat.


****


Hanan yang hatinya sangat kalut, mendapat secerca cahaya harapan. Ia tak henti-hentinya mengucapkan syukur. sebenarnya, keluarga Rena tidak mengetahui tentang Hanif yang memiliki sebuah perusahaan.


mereka hanya tau, jika Hanif bekerja diperusahaan, meski bekerja diperusahaan milik ayahnya.


dan bagi Hanan, uang sebesar 15 juta adalah jumlah yang sangat besar baginya.

__ADS_1


Ia juga tidak menyangka, jika Ia memiliki satu-satunya adik ipar laki-laki yang berhati baik. Ia sangat bersyukur pada Rabb-nya, jika adiknya mendapat keberuntungan bersuamikan malaikat dalam wujud manusia.


Hanan segera mengirimkan nomor rekeningnya, lalu bergegas mengurus administrasi agar Tina sang istri segera dilakukan tindakan operasi.


__ADS_2