Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Memikat


__ADS_3

Duma memasuki pagar sekolah dengan santainya, seluruh siswa sudah masuk kedalam kelasnya masing-masing. Namun Ia masih dapat berjalan santai.


"Duma.. Berhenti kamu, teriak seorang security yang menjaga sekolah menengah Kejuruan itu.


Securuty itu seorang pemuda yang tampan rupawan. Ia menghampiri Duma dengan wajah kesal. "kamu lihat ini sudah pukul berapa ha..?! Masih bisanya kamu jalan santai.!!" Hardik security tersebut.


Bukannya menjawab omelan security itu, Ia malah melenggang meninggalkan sang securitu. Ia melangkah menunju pintu masuk kelas.


Hari ini pelajaran sejarah, pak Joe si guru tampan yang baru saja menduda ditinggal mati istrinya. Sudah lama Duma menaruh hati pada gurunya itu. Namun sang guru terlihat sangat mengacuhkannya.


Duma merasakan sakit hati yang mendalam. Ia akan membuat pak Joe bertekuk lutut padanya.


Saat pelajaran sedang berlangsung, Duma memasuki ruang kelas dengan santainya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Namun, seluruh orang yang berada dikelas itu terdiam tanpa kata. Ia melenggang masuk.


Pak Joe kembali menerangakan pelajaran. Entah apa yang membuatnya merasa diam saat Duma masuk kekelas dengan terlambat.


Setelah pelajaran usai, anak-anak kembali riuh. Ada yang mengobrol sesama temannya, ada juga yang saling bercanda. mereka seolah-olah asyik dengan dunia mereka sendiri.


Seno menghampiri Duma yang tampak santai dengan gadgetnya.


Ia menarik kursinya, lalu duduk disisi Duma. "haai.. Nanti malam ada waktu gak..? Aku mau ajak kamu keluar. " ucap Seno, sembari menatap Duma dengan nakal.


Seno adalah salah satu anak pengusaha sukses. banyak teman wanita yang ingin menjadi pacarnya, meskipun tampangnya pas-pasan, namun uang sakunya sangat banyak.


Duma diam tak menanggapi Seno, membuat remaja itu gemas. Ia merapatkan duduknya disisi kiri Duma, meletakkan tangannya dilutut gadis yang menggunakan rok berwarna abu-abu pendek itu. Namun Duma tetap diam. Mendapat lampu hijau, Ia mulai membelai lutut putih dan halus itu. Namun Duma masih Diam.


Seno seperti orang yang kerasukan, ingin rasanya Ia menerkam tubuh Duma, namun saat ini masih jam pelajaran sekolah, hanya saja gurunya sedikit terlambat.


Seno memberanikan diri merangkul Duma, lalu tangannya turun menyentuh tonjolan didada milik Duma, namun gadis itu juga masih diam.


Adik kecil milik Seno seakan sesak ingin keluar dari sarangnya. Namun Ia merasa malu andai ketahuan temannya.


Sepertinya Duma sengaja mengerjain Seno, setelah mengetahui Seno sudah berada diujung, Duma melipir keluar kelas, meninggalkan Seno yang kebingungan.


-------♡♡♡♡------

__ADS_1


Malam ini menunjukkan pukul 8 malam. Duma masih berbalas chat dengan seseorang. malam ini hatinya sedang senang.


Sepertinya Ia sedang ada janji malam ini dengan seseorang. Ia memakai pakaian yang terlalu menggoda.


Ia keluar rumah tanpa permisi oleh Opung borunya terlebih dahulu. Ia sengaja membawa kunci cadangan, agar tidak membangunkan Ambar saat pulang nanti.


Setelah mewarisi ilmu pemikat dari almarhum ayahnya, Ia tumbuh menjadi gadis binal.


Hasrat ditubuhnya tidak terkontrol. Ia seperti orang yang mengidap hyper.


Dengan ilmu pemikat itu, Duma dapat menaklukkan siapa saja yang Ia kehendaki.


Termasuk mendapatkan seseorang yang bersikap dingin padanya sekalipun.


Tok..tok..tok..


Duma mengetuk pintu itu sangat pelan. Terdengar suara derap langkah seseorang menuju pintu.


Kreeeeek..


Pintu dibuka.


Duma menanggapinya dengan senyum seringai. Lalu mengekori pria itu masuk kedalam rumah.


"silahkan duduk, sembari menunggu temanmu lainnya datang, kamu disini bentar ya. Bapak mau mandi, soalnya baru pulang, ada rapat sedikit tadi." Joe menjelaskannya kepada Duma.


Joe beranjak kekamar mandi belakang, karena itu satu-satunya kamar mandi yang ada dirumahnya.


terdengar suara gemericik air yang membasahi tubuh seseorang. Seketika Duma berfantasi kotor tentang gurunya itu. Sesaat kemudian, Joe.sudah selesai dengan mandinya, dengan hanya melilitkan handuk dipinggangnya, lalu melintasi ruang Utama, dan terburu-buru masuk kedalam kamar.


Duma semakin gelisah. Masa pubertas yang mudah labil dan juga perlunya pengontrolan diri.


Joe keluar kamar dengan menggunakan baju kaos dan celana pendek dibawah lutut.


"Maaf ya Duma, kamu jadi lama menunggunya." ucap Joe merasa sungkan.


Namun Ia tidak melihat siswa yang lainnya datang. "kemana yang lain? Mengapa belum datang jug..?" ucap Joe celingukan. Hawa dingin merasuk kedalam rumah, menimbulkan rasa dingin yang menusuk tulang. Ia menggigil kedinginan, mungkin juga karena Ia baru selesai mandi.

__ADS_1


Joe menutup pintu rumahmya. Agar hawa dingin tidak begitu mengganggu. Jikapun siswa yang lain datang, pasti akan memanggil.


Waktu berjalan dan mulai merangkai naik. Namun tak ada tanda-tanda siswa yang lainnya akan datang.


"Kita mulai saja pelajarnnya Dum, sembari menunggu yang lain datang.." Joe menyarankan. Lalu Ia mengambil posisi duduk disamping Duma.


Aroma sabun yang masih melekat ditubuh Joe, membuat Duma seakan melayang.


Ia membuka buku materi pelajarannya, lalu mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Joe.


Namun, pesona Joe membuatnya tidak konsentrasi saat mendengarkan apa yang diajarkan oleh Joe. Duma menoleh kearah Joe, menatap lekat mata pria itu, sembari membacakan mantra pemikatnya.


Beberapa menit kemudian, Joe merasakan aliran darahnya seperti ada gelenyar yang terus mendesak. Yang awalnya Ia merasakan biasa saja, tiba-tiba saja merasakan sesuatu sensasi yang kotor.


Apalagi Duma seorang gadis cantik dengan tubuh aduhai dan pakian menggoda tersaji didepannya.


Jiwanya yang sudah lama kosong karena menjadi seorang duda, membuatnya kembali berhasrat.


Tatapan Duma padanya, seperti sebuah hipnotis yang membuatnya menuruti keinginan siswanya itu.


Tangan Duma menuntun kedua tangannya untuk menjamah dua tonjolan ditubuhnya. Usianya yang belia, terlalu cepat untuk bermain cinta.


Ketika seorang pria disajikan didangan yang menggairahkan, tentulah tidak menolaknya.


Saat mengetahui gurunya berada dalam pengarunya, Ia tertawa penuh kemenangan. Ia menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh pria yang menjadi incarannya selama ini.


Hingga tanpa sadar, mereka terbuai dalam kubangan dosa. Joe telah terjerumus jauh. Kini Ia terjerat oleh pelet pemikat sukma oleh Duma.


Tanpa sungkan, Duma merelakan kesuciannya malam ini direnggut dengan suka rela oleh orang yang menjadi incarannya .


Tanpa merasa bersalah, Duma mencapai puncak surgawinya untuk pertama kalinya. Dan hal itu membuatnya candu.


Ternyata perbuatan ayahnya dimasa silam, yang sering menyalah gunakan ilmu pemikat dengan menjerat wanita, kini berbalik karma. Diamana anak keturunannya merendahkan dirinya untuk sebuah kepuasan sesaat.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini, Duma pulang kerumah dengan membawa senyum seringainya.


Ia merasa bangga dapat menaklukkan pria dingin itu, namun tanpa Ia sadari, jika sebenarnya Ia telah merendahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Duma mengetuk pintu rumah seseorang. Se


__ADS_2