
setelah kepulangan Ridwan. Rena menghempaskan tubuhnya diranjang. matanya menatap langit-langit kamarnya. Ia tak mengerti mengapa hatinya tak mampu menerima cinta tulus dari Ridwan.
jika ditelisik dari segi fisik, tentu Ridwan memiliki fisik yang lebih menarik. tubuh kekar, wajah tampan, plus akhlak yang baik. namun semua itu tak mampu membuat Rena berpaling dari Bernard, yang telah banyak menorehkan luka.
****
Dua bulan berlalu, sejak kata putus yang diucapkan Bernard, Rena semakin uring-uringan. Ia tak lagi konsentrasi dalam mata kuliahnya, yang mana akan memasuki tahap KKN. Rena semakin terpuruk dalam ketidakpastian.
tubuhnya yang langsing, kian bertambah kurus, seperti orang yang terkena kekurangan gizi. perubahan itu begitu drastis. Amy yang menjadi salah satu teman baiknya, menjadi bingung melihat perubahan pada diri Rena. namun Rena tidak pernah terbuka dalam masalah pribadinya.
"kamu sedang memiliki masalah apa sih Ren? kamu semakin kurus, mirip orang yang kurang gizi" celetuk Amy dengan nada heran.
"entahlah Mi" ucap Rena dengan lirih, seolah malas menanggapi ucapan Amy. meskipun Ia sedang bersama Amy, namun hatinya seperti kosong. menghilangnya bernard dari hidupnya, seperti separuh jiwanya hilang.
Bernard telah memblacklist nomornya, sehingga jika nomor phonsel Rena menghubunginya akam tertolak. berulang kali Rena mengganti nomor baru, agar dapat menghubunginya. namu jika Bernard mengetahui itu nomor Rena, maka Ia akan segeran memblacklist lagi. hati Rena hancur.
"Ren, kamu memiliki masalah apa sih? apakah kamu tidak menganggapku teman? sehingga kamu merahsiakannya dariku?" ucap Amy kepada Rena yang masih membisu tanpa kata sedikitpun.
Amy menyadari, sahabatnya itu dalam kondisi yang sedang tidak baik-baik saja. "maafin aku Mi, belum bisa cerita kekamu apa masalahku. ada masanya nanti, saat aku tidak mampu mengatasinya, aku akan datang padamu." ucap Rena menyandarkan kepalanya dipundak Amy. Ia menghela nafasnya, umtuk meringankan beban dihayinya.
Amy membelai kepala. Rena dengan tulus. "aku akan siap mendengarkan segala keluh kesahmu. jika sayapmu lelah untuk mengepak terbang, singgahlah padaku, aku siap menjadi tempat bertengger yang menghilangkan lelahmu. lepaskan semua beban yang ada didalam hidupmu, karena aku teman sekaligus saudarimu." ucap Amy, menyejukkan hati Rena yang sedang kalut. Ia sangat beruntung, bertemu dengan makhluk cantik ini.
Rena hanya membalas senyum datar, yang tentu tak dilihat oleh Amy, karena posisi kepala Rena menyandar dipundak Amy.
****
Bernard, teganya dirimu padaku [hiks...hiks..hiks]. Rena menangis dalam kesendiriannya. meratapi kisah cintanya yang sangat mengenaskan.
Rena dalam keputus asaan. Ia hampir gila memikirkan kisah cintanya yang tak dihargai. awal perkenalan, Bernard begitu intens menghubunginya. tanpa sedetikpun Ia selalu melewatkan untuk menelfon Rena.
namun kini berbalik, Rena yang dengan gencar menghubunginya, namun tak mendapat respon.
Ditengah keputus asaannya, Rena berniat untuk mendatangi rumah Bernard, apalagi Rena sudah mengetahui dimana rumah kekasih hatinya. Rena menyusun rencana.
Rena berniat bolos kuliah lagi, Ia bertekad untuk mendatangi rumah Bernard. Ia mempertaruhkan harga dirinya. Ia tidak perduli jika harus dicap wanita murahan yang mengemis cinta pada pria itu.
Rena kembali menemui Bernard, rencanya berjalan mulus. Ia telah sampai dirumah kontrakan milik orang tua Bernard. Rena memberanikan mengetuk pintu rumah yang tertutup.
[tok..tok..tok..] suara ketukan pintu. terdengar langkah seseorang menuju pintu, lalu membukanya. tampak berdiri seorang pria tampan, bertubuh tinggi, dengan wajah bak artia korea. Rena terkesiap melihat wajah tampan itu. wajah itu pernah dilihatnya di foto keluarga Bernard. namun Ia tidak tau siapa pria tampan itu.
"cari siapa ya dik?" ucap pria tampan tersebut, menyadarkan Rena dari lamunannya. "emmmm...saya cari Bernardnya ada bang?" ucap Rena tergugup.
"oh, Bernard ada sedang tidur dikamarnya. ini siapa nya Bernard ya?" tanyanya dengan ramah dan suara yang lembut, selembut cream kocok, membuat Rena semakin terpesona. "oh iya, mari masuk, saya bangunkan dulu Bernardnya" silahkan duduk dulu ya, maaf. tidak ada kursi tamumya" ucap pria tampan itu sembari tersenyum yang menambah ketampannya berlipat.
__ADS_1
"terimakasih bang" ucap Rena kikuk. lalu masuk kerumah, duduk di tikar yang terbentang dilantai rumah.
"siapa pria tampan itu? mengapa aku tidak melihatnya sewaktu datang kemarin? tapi jika itu kakak laki-lakinya Bernard, masa iya gak ada mirip-miripnya." ucap Rena dalam hatinya.
dinding kamar yang sebagai pembatas ruang tamu, tentu jarak yang sangat dekat dan yidak kedap suara. sehingga tamu dapat mendengar suara dari kamar.
"dik..dik..bangun, itu ada cewek yang cariin kamu" terdengar suara dari pria tampan itu membangunkan Bernard.
"adik? masa iya Bernard adiknya? tapi mengapa tidak ada kemiripan? hanya rambut lurus dan hidung mancung mereka yang sama. namun kalau ketampanan jauh berbading 180°. bahkan pria tampan yang diduga Rena abang kandung Bernard, memiliki tinggi tubuh ideal sekitar 175 cm. bukan seperti Bernard yang hanya memiliki tinggi 150 cm.
"emmmm..apaaan sih bang? ganggu orang tidur saja." ucap Bernard ketus. sepertinya Ia kesal karena tidurnya diganggu. sementara hari sudah siang, Ia masih tiduran dikamar, ya! seorang pria pemalas.
"bangunlah dulu dik, itu ada cewek cariin kamu, temui saja dulu, kasihan itu." ucap pria tampan itu dengan lembut, meski Bernard bersikap ketus.
"ceweq yang mana satu sih bang? jangan berisik banget napa? bang Ary resek banget." ucap Bernard semakin kesal karena menganggu tidurnya.
"oh.. Ary namanya? ternyata benar mereka itu abang dan adik. meski tak mirip." ucap Rena yang sedari tadi menguping pembicaraan dua orang pria didalam kamar tersebut.
"lihatlah dulu.. ya sudahlah abang tinggal ya." ucap Pria bernama Ary sembari meninggalkan kamar.
"dik, abang keluar dulu, ada keperluan, bentar lagi Bernard bangun. jika kamu bosan menunggu, silahkan tinggalkan saja." ucap pria tampan bernama Ary kepada Rena, seraya berlalu keluar rumah dengan senyum penuh ketulusan. Rena menjawab dengan anggukan.
terdengar dari balik dinding kamar, deritan ranjang, Bernard beranjak dari ranjangnya. Ia keluar dari kamar dengan dengan langkah gontai karena masih dikuasai rasa kantuk.
jantung Rena berpacu cepat, rasa rindu selama dua bulan tanpa ada kabar berita begitu membuncah. rasanya Rena ingin berlari memeluk pria itu dengan secepatnya. Rena beranjak bamgkit dari duduknya, berdiri mematung melihat pria yang begitu dirinduinya.
bibir Rena bergetar, hatinya begitu sakit diperlakukan Bernard seperti itu. Rena merasa harga dirinya dipermainkan pria pujaannya. "apa alasanmu memutuskan hubungan kita?" ucap Rena dengan gemuruh didadanya yang kian memacu cepat. Rena belum siap jika harus diputuskan Bernard. Rena bisa gila jika Bernard tidak membatalkan keputusannya.
"hubungan kita sudah berakhir. apa kamu tidak faham dengan apa yang aku katakan?" ucap Bernard meninggi.
air mata Rena tak lahi mampu Ia bendung. bulir bening itu meluncur deras membasahi pipinya. dengan gerak refleks, Rena berlari menuju Bernard, memeluk pria yang sangat dicintainya. "aku tidak ingin kamu putuskan, aku tak mampu hidup tanpamu, hanya kamu dihatiku. kumohon padamu" ucap Rena sembari tersedu.
Rena tak lagi berfikir waras, Ia hilang akal. rasa cintanya menghilangkan norma yang ada. mungkin benar Ia tak sadar diri.
Tanpa Rena sadari, Bernard tersenyum licik. lalu Ia melepaskan pelukan Rena, mendorong tubuh gadis itu menjauh darinya. "jika aku katakan putus, ya putus. aku sudah mendapat penggantimu, pergilah dari hadapanku sekarang juga.!" hardik Bernard kepada Rena.
Rena tak mengindahkan ucapan Bernard. Ia kembali memeluk pria bertubuh kecil itu, dengan erat dan tak ingin melepaskannya. "tidaaak...aku tidaak..ingin pergi darimu, aku tidak akan pulang sebelum kamu menarik kepugusanmu.!" ucap Rena kian pilu, air matanya terus mengalir deras.
Bernard melepas pelukan Rena, Ia mendorng tubuh Rena hingga jatuh terduduk dilantai. setelah berhasil melepaskan diri, Ia berniat masuk kekamarnya, namun Rena tak kalah cepat, Ia menyambar kaki Bernard, memeluknya, menghamba kepada Bernard. Ia bersujud dikaki Bernard layaknya pelayan kepada sang raja. "kumohon, jangan tinggalkan aku, ku mohon...padamu. aku rela berbagi cinta, asalkan bersamamu." ucap Rena memohon. Bernard tersenyum penuh kemenangan.
Rena masih memeluk kedua betis kaki Bernard. duduk bersimpuh sembari menangis. "aku akan menuruti semua keinginanmu, asalkan kau tidak memutuskan cintaku..." ucap Rena kian memilukan.
"benarkah kau akan menuruti segala inginku? ucap Bernard tersenyum licik kepada Rena. Ia menoleh kepada Rena yang masih memeluk kedua kakinya. Rena mengangguk menyetujuinya. Bernard merunduk, meraih bahu Rena dan menuntunnya bangkit. Hati Rena kembali basah. sekian lama Ia merasa hatinya kering karena dahaga cinta. kini sejuk dengan sentuhan hangan Bernard.
__ADS_1
setelah Rena berdiri dekat dihadapannya, Ia menyambar bibir gadis itu dengan buasnya. memeluknya dengan erat.
****
hari sudah menunjukkan pukul 12.00 wib siang, perut Rena keronconga. bahkan Ia belum sarapan sedari pagi tadi. Rena meremas perutnya yang mulai nyeri. "dimana ada warung penjual nasi sayang? yang dekat dengan rumah kamu." ucap Rena sembari memeluk tubuh mungil Bernard.
"rumah makan padang ada disekitar sini. kira-kira jarak 100 meter dari rumah." ucap Bernard. Ia membelai rambut Rena, ada niat jahat, terselubung dimatanya.
"belikan untukku, sayang. aku sangat lapar." ucap Rena manja, sembari bergelayut ditubuh Bernard. " boleh, sekalian beli juga untukku, rokokku juga sudah habis." ucap Bernard seenak jidatnya. bahkan tanpa rasa malu, karena memoroti Rena.
Rena mengangguk, seraya mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu. Rena memberikannya kepada Bernard, dan Bernard menyambar uang itu dengan cepat.
"belikan rendang daging untukku ya sayang." kamu terserah saja sesuai seleramu." ucap Rena dengan senyum kebahagiaan.Bernard mengangguk lalu berjalan keluar rumah menuju rumah makan Padang, dan akan membeli 4 bungkus rokok untuk dirinya.
Ia berjalan bersiul, hanya menggunakan celana pendek boxer dengan size 'S', ukuran terkecil untuk pria dewasa. Imelda, tetangga sebelah rumah kontrakannya menyapanya saat berpapasan. " senang kali ku tengok kau hari ini Bernard?" ucap Imelda dengan penasaran.
"biasa sajalah Eda (sebutan umum untuk tante/bibi dalam bahasa batak). Eda dari mana rupanya? banyak betul belanjaan Eda ku tengok?" ucap Bernard sembari menurunkan kecepatan berjalannya." dayi belanja dapurlah, diwarung opung. sudahla ya, Rda mau memasak dulu." ucap Imelda seraya mempercepat langkahnya, karena hari sudah siang.
"Ok. Eda.." dengan sedikit berteriak. lalu menuju rumah makan Padang, memesan dua bungkus nasi dengan lauk rendang daging porsi jjmbo. Bernard bertubuh mungil, namun makannya porsi jumbo, mungkin lambungnya ukuran besar.
setelah itu, Ia membeli rokok merk Club mild sebanyak empat bungkus, sepertinya Ia mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan kedatangan Rena. Ia berniat memanfaatkan gadis malang itu dengan memorotinya. apalagi sudah berbulan-bulan Ia tidak bekerja.
****
Imelda sampai di depan pintu rumahnya, Ia tanpa sengaja melihat sepasang sepatu pansus milik seorang gadis, dan ekor matanya melihat seirang gadis manis sedang duduk disudut ruangan."siapa gadis itu? apa saudara dari Bernard? ah sudahlah. hari sudah siang, aku mau memasak dulu. nanti aku tanyakan sama ibunya Bernard saja." ucap Imelda dengan lirih dan beranjak masuk kedalam rumahnya, untuk melanjutkan memasak. karena sebentar lagi suaminya pulang dari bekerja.
**
Bernard telah sampai dirumahnya, menenteng dua bungkus kantong kresek. satu berisi 2 bungkus nasi Padang, yang satunya berisi empat bungkus rokok miliknya, yang dibeli menggunakan uang milik Rena.
Bernard memberikan satu kantong plastik berisi dua bungkus nasi Padang, namun kantong plastik berisi rokok Ia simpan keatas meja televisi berserta kembaliannya yang juga Ia ambil. Rena hanya diam tanpa mempermasalahkannya.
bagi Rena saat ini, Bernard tidak memutuskan cintanya saja meruoakan anugerah terindah, Ia sedang berbunga-bunga."mari makan sayang, perutku sudah lapar" rengek Rena manja kepada Bernard. lalu Bernard mengangguk, mengambkl wadah cuci tangan dan air minum, lalu memberikannya pada Rena, lalu mereka melahap makanannya.
Sembari mengunyah makanannya, bernard berfikir, bagaimana caranya untuk meminta uang kepada Rena. "ah..minta uang pada Rena, urusan gampang itu. ucap Bernard dalam hati" Mulutnya menguyah makanan, namun hatinya merafalkan mantra pelet pemikatnya. sembari matanya menatap kepada Rena yang tanpa menyadari bahwa dirinya dalam pengaruh Mistis.
Rena makan dengan lahapnya, karena jiwa dan perutnya sedang sinkron saling menerima respon. Ia seperti melayang dalam awan, penuh cinta yang begitu indah. meskipun cinta itu hanya tipuan dari Bernard.
setelah selesai makan, Bernard membuang bungkus nasinya dan milik Rena. setelah selesai, Bernard mengambil sebungkus rokok yang yang dibelinya menggunakan uang Rena. menghidupkan pemantik api, lalu menyulutkan pada rokoknya. menghisap barang mengandung racun nikotin tersebut, menghisapnya dengan dalam. lalu dengan tiba-tiba menghembuskan asapnya ke wajah Rena.
Rena yang tiba-tiba mendapat hembusan asap rokok terbatuk, karena Ia telah menghisap asap tersebut tanpa sengaja. Bernard tersenyum penuh kelicikan. sesaat Rena tersenyum kembali, lalu bergelayut manja dilengan mungil Bernard.
ternyat Bernard telah menyusupkan mantra Pemikatnya kepda Rena melalui hembusan asap Rokok tersebut."dik, aku butuh uang, kamu ada gak uang buatku?" ucap Bernard dengan nada selembut kapas.
__ADS_1
Rena yang telah terhipnotis cinta, mengangguk saja, lalu merogoh tasnya, memberikan 3 lembar uang rayusan ribu, menyisakan selembar serayus ribu untuk ongkosnya pulang ke Medan.
Bernard bersorak riang dalam hatinya. "heemm..3 ratus ribu, lumayan buat nanti malam ke warjng remang-remang buat bersenang-senang dengan si leli." ucap Bernard, berguman dalam hatinya.