
Sesampainya mereka di rumah. Khanza datang berlari menjemput Rena yang baru saja tiba.
"ma...ma..mama.." serunya sembari berlari mengejar Rwna. Lalu menghamburkan dirinya dipelukan Rena. Ia mencium dan memeluk Rena dengan sepenuh hatinya. Lalu menyusul Adillah Yang juga berlari dan mendekapnya.
"mama kemana saja? Kita rindu mama..hu..uuu..u.." isak keduanya seolah tak ingin melepaskan Rena lagi.
"Mama dari rumah nenek sayang.. Ada keperluan sedikit." jawab Rena. Karena Ia juga belum memahami bagaimana Ia sudah berada disana.
"jangan tinggalkan kita lagi ma..hu..uuuuuu..." isak Khanza dengan linangan air mata.
"Iya sayang.. Mama janji.." ucap Rena, sembari memeluk keduanya.
Lalu mereka memasuki rumah dengan rasa kegembiraan.
Khanza terus saja bergelayutan di sekitar kaki Rena, Ia merasa seperti sangat yakut jika Rena meninggalkannya.
__ADS_1
Ia meminta Rena menyuapinya makan, menemani tidur, sebagai bentuk protes darinya karena terlalu lama diabaikan oleh mamanya.
Rena membalas semuanya dengan menuruti keinginan putera dan puterinya.
Setelah mereka terlelap tidur dikamar masing-masing, kini tinggal Ia yang matanya sangat kantuk luar biasa.
Rena memasuki kamarnya, Hanif sudah terlebih dahulu berada didalam. Ia sedang tertidur pulas mungkin merasa kelelahan setelah menyetir seharian.
Rena membersihkan dirinya dikamar mandi, rasa penat dan lengket membuatnya merasa gerah. Setelah merasa segar kembali, Ia menyudahi mandinya. Lalu menyalin pakaiannya dengan pakaian tidur.
Ia mendekati ranjang, lalu berada tepat di sisi Hanif. Ia memandangi wajah sabar suaminya. Seorang pria yang begitu memiliki hati seluas samudera. Jika pria lain mengalami hal yang sama seperti Hanif, mungkin saja saat ini Ia sudah dipulangkan ke pihak keluarganya.
Rena memandang wajah Hanif yang sedang tertidur dengan pulasnya. "maafin Ren, jika telah merepotkan Hubby." ucapnya lirih, sembari membelai wajah Hanif. Namun dengan cekatan, Hanif mencengkram pergelangan Tangan Rena, membuat Rena membulatkan matanya.
Hanif menariknya dalam pelukannya, melingkarkan kedua tangannya dipinggang Rena dengan gerakan mengunci.
__ADS_1
Rena meronta-ronta ingin melepaskan diri, namun sayang, getakannya justru membuat Hanif terbakar. Lalu akhirnya Hanif memberikan hukuman yang setimpal kepada istrinya, karena telah membuatnya merasa cemas.
---------โกโกโกโก---------
Hanif bangn kesiangan, Ia mengucek matanya, terlihat hampir pukul 8 pagi, Ia tampak eah sekali, menyerir seharian diperjalanan, lalu berlayar bersama Rena dipelabuhan cinta yang indah.
Hanif melirik istrinya yang masih tertidur pulas dan kondisi polos. Ia mengecup kening Rena. Entah apa yang membuatnya mencintai wanita sederhana itu yang kini menjadi istrinya.
Rasa nyaman, saat berada disisinya, membuat Ia begitu tak rela jika Rena sampai berpaling kelain hati.
saat diabaikan Rena waktu itu, hampir saja membuatnya berputus asa. Apalagi mengetahui jika Rena kabur dengan pria lain, tentu membuat hatinya tercabik-cabik.
Namun kini Ia menepiskan segalanya, dimana Rena pada sejatinya memang mencintainya dengan tulus. Rena juga berbuat dibawah kendali Sihir Pelet 'Pemikat Seingga menyebabkan luka tak berdarah dihati Hanif.
Hanif beranjak kekamar mandi, lalu membersihkan dirinya. setelah selesai, Ia menyalinkan pakaiannya kerjanya begitu saja, dan akan segera berangkat kerja. Khanza dan adilla telah diasuh oleh bibinya.
__ADS_1
Hanif memakan sarapanya yang disajikan oleh Bibi. setelah selesai mengisi perutnya. Ia beranjak pergi, sembar membawa keduanya kesekolah.
~maaf bab ini sedikit.. Mata author dah gak bisa diajak kompromi. Ngantuk..๐ญ๐ญ๐ด๐ด๐ด๐ด