Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Pencarian Pemungut Sofia


__ADS_3

Roy memulai penyelidikannya untuk menemukan siapa yang telah memungut Sofia malam itu.


Setelah melacak nomor plat tersebut, maka mengarah pada seorang pengusaha muda yang sukses.


"aku harus mendapatkan sofia kembali." Roy mulai menyusun siasat.


Setelah mendaptakan informasi yang akurat tentang kegiatan keseharian Rena, Roy mulai melakukan pengintaian.


saat ini, Roy melihat Adillah sedang bermain dihalaman sekolah, karena waktu istirahat.


Sekolah itu memiliki aturan yang sangat disiplin. Dimana, setiap penjemput siswa harus menunjukkan kartu kesertaan siswa. Dimana kartu itu hanya dimiliki oleh orang tua ataupun wali murid harus memperlihatkan kartu yersebut saat penjemputan.


"ternyata sofia tumbuh menjadi gadis yang cantik.." Roy mengangumi anak hasil hubungan gelapnya dengan Wina.


 


Rena meminta sopir untuk menjemput kedua buah hatinya. Hari Ini Ia sangat sibuk untuk mengikuti sebuah acara sosial bersama para ibu-ibu yang sebagiannya adalah istri karyawan mereka uang berpotensi. Dimana akan ada pemberian hadiah bagi karyawan berprestasi, serta pembagian sembako untuk karyawan yang berada diperkebunan.


Rena ikut membantu Hanif untuk menyelesaikan misi sosial tersebut.


 


Adillah dan Khanza sudah dijemput sopir. Saat mereka hampir mencapai rumah, sebuah mobil menghalangi mereka.


Sopir itu mulai ketakutan. Ia menghentikan kendaraaannnya. Roy dengan menggunakan penutup wajah, mengetuk kaca mobilnya. Karena tidak juga membuka kaca mobil, akhirnya Roy mengancam dengan menggunakan senjata api.


Karena ketakutan, akhirnya sopir itu membuka kaca mobilnya. "buka pintunya..!!" perintah Roy dengan nada ancaman.


Setelah berhasil membuka pintu, Roy menarik Adillah, lalu menggendongnya sembari bergegas masuk kedalam mobil.


"kak Adillah.. janagan bawa kakak Adillah.. Huuuu....huuuu.." isak Khanza dengan linangan air mata.


Mobil yang ditumpangi Roy melaju dengan cepat, untuk mengelabui sopir, ternyata Roy menggunakan duble plat. Ia memalsukan plat mobil yang bisa Ia pasang tutup sesukanya.


Adillah meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Ia mencoba memukul-mukul dada kekar Roy, berharap Pria itu melepaskannya.


"mama...papa...Khanza.. Tolong Adillah.." huuu...uuu.." isakannya dengan nada pilu.


Roy memperhatikan bibir Adillah. " mengapa bibirnya tidak sumbing..? Apakah aku salah menangkap anak orang..?" Roy merasakan bingung sendiri.


"lepasin Adillah om.. Adillah mau pulang.. Kasihan mama papa dan adik Khanza.." pinta Adillah menghiba.


Tangisan Adillah tak membuat Roy untuk merasa iba, dihatinyankininharus dapat mengambil Sofia kembali ke padanya.


 


Rena yang mendapat kabar dari sopir tentang penculikan Adillah, bergegas meninggalkan acara bakti sosial tersebut.

__ADS_1


Diperjalanan menuju rumah, Perasaan Rena sangat panik.


"Hubby, Adillah diculik seseorang bby?" ucap Rena sembari terisak.


"Sayang, tenang dulu ya, kasus ini sudah dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Kamu tenang ya sayang. Hubby akan segera pulang." ucap Hanif mencoba menenangkan Rena.


Hati Rena hancur berkeping-keping. "siapa yang menculik Adillah.? Apa salah satu orangtuanya? Tetapi Mengapa baru sekarang..?" Rena merasakan sesak didadanya.


Sesampainya dirumah, Khanza berlari memeluk Rena. "maamaaa.. Kakak Adillah dibawa orang ma..huuuuii..uuuu.." Khanza mengadukan kesedihannya.


"tenanglah sayang, polisi sudah mencari kak Adillah." ucap Rena menenangkan Khanza. Meskipun sebenarnya hatinya saat ini hancur. Namun Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Khanza, karena itu akan mempengaruhi mental Khanza.


Kriiing..


Sebuah panggilan masuk dari seseorang.


Rena mengangkatnya. "ha...hallo.. Siapa ini..?" ucap Rena dengan terbata. Firasatnya semakin tidak baik.


"Hai ibu Rena yang baik hati.. Terimakasih aku ucapkan padamu, karena sudah merawat anakku, dengan sangat baik" ucap Roy dengan tertawa.


"apa buktinya jika kamu orang tua kandungnya..?" sergah Rena dengan tak sabar.


"berarti benar tebakanku jika anak ini bukan puteri kandung kalian..hahaha" Roy semakin tertawa.


Rena kini terjebak dalam ucapannya sendiri. "dia puteriku, aku akan merebutnya darimu.." Rena mulai geram.


bahkan Rena sudah memberikan cinta kasih yang tulus kepada Adillah. Bagaimana mungkin Ia dapat dengan mudah menyerahkan Adillah pada orang asing.


"kamu tidak bisa begitu saja mengambil Adillah, Ia pastu tidak mau ikut denganmu..!" ucap Rena tak mau kalah.


Seketika Hanif kembali kerumah. " sayang..?" ucap Hanif dengan perasaan yang tak kalah khawatir.


mendengar suara Hanif, Roy segera mematikan panggilannya dan menonaktifkan handphonenya. Ia melemparkan handphonenya kedalam tong sampah. Lalu membawa pergi Adillah keluar kota.


----- - - - -


Adillah menangis sepanjang hari, Roy merasa kesulitan untuk menenangkannya.


"pulangkan Adillah om.. Adillah mau sama mama dan papa, juga adik Khanza.." rengek Adillah dengan penuh menghiba.


Roy menggaruk kepalanya yang tak gatal. "aku ini papa kandungmu.. Bukan mereka..!" hardik Roy kepada Adillah.


Roy berharap sofia segera berhenti menangis karena telah mendengar jika Ia adalah orangtua kandungnya.


namun perkiraan Roy adalah salah. Adillah terus merengek meminta diantarkan pulang.


"ternyata mengurus anak itu tidak segampang yang kubayangkan..!!" ucap Roy dengan panik.

__ADS_1


"mama..papa...Khanza..huuuu....huuuu.." isaknya dengan pilu.


---------- ------


pihak kepolisian menelusuri jejak digital Roy. Namun mereka curiga karena terhenti disebuah tempat dan tak bergerak.


Kepolisian bekerjasama dengan antar propinsi untuk melakykan pencekalan terhadap Roy.


Foto Adillah disebar keseluruh media sosial dan media televisi.


Hal ini membuat pergerakan Roy terhambat. Ia tidak dapat lagi bergerak dengan cepat untuk dapat membawa Adillah kerumah orang tuanya.


Dengan mendapat ide, Roy memakaikan cadar kepada Adillah dan begitu juga dengan Roy yang menggunakan cadar untuk mengelabui polisi.


---------


Rena tidak berselara makan. Hatknya tertuju pada Adillah, Ia tidak bersemangat untuk melakukan banyak hal. Ia memikirkan nasib Adillah. Apakah anak itu sudah makan atau belum. Sudah mandi atau tidur. Setiap kali membuka kamar Adillah, hatinya begitu hampa.


"sayang.. Polisi sedang berusaha mencari Adillah. Kita tunggu hasilnya dan berdoa." Ucap Hanif menenangkan.


Hanif meraih kepala Rena dalam pelukannya. Memberikan kedamaian disana.


"apakah Adillah akan baik-baik saja bby.." ucap Rena dengan isakannya.


"Ya.. Dia akan baik-baik saja. Jika penculik itu benar orangtuanya, maka Ia tidak akan menyakiti Adillah. Percayalah.." ucap Hanif lembut.


Akhirnya Rena mencoba berdamai pada hatinya.


Rena tertidur dalam kelelahan, sesekali Ia mengigau menyebut nama Adillah. Begitu juga dengan Khanza, dia adalah orang yang paling kehilangan. Karena selama ini Adillah dan Khanza selalu bermain bersama.


Hilangnya Adillah membuat Khanza merasa kesepian. Ia tampak tidak bersemangat dan terlihat murung.


"kakak..huuuuu..huuuu." isaknya pilu.


Setelah Rena tenang. Kini Hanif harus menenangkan Khanza yang terisak dikamarnya.


Hanif berusaha untuk menyuapi Khanza, namun Ia terus memanggil nama Adillah. Rasa kehilangan yang teramat menyakitkan.


--------


Adillah yang kini berada dirumah orang tua Roy mengalami demam tinggi. Roy semakin kebingungan.


Roy berencana menghubungi Rena. Meminta tebusan berupa uang dalam jumlah banyak, dan akan mengembalikan Adillah jika kesepakatan itu diterima.


Roy masih menyusun rencana pemerasan dengan memanfaatkan rasa kasih sayang Rena kepada Adillah.


 

__ADS_1


__ADS_2