
Hati Hanif semakin gelisah setelah membaca isi pesan masuk yang terkirim ke handphone Rena.
"apa hubungan pesan itu terhadap Rena..? jika hanya menanyakan sebuah kabar, mengapa Rena begitu sangat ketakutan..?" Hanif merasakan ada sesuatu yang mengganjal didalam hatinya.
Ia masih terbayang bagaiamana saat reaksi Rena membanting Handphonenya saat membaca pesan itu.
"apakah si pengirim pesan memiliki suatu perbuatan yang begitu menyakitinya, sehingga Rena terlihat sangat trauma..?" segala pertanyaan terus membayangi Hanif.
Ia terus memikirkan siapa pelakunya. "jika menanyakan cucu, bukankah ayah Rena sudah lama meninggal..? jikapun paman Rasyid, tidak mungkin memggunakan bahasa batak..? karena setahuku, paman Rasyid keturuna Pakistan-jawa yang berasal dari suami pertama neneknya Rena." Hanif terus berfikir.
"aku akan menanyakannya nanti." Hanif berguman lirih.
Ia melanjutkan pekerjaannya, tentang proyek pengembangan pabriknya di kota Dumai.
Ia menghubungi para koleganya yang bersedia untuk mencari lahan kosong yang masih terbilang hutan. "sebaiknya aku hubungi saja papa, aku harus menanyakan kabar tentang lahan kosong tersebut. setidaknya aku membutuhkan seribu sampai dua ribu heaktar lahan kosong untuk dijadikan perkebunan sawit.
dimana jika mendapatkan 2000 heaktar, maka yang 500 heaktar akan direncanakan sebagai hutan lindung untuk konservasi 'Tuk Belang', sebutan untuk harimau sumatera, agar habitatnya tidak punah.
Hanif berencana akan membuat pagar pembatas antara perkebunan dan hutan lindung yang dibuatnya, dengan pagar besi setinggi 15 meter.
dimana Ia berniat melindungi hewan yang hampir punah tersebut, namun juga melindungi para pekerja nantinya.
[kriiiiiing...] suara panggilan keluar tersambung..
"asslammu'alaikum nak.." ucap Kasim dari seberang telefon dengan nada bersahaja.
"wa'alaikum salam pa.. apa kabarnya ..?" jawab Hanif dengan lembut.
"baik, nak. ada yang bisa papa bantu..?" ucap Kasim pada intinya.
"emmm..iya pa. masalah lahan kosong yang kemarin gimana pa..? apakah sudah mendapat infonya..?" ucap Hanif dengan penuh harapan.
"besok akan papa kabari, tapi papa pastikan akan segera mendapatkannya. para orang kepercayaan papa sudah meninjau lokasinya." ucap Kasim memberikan jawaban yang sedikit melegakan hati Hanif.
"tapi lokasi dekat dengan laut kan pa..?" agar memudahkan ekspor ke luar negeri." ucap Hanif memberi tahukan keiinginannya.
"iya, Nak. sesuai yang kamu inginkan." ucap Kasim dengan sahaja.
"makasih ya pa.. sayang banyak-banyak buat papa.." ucap Hanif sembari mengakhiri telefonnya.
"wa'alaikumsalam. " jawab Kasim menyindir, karena Hanif lupa menutup dengan salam.
Hanif pulang kerumah dengan sedikit cepat dari biasanya. Ia membayangkan wajah Rena yang semakin lama membuatnya semakin menggemaskan.
Ia memasuki kamar dengan sangat tergesah-gesah. "assalammualaikum sayang" ucap Hanif yang tiba-tiba saja nongol dari balik pintu.
Rena terperangah, melihat Hanif yang pulang lebih awal. "waalaikumsalam Hubby" jawab Rena dengan masih perasaan bingung. saat ini Ia masih menyusui baby Khanza.
__ADS_1
Hanif menghampirinya, lalu mengecup ujung kepala Rena dengan gemas, lalu mendarat ke kekening, lalu kebibir Rena yang masih bengong.
tak lama Ia merundukkan kepalanya, lalu mengecup gemas buah melon yang terlihat sangat menggemaskan baginya, apalagi penuh dengan ASI. "Hubby.." teriak Rena dengan membulatkan kedua bola matanya. pertanda Ia sangt kesal dengan perlakuan Hanif barusan. lalu ujung mata Rena melirik kearah ibunya, Munah. yang saat itu sedang menyusun pakaian baby Khanza dan Adillah dalam sebuah boks.
Munah berpura-pura tidak mendengarnya. namun dalam hatinya Ia merasa sangat bersyukur, dimana ternyata menantu laki-lakinya itu memperlakukan anak perempuan satu-satunya dengan cinta yang penuh ketulusan, tanpa bersandiwara.
Wajah Hanif memerah menahan malu, karena kepergok berbuat mesum oleh mertuanya. Hanif hanya nyengir menutupi rasa kikuknya.
"Ren.. ibu kebawah bentar, ibu lupa belum makan siang.." ucap Munah beralasan, sembari berlalu meninggalkan kamar.
Rena dan Hanif tersenyum yang dipaksakan. setelah munah menutup pintu, Hanif terburu-buru mengunci pintu kamar.
Rena semakin bengong dengan sikap yang tak biasa dari Hanif. Ia menghampiri Rena dengan cengar-cengir membuat Rena menangkap gelagat mesum.
"bby. dimana-mana tu orang pulang kerja yang dicari anaknya.. ni koq malah aneh..?" ucap Rena seenaknya.
"soalnya kamu lebih ngegemesin.." ucap Hanif mendaratkan ciumannya dibibir Rena yang sedang mengomel.
setelah membuat Rena susah bernafas, Ia lalu melepaskannya. saat Ia akan melakukan lagi aksinya, tiba-tiba saja Khanza menangis "hoooeeek..hoeeeek" lalu Hanif mengundurkan niatnya.
Ia menatap baby Khanza yang sedang menangis. "cup..cup..cup..sayang. jangan gangguin papa sama mama ya..?" ucap Hanif merayu Khanza.
bukannya malah diam, baby Khanza mala semakin kencang tangisannya. lalu dengan sigap Rena menyumpalnya dengan ASI, dengan sekejap baby Khanza langsung diam dan menyesapnya dengan lahab.
Hanif terperangah dan langsung terkekeh. "woow.. baby saja langsung diem disumpal ma itu.. gimana ma baby gede keq Hubby" ucap Hanif dengan senyum nakal sembari memandangi takjub baby Khanza yang menyusu dengan lahabnya.
Dengan cekatan Rena mencubit pinggang Hanif, sehingga membuat pria tampan itu meringis sembari terkekeh. "sakit yank.." keluhnya.
"mesum sama istrinya kan gak apa-apa?" jawab Hanif, sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"tapi Ren, masih masa nifas bby, takutnya ntar kebablasan, ntar rahim Ren infeksi, Hubby juga rugi." ucap Rena menjelaskan.
"emang sampai segitunya..?" ucap Hanif meminta penjelasan.
Rena menganggukkan kepalanya. "Iya bby.. itulah mengapa Allah memberikan masa nifas kepada wanita yang baru melahirkan, bahkan Allah melonggarkan masa cuti Shalat dan puasa kepada wanita yang sedang masa nifas. masa kamu sebagai Hamba-Nya tidak memberikan masa jeda kamu untuk bercinta..?" ucap Rena dengan lembut. Ia ingin memberikan penjelasan kepada suaminya agar mengerti tentang wanita yang masih dalam masa nifas.
Hanif mendengarkan dengan seksama. "Rahim wanita yang sedang masa nifas itu masih basah dan luka, maka butuh waktu untuk mengobati dan mengeringkan luka tersebut." Rena kembali menjelaskan dengan kelembutan, agar membuat Suaminya mengerti.
"iya..Hubby akan berusaha menahannya koq.. tapi kalau ciumankan kan gak masalah.." ucap Hanif ingin nyosor kembali. namun tiba-yiba Ia mengingat sesuatu. "oh ya, yank.. ada yang ingin Hubby tanyakan." ucap Hanif dengan wajah serius.
Rena menoleh dan menatap suaminya "apa itu bby..?" ucapnya dengan penasaran.
"siapa pengirim pesan itu..? apakah ayank bisa jujur pada Hubby..?" ucap Hanif dengan tatapan serius.
Rena yang tak pernah mendapatkan tatapan seperti itu menjadi gemetar. " memangnya kenapa bby?" jawab Rena dengan kikuk.
"kita telah menjalin ikatan pernikahan, maka jangan pernah merahasiakan apapun dari pasangan kita." ucapan Hanif menusuk jantungnya.
Rena menghela nafasnya dengan berat. "Ren akan ceritakan semuanya.. dan dari cerita Ren ini, jangan pernah berfikiran lagi jika Ren menyimpan rahasia apapun dari Hubby" jawab Rena dengan tatapan nanar.
__ADS_1
Hanif mengangguk mengerti.
"dulu.. masa sebelum Ren mengenal Hubby, ada seorang pemuda buruk rupa, Ia menggunakan ilmu pelet 'Pemikat Sukma' dimana dengan ilmu peletnya itu, membuat Ren sangat menggilainya, bahkan Ren hampir gila." Rena menggantung ucapannya.
"saat itu, seluruh hidup Ren hancur berantakan. hingga akhirnya, kak Hanan membawa Ren berobat ke seorang spritual. disana Ren berhasil disembuhkan atas ijin Allah.." Rena menghela nafasnya.
Hanif masih mendengarkan dengan seksama.
"saat pengobatan terakhir, sang guru spritual itu mengatakan, jika dalam waktu dekat, akan ada tiga pemuda yang datang. namun hanya satu yang membuat hati Ren terpaut padanya, serta mampu menghilangkan sisa sihir tersebut." ucap Ren sembari menatap wajah Hanif dengan tatapan sayu.
"siapa Pria itu.." ucap Hanif penasaran
"pria yang diramalkan guru itu adalah Hubby.. karena saat pertama kali mendengar suara Hubby, hati Ren merasakan damai." ucap Rena jujur.
Hanif membulatkan matanya.."benarkah.. berarti Hubby sosok pangeran berkuda dong.." ucap Hanif cengengesan sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"bisa jadi..?" ucap Rena datar. mencoba menggoda suaminya.
Hanif terdiam sejenak. "trus..ke dua pria lainnya..?" ucap Hanif penasaran
Sejenak Rena melayang jauh, mengingat dimana kedua pria bernama Rehan dan Ridwan. bahkan Ridwan pernah mencuri ciuman kepadanya.
Rena menghela nafasnya. "mereka adalah dua pria tampan yang memiliki hati tulus. semoga mereka menemukan jodoh yang terbaik." ucap Rena dengan tulus.
Hanif membulatkan matanya. "a..pa...apa..? tampan..? mana tampan Hubby dengan keduanya..?" ucap Hanif dengan memburu..
"ada deh..." ucap Rena dengan menggoda.
Hanif mendekat wajahnya kepada Rena membuat Rena merasa bergidik. lalu Ia berbisik tepat ditelinga Rena dengan menggigit lembut telinga itu. " katakan pada Hubby, siapa yang lebih tampan, Hubby atau kedua pemuda itu..? kalau tidak... jangan salahkan Hubby jika menggigit bagian yang lain." Ucap Hanif sembari mengancam.
"iya..iya.. lebih tampan Hubby.." ucap Rena dengan cepat.
Hanif terkekeh dengan jawaban Rena ."Istri pintar.." ucapnya, sembari mengacak rambut Rena.
"lalu nasib si buruk rupa bagaimana.?" ucap Hanif dengan serius kembali.
"emmmm...kabar terakhir yang Ren terima dia mengalami defresi." ucap Rena jujur.
"kamu masih mencari tau tentang kabarnya..? ucap Hanif dengan cemberut.
"gak sengaja dapat loh Hubby. Lagian Hubby nanya, dijawab salah." ucap Rena sedikit kesal.
Hanif memanyunkan bibirnya. " trus.." ucap Hanif.
"trus..apanya..?" jawab Rena singkat.
"ya nasib si buruk rupa itu.?" tanya Hanif.
"gak tau..ah.." jawab Rena sembari bangkit memindahkan baby Khanza kedalam boks bayi.
__ADS_1
Hanif melengus tak mendapatkan jawaban dari Rena. hingga akhirnya, kini giliran baby Adillah yang menangis. "hoooek...hoooekkk.."