
Wina merasa sangat kecewa. Ia begitu sangat membenci Rena. Ia membaringkan tubuhnya ditepian ranjang. "sialan kau Rena..!!" Wina mengumpat, sembari mengacak rambutnya hingga berantakan.
"mengapa kau merusak segalanya..? Hanif itu milikku..!! hanya milikku.." Wina menggeram seorang diri, sembari meremas sprei dengan kuat .
"ooweeeek...ooweeek.." suara tangisan sofia yang kini sedang kehausan. Wina menatap dengan geram. "kau..! diamlah.." hardiknya kepada bayi mungil itu.
wina seperti orang yamg sedang berhalusinasi.
tangisan Sofia semakin kencang, Ia merasa sangat haus dan sedang buang air besar. sofia kecil merasa risih, karena diapersnya sudah penuh dengan najis.
suara tangisan sofia terdengar sampai kelantai dasar. hal itu membuat Melisa merasa jengah. Ia naik kelantai dua. menuju kamar Wina.
[tok..tok.tok..] Ia mengetuk pintu kamar berulang kali, namun tak ada sahutan. Melisa yang sudah amat geram, menjadi sangat geram. Ia menerobos masuk.
"win...wina...Winaaa...!!" teriakan Melisa membuyarkan lamunan Wina.
Wina tergagap mendengar suara teriakan dari Melisa, mamanya.
Mekisa berdiri dengan mengacak pinggang "bisa gak sih kamu ngurus anakmu..? dah tau anak nangis itu ya diperiksa diapersnya sudah penuh atau gimana. atau mungkin haus" ucap Melisa sengit.
Ia membuat susu formula sembari mengomel pedas. Ia memberikan susu itu kepada Sofia mungil.
bayi itu menyesap sufor itu dari botol dot dengan semangat. setelah selesai, Melisa meletakkan botol dot tersebut diatas nakas.
namun Sofia mungil kembali rewel' "aduuuh..apa lagi sih..?" ucap Melisa pusing.
Ia mencium aroma yang tidak sangat mengenakan. Ia melihat diapers sofia sudah penuh.
"Win..kamu salin ini diapers anak kamu.." ucap Melisa merasa jijik.
Wina melongo, membuat Melisa bertambah geram. "kamu ini..ya.? bener-bener.." Melisa kesal dengan Wina.
"panggilin baby sister napa mah..?" ucap Wina memelas.
Melisa menarik nafasnya dengan berat. " makanya tuh, jangan taunya buat anak saja.!! ngurus anak gak becus.!" ucap Melisa sengit. sembari berlalu dari kamar dan memanggil baby sister.
Wina memandang geram kepada Sofia kecil."jika kamu rewel, aku benar-benar akan membuangmu.." wina berguman geram pada sofia kecil.
bayi mungil itu tertawa gemas, melihat ibunya melawaninya bicara.
-------------------
waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Wina menemui Fredy, papanya diruang kerja.
__ADS_1
"pa.. kapan kita menemui mbah Diro..? Wina sudah gak sabar ne..?" ucap Wina gelisah.
"uhuk..uhuk.." Fredy terbatuk, dan setiap batuknya mengeluarkan bercak darah. obat dokter telah habis diminumnya, namun tidak ada perubahan sama sekali. bahkan dokter tak mampu mendeteksinya.
Ferdy menatap puterinya. "bentar lagi, papa selesaikan dulu pekerjaan papa.." jawabnya..
"yees..! makasih ya pa.." Ucap Wina sumringah.
--------------------
"masih jauh pa..?" ucap Wina. mereka memasuki perkampungan yang sangat sunyi dan sepi. dikanan kiri jalan, terdapat perkebunan kelapa sawit dan hutan-hutan akasia. didaerah Riau, dominan dengan hutan akasia, karena hampir keseluruhan tanah disana adah tanah gambut.
"bentar lagi, Win. sabar dikit napa. uhuk..uhuk.." ferdy terbatuk. Ia seperti merasakan sesak didadanya.
Wina mulai bosan, dengan perjalannan yang sangat membosankan.
setelah mengemudi terlalu jauh, akhirnya mereka sampai juga disebuah rumah yang sangat sederhana. rumah itu terletak diujung perkampungan yang sangat jauh dari warga lainnya.
rumah dari bilik anyaman bambu, yang sudah terlihat sangat rapuh. dirumah itu tinggal seorang wanita separuh baya yang berprofesi sebagai dukun sakti.
[tok...tok..tok..] Ferdy mengetuk pintu.
terdengar derap langkah yang sangat lemah dari dalam rumah. lalu membuka pintu, untuk tamunya.
"masuk.."ucapnya lemah..
kedua tamunya masuk dengan wajah heran, karena sang dukun sedang tidak bersemangat.
"duduklah.." ucap Mbah Diro dengan lemah.
Ferdy dan Wina duduk dilantai tanah yang beralaskan tikar anyaman pandan.
terlihat Mbah Diro menatap nanar lurus kedepan. ada beban dalam hatinya.
"ada apalagi kalian menemui saya..?" ucap Mbah Diro lemah dengan suara parau, sepertinya Ia sedang tidak bersemangat.
"ini mbah..kenapa setiap saya batuk selalu mengeluarkan bercak darah. sedangkan dokter mendiagnosa tidak menemukan penyakit apapun dalam diri saya."ucap Ferdy pada titik permasalahannya.
Mbah Diro menarik nafasnya dengan berat, dan menghelanya dengan kasar. "itu karena boneka yang kamu kirimkan telah ditemukan mereka, dan dibakar." ucap Mbah Diro lirih.
"sepertinya, yang menjaga pria itu sangatlah kuat. ada dua sosok makhluk yang terus mendampinginya setiap saat." mbah Diro menggantung ucapannya.
"makhluk itu akan membalaskan setiap perbuatan orang yang berbuat buruk padanya."
__ADS_1
"makhluk yang menjaga pria itu tidak terima jika ada orang yang berniat atau ingin mencelakai tuannya." ucap Diro dengan suara parau.
Winandan Ferdy memandang satu sama lain, ada sedikit ketakutandalam hati mereka.
"pantas saja waktu dihotel aku tak dapat menjamahnya.."Wina berguman dalam hatinya.
Ferdy menjadi ragu akan keiinginannya. "dimana pria itu mendapatkan kedua penjaga itu mbah..?" uvap Ferdy penasaran.
Mbah Diro menatap tajam pada Ferdy. "Ia bukan mendapatkannya, tetapi makhluk itu sendiri yang memilihnya untuk menjadi pendampingnya, karena pria itu memiliki hati yang murni." jawab Mbah Diro.
"maka berhati-hatilah jika ingin bermain api dengannya. karena lawanmu bukanlah pria itu, melainkan kedua jin yang mendampinginya." mbah Diro menjelaskan, dengan penuh penekanan. membuat hati kedua orang itu menciut.
Ferdy melirik wajah mbah Diro yang penuh luka lebam. seperti habis baku hantam dengan seseorang.
"trus..kenapa wajah mbah luka lebam gitu..?" ucap Ferdy yang mulai penasaran.
"ini akibat serangan dari jin pendmaping pria itu. mereka marah kepada saya karena sudah mengusik tuannya." ucap mbah Diro dengan tatapan penuh dendam.
Ferdy menelan salivanya. "jadi bagaimana dengan penyakit saya ini mbah..?" ucap Ferdy mulai gelisah.
"Cari saja dukun yang lain, yang ilmunya lebih tinggi dari saya. karena saya tidak sanggup melawannya" Mbah Diro menyarankan.
"Kalau istrinya gimana mbah..?" ucap Wina menyela pembicaraan.
Mbah Diro menatap pada Wina dengan Sarkas. " pria itu sangat mencintai istrinya, maka siapa saja yang menyakiti orang-orang yang dicintainya, maka orang tersebut akan menhalami nasib buruk. tidak cepat, tidak juga lambat, namun pasti..!"
Wina terperangah mendengarnya.
"Maka saya sarankan, janganlah coba-coba mengusiknya." Mbah Diro menjelaskan semua kepada tamunya.
"dan buat anda Nona, berhati-hatilah..karena dimasa akan datang, akan ada sesuatu hal buruk sedang yang sedang menantimu." ucap Mbah Diro, menerawang Wina dengan mata bathinnya.
Wina merasa berdebar jantungnya. "mbah jangan nakut-nakutin saya dong.." ucapnya dengan nada gemetar.
"Jadi gimana ne dong Mbah..jangan lepas tangan juga dong. beri kita penangkalnya." ucap Wina dengan ketakutan.
Mbah Diro menggelengkan kepalanya. "carilah dukun yang lebih sakti dari saya." ucap mbah Diro menyerah.
Wina melongos. "sia-sia saja aku capek-capek datang kemari." ucap Wina dengan kesal.
mampir di sini juga ya..🙏🙏
.
__ADS_1