
Setelah satu jam beristirahat. Duma merasakan tubuhnya mengigil. Semakin lama rasa menggigil itu semakin kuat. Ia meringkuk sendirian diatas ranjang.
Kepalanya terasa nyeri dan sakit, tulang-tulang dan sendinya terasanya nyeri dan tak kuasa menahannya, keringat membasahi tubuhnya.
Wajahnya memucat dan tampak begitu amat memprihatinkan.
Saat itu, Wina yang diperintahkan oleh William untuk mengecek keberadaan Duma karena menghilang saat bertugas malam tadi, dengan terpaksa dan rasa malas menghampiri rumah kos gadis tersebut.
Ia mengetuk pintu kos berulang kali, namun tak ada sahutan. Ia mencoba membuka pintunya, dan tidak terkunci. Wina memasuki kos, dan mencoba memeriksa kondisi rumah tersebut.
Saat melihat gadis itu terbaring ditepian ranjang dengan tubuh meringkuk kedinginan, rasa kesal yang tadi menderanya berubah menjadi iba.
Ia menghampiri gadis itu, lalu memeriksa kondisinya. Wina sangat terkejut dan mendapati gadis saingannya itu sedang demam tinggi. Ia akhirnya menelefon Rika,meminta bantuan untuk membawakan gadis itu kerumah sakit.
Meskipun Rika mengomel karena tak menyukai Djma sebagai saingannya, namun karena desakan Wina akhirnya Ia menuruti saja permintaan sahabatnya itu, karena Wina mengatakan jika semua itu atas perintah Bos William, maka mau tidak mau Rika menolongnya.
Wina memungut dompet Duma, karena Ia tidak memiliki banyak uang jika pihak rumah sakit meminta biaya perobatan. Maka Wina membawa dompet milik Duma untuk keperluan administrasi dirumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, ranjang troli menyambut tubuh Duma dan membawanya keryangan UGD. Disana Duma melakukan rangkaian pemeriksaan dan pengambilan darah sebagai cek sample laboratorium.
Wina menuju ruang administrasi dan membuka dompet milik Duma untuk mencari kartu identitas gadis itu sebagai syarat administrasinya.
Saat mencari Kartu identitas tersebut, Ia tanpa sengaja melihat sebuah foto seorang pria yang sangat Ia kenal. Seketika jantungnya seakan berheti berdetak, lidahnya keluh dan seakan tak percaya.
Saat itu Rika menepuk pundaknya" Hei... Kamu kenapa? Buruan beri KTP-nya" Rika yang sedari tadi kesal kian bertambah jengah.
Wina tergagap dan segera menyerahkan KTP tersebut kepada pihak administrasi untuk mengurus segala keperluan gadis itu.
Hati Wina kian tak menentu, lalu Ia mengambil sebuah inisiatif, Ia akan melakukan sesuatu yang hanya Ia yang tahu.
Sementara itu, Wina menunggu diruang tunggu pasien, meskipun Rika mengajaknya untuk pulang, namun Ia bersikeras untuk menunggu gadis itu, dan tidak akan meninggalkannya.
"Siapa keluarga dari pasien atas nama Duma?" tanya seorang dokter yang keluar dari ruangan UGD.
__ADS_1
Wina bangkit dari duduknya sembari menyahuti b "Saya dok" ucapnya dengan lirih.
"Ikut keruangan saya Bu" ajak dokter tersebut, yang diikuti oleh anggukan kepala oleh Wina.
Sesampainya diruangan dokter tersebut, Wina dipersilahkan duduk dan tampak dokter itu sedang membuka laporan rekap medis dari pihak laboratorium.
"Maaf Bu, saya ingin menjelaskan hasil lab, dan harap Ibu bersabar" dokter itu mencoba membuka lembaran kertas yang berisi hasil lab dari pemeriksaan untuk Duma.
"Pasien atas nama Duma positif terkena HIV and AIDS, serta positif menggunakan narkoba jenis heroin. Maka pasien ini harus dirawat intensif untuk satu minggu ini.
Duuuuuuar...
Wina merasa seakan tersambar petir mendengar penjelasan dari dokter tersebut. Tanpa terasa air matanya mengalir deras. Saat ini hatinya begitu sangat kesal dan kecewa.
"Harap ibu bersabar, maka dari itu kita harus bisa mengawasi pergaulan anak-anak kita, jangan sampai terjerumus dalam pergaulan bebas" dokter itu mengingatkan dan mencoba menguatkan.
"Anak? Oh Tuhan... Ampunilah dosaku" rintih Wina dalam hatinya yang tak dapat lagi Ia ungkapkan.
"Kalau begitu persiapkan segala berkas untuk melengkapi persyaratan dan biaya rumah sakitnya Bu, nanti dapat Ibu tanyakan kepihak rumah sakit dibagian administrasi" ungkap dokter itu menjelaskan.
Ia keluar dari ruangan dokter itu dengan langkah gontai. Ia tak pernah menduga mendapat kenyataan pahit dalam hidupnya yang begitu sangat menyakitkan.
Wina berjalan menuju ruang administras dan menanuakan ruangan dimana Duma dirawat. Setelah mendapatkan kamar tempat gadis itu dirawat, Ia bergegas menemuinya.
Ia membaca nomor ruangan yang tertera, lalu memasukinya.
Ia melihat gadis yang terbaring lemah dengan jarum infus terpasang dipergelangan tangannya.
Ia mendekatinya, dan menghampiri sang gadis. Ia memandangi wajah gadis itu, ada raut wajah seseorang disana. Ia membelai wajah gadis itu lalu menangis tersedu dalam tangisan yang tertahan.
"Maaf, maafkan Aku" ucapnya dengan nada tertahan. Gadis itu masih memejamkan matanya, Ia masih tak menyadari apa yang terjadi.
Wina tak mampu membendung air matanya yang terus mengalir. Bersamaan dengan hal itu, sebuah panggilan masuk atas nama gadis yang selama ini menyejukkan hatinya.
__ADS_1
"Hallo..." ucapnya lirih, dengan nada yang tak mampu menahan sedunya.
"Iya Bu, kenapa suara Ibu terlihat sedih?" tanya gadis lain dari seberang telefon.
"Tidak apa-apa" jawbnya pilu.
"Ibu sekarang dimana?" desak gadis itu merasa khawatir.
Tanpa memikirkan apapun, Ia menyebutkan rjmah sakit tempat Ia sekarang berada. Saat ini Ia butuh seseorang yang dapat menghiburnya.
"Baiklah Bu, Aku segera kesana" jawab gadis itu, laku mengakhiri panggilan telefonnya.
Wina merasa sedikit lega setelah mengetahui ada orang lain yang peduli akan nasibnya saat ini.
Ia tidak tahu lagi harus mengatakan dan mengadu kepada siapa. Papanya juga sudah sakit-sakitan dan tak dapat lagi dimintai tolong, bahkan selama ini Ia juga sering mengirimkan uang untuk Papanya.
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya Adillah, gadis yang ditunggunya datang membawa dua kitak boks berisi makanan.
"Makanlah Bu, karena segala sesuatunya butuh tenaga" ucap Adillah, sembari membuka boks makanan berisi makan siang.
Wina masih tampak sedih, sudut matanya sembab dan tak henti menitikkan air mata.
Adillah berusaha menyuapinya, dan tindakan itu membuat hati Wina bagaikan menemukan oase dipadang pasir. Hatinya begitu sejuk dan yak pernah merasakan kedamaian yang begitu sangat membahagiakan.
Setelah selesai makan siangnya, Kini Ia mulai tampak tenang, lalu kembali memandang pada wajah gadis yang terbaring lemah diranjang pasien tersebut.
"Sepertinya aku pernah melihatnya, namun aku lupa dimana" ungkap Adillah saat melihat gadis diranjang pasien tersebut.
Wina hanya memandangnya nanar, ada gurat penyesalan dihatinya, Ia seakan hidup bagaikan manusia yang tak berguna dan sungguh hina.
"Apakah Ia keluarga Ibu?" tanya Adillah dengan lembut.
Wina hanya menganggukkan kepalanya, tanpa mampu menjawab apapun, hanya air matanya hang terus berlinang tanpa henti.
__ADS_1
Adillah mengurungkan niatnya untuk memberitahu kabar gembira jika malam ini malam pertunangannya dengan Ridwan. Ia tidak ingin memberi kabar gembira saat orang lain dalam kesedihan.
Ia mencoba menghibur Wina dengan caranya, dan merahasiakan pertunangannya dari wanita yang Ia sendiri juga tidak mengetahui jika Ia memiliki ikatan bathin terhadapnya.