
Rena merasakan kehidupannya hambar. biasanya Ia akan sangat bergairah jika berdekatan dengan Hanif.
Namun entah apa yang merasukinya, sehingga Ia tidak begitu bersemangat.
Saat Hanif menyentuhnyapun Ia tidak begitu peduli. Ada sesuatu yang sedang Ia fikirkan.
"Hai sayang.." sapa Hanif saat melihat Rena sedang membuat sarapan. Hanif mengecup lembut ujung kepala Rena.
Rena hanya senyum terpaksa. Ia melanjutkan memasaknya. Setelah selesai, Ia menyajikannya dimeja makan. Kedua buah hatinya telah berada meja makan untuk sarapan.
Saat menyantab sarapannya. Rena terlihat sangat tidak bersemangat. pandangannya nanar, dan sarapannya hanya diacak-acak saja.
Hanif yang melihatnya merasakan sesuatu yang aneh."ada apa dengan Istriku..? Mengapa tiba-tiba Ia terlihat begitu berubah..?" Hanif mulai berfikir sesuatu.
"mama..Khanza sudah siap ne.. Ayo kita kesekolah." celoteh Khanza.
Namun Rena hanya tampak diam, tatapannya seperti sedang memikirkan sesuatu.
Hanif kian merasa curiga. Jika ada sesuatu uang disembunyikan oleh Rena.
"Ma.. Ayo Ma.. Kita anterin kita ke sekolah.." Adillah menimpali.
Melihat Rena yang tidak bereaksi. Hanif beranjak dari kursinya, lalu menghampiri Rena. Hanif menyentuh pundak Rena. "sayang.." ucap Hanif lembut.
Seketika Rena terperanjat. Lalu serasa gelagapan.
"emm.. Iya. Ada apa..?" tanya Rena setelah sadar dari lamunannya.
Hanif merasa ada yang aneh dari sebutan Rena.. Ia melupakan kata 'Hubby'.
Hanif mencoba menarik nafasnya, dan menghelanya. "apa sebenarnya yang terjadi.? Mungkin aka aku tanyakan nanti." Hanif masih mencoba menahan rasa penasarannya.
"sayang.. Anak-anak mau sekolah, kamu lupa ini sudah jam berapa..?" ucap Hanif berusaha setenang mungkin.
Rena menatap Hanif tanpa ekspresi. "emm.. Iya.. Ayo kita kesekolah." jawab Rena dengan datar.
Ia beranjak dari kursinya, tanpa menyentuh makanannya.
Khanza dan Adillah menyalim Hanif dengan penuh semangat. "belajar yang benar ya sayang..?" ucap Hanif lembut kepada keduanya.
"oke papa.." keduanya menjawab serempak.
Rena berjalan dengan gontai bersama kedua hatinya. Ia sungguh tidak bersemangat.
Ketika saat mencapai pintu depan, Hanif memanggilnya. "sayaang.. Ini kunci mobilnya kenapa tidak dibawa.?" ucap Hanif, sembari mengahampiri Rena.
Rena menghentikan langkahnya, lalu menoleh kepada Hanif dengan tatapan dingin. Ia menerima kunci tersebut tanpa ucapan apapun. Hal itu membuat goresan dihati Hanif.
__ADS_1
Rena berlalu begitu saja, memasuki mobil dan mengemudikannya untuk mengantar kedua buah hatinya.
---------*****-------
Sesampai di depan pagar sekolah, Khanza dan Adillah menyalim Rena. "mama..kami sekolah dulu ya..?" ucap keduanya sembari melambaikan tangannya, dan menghilang dibalik pagar sekolah menuju kelasny masing-masing.
Rena kembali kerumah dengan perasaan hampa. Ia sangat merindukan kehadiran Bernard. Olesan minyak wangi non alcohol dilengannya waktu itu telah membuatnya linglung.
Kimi Rena telah berubah, bukan dirinya yang dulu. Rena seoalh mengabaikan segalanya.
Saat berpapasan dengan Hanif difalam kamarnya, Rena bahkan seolah-olah tidak melihatnya. Hanif yang merasa diabaikan kian bingung.
"apa aku memiliki kesalahan padanya? Tetapi apa..? Mengapa Istriku mendadak berubah..?" Hanif bertambah bingung.
Rena beranjak keranjang. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut bedcover. Ia bersembunyi dibalik selimut. Lalu memeluk guling dengan erat. "kamu kemana Bernard? Ia berguman lirih dalam hatinya.
Ia merasakan kerinduan yang amat terdalam.
Hanif menghampirinya, namun Rena masih bersembunyi dibawah selimutnya.
"sayang.. Hubby berangkat kerja ya..? Jika tidak enak badan, apa Hubby anterin berobat dulu atau Hubby panggilin dokter pribadi kerumah..?" ucap Hanif dengan setenang mungkin.
Rena diam tak bergeming. Bahkan Ia tidak membuka selimutnya.
Hanif semakin gelisah dengan sikap Rena. Akhirnya Ia pergi bekerja dengan perasaan yang sangat kacau.
Hanif mengemudikan mobilnya dengan gelisah. " apa kesalahan yang telah ku perbuat..? Hingga membuatnya mengabaikanku..?" Hanif bergjman lirih.
Tanpa sadar, Ia hampir saja bertabrakan dengan sepeda motor yang melaju kencang dari arah yang berlawanan. Seketika Ia tersentak, dan membanting stir kekiri.
Hanif menghentikan mobilnya. "Ya Rabb.. Ujian apa yang sedang aku terima.? Kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga harus menanggung semua ini..?" sebuah jeritan hati Hanif yang sedang terluka.
Hanif kembali mengemudikan mobilnya. Sesampainya diruang kerjanya. Dwi sudah menunggunya, Ia membawa sebuah laporan neraca penjualan.
Sekretaris itu memandang Hanif dengan heran. Ia melihat wajah si Bos nya sepertinya sangat kusut, mungkin seperti pakaian yang belum kena strikaan.
"em.. Pagi Pak, laporannya sudah saya kirimkan ke email bapak ya, dan bapak tinggal memeriksanya saja. Jika sudah selesai, bapak bisa tanda tangani secara online saja." ucap Dwi menjelaskan panjang lebar.
Hanif menatap dingin pada Dwy, membuat gadis itu kelabakan. " tinggalkan ruangan saya, saya masih ada sesuatu hal yang harus saya lakukan." pintanya kepada Dwy.
Mendapat tatapan seperti itu, Hati Dwy langsung menciut, dan segera buru-buru keluar dari ruangannya.
Dwy merasakan hal yang aneh terjadi pada si Bos. "kemapa si Bos sensi banget pagi ini.. Apa lagi PMS ya.? Untung saja ganteng, kalau gak..beeugh." Dwy ngomel sendiri.
Hanif merasakan sedang tidak berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Ia terbayang Rena yang sedari tadi mengabaikannya.
--------*****-------
__ADS_1
"Bernard.. Dimana kamu.." ucapnya lirih. Hatinya merindukan pria itu.
Rena keluar dari selimutnya, menuju balkon kamarnya. Sesaat matanya memandang sosok Bernard berada diujung pagar rumahnya.
Pria itu menatap lurus padanya. Hati Rena kian berdebar. "Bernard.. Kamukah itu..?" Rena berlari menuju pintu keluar kamar.
Ia tampak tergesah-gesah keluar dari rumah, dan menuju ujung pagar rumahnya.
Sesampainya disana, Ia tak menemukan sosok Bernard. Rena kian gelisah.
"kemana dia.. Tadi aku melihat berada disini." Rena mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Bernard yang jelas tadi Ia lihat.
"kamu dimana Bernard.?" ucap Rena dengan lirih.
Kang Mamang yang memperhatikan sikap majkkan perempuannya merasa heran. "si nyonya cari siapa sih.? Koq sepertinya sedang menunggu seseorang." mamang berguman lirih.
Ia melihat Rena celingukan kesana kemari, seperti orang yang kebingungan.
Mamang mencoba menghampiri Rena yang masih berdiri diujung pagar.
"nyonya cari siapa..?" tanya Mamang sopan.
Rena menoleh kearah Mamang. "tadi kang Mamang ada lihat seseorang disini gak..?" tanya Rena dengan selidik.
mamang menggelengkan kepalanya "gak ada tu.. Emang siapa nyonya..?" ucap Mamang penasaran.
Rena hanya diam saja. Lalu kembali masuk kedalam rumahnya.
"aneh banget sikap bu Rena, tidak seperti biasanya, ramah dan ceria.. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Apalagi berantem sama si Bos ya.? Perasaan gak mungkin kalau berantem, soalnya si Bos itukan pria paling sabar sejagad raya." Mamang mengomel sendiri dengan penuh kebingungan.
--------****---
Rena telah sampai dikamarnya. Ia kembali ke balkon. Lalu mengedarkan pandangannya keseluruh jalan. "kemana kamu..?" ucap Rena lirih.
---****----
jam menunjukkan pukul 1 siang. Hanif mendapat telefon dari nomor tak dikenal.
"hallo, ini siapa..?" tanya Hanif kepada si penelefon.
"Hallo pak.. ini saya security penjaga sekolah. Anak bapak kenapa belum dijemput..? Saya sydah menelefon ibu berulang kali, namun tidak diangkat." security itu memberikan laporannya.
"apaa..?!" Hanif terperanjat mendengar penuturan Security tersebut.
"om pak.. Terimakasih. Saya akan langsung menjemputnya. " ucap Hanif sembari menutup sambungan telefonnya.
"ya ampuun.. Sayang..apa sih yang terjadi dengan kamu." Hamif berguman lirih, sembari meraih kunci mobilnya, dan keluar dengan terburu-buru.
__ADS_1