Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Pertanda Alam


__ADS_3

Bernard menyusuri jalanan dengan langkah gontai. Ia tidak memiliki sepeser uangpun. Dimana uang hasil penjualan mobilnya, sudah Ia transfer kepada ibunya Ambar.


Ia merutuki nasibnya yang terus saja sial. Ia berjalan dengan gontai menyusuri tepian jalan lintas. Luka dibibirnya terasa nyeri akibat dari pukulan Hanan.


Bernard berjalan tanpa arah tujuan yang jelas. Berulang kali Ia menghentikan mobil cold diesel atau pun mobil tangki untuk menumpang sampai ke simpang menuju rumahnya, namun belum juga ada yang memberikan tumpangan.


Ia masih terus menyusuri jalanan dengan rasa galau.


------------♡♡♡♡♡♡-------


Ambar kian resah. Burung gagak itu terus saja bernyanyi memperdengarkan suaranya yang sedikit membuat bulu kuduk meremang.


Burung hitam itu terus saja bertenggek di pohon asam kasturi yang tumbuh duperkarangan rumahnya.


Belum lagi hilang rasa kecemasannya, seekor burung elang putih melintas berputar diudara tepat diatas atap rumahnya..sembari berteriak lantang.


Kuliiiiiik....kuliiiiiik..


Burung elang itu terus berputar menyuarakan kabar yang akan didengar oleh sang pemilik rumah.


"bang.. Kenapa hati adik merasa gak enak ya bang.. Seperti ada perasaan mengganjal. Adik juga teringat terus sama Bernard. Sudah beberapa minggu ini dia tidak menelefon kita" ucap Ambar dengan wajah penuh kegelisahan.


"mungkin kamu lagi kerindu padanya. Coba telefon saja dia, agar kamu tidak penasaran." Safri menyarankan kepada istrinya.


"iya juga ya bang.. Nanti aku telefon Dia, mau tau aku kabarnya gimana sekarang. Apakah istrinya si Wina itu juga sudah hamil atau belum ya..? Tak sabar adik mau menimang cucu darinya." Ambar terlihat sangat bersemangat.


"Iya.. Apalagi si Wina itu cantik banget ya bang.. Pasti anaknya ganteng dan cantik nantinya.." Ambar tampak sumringah, mengkhayalkan tentang cucu-cucunya kelak.


"Iya.. Coba kita tanya saja nanti Winanya, apakah dia sudah ada tanda-tanda mengandung.." Safri menimpali.


Ambar mengambil handphonenya. Ia ingin mencoba menelefon Bernard. Namun Ia harus kecewa, karena battreinya lawbat..


"ya.. Battrei saya lawbate bang.. Pakai handphone abang sajalah.." pinta Ambar, sembari mencharger battreinya, tak lupa Ia mengkatifkannya, dengan alasan jika ada yang menghubunginya nanti akan dapat diketahui.


----------♡♡♡♡♡♡------


Bernard semakin lelah, Ia merasa sangat dehidrasi. Seharian Ia belum juga makan dan minum, membuat pandangannya berkunang-kunang.


Semakin lama, pemandangan semakin gelap, Ia limbung dan jatuh tersungkur.


warga yang melihatnya mencoba untuk menolongnya, lalu membawanya ke rumah warga terdekat.


Karena terlalu lama tak sadarkan diri, mereka mencoba mencari identitas yang bisa menjadikan petunjuk untuk menghubungi anggota keluarganya.


"kami tadi bertemunya di jauh disana sedari sore tadi. Dan ini sudah hampir malam, mungkin Ia kelelahan berjalan." ucap seorang warga, yang sore hari tadi melihat Bernard berjalan terlunta-lunta seorang diri.


"lihat, ini ada handphonenya, mungkin ada nomor keluarganya. Kita cari dipanggilan keluar saja." ucap Warga yang menemukan handphone milik Bernard. Namun sepertinya semua riwayat panggilan telah dihapusnya.


Pria itu segera mencari melalui contact, Ia menemukan kata 'Inang'. Ini mungkin nomor ibunya Lae.. Coba kita hubungi dulu." pria itu menghubungi contact number dengan nama Inang tersebut.


Kriiiiiiiiing...


Panggilan tersambung..


"hallo.. Bernard.. Apa kabarmu sayang? Baru saja ibu mau menghubungi kamu, tetapi kamu sudah menghubungi ibu terlebih dahulu." ucap seorang wanita dari seberang telefon.


"benar ini dengan ibunya pemilik nomor ini..?" tanya pria itu dengan sopan.


"iya benar, kamu siapa? Mengapa handphone anak saya kamu yang pegang..? Tanya Ambar dengan gelisah, Ia mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


"bu.. Kami menemukan anak ibu jatuh pingsan ditengah jalan, kami akan mengirimkan alamatnya. Kiranya ibu bisa menjemputnya." Pria itu mencoba menjelaskannya.


"apa buktinya? Bisa saja kamu cuma menipu saya." sergah Ambar


"baiklah.. Kami akan memperlihatkan buktinya, tolong ibu alihkan panggilan menjadi panghilan vedeo, agar ibu percaya." prianitu mengubah panggilan menjadi panggilan Vedeo, lalu memperlihatkan tubuh Bernard yang terbaring tak sadarkan diri di lantai rumah seorang warga dengan beralaskan tikar. Tampak warga berkerumun disisi Bernard.


"haaah... Bernard. Ia. benar, itu anak saya.! baiklah.. Saya percaya sekarang. Saya akan segera kesana. Tunggu sekitar 2 sampi 3 jam kami akan sampai." hcap Ambar dengan segwra menutup panggilan telefonnya.


"bang...bang..Safri, kemari bang.." teriak Ambar dengan panik.


Safri yang mendengar teriakan Ambar, istrinya bergegas menghampiri istrinya. "ada apa dik, ngagetin saja kamu." Ucap Safri dengan nafas tersengal.

__ADS_1


"bang.. cepat sewa mobil Lae togar bang.. Bernard ditemukan tak sadarkan diri di jalanan.kita harus segera kesana bang." Ambar menuturkan kalimatnya.


"jangan panik dulu dik, memangnya adik taundari mana?" tanya Safri penasaran.


"Adik tadi ditelefon warga melalui Video call, jadi adik yakin itu memang Bernard." Ambar mulai khawatir.


"baiklah, kita akan segera kesana." Safri bergegas kekuar meminjam mobil Togar tetangganya.


-------♡♡♡♡♡-------


"cepatan bang.. Kasihan Bernard.." Ambar terus memaksa Safri untuk menambah kecepatan laju mobilnya. " sabar dik, jangan panim. Nanti malah akan membawa celaka pada kita, jika kita gegabah." Safri mengingatkan istrinya. Ia tau jika persaannya kini sedang kacau.


Safri berusaha untuk menyetirnya dengan fokus, agar keselamatan mereka juga harus terjaga.


---------♡♡♡♡♡------


Safri memarkirkan mobilnya kerumah warga yang telah menolong Bernard. Ambar menyibak kerumunan, benar saja, Ia menemukan Bernard dengan kondisi lemah. Ia sudah sadar, namun belum dapat diajak komunikasi. "sayang.. Apa yang sudah terjadi padamu.. Mengapa bisa seperti ini?" Ambar menangis pilu melihat kondisi anaknya yang tampak mengenaskan.


Seorang perawat datang, memberikan suntikan yang dapat menambah tenaga untuk Bernard.


Setelah itu, Ambar dan Safri membayar perawat tersebut, atas jasanya itu. Lalu mereka mengucapkan terimakasih kepada semua warga yang telah membantu anaknya, dan berpamitan.


-------♡♡♡♡-----


Disepanjang perjalanan, Ambar terus mengecup pipi Bernard, Ia tidak menyangka jika anaknya akan mengalami nasib yang sangat memprihatinkan.


Pukul 2 malam, mereka tiba di kediaman mereka. Safri membopong tubuh Bernard yang mungil itu masuk kedalam rumah. Ia membaringkannya diatas ranjang berbusa.


tiba-tiba saja Bernard mengerang, memanggil sesuatu. Safri dan ambar mendekatinya. "ada apa sayang? Kamu ingin mengatakan apa.?" tanya Ambar dengan hati yang sangat kacau.


Bernard menatap kearah Safri, ayahnya. Meminta ayahnya mendekatinya.


Lalu Safri mendekati Bernard. "ada apa? Apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan..?" tanya Safri sembari mendekati Bernard.


Bernard ingin berbisik, lalu Safri mendekatkan telinganya dibibir Bernard.


Setelah cukup lama dengan adegan berbisiknya, Safri membulatkan matanya. Lalu menatap sedih pada Bernard, tampak Bernard mengangguk sembari memohon. Safri terdiam. Ia tampak gelisah dan sedih.


"ada apa bang? Apa yang dikatakannya..?" Ambar tampak penasaran dan gelisah.


Lalu Ia kembali menatap Bernard. Kali ini tatapannya seperti menghiba dan memohon, meminta ayahnya mengabulkan permintaannya.


Safri bagaikan buah simalakama, yang tidak dapat mengambil keputusan yang mana. Namun Ia juga tidak tega menyiksa puternya.


Dengan ragu, Ia mendekati puteranya yang terbaring tak berdaya. Dengan berat hatinya, akhirnya Ia menuruti keinginan puteranya. Ia meraih ujung kepala puteranya. Mencari ubun-ubun kepalanya, lalu dengan terpaksa ia menghisap kuat ubun-ubun Bernard.


Bersamaan dengan hisapan terakhirnya, Bernard memejamkan matanya, lalu tak bergerak, untuk selamanya.


Tangis Safri pecah, Ia menagis sesenggukan disisi jasad Bernard yang kini sudah tak lagi bernyawa.


sebagai seorang ayah tentu hatinya sangat hancur. Sejahat-jahatnya anak, orantua pasti memiiki rasa kasih sayang untuknya, meski hanya secuilpun.


Ambar yang merasa curiga dengan gelagat Safri, lalu menghampirinya. "apa yang terjadi bang.. Jawab jujur bang..?" Ambar mendesak Safri agar mengatakan tentang apa yang sedang terjadi.


Safri memeluk Ambar dengan erat, lalu menangis menumpahkan segala kesedihannya. " bernard sudah tiada bu.. Hu..hu..hu.." ucap Safri dengan isakan yang tak mampu dicegahnya.


Ambar melepaskan pelukan suaminya, lalu memegang kedua pundak suaminya dengan tatapan bertanya. "kamu bercanda kan bang? Ini hanya bohongkan..?" suara Ambar tercekat ditenggorokannya. Ia menghampiri jasad Bernard yang kini terbujur dipembaringan.


Ambar menepuk-nepuk wajah Bernard "sayang.. Sayang.. Bangun.." Ambar mencoba membangunkan puteranya. Namun tubuh itu merespon.


"tidak..tidak..Bernard.. Jangan tinggalkan ibu sayang.. Kamu baru saja membelikan ibu rumah ini, namun mengapa kamu tak ingin menempati dan tinggal didalamnya.?" Ambar meratapi kepergian puteranya. Meskipun Ia menyadari jika ratapannya adalah dosa, namun Ia tak mampu menahannya.


"bangun.. Bangun.. Sayang..jangan tinggalkan ibu." ambar berteriak sepertiga malam yang sunyi. Lae Togar yang baru saja selesai bermain game online, mendengar tangisan Ambar. Dengan penasaran Ia menggedor pintu rumah Ambar.


Lalu Safri beranjak bangkit dan membukakan pintu untuknya. "ada apa Lae? Ku dengar istrimu menangis dan berteriak." Togar merasa penasaran.


Safri menangis dan terisak sembari memeluk Togar. "Bernard Lae..Ia sudah tiada.." ucap Safri dengan isakan yang kian kuat, hingga pundaknya terguncang.


Togar membelai punggung Safri."sabar ya Lae Safri, semua yang bernyawa pasti mengalaminya. Hanya kita tidak tau kapan, dan dimana pastinya. Ikhlaskan kepergiannya."Togar memberikan kata-kata nasehat kepada Safri, yang saat ini merasa rapuh.


Safri mengajak Togar kedalam untuk melihat Jenazah Bernard. Hanya Mereka bertiga saat ini yang menemani jasad tak bernyawa itu.

__ADS_1


-------♡♡♡♡♡-------


Pagi ini, kediaman rumah Safri dan Ambar terlihat sangat ramai. sanak keluarga dan para tetangga memberikan ucapan bela sungkawa atas kepergian putera mereka. Selama hidupnya, Bernard dikenal sebagai pemuda yang sedikit nakal.


Ia dikenal sebagai pemuda yang suka mabuk-mabukkan, kepelacuran, bahkan pemalas.


Hanya sekitar 7 tahun ini Ia merantau dan mendapat perubahan. Namun sikap buruknya ke pelacuran dan minuman keras tak mampu Ia rubah, karena sudah mendarah daging ditubuhnya.


Ambar sedari malam tadi terus menangisi kepergian Bernard, kini matanya tampak sembab dan bengkak.


Warga memberikan nasehat yang mencoba menghibur hati Ambar yang kini hancur berkeping.


Para pelayat menyiapkan segala keperluan fardhu kifayah untuk Bernard. Mereka akan menghantarkan jenazah Bernard kepembaringan terakhirnya.


"apakah ini kabar buruk yang ingin kau sampaikan hai Gagak dan elang.?" Ambar berguman lirih dalam hatinya.


"Mengapa kau tak mengabarkannya pada yang lain.. Mengapa harus aku..?" Ambar kian terisak dalam ratapannya.


Jenazah itu kini sudah dimandikan, Ia menggunakan pakaian terakhirnya, kain putih tanpa corak, kain putih tanpa warna. Segala keangkuhan selama hidupnya, kini tak lagi tampak bermakna. Sikap sombongnya dalam mempermainkan wanita, dengan segala ilmu kanuragan yang dipelajarinya, kini tak mampu lagi Ia banggakan..


Kini Ia hanyalah sebuah jasad yang tak mampu menentang Takdir Illahinya.


Setelah sebagian Fardhu kifayah selesai. Kini saatnya Bernard kembali kerumah alam kuburnya, tempat persinggahan sebelum Ia dibangkitkan kembali saat hari pembalasan nanti, untuk menentukan apakah Ia masuk kedalm neraka, atau Surga yang dijanjikan Allah.


Di alam kubur atau alam barzah ini, Bernard akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya selama didiunia.


Jenazah Bernard dimasukkan kedalam liang lahat. Ambar seperti tidak rela. Ia meronta-ronta tak ingin jika Bernard harus dikuburkan.


Safri dan tetangga mencoba menenangkannya, namun semua tersia. Saat tanah sudah menimbun jenazahnya, dan para peziarah sudah pergi, Ambar menangis berada diatas gundukan tanah merah itu.


Safri mengajaknya pulang kerumah. Namun Ia bersikeras untuk tetap berada disitu. Safri mencoba membujuknya, namun Ia tak juga ingin kembali pulang.


Hingga akhirnya, Safri membisikkan pesan-pesan terakhir Bernard kepadanya, tangisan Ambar kian mereda. Lalu Ia bersedia diajak pulang kerumah.


Meskipun hatinya hancur kehilangan Bernard, Ia kini memiliki harapan baru, sesuai dengan yang diucapkan oleh Safri saat tadi.


Ambar menyeka air matanya, lalu kembali kerumah.


--------♡♡♡♡♡------


Hanif yang kini masih berada dirumah ibu mertuanya, merasakan afa sesuatu yang berbeda. Burung gagak yang melintas didepan perkarangan ibu Mertuanya, berteriak nyaring, menyampaikan kabar duka kepada Rena. Namun Rena yang kini masih dalam masa pemulihan, tiadak memahami kabar itu.


Hanif melihat, sebuah Siluet sosok mirip Bernard melintasinya. Hanif memejamkan matanyaq, mencoba mencari tau, dan seprtinya ini semua ada hubungannya dengan pandangan Hanif saat mendapati Bernard yang melarikan istrinya.


Hanif sengaja melepaskan Bernard, karena Ia melihat tanda-tanda di diri Bernard sedang menjemput ajalnya.


Hanif melihat, jika pandangan Mata Bernaed saat itu sudah kosong, maka Ia tidak tega jika harus membwanya kekantor polisi yang mana nantinya akan mempersulit hidupnya. Dengan alasan pertimbangan kemanusiaan, Ia melepaskannya, meski ada rasa kesal, geram dan sangat marah pada pria itu.


Hanif duduk diam bersila, Ia memejamkan matanya, lalu menembus alam dimensi lain. Ia melihat dikejauhan, jika Bernard sedang dikerumi oleh banyak orang, tampak seorang wanita yang tengah meratapi nasibnya dan menangisi jasad yang tak lagi bernyawa.


Sukma Hanif kembali ketubuhnya. Ia menarik nafas panjang, lalu menghelanya. Tatapannya nanar kedepan. Bola matanya yang berwarna kecoklatan, tampak begitu tegas dan tajam.


"kepergianmu masih menyisakan masalah baru, bukannya mengakhiri, tetapi memperpanjang." Hanif berguman lirih.


-------♡♡♡♡-------


Berita tentang Bernard yang tak sadarkan diri dijalanan dan tolong warga menjadi viral dimedia sosial.


Sebagian warga ternyata ada yang memvideokannya dan menyebarkannya di media sosial sebagai berita orang terlantar.


Saat Rena sedang berseluncur dimedia sosial, Ia melihat berita yang viral itu. La memperhatikan, jika sosok yang sedang viral itu adalah Bernard.


Rena memperhatikannya, lalu dengan cepat Ia menscroll berita itu, dan mengabaikannya.


Ia dan Hanif kini sedang bersiap-siap akan kembali ke pekanbaru, karena Khanza dan Adillah sudah merengek meminta mereka untuk segera kembali secepatnya.


Rena juga sudah sangat rindu dengan keduanya. Tak sabar rasanya Ia untuk bertemu dengan kedua buah hatinya itu.


"sayang.. Apakah kamu sudah bersiap? Kita pulang hari ini.." ucap Hanif, sembari membelai lembut rambut Rena, lalu mengecup ujung kepala istinya.


"sudah Habby.." ucapnya lembut, sembari tersenyum manis Yang mana senyumannya membuat Hanif seakan melayang kedunia fantasi.

__ADS_1


"Hubby akan menghukummu setelah pulang dari sini."ucap Hanif dengan nada nakal.


Rena membulatkan matanya, sembari mencubit gemas pinggang Hanif, sehingga membuatnya meringis. Lalu Ia beranjak menuju teras dan akan berpamitan kepada keluarganya.


__ADS_2