
Duma semakin penasaran dengan sosok Khanza. " pemuda sangat tampan, tetapi mengapa sangat untuk ditaklukan.? Aku sangat menginginkannya." duma berguman lirih dakam hatinya.
"Duma.. Apakah kamu keluar malam lagi..?! Kamu ini anak gadis Duma, jaga sikapmu dan hargai opung boru..!" Ambar mengomel dan rasanya ingin berteriak keras menggunakan microphone., agar dapat didengar oleh Duma yang kini sedang berada didalam kamar.
Duma mendengus kesal. Ingin rasanya Ia menutup telinganya dengan sesuatu agar tidak lagi mendengar omelan-omelan dari opung borunya.
"ayo bangun, bukankah hari ini kamu sekolah.engapa kau sangat malas sekali.? Kau ini sama saja seperti almarhum ayahmu, pemalas..!!" hardik Ambar. Semakin hari semakin tak sanggup mengurus naka itu. Dimana tingkahnya semakin tak terkendali.
Duma beranjak bangkit, dan ingin pergi kekamar mandi. Ia sudah sangat bosan dengan segala amarah ambar setiap hari. Ia merasa sangat tersiksa.
"mengapa aju harus memiliki opung yang sangat tidak berperasaan. Aku masih muda, wajara saja jika aku ingin bersenang-senang." Duma merasa sangat jengkel.
Ia membasahi tubuhnya dengan sangat terburu-buru. Ia sepertinya akan terlambat dan keginggalan kelas hari ini.
Dengan tergesah-gesah Ia menyalin pakaian sekolahnya. tanpa bersarapan Ia berangkat kesekolah. "sudah sunyi, mungkin pelajaran sudah dimulai. Sangat membosankan. Apa aku bolos saja ya.?" Duma mulai menimbang-nimbang keputusannya. Sesaat security melihatnya yang berdiri didepan pintu pagar.
"gadis ini. Setiap saat kerjanya selalu terlambat. Mengapa dia begitu sangat pemalas..?" security itu berguman dalam hatinya.
Ia berjalan mendekati Duma yang akan meninggalkan pagar sekolah.
"kamu mau kemana Duma.? Apakah kau akan bolos sekolah?" cecar security itu dengan cepat. Karena Ia melihat Duma berbalik arah hendak pergi.
Duma melirik kepada sang security tersebut. "mengapa bapak terlalu berisik? Ini urusan saya, mau saya masuk sekolah atau tidak." jawab Duma dengan tatapan mengunci.
Tiba-tiba saja security itu merasa gemetar saat menatap mata Duma. Ia tidak berani untuk membantah kata-kata gadis ingusan tersebut.
Duma melangkah pergi meninggalkan pagar sekolah. Hari ini suasana hatinya sangat kacau. Apalagi saat dirumah tadi opung borunya terus saja mengomel.
Ia pergi ke jalan utama. Berdiri ditepian jalan menuju angkot. Tiba-tiba saja sebuah mobil menepi, lalu terlihat seorang pria paruh baya sedang membuka kaca pintu mobil. "hai.. Adik manis, mau ikut bersenang-senang.?" serunua sembari membuka pintu.
__ADS_1
Sejenak berfikir, dengan meggunakan seragam sekolah putih abu-abunya, Ia menerima tawaran pria asing tersebut.
Duma melangkah masuk kedalam mobil. Mobil bergerak maju. Setelah berada disalam mobil, Ia baru menyadari jika ada 3 orang pria lainnya didalam mobil. Seketika Ia menjadi gemetar.
"emm..saya turun disini saja om, saya tidak jadi ikut bersama Om." ucapnya sedkit gemetar.
"hahaha.. Kamu sudah masuk kedalam mobil saya, lalu mengapa harus turun kembali? Ayolah.. Kita akan bersenang-senang.. Kami akan membayarmu" ucap pria itu sembari menambah kecepatannya menuju suatu tempat.
----------♡♡♡♡------
"di kota ini aku merasakan sudah sangat sulit untuk membiayai kehidupanku. Aku harus pindah ke kota lain untuk mencari pekerjaan." Wina berguman dalam hatinya.
"aku akan merantau ke kota Medan. Salah satu Kota metropolitan itu akan sangat menjanjikan bagiku untuk menemukan pekerjaan. Disini aku sudah tidak dapat lagi bertahan hidup" ucap Wina dengan lirih.
Wina mengemasi barang-barang miliknya. Ia berniat akan merantau dan mencoba peruntungan di kota itu.
Meskipun usianya sudah mencapai 44 tahun, tetapi Ia masih memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang ramping.
Berangkat pukul 5 sore hari, dan Wina tiba di kota Medan pukul 8 pagi. Ia menuju kota inti. Dan mencari rumah kos-kosan. Ia juga harus mencari pekerjaan untuk memenuhi biaya kehiduoannya nanti.
Setelah mendapatkan harga murah dari rumah kos. Ia pun bergegas mengemasi barang-barangnya. Ia beristirahat sejenak dan mencari makanan untuk sarapan.
Sesaat Ia sedang membeli sarapan, Ia melihat seorang gadis cantik yang menggunakan hijab juga sedang membeli makanan yang sama dengannya. Setelah si penjual memberikan pesanan mereka, gadis itu membayar harga pesanannnya.
"ini pak uangnya.." ucap Sigadis sembari menyerahkan uang lembaran 100 ribu rupiah.
"wah dim, sepagi imi mana ada saya uang pecahan sebesar itu..? Saya baru BD (buka dasar) dan adik pelanggan pertama saya, juga mbak ini.
Gadis itu melirik arlojinya, sepertinya Ia sedang terburu-buru. Lalu Ia melirin kepada Wina. "bu.. Ini pakai saja uang saya, anggap saja saya traktir ibu pagi ini, karena saya lagi senang." ucapnya sembari memberikan uang tersebut kepada Wina.
__ADS_1
Deeeegh..
Hati Wina seperti merasakan sesuatu saat melihat gadis itu.
Ia mencoba tersenyum "terimakasih dik." ucap Wina dengan senyum sumringah. Setidaknya Ia merasa beruntung pagi ini, karena mendapatkan traktir gratis dan sisa kembaliannya juga lumayan.
----------♡♡♡♡----
Duma merasa sangat gemetar. Seseorang dari belakang memberikannya sebotol air minum. "hei adik manis, minumlah air ini. Kau akan terlihat lebih tenang.." ucap pria itu sembari menyodorkan sebotol minuman mineral.
Duma mengambilnya, lalu meminumnya. Sesaat kemudian, Ia merasakan tubuhnya sangat panas. Gairah dalam tubuhnya seakan terbakar. Ia seperti merasakan ingin bercumbu rayu dengan siapa saja.
Melihat kondisi tubuh Duma yang kini sudah bereaksi atas obat yang bercampur dengan minuman tersebut, ke empat pria itu tertawa bersamaan. Mereka membawa Duma kedalam sebuah gedung terbengkalai.
Duma yang sudah terpengaruh oleh reaksi obat tersebut, tidak lagi mengindahkan apa yang sedang terjadi. Ia hanya ingin menyalurkan hasratnya saat ini juga. Hingga akhirnya Ia digilir oleh ke 4 pria asing tersebut.
----------♡♡♡♡---------
Adillah membawa 2 bungkus nasi lemak untuk sarapan Ia dan Khanza pagi ini.
"dik.. Ini sarapannya. Ayo makan." teriak Adillah kepada Khanza yang masih berada didalam kamarnya.
"iya kak.. Bentar.." jawab Khanza. Merwka terlihat sangat akur. saling meljndungin dan menyayangi satu sama lainnya.
Adillah selalu memperhatikan dan mengurus keperkuan juga. Ia sudah terbiasa melakukannya saat berada di rumah. Rena dan Hanif berhasil mendidiknya menjadi insan yang berguna dan mandiri.
Khanza kekuar dari kamarnya, lalu menyeduh 2 gelas kopi dan memberikannya satu unruk Adillah.
"gimana hasil lapiran kemarin kak? Apakah pemasarn kita mulai membaik? Kita harus buktikan kepada papa jika kita mampu menjadi anak yang dapat dibanggakannya." ucap Khanza bersemangat.
__ADS_1
"alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar dik." jawab Adillah sembari tersenyum. Lalu mereka melanjutakan sarapannya.
~jangan pernah sembarangan menerima makanan atau minuman dari orang asing jika berada ditempat umum atau dimanapun. Karena bisa saja minuman itu sudah bercampur obat bius, obat tidur, ataupun obat pembangkit gairah.