Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Tak Mampu Menembus Masuk


__ADS_3

pukul 8 malam. Hanif baru saja selesai dari mandinya, Rena yang sedari tadi sibuk dengan menata pakaian, mendapat pelukan Hanif dari arah belakang.


sikaf agresif Hanif begitu terlihat ketika telah menikah. Ia terkadang manja, suka bercanda, namun, tetap dalam sikap tenangnya.


Rena merasa menjadi wanita yang begitu sempurna. "kangen sama kamu sayang.." ucap Hanif, masih dalam memeluk Rena. Ia membenamkam wajahnya dileher Istrinya.


"tapi adik masih menata pakaian sayang.." ucap Rena dengan lembut.


"besok saja beresinnya.." ucap Hanif. tanpa meminta persetujuan Rena, Ia membopong tubuh Rena, meletakkannya diranjang dengan lembut, meminta sesuatu yang manis.


****


Rena mandi suci malam ini juga. Ia menggunakan air hangat untuk mengguyur tubuhnya.


saat akan keluar kamar mandi, Rena merasa bulu kuduknnya meremang.


Ia buru-buru keluar dari kamar mandi. namun Ia merasa seperti ada sesuatu yang mengikutinya.


kemanapun Rena melangkah, hawa negatif itu terus mengikutinya. Rena merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


Ia melirik kepada suaminya, Hanif sepertinya kelelahan dan tertidur pulas.


Rena pergi kekamar mandi, mengambil wudhu.


Ia menggelar sajadah, menggunakan mukena, lalu mengambil buku kecil kumpulan surat Yasin. Rena melantunkan surah yasin dengan indah hingga selesai.


seketika Rena merasa, jika hawa negatif itu menghilang. Rena merasa lega.


tanpa disadarinya, Hanif sedari tadi memperhatikan Rena yang sedang membaca Surah Yasin. Ia tak menyangka, jika istrinya diam-diam memiliki suara indah. Ia tersenyum, lalu berpura-pura tidur kembali.


Rena beranjak dari sajadahnya, menyimpan perlengkapan shalatnya.


Ia bergegas untuk tidur. menarik selimut memeluk Hanif, suaminya.


****


Hanif telah berangkat bekerja, Ia sepertinya sedang terburu-buru karena ada urusan yang begitu sangat penting.


setelah hanif pergi bekerja, Rena kembali merasa bosan. tinggal dirumah sebesar itu, membuatnya merasa jemu.


Rena ingin berjalan-jalan sejenak. Ia ingin membeli keperluan sehari-hari disebuah minimarket yang tidak jauh dari rumahnya.


Dengan berjalan kaki Rena sampai diminimarket. Ia membeli banyak barang.

__ADS_1


saat Ia sedang memilih barang yang akan dibelinya, Ia melihat seseorang menatapnya dengan tajam. sorot mata seorang wanita yang penuh dengan kebencian.


Rena merasa bingung, karena Rena sama sekali tidak nengenal wanita itu.


Wanita itu menggendonng seorang bayi mungil, yang dipastikan masih berusia sekitar 1 bulan.


"mengapa Ia menatapku dengan tatapan tak suka..? Rena berguman dalam hatinya.


Rena buru-buru pergi dari deretan rak tersebut.


Rena pergi kekasir, lalu buru-buru membayar belanjaannya.


wanita itu sepertinya membuntutinya hingga keluar minimarket. Rena mempercepat langkahnya.


Rena mempercepat langkahnya, Ia sampai ngos-ngosan, saat Rena menoleh kebelakang, wanita yang membuntutinya sudah pergi. Rena bernafas lega.


****


Rena meletakkan kantong belanjanya. bik Inah datang membantu menata belanjanya.


Rena menghela nafasnya dengan berat. Ia teringat akan wanita yang ditemuinya saat dirumah sakit.


"siapa wanita itu..? mengapa Ia seperti tak suka..?"


suara dentuman seperti benda terjatuh diatas atap rumah. lama Rena menunggu benda menggelinding, namun tak juga terdengar.


Rena begitu penasaran, dengan benda apa yang sedang terjatuh.


Rena pergi keluar, untuk mengeceknnya, sesampainya diluar, Ia melihat pak mamang sedang membersihkan perkarangan. karena nantinya akan dibangun kolam renang dan taman yang akan menghiasi perkarangan itu.


"Pak mamang...tadi ada liat benda jatuh gak dari atas atap rumah..? " ucap Rena dengan Sopan.


"Gak ada nyonya, sepertinya awak tidak ado melihat apapun." jawab pak Mamang dengan logat Melayunya.


"kalau suaranya tadi dengar gak pak..? seperti dilempar gitu..?"


"tak ado jugo doh nyonya, mungkin peasoan nyonya soang sajo do.." ( tidak ada nyonya, mungkin hanya perasaan nyonya sendiri saja.).


Rena merasa jika yang didengar tadi bukan lah halusinasi.


"ya sudah..saya masuk.dulu ya pak.. terima kasih" ucap Rena dengan sopan.


"samo-samo nyonya" jawab pak Mamang, lalu melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


****


hari menjelang pukul 9 malam. Hanif baru saja pulang bekerja. saat memasuki perkarangan rumah. Ia melihat sesosok makhluk berbadan besar dan berbulu sedang berada diatas bubungan rumahnya.


Makhluk itu sepertinya berniat hendak masuk namun sesuatu menghalanginya. maka Makhkuk itu memilih duduk diatas bubungan rumah.


Hanif terperanjat. "sedang apa makhluk itu..? mengapa Ia berniat menembus rumahku." Ia berguman lirih.


Hanif segera memasuki garasinya. lalu keluar dari mobil. dan berjalan keperkarangan, mendongakkan kepalanya keatas bubungan rumah.


Makhluk berjenis genderuwo itu, Ia membuang wajahnya yang jelek saat Melihat Hanif memergokinya. Hanif mentapnya dengan tajam.


samar-samar Hanif mendengar suara lantunan ayat suci Al Quran yang dilantunkan oleh Rena.


Hatinya merasa teduh dan nyaman, Ia tersenyum mendengarkan suara indah itu. "oh istriku sayang.. tak sia-sia aku memilihmu menjadi pendamping hidupku" gumannya lirih.


Sebelum Hanif berniat masuk, Ia melirik sejenak kepada makhluk genderuwo itu "rasain..kamu fikir kamu bisa masuk kedalam rumahku..? jika istriku selalu melantunkan ayat suci ini, kamu tidak akan dapat memasukinya" Hanif memandang sinis pada makhluk itu.


sepertinya Hanif terbiasa melihat makhluk astral. tidak ada sedikitpun rasa takut jika Ia melihat makhluk-makhkuk menyeramkan dari alam ghaib.


kemampuan itu Ia dapat sejak berusia tujuh tahun. awalnya Ia begitu takut, namun karena setiap saat melihatnya, menjadi hal biasa.


begitu juga saat melihat Rena, Ia merasakan hatinya langsung terpesona, meski Rena bukan gadis cantik, dan hanya tergolong manis, tetapi hatinya begitu terpesona.


Jika dibandingkan dengan Wina, tentu Wina jauh lebih cantik dan menawan. namun Rena mampu menggetarkan hatinya yang setahun lamanya mencari pelabuhan hatinya.


pancaran aura positif dari tubuh Rena membuatnya begitu merasa nyaman. meskipun di perusahaanya Ia melihat banyak karyawannya yang cantik, namun tidak sedikitpun ada dihatinya untuk berniat mendua.


Hanif adalah seorang type pria yang hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya. maka, jika Ia sampai terluka, sulit untuk menyembuhkannya.


sesampainya dikamar, Hanif melihat Rena baru selesai membaca kita suci. Rena yang melihat kepulangan suaminya, segera mengemasi sajadahnya dan meletakkannya ditempat yang sudah tersedia.


Rena menyambut suaminya dengan manja. "my Hubby sudah pulang..?" ucapnya sembari menghambur kepelukan Hanif. seperti memiliki rasa rindu yang begitu dalam.


Hanif menyambutnya dengan hangat. dan mendaratkan ciuman mesra."


"kau adalah belahan jiwaku, bersamamu aku merasakan ketenangan dan kenyamanan." Hanif berguman dalam hatinya.


"Hubby dah makan..?" ucap Rena sembari melepaskan pelukannya, lalu meraih tas Hanif, meletakkannya dilemari kecil, sepesial menyimpan barang-barang milik Hanif.


Ia membantu membuka tuxedo yang dikenakan suaminya, Hanif duduk ditepian ranjang. Ia membantu membuka sepatu dan kaos kaki milik Hanif. bersamaan dengan itu, Hanif mengecup ubun-ubun Rena yang sedang merunduk membereskan kaos kakinya.


Ia begitu tulus mencintai Rena, sang belahan jiwanya.

__ADS_1


__ADS_2