Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Tamat


__ADS_3

Suasana dipemakaman tampak begitu hening, para peziarah yang tidak begitu terlalu ramai sudah berpulangan satu persatu.


Saat suasana sudah sepi dan tidak ada lagi peziarah, seorang pemuda berjalan dengan gontai menuju pemakaman yang masih tampak basah tersebut.


Ia membawa buket bunga mawar putih, Ia menghampiri makam tersebut dan berjongkok ditepi sisi kanan makam tersebut.


Pemuda itu tak lain adalah Khanza. Ia meletakkan buket tersebut, sembari membelai nisan yang terbuat dari papan kayu yang dibentuk sedemikian rupa dan dibalut dengan kain kafan pada bagian atasnya.


"Semoga Kamu tenang disana, dan dalam husnul khatimah" Doa sang pemuda dengan tulus.


Saat itu terlintas dibenaknya, saat pertama kali Ia melihat sang gadis. Waktu itu Khanza sedang melakukan bazar murah minyak goreng produksi mereka.


Ditengah antrian para warga yang menunggu antrian, Ia melihat sang gadis menjadi salah satu warga yang ikut mengantri untuk mendapatkan minyak goreng murah tersebut.


Saat mata mereka beradu, gadis itu mengedipkan mata nakalnya, namun Khanza membalas dengan senyum tipisnya.


Setelah pertemuan itu, mereka dipertemukan kembali di sebuah Mall saat Khanza sedang melakukan pertemuan makan siang sembari meeting dengan rekan bisnisnya.


Khanza menyadari gadis itu sedang mengintainya dari balik dinding restaurant tempat Ia makan siang. Lalu pertemuan demi pertemuan di Bar tempat Khanza bertemu rekan bisnisnya.


Khanza sadar akan pekerjaan gadis itu, namun Ia juga tahu jika tatapan gadis itu untuknya sangatlah berbeda.


Saat ketika gadis itu mengejarnya ketika keluar dari minimarket setelah Ia selesai melakukan pertemuan di Bar, Ia tahu gadis itu ingin mengatakan sesuatu, namun Ia mencoba mengabaikannya.

__ADS_1


Bahkan saat Duma merasa cemburu kepada Rena sang Ibunya di Mall, wajah gadis itu tampak begitu kentara jika Ia cemburu kepada Rena.


"Duma..." Khanza membaca satu nama yang tertulis dinisan tersebut dengan lirih "Bahkan Aku tak sempat bertanya tentang siapa namamu saat itu" Ia berguman dengan begitu sangat pilu.


Tanpa terasa air matanya mengalir dari sudut kedua matanya "Apakah Kau tau? Kamu adalah gadis pertama yang menggetarkan hatiku. Andai saja penyakitmu ada penyembuhnya, Aku rela menerimamu dengan segala masa lalumu..." Khanza menyeka air matanya, lalu mencoba menahan segala kepedihan dihatinya.


Ia melantunkan doa untuk sang gadis yang kini sudah terbaring tanpa daya dan upaya diliang lahat. Gadis itu membawa serta rasa cintanya kedalam pusara keabadian.


Khanza beranjak meningalkan makam tersebut. Ia melangkah dengan hati yang sangat kacau. Ia menuju gerbang pemakaman untuk kembali pulang.


Saat itu, sebuah bayangan bergaun putih sedang memandanginya hingga Khanza meninggalkan area pemakaman.


Bayangan putih itu tersenyum bahagia, Ia merasa lega, jika pemuda itu membalas cintanya, meski kini mereka tak lagi dapat bersama dalam kehidupan nyata.


*****


Adillah yang seharusnya berbahagia, kini larut dalam kesedihan. Ia tak pernah menduga, jika tentetan kejadian terus menghampirinya dari saat akan melakukan pernikahan.


Bahkan diacara resepsi harus ada kabar duka yang mana Ia harus kehilangan adik se-ibunya yang baru saja disatukan dalam ikatan keluarga. Bahkan Ia tidak dapat menemani saat terakhir Duma, karena Ia sedang berganti pakaian pengantin selanjutnya.


Ridwan mencoba menghibur istrinya yang kini masih dalam suasana berduka. Ridwan berusaha memahami jika malam ini malam manis untuk bercinta harus ditunggu sampai suasana benar-benar kondusif.


Ridwan dan Adillah juga akan bersiap kembali ke Medan, karena tugas dari pekerjaan yang tidak dapat berlama untuk cuti.

__ADS_1


Hanif telah memberikan sebuah rumah untuk hadiah pernikahan Adillah dan Ridwan, dimana rumah itu yang tidak terlalu jauh dari kampus tempat Ridwan dan Adillah bekerja.


Sementara itu, kini Wina masih dalam larut kesedihan karena ditinggal oleh puterinya yang baru saja dirawatnya beberapa minggu. Rasa penyesalan yang teramat dalam atas dosa-dosanya dimasa lalu membuatnya bertekad untuk hijrah kejalan yang lebih baik.


Ia membenahi cara berpakaiannya dan juga hidupnya. Ia ingin menjadi seorang wanita yang benar-benar telah berjalan dijalan yang lurus. Ia mneruskan usaha yang dirintisnya melalui modal yang diberikan Duma semasa hidupnya.


Wina mencoba menyisihkan sebagian hasil keuntungan dari usaha berdagangnya untuk berinfak dan bersedekah agar Duma juga merasakan dari hasil yang didapat.


Setiap manusia memiliki kesalahan dan kekhilafan dimasa lalu. Namun setiap dari mereka yang mendapatkan cahaya hidayah dari Illahi akan menemui jalannya untuk kembali pulang.


Jangan pernah menghakimi kesalahan seseorang, karena kita tidak pernah tau kapan Allah akan merubahnya menjadi baik, dan menjadi lebih baik dari kita.


Ilmu pemikat Sukma yang dimiliki oleh Duma sudah putus sampai pada dirinya sendiri, karena tidak ada keturunannya yang kelak akan mewarisinya.


Setiap perbuatan akan ada balasan sesuai dengan kadar perbuatan itu sendiri.


Baik dan buruk perbuatan yang kita lakukan akan berbalik kepada diri kita sendiri.


terimakasih sudah mengikuti kisah dari novel 'Pemikat Sukma'. Dalam kehidupan modern saat ini, ilmu pelet yang dianggap sebagai isapan jempol belaka itu benar adanya. Maka jangan pernah mencoba mengabaikannya. Ditanah jawa ada namanya jaran goyang, semar mesem, dam lain sebagainya bahkan setiap daerah diseluruh nusantara ini masih ada ilmu yang turun temurun atau bahkan sengaja dituntut dan disalah gunakan.


Sepertinya halnya ilmu Gendam yang disalah gunakan untuk tindak kejahatan seperti Hipnotis untuk menipu korbannya. Ilmu pukau hang digunakan untuk mencuri harta benda korban dan sebagainya.


Maka kita harus dapat memahami jika ilmu-ilmu kebathinan seperti itu masih sangat tumbuh subur di era yang serbah canggih sekarang dan jangan mengenggapnya remeh.

__ADS_1


__ADS_2