
Wina keluar dari rumah sakit dengan tertatih. Ia baru saja mengalami kekerasan perbuatan tidak senonoh dari pria yang dikenalnya malam tadi saat bar. Bahkan Ia mengalami kerugian, karena uang hasil melayani tamunya juga di bawa kabur.
"ini semua karena gadis sialan itu..!!" gerutu Wina dengan geram.
Wina berjalan sembari mengegengam uang sebesar 100 ribu rupiah yang diberikan oleh gadis manis yang sudah menolongnya.
"sudah dua kali aku bertemu dengan gadia itu, dan pertemuanku dengannya selalu membawa keberuntungan." Wina berguman lirih dalam hatinya.
Saat Wina akan melintasi sebuah gang, tanpa sengaja Ia melihat Duma, si gadis cantik nan aduhai yang sudah merebut segala apa yang Ia miliki malam tadi.
"siall..!! Bukannya itu gadis sialan yang sudah merebut pelangganku. Mau apa Ia masuk kedalam gang tersebut." Wina penasaran, lalu mencoba mencari tau apa sebenarnya yang sedang ingin dilakukan oleh gadis itu.
Wina mengendap-ngendap mengikuti gadis itu yang berjalan dengan melenggak-lenggokkan pinggulnya mengikuti irama langkah kakinya.
Duma terus berjalan, hingga Ia berhenti di penghujung gang yang sangat sunyi. Di sana terdapat sebuah rumah yang sangat tersembunyi dan juga sepi.
Wina semakin penasaran dengan gerak gerik sang gadis. Ia terus membuntutinya.
Gadis itu mengetuk pintu rumah tersebut. Tak berapa lama, tampak kepala seorang pria tampan menyembul dari balik pintu. Pria tampak memastikan jika tidak ada orang yang melihat gadis itu memasuki rumahnya.
Setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya, pria itu menarik tangan Duma kedalam rumahnya, lalu dengan terburu-buru mengunci pintunya.
Wina mengendap-endap menghampiri rumah tersebut.
Ia memilih dari samping sisi kiri rumah, dimana letaknya sangat pas untuk Ia melakukan pengintaian.
Wina menempelkan matanya pada sebuah lubang kecil yang terdapat dicelah jendela yang tertutup rapat. Sepertinya Ia sengaja menutup jendela tersebut.
__ADS_1
Tampak didalam ruang tamu, Gadis itu duduk manja pada si pria.
"mengapa kamu menghilang beberapa hari ini? Apa kamu tau, aku seperti gila tanpamu.." ucap Pria tersebut, dengan wajah memelas.
"maaf sayang, aku lagi banyak pekerjaan, jadi aku tidak dapat menemuimu. emangnya kamu kangen berat denganku ya.?" ucap Gadis itu manja, sembari membelai rambut pria itu.
Pria itu bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya, Ia dengan mydahnya percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh gadis tersebut.
Bahkan Ia menuruti segala keinginan si gadis. "apakah Ia memakai ilmu pelet? Mengapa semua pria begitu patuh padanya.?" Wina berguman lirih dalam hatinya. Ia merasa ada kejanggalan pada gadis ini. Ia yakin, jika sigadis menggunakan cara licik dalam menaklukkan para pria incarannya.
"Pak Joe.. Apakah bapak tidak mengajar hari ini..? Sehingga begitu memaksa saya untuk hadir kemari." ucap Si gadis dengan manjanya.
"bagaimana saya bisa konsentrasi mengajar, jika saya kefikiran kamu terus. Bahkan makanpun saya tidak berselera. Dihati dan fikiran saya hanya ada kamu seorang." ucap Pria tampan yang menhebutkan namanya Joe tersebut.
Wina tampak berfikir. "apakah pria itu seorang guru? Jika Ia, sungguh sangat miris.." Wina seakan merasa sangat kesal. Karena gadis itu telah merusak salah satu pelita anak bangsa.
Pria itu tampak tak sabar ingin segera melahab Duma. Wina yang tampak kesal segera menjauh dari tempat itu.
Ia sedang menunggu angkutan umum. Namun belum tampak satupun yang lewat. Wina meeasa bosan, Ingin menaiki betor, Ia merasa sangat mahal, dan uang tersebut bisa Ia gunakan untuk makannya selama 3 hari. Maka Ia memutuskan untuk naik angkot saja.
Wina berjalan menyusuri trotoar.. Sesekali Ia melongok kearah belakang, melihat apakah ada angkot yang lewat.
Hari sudah hampir siang, Ia merasa keroncongan karena lapar.
Satu angkot meluncur kearahnya, namun setelah dekat, Ia melihat pintu angkot tersebut terkunci dan sopir tersebut tampak mengebut.
Wina kembali menelan kekecewaaannya.
__ADS_1
Saat Ia masih berdiri termangu, sebuah mobil berhenti disisinya. Pengemudi itu menurunkan kaca pintu mobilnya. Tampak seirang gadis yang sangat manis, yang pagi tadi menolongnya. "mau tumpangan bu..?" sapanya menawarkan diri.
Wina merasa sangat canggung. namun seaungguhnya Ia juga membutuhkan tumpangan. Wina dengan ragu menganggukkan kepalanya.
Sang gadis membuka pintu untuknya. Lalu mempersilahkan untuk Wina masuk kedalam mobilnya.
Wina memasukk mobkl, lalu menutup pintunya.
"Ibu mau pulang kemana?" tanya Adilla dengan ramah.
"emm.. Kejalan helvetia.." ucap Wina dengan rasa sungkan.
"oh.. Melewati rumah saya itu Bu.. Kalau begitu singgah bentar kerumah saya ya, nanti baru saya anterin. Sekalian saya mau ke sei kambing untuk berbelanja kebutuhan saya." ucap Adilla ramah.
Wina hanya menganggukkan kepalanya, dan merundukkan kepalanya.
"andai saja Ia tau aku seorang pelacur, apakah Ia masih mau menolongku suatu saat nanti..?" Wina berguman lirih dalam hatinya.
wina memperhatikan penampilan gadis itu yang terlihat sangat santun. Ia menggunakan hijab dan pakaian tertutup. Jika harus dibanding dengannya, tentulah Ia tidak layak duduk disisi sang gadis.
Wina memperhatikan wajah sang gadis yang baginya telah mengingatkan Ia pada seseorang. "jika diperhatikan, Ia mirip dengan sofia, namun hanya bibirnya saja yang berbeda. Sofia berbibir sumbing, sedangkan gadis ini memiliki bibir yang indah. dimana dan bagaimana keadaan gadis sumbingku saat ini?" Wina berguman lirih dalam hatinya.
Gadis bernama Adilla itu tampak serius menyetir. Ia membelah jalanan kota medan yang tampak hiruk pikuk dengan segala kesibukan warganya.
Tak lama kemudian, Adillah telah sampai didwpan sebuah rumah yang dikatakan lumayan mewah. Ia turun dari mobilnya. Lalu memutar dan membukakan pintu untuk Wina. "ayo bu, kita masuk kerumah dulu, nanti saya antrkan." Uvap Adilla ramah.
Entah mengapa, perasaan Wina begitu berbunga. Ia begitu merasa sangat diperhatikan. Meskipun pakaian Wina tampak begitu aduhai, namun gadis itu tidak merasa jijik dengannya.
__ADS_1
Wina keluar dari mobi dengan perasaan yang tak mampu Ia lukiskan. Ia begitu sangat berbahagia hari ini. Ia tidak pernah membayangkan jika akan bertemu seorang gadis sebaik Adilla.
Ia mengekori Adilla yang berjalan masuk menuju rumahnya. Rumah itu tampak mewah, namun tidak membuatnya merasa kaget, karena Ia juga memiliki rumah yang mewah di Pekanbaru, namun sekarang tidak terurus, karena Ia memilih kabur ke kota Medan dengan Impian akan merubah nasibnya dan mendapatkan pekerjaan yang layak. namun semua angannya pupus sudah, karena bukannya pekerjaan yang Ia dapatkan , tetapi sebuah jurang dosa yang terperosok masuk kedalamnya.