
Bernard termenung didalam kamarnya. Ia meratapi nasibnya yang malang. setiap kali Ia membayangkan wajah Rena, namun tak pernah berhasil.
Ia begitu merana. sehari-hari hanya termenung dan menyesali semuanya. namun penyesalannya sangatlah terlambat. Rena tak pernah lagi ingin kembali.
Safri saragih, sang ayah, telah berusaha untuk membujuknya agar segera bangkit dari keterpurukan. namun Ia tak mampu lagi mendengarkan tiap kata-kata nasihat. dihatinya hanya ada Rena yang kini sulit Ia jangkau.
Ambar melihat pitera keduanya seperti orang yang linglung. tak ada semangat dalam memjalani hidupnya. setiap saat Ia memakai pakaian kemeja putih, peci hitam dan dudik bersila, seolah-olah sedang melalukan akad pernikahan.
****
Bernard mencoba kembali ilmu kanuragannya. Ia melakukan ngrogo sukmo. Ia masih melihat Rena, namun hanya bayangan saja. tanpa dapat melihat jelas wajahnya. karena wajah Rena telah ditutup untuk Bernard.
Bernard melihat dengan samar, seorang pria turun dari mobil, lalu Bayangan Rena mengjampiri pria tersebut. "siapa pria itu..?" Bernard berguman sendiri.
ada rasa cemburu dan tak rela yang bergelayut dihatinya. Ia dengan samar melihat Rena begitu manja pada pria itu.
sukma Bernard mengikuti kedua insan yang sedang dimabuk cinta. Ia melihat sebuah keluarga sedang berkumpul dan seperti sedang membicarakan sesuatu. mereka tampak bahagia.
"Ia mendengar percakapan mereka. bahwa akan ada acara lamaran. "hah...Rena akan dilamar pria itu..? tidak..tidak..ini tak boleh terjadi. aku tidak akan merelakan jika ada yang melamar Rena. Rena itu milikku. aku harus mencegahnya." sukma Bernard tampak gusar. Ia begitu bingung akan melakukan apa.
sukma itu terus mendengarkan pembicaraan keduanya. namun entah datangnya darimana, sesosok makhluk berjubah putih menghampirinya. Ia menatap sukma Bernard yang sedang menguping pembicaraan keluarga tersebut.
Bernard terperanjat dengan kedatangan makhluk yang tak dikenalnya. sesosok makhluk pria yang sudah sepuh, dengan jubah putih panjang, rambut lurus sebahu. memakai sorban dan menggunakan tasbih ditangannya.
sosok pria itu tampak tak senang dengan prilaku Bernard yang sedang menguping.
"apa yang kamu lakukan disini hai anak muda..?" ucap sosok pria berjubah putih.
"bukan urusanmu hai orang tua.." ucap Bernard ketus.
sosok itu tersenyum kharismatik. "jika kau mengganggu sandaranku, maka itu menjadi urusanku." ucap sosok itu dengan tenang.
"siapa yang kau maksud..?" ucap Bernard penasaran.
__ADS_1
"pria bernama Hanif itu adalah temanku..maka jangan coba-coba kau mengusiknya atau orang yang disayanginya.
"tapi gadis itu milikku..aku yang terlebih dahulu mengenalnya daripada Dia.."ucap Bernard berkilah.
sosok pria menatap dengan seksama kepada sukma Bernard. "temanku memang datang uang terakhir, tetapi dia yang memberikan kebahagiann pada gadis itu. bukan sepertimu, yang datang diawal, namun memberikan derita."
Bernard memandang tak suka pada lawan bicaranya. "itu dulu..tapi aku kini menyesalinya, dan menginginkan Ia kembali padaku.!.
"penyesalanmu sudah terlambat. karena mereka akan segera menikah. pergilah dari hadapanku sekarang juga. atau kau akan menerima balasanya.!."
sukma Bernard terperanjat mendengar kata menikah. Ia tidak percaya bagaimana bisa secepat itu Rena berencana akan menikah.
dimana hanif baru beberapa hari saja Ia kenal. sedangkan dengannya, sudah 3 tahun mereka menjalin hubungan. lalu mengapa begitu mudahnya Rena menerima pria itu.
Bernard merasa tersinggung, Ia tidak terima jika Rena akan menikah. Ia merasa tak suka, jika sosok itu ikut campur dan menghalangi rencananya.
namun Bernard lebih memilih menghindari sosok tua yang menjadi lawan bicaranya.
Ia akan menyusun sebuah rencana yang akan dilakukannya.Ia akan mencari cara bagaimana agar dapat menghalangi pernikahan Rena dengan Hanif.
****
"bagaimana mungkin pria itu dijaga oleh sosok tua berjubah putih. siapa pria bernama hanif itu sebenarnya..? mengapa sampai ada sosok yang mengikutinya kemanapun Ia pergi." Bernard berfikir keras mencari jawabannya.
Bernard teringat akan sesuatu. Ia sangat berbinar. Ia menemukan cara bagaimana untuk membuat teror kepada Rena.
hari menjelang tengah malam. Bernard akan melakukannya esok hari.
***
matahari bersinar terik, hari menunjukkan pukul 12 siang. Bernard baru saja bangun dari tidurnya. kerjanya sehari-hari hanya bermalas-malasan tanpa ada yang dapat dikerjakannya.
Ia seperti benalu yang hidup untuk menggeroti inangnya. setiap kali akan merokok Ia akan meminta kepada Ambar Ibunya, atau terkadang ayahnya. pekerjaan ibunya yang hanya seirang buruh penenun kain ulos, tidaklah begitu besar. karena dihitung dari seberapa banyak Ia dapat menghasilkan satu lembar kain Ulos per bulannya.
__ADS_1
sedangkan safri ayahnya, hanyalah buruh serabutan yang terkadang mendapatkan pekerjaan, terkadang juga tidak bekerja. kakak tertuanya Ary yang bekerja disebuah perusahaan, namun hanya sebagai karyawan rendahan.
terkadang kakak tertuanya itu yang membantu menopang perekonomian mereka.
Bernard mengerjapkan matanya. disaat orang sudah pergi bekerja, Ia baru saja bangun tidur sesiang itu.
Ia menguap dan menggeliatkan tubuh mungilnya. Ia terperangah karena hari sudah siang. Ia keluar mencari ibunya. namun Ambar sudah pergi bekerja. Ia ingin meminta uang kepada Ambar, untuk membeli Simcard baru. Ia berencana akan meneror Rena dengan nomor baru tersebut.
tak mendapati ibunya dirumah. Ia menyelinap kekamar ibunya. mencari uang simpanan yang diselipkan ibunya dibawah lipatan kain.
Ia membongkar satu persatu lipatan kain, mencari uang untuk membeli simcard dan rokoknya, namun Iantak menemukannya.
matanya tertuju pada sebuah kotak kecil berwarna merah berbentuk hati, dengan lapisan kain beludru. Ia mengambilnya. lalu membuka tutupnya. Ia melihat sebuah cincin emas milik ibunya. hatinya berlonjak girang, Ia berencana akan menjualnya hari ini.
****
"berapa harganya ce..?" ucap Bernard pada Cece pemilik toko mas tersebut.
"emmm..ini dipotonglah dali halga sebenalnya. ada potongan selatus libu lupiahlah." ucap cece dengan cedalnya.
"sudah, gak apa-apa ce..buruan ya.." ucap Bernad tak sabar.
si cece lalu memberikan uang sebesar 950 rb rupiah kepada Bernard. Ia merasa kegirangan. Ia pergi meninggalkan toko mas dengan menggunakan sepeda motor bututnya dengan knalpot yang sangat berisik.
Bernard singgah ke toko phonsel, membeli sim card baru. lalu mengaktifkannya. melihat uang ditangannya, Ia tak sabar untuk pergi kelapak tuak dan menemui si Leli yang sudah lama sekali Ia tak pernah temui. karena Ia tak memiliki uang.
Ia berencana akan meminum tuak dan mabuk-mabukkan, serya bersenang-senang dengan wanita penjaga cafe. lalu malamnya akan melakukan teror pada Rena.
****
Bernard pulang kerumah dengan kondisi mabuk dan kacau. Ia menggedor pintu berulang kali. Ambar membukanya. setelah Bernard masuk kedalam rumah, Ambar mencecarnya dengan pertanyaan kemana cincin yang disimpannya di dalam lemari.
Namun kondisinya yang kacau, Ia tak menanggapi pertanyaan ibunya.
__ADS_1
Ambar yang kesal langsung menampar Bernard hingga terhuyung dan terjerembab dilantai."dasar anak tak berguna. menyesal aku melahirkan kau ke dunia. pantas saja tak ada wanita yang mau samamu" umpat Ambar, sembari masuk kedalam kamarnya dengan emosi.
Ambar sangat kesal dan sakit hati. cincin Itu Ia beli dengan jerih payahnya menenun kain ulos berbulan-bulan lamanya. namun Bernard menghabiskannya dalam sekejap mata saja.