
"bagaimana ini ma..?" biaya perobatan papa terus membengkak." ucap Nisar dengan gelisah dari balik kamar.
Rena secara tidak sengaja mendengar percakapan itu. padahal Ia baru saja ingin menyampaikan biaya administrasi untuk wisuda yang sangat membutuhkan biaya besar.
Rena mengurungkan niatnya. Ia kembali membawa rincian dari selembar kertas yang diberikan oleh pihak kampus.
Sehari yang lalu Ia baru saja menyelesaikan sidang skripsinya. dan Ia telah mendaftarkan diri mengikuti wisuda.
Rena membuka kamarnya, lalu merebahakan tubuhnya dikamar. matanya menerawang jauh. cuci darah rutin paman membuat pengeluaran terus menguras aset keluarga paman Rasyid.
Rena kembali memandang nilai nominal yang tertera pada rincian yang harus segera dilunasi. Rena menghela nafas beratnya.
Ia memejamkan matanya, mencoba mencari cara agar terlepas dari masalah yang sedang dihadapinya. tanpa sadar Rena tertidur.
Rena terbangun saat pukul 2 malam. Ia bergegas bangkit dari ranjangnya. menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Ia melakukan shalat sunnah tahajjud dua rakaat.
setelah selesai Ia melakukan dzikir tasbih nabi Yunus..[ laa ilaaha ilaa anta subhanaka inni kuntu minadzhalimin...].
Ia berkonsentrasi, memohon pada Dia sang pemberi kehidupan. dengan penuh pengharapan, Ia terus melafazkan dzikir itu, berharap Sang Khalik mendengar doanya melalui dzikir tasbih nabi yunus.
entah sudah berapa kali Ia membacakan dzikir itu, hingga hampir menjelang subuh. lalu Ia bermunajad kepada Illahi agar melepaskannya dari masalah keuangan uangbsedang dihadapinya. Ia juga meminta kemudahan bagi pamannya dalam biaya perobatan.
Rena menutup doanya dengan shalawat baginda nabi Muhammad SAW. Ia menyerahkan seluruh hasilnya kepada Dia sang pencipta.
setelah Adzan subuh berkumandang, Ia melanjutkan shalat subuhnya. setelah selesai. Ia bergegas bersiap-siap memasakkan menu diet untuk sang paman.
setelah selesai memasak, Ia membagi menjadi dua bagian, bagian pertama untuk sarapan paman Rasyid, yang sebagian lagi untuk bekal makan siang saat cuci darah.
Hari ini giliran tante Marti yamg membawa paman Rasyid untuk melakukan cuci darah.
setelah selesai dengan tugasnya, Rena akan berangkat kekampus. saat melewati pagar rumah, Ia melihat sebuah mobil sedang menuju kearahnya. "Hanif..?" ucap Rena tersenyum manis.
Hanif membuka pintu mobil, mempersilahkan Rena masuk. saat berada didalam mobil, Ia mendengar seseorang menggodanya. suara yang amat Ia kenal. yaitu Amy.
"ciiieee...yang lagi berbunga-bunga.."goda Amy dari jok tengah.
Rena memutar tubuhnya, ingin melayangkan cubitan kepada Amy, namun Amy berhasil mengelak sembari terkekeh.
"maaf ganggu kemesraan kalian ya..? mobilku masuk bengkel" ucap Amy kembali menggoda Rena.
Rena cuma nyengir kuda mendengar godaan temennya.
mobil melaju menuju kampus.
"kamu masih lama disini kak..? jahat banget ya, datang gak ngabarin. kalau bukan tante yang beritahu, aku gak bakal tahu kalau kakak ada di Medan." ucap Amy dengan memanyunkan bibirnya.
Hanif hanya terkekeh mendengar ucapan Amy, sembari menyetir mobil.
__ADS_1
"iya... maafin kakak ya..?" ucap Hanif lembut, yang membuat rasa kesal Amy mereda.
"iya deh..aku maafin.." ucap Amy sembari tersenyum.
****
Rena dan Amy menuju ruang administrasi.
sedangkan Hanif menunggu mereka ditaman kampus.
Rena dengan wajah sedih mengikuti langkah Amy. Amy telah menyelesaikan urusan administrasinya.
Rena masih mematung ditempatnya. lalu Ia mendekati pihak administrasi dan mengutarakan isi hatinya. "mbak..biaya administrasinya bisa ditunda seminggu lagi..? saya akan usahakan secepatnya." ucap Rena dengan nada bergetar.
Amy yang mendengarnya terperangah. dan mencoba menguping pembicaraan Rena dengan pihak administrasi kampus.
"waah..gak bisa.. soalnya penyelenggaraannya tinggal 3 hari lagi. mohon segera dilunasi ya. kalau tidak ya ikut wisuda tahun depan."ucap pihak administrasi.
"oh...gitu ya..?" ucap Rena dengan nada lemah. Ia seperti sedang tidak bersemangat.
Amy menghampiri Rena yang dengan wajah sedih. "kamu ada masalah Ren..?" ucap Amy kepada Rena dengan nada selidik.
Rena menghela nafas berat. Ia melangkah keluar ruangan yang diikuti oleh Amy.
Rena duduk dibangku koridor kampus. Ia menatap nanar lurus kedepan.
"pamanku sedang mengalami kesulitan finansial. cuci darah rutin membuat biaya pengeluaran membengkak. tidak mungkin membebani mereka lagi dengan biaya wisuda." ucap Rena dengan netra mata yang berkaca-kaca.
Amy meraih kepala Rena dan meletakkannya di pundaknya. "yang sabar ya... nanti aku fikirkan jalan keluarnya." ucap Amy menenangkan hati Rena.
"yuuuk ketaman, kasihan Hanif menunggu disana." ucap Amy kepada Rena.
mereka beranjak dari koridor kampus dan menuju taman, Rena menyeka air matanya.
***
mereka sampai ditaman, ditempat Hanif menunggu. Hanif menyambut mereka dengan senyum termanisnya. "lama ya kak.."ucap Amy kepada Hanif.
"gak koq..udah selesai urusannya.?" ucap Hanif. Amy hanya mengangguk.
"lapar ne.. pengen makan ditaman"ucap Amy manjalita.
"ya sudah..biar aku yang traktir" ucap Hanif ingin bangkit.
"Biar Rena saja kak.. kak Hanifkan gak kenal lokasi kampus, ntar kalau tersesat kan kami yang repot" ucap Amy dengan cepat. Rena bengong dengan sikap Amy yang tiba-tiba aneh.
" gak apa-apakan Ren, kamu yang beliin, aku ada sedikit urusan dengan kakak sepupuku." ucap Amy memohon. lalu Amy menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah.
__ADS_1
"udah, pakai uangku saja Mi.." ucap Rena menolak uang pemberian Amy.
Amy dengan sigap memasukkan uang tersebut kedalam saku baju Rena. "udah jangan bandel..beli menu yang biasa kita makan ya say.." ucap Amy sembari mengedipkan matanya sebelah.
Rena yang masih bingung dengan sikap Amy lalu beranjak menuju kantin.
sepeninggalan Rena. Amy menggeser duduknya mendekati Hanif. Ia sedang membicarakan sesuatu dengan berbisik.
****
Rena kembali ketaman dengan membawa makanan dan minuman dalam plastik kresek.
melihat kedatangan Rena, Amy dan Hanif menghentikan obrolannya.
"neh makanannya"ucap Rena kepada keduanya.
Amy mengambil kantong kresek dan membuka isinya. Ia membagi tiap masing-masing orang dengan 1 porsi. mereka memakan pesanannya ditaman.
Rena terlihat seperti sedang gunda. Hanif melirikkan matannya kearah wajah Rena. ada kegelisahan disana. Rena menyuap makanannya dengan tidak bersemangat.
setelah mereka menyelesaikan makan siang. mereka memutuskan untuk pulang.
diperjalanan Hanif menepikan mobilnya disebuah minimarket. "kalian tunggu disini ya..?" ucap Hanif. kedua gadis itu mengangguk.
Hanif memasuki minimarket yang menyediakan outlet ATM. Ia menarik sejumlah uang. memasukkan kedalam saku celananya.
Hanif keluar dari minimarket tanpa membeli barang apapun.
lalu memasuki mobil. "kakak antar kamu lebih dulu ya mi..?" ucap Hanif, sembari menyetir mobil.
Amy hanya mengangguk.
setelah sampai dirumah Amy, gadis cantik itu turun dan mengucapkan terimakasih.
Hanif mengangguk. "sampaikan salamku pada om dan tante ya.." ucap Hanif kepada Any, lalu kembali menyetir.
***
mobil Hanif berhenti didepan rumah paman Rasyid. Rena ingin membuka pintu mobil, namun tangan Hanif mencegahnya dengan menggemgam pergelangan tangan Rena.
Rena berhenti sejenak. "ada apa kak..?" ucap Rena dengan lembut.
Hanif merogoh saku celananya, lalu menyerahkan uang sebesar 5 juta rupiah kepada Rena. "ambillah..selesaikan wisudamu tahun ini. karena aku ingin ada gelar yang kau raih tertulis dikartu undangan pernikahan kita." ucap Hanif dengan tulus.
Rena terperangah, tanpa sadar Ia menghambur kepelukan Hanif. "terimakasih kak..kamu malaikatku." ucap Rena terisak.
Ia tak menyangka jika Allah begitu cepat menyelesaikan masalahnya.
__ADS_1
Hanif membelai lembut rambut Rena.