Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Misteri hati Rena


__ADS_3

Rena berangkat kuliah menggunakan kacamata dengan lensa transparan berwarna abu-abu. menutupi matanya yang sembab.


tiiiiin...tiiin...suara klakson mobil Amy, yang sudah stanbay menunggunya. Rena berlari kecil menghampiri Amy. Ia tak berpamitan kepada paman Rasyid dan tante Marti, karena keduanya sedang jadwal check up diabetes melitus dan penyakit jantung selama sebulan, di Penang Malaysia.


Rena menghampiri Amy dengan tergesa-gesa. membuka pintun depan mobil dan menutupnya, lalu meletakkan bokongnya di jok mobil."kita terlambat gak ya Mi?" ucap Rena dengan nada bergemuruh.


"gak, lah..masih ada banyak waktu." ucap Amy dengan santai. " tumben pakai kacamata? lagi pengen ganti style ya?" ucap Amy menggoda Rena, sembari menjalankan mesin mobilnya, lalu melaju membelah jalanan Gatot Subroto, kota Medan.


"mataku lagi sakit, dipipisi kecoa sialan, jadi sedikit bengkak. makanya aku pakai kacamata biar gak kelihatan bengkaknya" ucap Rena berbohong.


Amy terkekeh mendengar jawaban Rena. "Ren, Carrefour dah buka tuh, singgah bentar yuk, cari makanan" ucap Amy, saat melihat salah satu pusat perbelanjaan terbesar dikota Medan sudah buka. hari ini mereka masuk sedikit siang, karena jadwal kelasnya yang diundur.


"mau cari apaan Mi? mau sarapan apa camilan?" tanya Rena, sembari melihat Amy yang mengelus perutnya, mungkin Ia memang beneran lapar.


Amy melambatkan laju mobilnya, menuju Carrefour, dan memarkirkan mobilnya di lokasi parkir. "kita dilantai bawah saja, cari Kentucky dan cappucino, kamu mau kan?" ucap Amy, yang tidak mau penolakan dari Rena.


"iya deh. aku juga lapar." jawab Rrna, seraya mengikuti langkah Amy. semenjak berteman dengan Amy, akhirnya Rena sering keluar masuk pusat perbelanjaan, mulai Matahari departemen store, Carrefour dan sebagainya.


bagi Rena, memasuki pusat perbelanjaan adalah hal yang menarik, maklum orang kampung. apalagi sering ditraktir Amy. baginya Amy adalah teman sekaligus Peri yang baik hati. berbeda dengan Amy, pusat perbelanjaan adalah hal yang biasa baginya.


Amy memesan pesananannya, lalu membawanya ke meja tempat mereka duduk. dua paket pesanan sudah siap disantap. Mata Rena menangkap sesuatu. Ia melihat Ridwan sedang berbelanja sendirian. ketika mata mereka beradu, Rena kikuk, dan senyum terpaksa.


melihat Rena dan Amy ada ditempat yang sama, Ridwan pun berniat menghampiri. Ia menuju kearah Rena dan Amy. dag dig dug jantung Rena, berdetak tak karuan.


mereka memang satu kelas, namun jarang bertegur sapa, saat pertemuan dikantin waktu itu. Amy yang sedang menyantap pesanannya, penasaran dengan apa yang dilihat temannya itu. Ia pun ikut melihat kemana arah mata Rena.


"eheeem..." Amy berdehem sembari tersenyum, lalu melanjutkan kunyahannya. gadis cantik itu tidak begitu menjaga image dalam setiap hal. baik sedang makan, Ia terlihat santai saja menjilati jarinya, jika ada sisa saos sambal yang tertinggal di jari lentiknya.


Ridwan sudah berada dihadapan mereka. tanpa permisi, Ia bergabung dengan kedua wanita itu. lalu meletakkan belanjaannya, berupa camilan dan beberapa kaleng softdrink.


tanpa diperintah, Amy mencomot satu bungkus keripik kentang, untuk teman makannya. membukanya, lalu menyuapkannya kedalam mulutnya. "ya ampuuun, Mi. cantik-cantik tapi makannya banyak banget" celoteh Rena, yang melihat ulah Amy, diledek cuma nyengir doank.


"gak, apa-apa. ini masih banyak lagi koq." ucap Ridwan sembari tersenyum kepada Rena. lalu ditanggapi Rena dengan senyum terpaksa.

__ADS_1


"ini dimakan juga, Ren. aku beli banyak, soalnya aku suka ngemil. karena aku tidak perokok." ucap Ridwan menawarkan belanjaannya.


"makasih Rid" ucap Rena, sembari mengambil sebungkus keripik kentang, dan sekaleng softdrink, untuk menghargai Ridwan yang sudah menawarkannya.


Rena mengingat pesan ibunya ' sesakit-sakit meminta tak diberi, lebih sakit ketika memberi namun ditolak.' maka dari itu Ia menerima pemberian Ridwan, kecuali hatinya.


"Kekampus yuk, bentar lagi ada kelas ne." ucap Amy yang sudah menyelesaikan sarapannya. Rena yang kelabakan karena belum menyantap sarapannya, akhirnya dengan buru-buru mengunyah pesanannya, meski kikuk dilihatin Ridwan.


Ridwan, menatapi Rena yang sedang makan, baginya gadis manis itu begitu membiusnya. banyak gadis cantik yang Ia temui, namun baginya Rena begitu memesona. senyumnya membuat hatinya selalu berdebar jika melihat gadis itu tersenyum.


Amy yang tanpa sengaja melihat itu semua, menggelengkan kepalanya. Ia dapat melihat ketulusan cinta dimata Ridwan. namun entah apa yang membuat Rena menolaknya. "apa Rena sudah memiliki pria idaman? sehingga Ia menolak cinta dari seorang pria tampan seperti Ridwan?" Amy berguman dalam hatinya.


setelah Rena selesai makan, Amy mengajak Rena untuk beranjak dari Carrefoure, menuju kampus.


Ridwan membuntuti mereka, karena tujuan yang sama. saat diparkiran, Ridwan mencoba mensejajarkan langkahnya, agar bisa beriringan dengan Rena. namun hati Rena seperti telah membeku. dihatinya kini hanya ada bernard. pria paling tampan dimatanya.


"Ren, bisa gak aku main kerumah pamanmu nanti malam?" ucap Ridwan, saat langkahnya sudah sejajar dengannya. Rena terdiam, menolak ataupun mengijinkan tak ada jawaban darinya.


Ridwan yang melihat Rena hanya diam, menanggapinya tanda setuju. Iapun bersorak riang dalam hatinya.


*****


pukul 19.20 Wib, Ridwan sudah bersiap untuk berangkat kerumah Paman Rena, Ia mengenakan setelan casual. menggunakan pakaian dengan kaos berbahan karet, berwarna abu-abu, dengan lengan panjang. pakaian itu membentuk dadanya yang bidang, perut sixpack dan lengan yang berotot, memperlihatkan dirinya seorang pria yang sempurnah, ditambah wajah tampan plus akhlak yang baik.


Ridwan penuh semangat untuk menemui Rena. hatinya sedang berbunga, ingin segera bertemu dengan gadis pujaannya, gadis yang membuatnya mabuk kepayang.


entah pesona apa yang terpancar pada gadis itu, jika dilihat, Rena hanya seorang gadis berwajah manis, kulit sawo matang, menambah kesan exotis. apa mungkin Ia sudah terbiasa melihat gadis cantik, maka ketika melihat gadis manis Ia menjadi begitu antusias.


setelah memastikan penampilannya sudah rapi dan modis, Ridwan melajukan mobilnya, Ia begitu bersemangat malam ini, menghidupkan musik slow rock sembari bersiul mengikuti nada lagu tersebut.


"Heeeemm...kalau tidak salah yang ini rumahnya?" Ridwan berguman. lalu turun dari mobilnya, dengan mantab Ia melangkah masuk kedalam pagar rumah mewah tersebut.


Ridwan menelfon Rena. kriiiing...kriiiing...suara handphone berdering, masuk dan tersambung. "Hallo. ada apa Rid? ucap Rena dari seberang telefon." suaranya terdengar parau.

__ADS_1


"aku sudah didepan pintu rumah pamanmu." jawab Ridwan bersemangat dan senyum yang menghiasi bibirnya. nada bicaranya penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran.


kreeek.....terdengar suara pintu dibuka, muncul sosok gadis manis diambang pintu, dada Ridwan bergemuruh. "mau masuk apa diteras saja? ucap Rena" dengan lirih.


"kita ngobrol diteras, sekalian menikmati suasana malam." ucap Ridwan sembari tersenyum. jika wanita normal, pasti akan terpesona dengan ketampanannya malam ini.


"oh..ya sudah, aku ambilin minum dulu ya? ucap Rena berlalu pergi masuk kedalam rumah, Ridwan duduk dikursi teras, seraya mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


beberapa detik kemudian, Rena kembali diteras, membawa nampan berisi 3 kaleng softdrink dan camilan. meletakkannya diatas meja. "ini diminum Rid." ucap Rena sembari tersenyum. seraya duduk disamping Ridwan


"manis sekali senyummu Ren" guman Ridwan membathin. Ia mengambil satu kaleng softdrink, membukanya dan meneguk, untuk menghilangkan kegugupannya. "sekilas Ia melihat wajah Rena yang begitu muram. pandangannya kosong menerawang jauh.


"apakah kedatanganku malam ini bukan waktu yang tepat? sepertinya Rena sedang memiliki masalah." Ridwan berperang dalam hati dan fikirannya.


namun Ia ingin mengutarakan hatinya, meskipun Ia pernah ditolak, namun bukan sifatnya untuk menyerah. "kamu lagi ada masalah apa Ren?" Ridwan mencoba mencairkan suasana.


"entahlah Rid, hatiku sedang galau. aku tidak tau apa yang terjadi padaku." ucap Rena dengan parau, lalu dengan tiba-tiba air matanya meluncur saja. dengan cekatan, Ridwan menyeka air mata itu dengan ibu jarinya. Rena hanya diam saja, tak bergeming.


"ceritakanlah padaku, semoga dapat meringankan hatimu. tanpa sadar, Rena merebahkan kepalanya dipundak Ridwan, matanya menerawang jauh, hatinya hampa meski kini ada yang menghiburnya. Ridwan merelakan bahunya menjadi tempat sandaran. meski akhirnya Ia harus menunda lagi apa yang ingin diutarakannya. Ia mencari waktu yang tepat.


Rena masih terdiam, tak lama Ia tersedu, seperti ada beban berat yang menghimpit hatinya. "katakanlah, apa masalahmu? aku siap membantumu." ucap Ridwan, sembari membelai rambut Rena yang tergerai. namun Rena tak bergeming. diam membisu seribu bahasa.


malam kian larut, karena Rena hanya membisu, Ridwan memutuskan untuk pulang, Ia memberikan waktu untuk Rena menenangkan hatinya, Ia tak ingin mengusik Rena yang sedang galau.


dengan berat hati, Ridwan berpamitan pulang, hatinya yang semula berbahagia, kini ikut merana, karena yang dikhayalkannya saat dirumah, tak seindah kenyataan.


"apa yang sedang terjadi pada Rena? apa Ia sedang ada masalah keluarga? atau sedang patah hati ditinggal pacarnya? tapi jika benar, siapa pria yang sudah membuat gadisku patah hati, sampai galau tingkat dewa?" ucap Ridwan berguman lirih.


lalu Ia menyetel lagu slowrock kesukaannya, yang sedang populer pada masa itu. lagu dari Band favoritenya 'NANO' dengan judul 'Sebatas Mimpi' yang menggambarkan suasana hatinya saat ini. Ia ikut menyanyikan sepenggal lirik lagu itu dengan lirih.


Chours lirik lagu****'bawalah aku, kedalam mimpimu... aku..takkan kecewakan kamu. walaupun itu semua.. hanya sebatas mimpi. jadikan aku, kekasih hatimu.... aku..menginginkan kamu.. sungguh sungguh ku merasa.. ku jatuh cinta...


ternyata lirik lagu itu sangat mengena dihatinya untuk saat ini. Ridwan menghela nafasnya yang berat. Ia pulang kerumah dengan perasaan yang galau. dan akhirnya, Rena juga Ridwan galau berjamaah.

__ADS_1


__ADS_2