
rasa hampa menyelimuti hatinya. dunia seakan tak berpijak. Ia kehilangan orang yang dulu pernah Ia sia-siakan. " Rena...dimana kamu..? bahkan aku tak pernah tau dimana tempat tinggalmu.?" ucap Bernard dengan tersedu.
kini Ia meratapi orang yang sudah pergi berlalu dari hidupnya. semua sudah terlambat. bahkan akun facebooknya juga sudah diblokirnya. pernah Ia mencoba meminjam akun kakaknya Ary, namun karena akun kakaknya tak berteman dengan akun Rena, Ia tidak dapat mengintai postingan Rena, karena akun Rena bersifat dari teman ke teman saja bukan publik. bahkan Ia juga sudah menghapus foto profilnya.
"Rena...please...don't forget me...Rena..please..came back to me.." ucapnya terisak. (Rena..ku mohon, jangan lupakan aku, kumohon kembalilah padaku). hatinya begitu sakit. Ia tak tau harus mencari Rena kemana. seketika Ia teringat akan sesuatu. "kota Medan...ya aku ingat Ia tinggal dikota Medan, kalau tidak salah dijalan Gatot Subroto.. aku akan mencarinya." ucap Bernard berbinar.
"nomor Rena juga belum digantinya, aku bisa membeli kartu SIM baru, lalu menghubunginya. aku akan meminta maaf padanya, bahkan jika harus bersujud dikakinya aku juga rela." ucap Bernard. Ia menyeka air matanya. lalu mencoba tertidur, esok pagi Ia akan berangkat ke kota Medan.
***
"Rena...ya itu dia..." ucap Bernard dengan berbinar. Ia melihat Rena dalam kabut tebal, Ia berlari membelah kabut untuk mengejar Rena. namun sesaat, seseorang meraih tangannya dan mengajaknya berlari menjauh lalu menghilang dari pandangan matanya. "Re...naa... please.. came back to me..Rena.."
Ia terus berlari membelah kabut, namun tak menemui Rena disana. Ia hampir saja terperosok kedalam jurang yang sangat terjal, jika saja matanya tak jeli, maka dipastikan Ia akan tergelincir dan jatuh kejurang yang sangat dalam.
"Re..naaa..Rena..." teriakannya membelah kesunyian. lalu sesaat sebuah tepukan halus dipipinya. "Bernard...bangun...ayo bangun nak.." ucap suara pria dewasa menepuk-nepuk pipi untuk membangunkannya.
Bernard mengerjapkan matanya, melihat safri saragih, ayahnya telah berada disisi kasurnya. Bernard bangkit dan segera duduk, lalu menyandarkan tubuhnya didinding kamar.
"apa yang kamu rasakan sekarang? " ucap Safri dengan lembut. Bernard tercengang mendengar pertanyaan ayahnya. "maksud ayah apa..?" ucap Bernard kembali bertanya dengan suara parau.
"ayah mengetahui semua tentang gadis itu, saat kau mengusirnya keluar dari rumah ini." ucap safri, dengan tatapan kosong.
"ingatlah nak, baik buruknya perbuatan kita akan ada balasannya. tidak cepat, juga tidak lambat, tetapi pasti akan mendapat balasannya. dan kini kamu sedang menuai dari apa yang sudah kamu perbuat." ucap Safri dengan sarkas.
Bernard menatap ayahnya dengan sendu. " aku menyesalinya yah.. aku ingin meminta maaf padanya." ucap Bernard dengan hati yang rapuh.
"" jika kau menyesalinya, pergilah esok menemuinya, ayah akan memberikanmu ongkos dan bekal diperjalanan. jika Ia jodohmu, maka Ia akan kau temukan, namun jika bukan jodohmu, sejauh apapun kau mengejarnya kau tidak akan mendapatkannya." ucap Safri dengan penuh kewibawaan.
Bernard mengangguk, mengerti. "baiklah, tidurlah, kau akan memerlukan tenaga untuk esok hari" ucap Safri, sembari mengelus tambut Bernard. karena sejahat-jahatnya anak tetaplah darah dagingnya, dan Ia tidak ingin membuat anaknya tersesat terlalu jauh.
Bernard mengangguk dan kembali tertidur.
__ADS_1
***
Bernard bangun dengan cepat hari ini. Ia mandi dan bersiap untuk segera berangkat kekota Medan. Ia begitu bersemangat hari ini. Ia menuju simpang Medan untuk mendapatkan bus. Ia terkenang saat-saat menjemput Rena disimpang ini. matanya menatap nanar setiap area yang pernah mengingatkannya dengan gadis itu.
sesaat datang sebuah bus, kondektur berteriak kepada supir, karena akan ada penumpang yang naik.
setelah Bernard menaiki badan bus, Kondektur berteriak lagi, agar supir segera bergerak. lalu bus berjalan melaju.
pukul 10.00 wib Bernard sampai di terminal bus, Amplas. Medan. Ia mencari angkot jurusan Gatot Subroto. ketika sampai di daerah pasar sikamambing, Ia menghentikan angkot, lalu mencari tempat untuk beristirahat. Ia menatap kesekeliling kota, dimana hiruk pikuk masyarakat dipasar dengan segala barang dagangan.
"kemana aku harus mencarinya?"ucap Bernard, sembari menatap bingung. Ia duduk disalah satu kios penjual bakso yang ada disekitar pasar tradisional sikambing. Medan. Ia memesan seporsi bakso, sembari berfikir dengan cara apa Ia menemukan keberadaan Rena.
Ia memakan habis baksonya, serta segelas teh manis dingin. setelah perutnya kenyang, Ia bersandar dikursi plastik yang disediakan oleh penjual bakso. Ia memanggil akang penjual bakso dan membayar pesanannya. setelah itu, matanya nanar mengamati kesekeliling pasar. sesaat Ia mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya. "terimakasih ya bang, ini uangnya" suara gadis yang Ia kenal.
dengan cepat Bernard keluar dari warung bakso. Ia melihat seorang gadis tengah membawa keranjang berisi kebutuhan pokok. Ia mengejar gadis itu. gadis itu adalah Rena. namun Ia kehilangan jejak, karena kondisi pasar yang sangat ramai.
"Rena...ya itu Rena.." ucap Bernard dengan hati yang penuh debaran didadanya. "please Rena, jangan pergi jauh, tunggu aku." ucap Bernard yang terus berjalan cepat mengejar tubuh Rena. namun Ia kehilangan jejak Rena. saat pandangannya mengitari jalanan, Ia melihat Rena menyetop sebuah angkot.
Ia menyetop sebuah Betor yang melintas, lalu menaikinya. meminta abang betor mengejar angkot yang dinaiki Rena.
ini yang namanya Betor ya pemirsa.. biar gak penasaran dengan angkutan khas kota medan dan sekitarnya.
Bernard kehilangan jejak Rena, Ia begitu putus asa. lalu meminta abang betor menepi. setelah membayar ongkosnya, Ia terlunta-lunta dijalanan tanpa arah.
****
Rena memasuki rumah paman Rasyid. Ia membawa keranjang penuh berisi kebutuhan lauk pauk. Nisar meminta tolong kepadanya untuk berbelanja. banyak jenis sayur yang dilarang dimakan oleh penderita gagal ginjal. hanya beberapa jenis saja yang boleh dimakan, contoh salah satunya labu siam (jipang), dan terung. Rena banyak membeli jenis sayur ini sebagai stok. Ia juga membeli banyak ikan segar.
setelah membersihkannya semuanya, lalu menatanya di lemari es, Ia bergegas untuk mandi. hari ini jadwal paman Rasyid untuk melakukan cuci darah. Ia yang akan membawanya kerumah sakit, karena bang Nisar ada keperluan bisnisnya.
__ADS_1
setelah berdandan seadanya, Ia mengetuk kamar paman Rasyid, lalu tante Marti keluar dengan paman Rasyid yang duduk dikursi roda.
Rena meraih pegangan kursi roda. "kami berangkat dulu ya tante" ucap Rena kepada tante Marti. lalu tante Marti menjawab dengan anggukan. Rena dan tante Marti bergantian membawa paman Rasyid ke rumah sakit.
**
Rena sampai dirumah sakit, lalu menuju ruang administrasi. melengkapi dokumen dan sebagainya. kini mereka menunggu antrian. setelah paman Rasyid mendapat gilirannya Rena mendorong kursi roda keruang tempat pasien melakukan cuci darah, menggunakan alat Dialisis.
alat itu tersambung melalui selang yang telah di sambungkan melalui jarum yang terpasang dipergelangan tangan.
sembari menunggu paman Rasyid cuci darah, Rena menunggu dilobi rumah sakit. saat itu handphonenya berdering. satu pesan masuk. Ia membuka pesan itu dan membaca isinya." hallo Rena sayang, ini aku Bernard. aku sekarang berada dikota Medan. aku sengaja datang untuk mencarimu. tadi aku sempat melihatmu berbelanja dipasar. aku mengejarmu, namun angkotmu bergerak cepat, hingga aku kehilangan jejakmu" Rena membaca dengan tangan bergetar.
lalu masuk pesan kedua. "Rena, maafkan aku..jika selama ini aku menyia-nyiakanmu. aku datang ingin meminta maaf padamu. aku ingin kau kembali padaku. temui aku dialun-alun kota."
Rena terperanjat membaca pesan tersebut. hingga tanpa sadar, Ia menjatuhkan handphonenya. tubuhnya bergetar, karena takut.
dengan memberanikan diri, Ia membalas pesan tersebut. " pergilah menjauh dari hidupku" jemarinya gemetaran saat mengetik huruf demi huruf. lalu mengirimkan pesan itu.
belum hilang rasa gemetar ditubuhnya. kini nomor tersebut melakukan panggilan masuk. Rena semakin panik, Ia mereject nomor panggilan masuk. lalu menon-aktifkan handphonenya.
"heh..mengapa baru sekarang kau datang? setelah rasa cinta dihatiku pergi. aku tidak sudi lagi bertemu denganmu." ucap Rena lirih. lalu menyandarkan tubuhnya disofa lobi rumah sakit.
***
hari menjelang malam, Bernard menunggu ditrotoar dekat alun-akun kota Medan. matanya mengedarkan pandangannya dari segala penjuru arah. berharap melihat Rena hadir menemuinya. namun yang ditinggu tak jua kunjung datang, bahkan bayangannya pun tak sudi untuk datang menemuinya.
Bernard putus asa, Ia seperti orang lìnglung, duduk ditrotoar seperti orang yang tidak waras. bahkan pejalan kaki yang melintas ditrotoar ada sebagian yang memberikan uang receh kepadanya. Ia menatap nanar uang tersebut. "sehina inikah diriku?" ucap Bernard sembari terisak.
lalu sebuah tangan menepuknya. "yuuk pulang" suara yang Ia kenal, bang Ary. ternyata atas perintah ayahnya, Ary mengikutinya sejak dari keberangkatan naik bus. lalu membawa Bernard kembali pulang. "sekuat apapun kau berlari mengejarnya, jika bukan jodohmu, maka kau tidak akan pernah mendapatkannya." ucap Ary, sembari menarik tangan Bernard keatas boncengan motornya. lalu membelah keramaian kota Medan , menuju pulang ke Tebing Tinggi dengan tanpa hasil apapun. hatinya begitu hampa dan penuh penyesalan.
__ADS_1