Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Diam


__ADS_3

Rena merasa sangat galau dengan hatinya. siapapun wanitanya pasti akan merasa kecewa mendapati sang suami tercinta berada dalam satu kamar dengan wanita lain.


Rena menatapi Hanif yang tertidur pulas. "siapakah yang harus kupercaya..? hubby atau wanita itu..?" ucapnya lirih.


Rena mengacak rambutnya, seakan beban difikirannya begitu berat. Ia melangkah dengan sedikit tertatih. perutnya uang semakin membuncit membuatnya sedikit susah berjalan.


Ia menuju kamar mandi, setelah hamil tua, Ia selalu sering buang air kecil. setelah menuntaskan hajatnya, Ia keluar dari kamar mandi menuju ranjang.


Ia tidur ditepian ranjang, Ia masih mengingat peristiwa dihotel tersebut. hatinya bahaikan ribuan sayatan sembilu.


bulir bening yang sudah Ia tahan sedari tadi, tak mampu jua tuk bertahan. Ia mengalir tanpa hambatan.


ketika Ia mulai terisak, Ia menarik nafasnya dengan berat, lalu mengeluarkannya dengan sangat lembut. Ia tidak ingin terlihat lemah.


Ia mencoba mendamaikan hatinya. Ia memejamkan matanya dengan membawa luka hati yang teramat dalam.


Ia tertidur karena kelelahan. lelah hati, fisik dan jiwanya.


 


Hanif terbangun ketika jam dinding menunjukkan pukul 3 dini hari.


Ia mengerjapkan matanya, mengedarkan pandangannya kesegala arah. "hah..!" Ia terperanjat mendapati dirinya didalam kamarnya sendiri.


"mengapa aku berada dikamar? bukankah aku tadi sedang meeting.?" Hanif memijat kepalanya yang terasa sakit.


Ia melihat Rena tidur di tepian ranjang. "tak biasanya sayangku tidur seperti itu? karena dia selalu dalam dekapanku." Hanif merasakan sesuatu yang janggal malam ini.


Ia melihat dirinya telah memakai piyamanya. "apa sayangku yang memakaiakannya.?" Ia melirik Rena yang sudah tertidur. rasa kantuk menggelayutinya. Ia tak mampu menahannya dan akhirnya tertidur lagi.


 


Rena masih seperti biasanya, pagi ini Ia masih memasak untuk sarapan suaminya. membuatkan kopi, dan menyajikannya di meja makan.


Hanif sudah bersiap berangkat bekerja, Ia menyapa Rena. "hai sayangku.." ucapnya lembut sembati mengecup pipi kanan Rena. namun Rena hanya diam.


dengan masih diamnya, Ia pergi kekamarnya dilantai dua, meninggalkan Hanif yang masih akan sarapan. Hanif bingung dengan tingkah Rena pagi ini. "ada apa dengannya..?" Hanif berguman lirih. Ia menyuap sarapannya dengan tidak bersemangat.


saat Hanif akan berangkat kerja, Rena tak juga turun dari kamarnya. biasanya Ia akan mengantar Hanif hingga sampai ke mobil, memberikan kecupan yang manis dan doa yang indah. namun pagi ini tak satupun hal manis itu Ia dapatkan.


Hanif merasa hidupnya hampa. diamnya Rena membuatnya tersiksa. "apa salahku padanya..? mengapa Ia mengacuhkanku..?" Hanif merasa bingung.


sebenarnya Ia ingin menanyakan siapa yang membawanya pulang kerumah saat tadi malam. namun karena Rena bersikap begitu dingin, membuatnya mengurungkannya.

__ADS_1


Hanif menyetir mobil dengan tidak fokus. Ia begitu penasaran atas sikap diamnya Rena.


 -----------------------


Hanif masuk kedalam ruangan kerjanya dengan langkah gontai. diamnya Rena telah menyiksanya.


Ia lebih suka jika mengomelinya, daripada harus bersikap diam seperti itu membuatnya sangat tersiksa.


[kriiiiing..] suara handphone berdering, satu panggilan masuk dari Aisyah, ibu Hanif. suara deringnya menyadarkan Hanif dari lamunannya.


"Hallo.. assalammualaikum bu.." ucap Hanif lembut.


"waalaikumsalam, Nak.." jawab Aisyah.


"Nak.. ayah dengan ibu nanti malam mau kerumah. kabari Rena ya." ucap Aisyah dengan nada yang begitu senang.


"o..em..Iya bu..nanti Hanif kabari Rena." ucapnya dengan terbata.


"kalau begitu sudah dulu ya..? " ucap Aisyah lembut, mengakhiri sambungan telefonnya.


"waalaikumsalam bu.." jawab Hanif lirih. "


Ia sedang memikirkan cara bahaimana agar dapat merayu Rena malam ini. Ia tidak ingin ayah dan ibunya memgetahui tentang masalah mereka.


Hanif ingkn menghubungi sekretarisnya, untuk men-cancel jadwal pertemuan dengan rekan bisnisnya.


Ia terperangah dengan apa yang dilihatnya. "Sial..!!" jadi ini penyebabnya. Ucap Hanif merasa geram.


"berani sekali kamu bermain-main denganku Wina.." Hanif berguman dengan tenang, namun penuh penekanan. sorot matanya tajam.


Hanif segera membatalkan semua pertemuannya dengan para koleganya. Ia memilih pulang untuk merayu hati sang belahan jiwanya.


 


Hanif bergegas keluar dari ruangan kerjanya. Ia lagi tidak fokus untuk bekerja. diamnya Rena kepadanya, telah menghilangkan semangatnya untuk bekerja.


Hanif melajukan mobilnya, Ia akan menjelaskan segalanya pada Rena, tentang apa yang terjadi sebenarnya.


 


Hanif memasuki rumah dengan langkah yang tergesah-gesah. Ia mencium aroma masakan yang sangat memggugah selerah. "sepertinya Rena sedang memasak rendang." ucapnya sembari menjamkan indra penciumannya.


Hanif menuju dapur, Ia melihat Rena sedang memasak banyak menu. "aku kan belum memberitahunya jika ayah dan ibu akan datang malam ini." hanif merasa bingung.

__ADS_1


"mungkin tadi ibu sudah menelefonnya." Hanif mencoba berfikir positif.


Hanif menghampiri Rena yang sedang memasak. Ia terllihat lihai dalam urusan masak memasak. satu hal yang membuat Hanif tak bisa berpaling darinya ialah, semarah apapun Rena padanya, Ia tetap memasakkan untuknya. menyediakan sehala keperluannya. hanya saja mulutnya terkunci rapat.


"eheeeem.." Hanif berdehem saat posisinya begitu dekat.


Rena berpura-pura tidak melihat kehadiran Hanif. Ia terus saja fokus pada memasaknya.


melihat Rena tak juga bereaksi, Hanif merasa frustasi. dengan sigap Ia mematikan kompor yang sedang menyala. lalu menggendong Rena yang dengan tenaga penuh. meskipun berat Rena bertambah 3 kali lipat karena sudah hamil tua, namun terasa ringan baginya.


Hanif membawanya kekamar yang terletak dialntai dua.


Rena meronta meminta untuk diturunkan. Ia memukuli Hanif dengan geram. sesampainya di kamar, Hanif membaringkan tubuh istrinya dengan lembut.


Rena memalingkan wajahnya. Hanif bersimpuh dihadapan Rrna. Ia menggengam jemari Rena.


"apakah kamu mulai meragukanku..?" Ucapnya dengan lembut.


Rena masih diam membisu. Ia masih belum dapat mempercayai siapa pun." siapa wanita itu..?" ucap Rena dengan bergetar. hatinya masih sakit.


Hanif menghela nafasnya."Dia Wina.. " ucap Hanif datar.


"ooohh.. dia Cantik.." ucap Rena menyindir.


"ya..dia memang cantik." jawab Hanif singkat.


Rena membulatkan matanya. Ia sangat geram mendengar jawaban Hanif.


"pantas saja, tidur bareng dengannya." ucap Rena sinis.


Hanif yang mendengar jawaban Rena merasa kesal. dengan sigap Ia ******* bibir Rena, mengunci mulutnya yang sedang mengomel.


Rena merasa sesak nafas dibuatnya. setelah hilang rasa kesalnya, Hanif melepaskannya.


Rena terdiam dengan perlakuan Hanif barusan.


Hanif mengeratkan genggaman jemarinya pada jemari Rena. "aku telah memilihmu. maka tidak akan pernah aku mengkhianatimu. maka jangan siksa hubby dengan diammu. " ucap Hanif lirih.


Hanif menaikkan dagu Rena. "pandang hubby..apakah terlihat dimataku sebagai seorang pendusta.?" Hanif menatap lekat mata Rena.


"Dia memang lebih cantik, tetapi kamu lebih menawan." ucapnya sembari membelai lembut rambut Rena.


Rena yang semula hatinya keras, berubah menjadi lunah. Ia menghamburkan dirinya kedalam pelukan Hanif, sang suami. menangis terisak, menumpahkan segala keluh kesah.

__ADS_1


Hanif \= keteguhan hati dalam keimanan kepada Allah. orang yang lurus dan ikhlas.


mungkin saja ada para pembaca yang lagi mencari nama untuk anak laki-lakinya. Hanif mungkin menjadi salah satu pilihan.


__ADS_2