Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Ketika Cinta Diuji


__ADS_3

Hanif pergi ketoko counter. Ia membeli sebuah alat yang di sebut chips gps. Setelah membayarnya, Ia kembali menghampiri kedua buah hatinya yang sedang bermain. Saat ini Hanif sedang duduk di bangku yang disediakan oleh pihak pengelola untuk para orang tua yang menemani anak bermain diarea bermain tersebut.


Hanif membuka gadgetnya. Lalu melihat pantauan cctv dirumahnya. Ia ingin melihat pergerakan apa yang sedang dilakukan oleh pria yang sedang ia curigai.


Ternyata dugaannya benar, pria itu sengaja berhenti didepan pagar rumahnya.


tampak Ia seperti sedang melakukan sesuatu. Rena tampak ingin menghampirinya, namun pria itu kembali masuk kedalm mobilnya dan meninggalkan Rena begitu saja.


Hanif mengernyitkan keningnya. "Apa yang diinginkan pria brengsek ini..? Tampak sepertinya Ia sedang mempermainkan istriku." Hanif menggeretakkan giginya.


Setelah Ia melihat kedua anaknya puas bermain. Ia membawa keduanya makan dan kembali pulang.


Sesampainya dirumah, Ia memerintahkan kepada kedua anakanya untuk mandi dan menunggu shalat ashar.


Kedua bocah itu menyetujui dan memasuki kamarnya masing-masing..


Hanif melangkah kekamarnya. Saat Ia memasuki kamarnya, Ia dikejutkan oleh penampakan yang tak biasa. Rena telah menyusun pakaiannya dalam sebuah ransel. Sepertinya Ia ingin pergi.


Masih berusaha tenang, Hanif berpura-pura tidak melihat apa yang dilakukan oleh Rena.


Hanif menuju tepian ranjangnya. Berpura-pura sedang sibuk. Ia mencoba mengkatifkan cbipsnya. Saat Rena kekamar mandi, Hanif memasangkan chips itu kedalam tas ransel milik Rena. Ia juga menyadap nomor phonsel Rena, untuk mengetahui dengan siapa Ia berbicara dan akan pergi kemana.


Hati Hanif sangat terhiris ketika melihat Rena membawa semua perhiasannya. Kuat dugaan Hanif jika Pria itu ingin memanfaatkan Rena saja.


Hanif mencoba menahan semuanya. Sakit hati, ya ! Tentu saja sakit. Namun Ia tidak bisa gegabah.


Rena telah selesai membersihkan dirinya. Ia seolah cuek dengan Hanif. Ia tak menghiraukan perasaan Hanif ataupun perasaan anak-anknya. Baginya saat ini Ialah dapat pergi bersama Bernard. Ia sudah membulatkan tekad dan siap menerima konsekuensinya.


"mau kemana sayang? Koq sepertinya terburu-buru?" Tanya Hanif, dengan mencoba setenang mungkin.


Rena seperti orang yang sedang kebingungan, terlihat sangat gugup dengan pertanyaan Hanif.


"emm..anu..mau kerumah ibu bentar.." jawab Rena tanpa menoleh kearah Hanif.


"berapa lama? Khanza dan Adillah bagimana? Apakah kamu tidak kasihan? Mereka sebentar lagi memasuki masa ujian kenaikan kelas." ucap Hanif, mencoba meluluhkan hati Rena dengan alasan Khanza.


"emm...kan ada kamu yang bisa merawatnya." jawab Rena meluncur begitu saja.

__ADS_1


Deeeeeegh...


Bahkan kini Rena menyebutnya dengan kata kamu. Dimana kata mesra 'Hubby' untuknya. "Ya Rabb.. Jangan uji aku diluar kesanggupanku.." Hanif merintih dalam doanya.


"hubby yang anterin kerumah ibu ya..?" Hanif mencoba mencari tau reaksi Rena dengan tawarannya.


"emm..tidak perlu..kamu tidak usah repot-repot mengantarkan saya.." Rena berkilah.


"oh..begitunya.. Nanti kalau sudah sampai tempat Ibu jangan lupa kabari Hubby ya.." ucap Hanif mulai bergetar. Ia menarik nafasnya, jangan sampai air matanya tumpah saat berada dihadapan Rena.


Sesaat hanphone milik Rena berdenting. Satu pesan masuk dari nomor seseorang. Dengan cepat Rena membukanya.


Hanif yang sudah melakukan penyadapan juga ikut membuka pesan itu di handphonenya.


"sayang.. Kamu siapkan lari denganku, kita pulang kekampungku ya sayang. Ku tunggu kamu dipertigaan, jangan terlambat, dan jangan lupa bawa semua perhiasan yang kamu miliki dan jika perlu kamu bawa surat-surat berharga yang bisa kita jadikan modal disana nanti." isi pesan tersebut kepada Rena.


Seketika hati Hanif bagaikan tersayat ribuan sembilu, perih, namun tak berdarah.


Rena bergegas menyeret tas ranselnya. Tidak begitu banyak barang yang dibawanya. Hanya seadanya saja. Namun Perhiasannya dibawa semuanya.


Saat Rena akan melangkah keluar kamar. Hanif mencoba menahannya. "sayang..bisa berhenti sebentar. Ada sesuatu yang ingin Hubby beri untuk kamu." ucap Hanif dengan netra mata yang mulai berkaca-kaca.


Ia berjalan menghampiri Rena yang sudah berada diambang pintu.


"sayang.. Hubby punya kejutan untuk kamu. Sebenarnya ini akan Hubby berikan untuk hadiah ulang tahun kamu yang 3 minggu lagi akan kita rayakan. Namun karena kamu terburu-buru ingin pergi, maka Hubby hadiahkan lebih awal." ucap Hanif sembari memasangkan liontin tersebut keleher Rena.


Sebuah liontin indah itu kini melingkar dileher Rena.symbol sebuah ketulusan cinta yang kini telah ternoda akibatbsebuah pengkhianatan yang tanpa diinginkan.


"jaga dirimu ya sayang.." ucap Hanif sembari mengecup lembut ujung kepala Rena.


"terimakasih.. "ucap Rena tanpa memandang Hanif, lalu melangkah pergi.


Hanif memandangi kepergian Rena dengan luka yang sangat dalam. Setelah Rena menghilang ditangga lain satu..


Hanif berlari ke balkon kamar, Ia mengintip Rena dari balik dinding balkon. Hatinya teramat sakit. Bahkan Rena tak melihat kebelakang. Ia terus mengikuti langkah kakinya. Rena mengambil mobil pemberian Hanif, dan pergi mengendarainya.


Sebuah pesan masuk dari nomor pria yang sama. "sayang..buruan, jangan membuat aku menunggu lama." isi pesan tersebut. Kepada Rena.

__ADS_1


"sabar.. Bernard sayangku, aku lagi dijalan." balas Rena.


Deeeghh..


"oh..tidak.. Sial.." Hanif menekan ucapannya, serta mengepalkan tinjunya, dan menggertakkan giginya.


Rena telah melaju meninggalkan rumah.


------******--------


Bernard telah menunggu dipertigaan. Melihat kedatangan mobil Rena, Ia terlihat sangat sumringah. Mereka mengendarai mobilnya beriringan.


Setelah sampai disebuah Showroom, Bernard mennual mobilnya kepada Showroom tersebut. Setelah menerima uang penjualannya. Bernard menaiki mobil Rena, dan mereka melanjutkan perjalanan.


"hai..sayang, apakah kamu sudah benar-benar mantab ikut denganku..?" ucap Bernard dengan nada nakal.


"iya..aku sudah memutuskan untuk memilih kamu." jawab Rena mantab.


Bernard yang kini menyetir tampak senyum-senyum sendiri. Ia merasa kegirangan. Karena telah lama menantikan hal ini. Meskipun tak mendapatkan Rena dalam perawan, Ia masih bisa merasakan kehangatannya.


Rena membuka Handphonenya. Tampak layar depan dengan wallpafer fhoto Ia dengan Hanif, dan kedua buah hatinya.


Sesaat Ia memandangi foto itu, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.


"Khanza.." ucapnya lirih sembari mengusap lembut wajah dalam foto tersebut.


"Hubby.. Adilah.." kembali Rena menyebut nama mereka. Sebuah keraguan datang. Namun hatinya seperti ada sesuatu yang mengikat dan mengalahkan akalnya.


Bernard yang melihat gelagat Rena yang terlihat gusar, Ia tidak memberi kesempatan kepada Rena untuk berfikir ulang kembali.


Ia merogoh saku celananya, membuka tutup parfum non Alcohonya, lalu mengoleskannya pada leher Rena. "kamu membutuhkan ini sayang.. rilekslah.. Kita akan memulai hidup yang baru. Ada bnya kebahagiaan yang menantimu disana. Percayalah padaku." Bernard mensugesti akal fikiran Rena agar tetap mengikuti perintahnya.


Seketika Rena mulai melupakan keluarganya, melupakan semua norma-norma yang ada. Ia akhirnya memantabkan untuk pergi bersama Bernard.


Akankah Hanif mampu merebut cintanya kembali, atau melepaskannya dengan ikhlas hati, atau akankah Ia sanggup dalam menghadapi ujian Cinta yang sedang dihadapinya..


Ikuti kelanjutannya ya Readers🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Love u to All...❤❤❤❤


__ADS_2