
Rena bergidik membayangkan Bernard yang datang untuk menemuinya. "mengapa baru sekarang Ia melakukan itu..? mengapa tidak sejak 3 tahun yang lalu..? ucap Rena lirih.
lalu Ia menatap layar laptopnya, membaca tiap Bab naskah skripsinya. Ia mencoba berkonsentrasi untuk hafalannya.
menghafal tiap footnote yang menjadi referensi skripsinya. kepalanya sedikit berdenyut, karena banyaknya hafalan uang masuk kedalam otaknya.
tiba-tiba handphonenya berdering. tanda pesan masuk datang. Rena dengan malas membuka pesan tersebut, lalu membacanya. satu nomor baru lagi.
Rena sedikit ragu, Ia takut jika nomor itu adalah milik Bernard lagi.
Ia membaca isi pesan tersebut. "Hai.."hanya itu yang tertulis disana.
"siapa yang mengirimkan pesan ini..?" ucap Rena lirih. jika Bernard yang mengirimkannya, itu tidak mungkin. karena Rena hafal dengan ketikan Bernard.
lalu masuk pesan kedua.. "sedang apa..?" isi pesan kedua tersebut. Rena semakin penasaran dengan siapa pengirim pesan itu. "apa ini kerjaan Ridwan atau Rehan..? tapi gak mungkin juga mereka mengirimi ku pesan seperti ini. "bathin Rena.
"kamu Rena ya..? kenalkan aku Hanif, sepupunya Amy." isi dari pesan ketiga.
Rena terperangah.."ya ammpuun..Amy..jahil banget sih tu anak, sampai beri no HP aku ke sepupunya." ucap Rena sembari terkekeh.
Ia bernafas lega, jika yang mengirim pesan itu bukan Bernard. lalu Ia membalas pesan tersebut. "Hai..juga.. iya aku Rena. salam kenal." balas Rena terkekeh sendiri.
Ia merasa geli membayangkan sahabatnya begitu jahil terhadadapnya, sampai berniat mak comblangin dengan sepupunya.
"maaf, jika aku menganggangu waktumu." balasan Hanif.
Rena tersenyum membaca isi pesan itu. "tidak apa-apa.." balas Rena dengan cepat.
"Kamu sedang apa..?" balasan Hanif. entah mengapa hati Rena merasakan begitu nyaman, hanya dengan berbalas pesan. "lagi belajar, persiapan untuk sidang skripsi." balas Rena dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
__ADS_1
Ia merasakan hatinya begitu sejuk, seperti sedang meminum air zam-zam. "wah...rajin banget ya.. semoga lancar ujiannya nanti ya.." balasan pesan Hanif.
"makasih do'anya." balas Rena dengan cepat.
entah perasaan dari mana datangnya, Rena menantikan tiap balasan dari Hanif, pria yang baru saja dikenalnya melalui pesan sms. hatinya diliputi rasa bahagia yang tak mampu Ia lukiskan dengan kata-kata. seketika rasa takutnya dengan pengejaran Bernard tempo hari, hilang dalam sekejab.
"siapa pria ini..? mengapa aku merasa begitu dekat dan nyaman dengannya. meski aku belum mengetahui seperti apa wajahnya" Rena berguman dalam hatinya.
tahun 2011, handphone android belum begitu ada yang pemirsa. masa itu Rena menggunakan Hp motorola lipat.
nah..itulah Hp yang digunakan Rena, yang berwarna pink. jadi belum ada aplikasi Whatsaap-nya ya.
"aku boleh telefon kamu gak..?" balasan Hanif, meminta ijin kepada Rena.
hati Rena berlonjak girang.. Ia tersenyum lebar, menutup mulutnya dengan jemari tangannya yang lentik. Ia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya.
namun perasaan penasaran lebih mendominasinya. "boleh..." balas Rena dengan penuh debaran dihatinya.
[kriiiing....]sesaat handphonenya berdering, satu panggilan masuk.
hati Rena berlonjak gembira, dengan gemetar Ia mengakat panggilan tersebut. lalu.."hallo.." suara lembut seorang pria, menyapa Rena. suara itu begitu menggetarkan hati Rena hingga meresap ke jiwa.
"ha..hallo.." ucap Rena tergugup. Ia tak mampu menyembunyikan debaran didadanya. bibirnya bergetar seperti tersengat aliran listrik ribuan watt.
"lagi ganggu waktu Rena gak..ne?" ucap suara pria itu dengan sangat-sangat lembut. selembut Marshmellow yang meleleh didalam minuman coklat panas. sangat manis dan lembut.
"enggak koq.." jawab Rena yang berusaha mengontrol ritme detak jantungnya.
__ADS_1
"kamu tinggal dimana..?" ucap Hanif bertanya.
Rena terdiam sejenak, Ia memikirkan sesuatu." emangnya Amy gak cerita kekamu aku tinggal dimana..?" ucap Rena dengan bingung.
Hanif tertawa renyah. suara tawanya saja mampu membuat hati Rena meleleh.
terdengar suara Hanif menghela nafasnya dari seberang telefon. "Amy hanya memberikan nomor telefonmu, tidak lengkap dengan alamatmu." ucap Hanif, dengan lembut.
"oooo...begitu ya.." ucap Rena mangut-mangut sendiri. "aku tinggal dirumah pamanku di Medan. kalau kampungku di Kisaran-Asahan." jawab Rena meluncur begitu saja. padahal selama 3 tahun bersama Bernard, Ia tak pernah memberikan alamat kampung halamannya.
"ooo...begitu ya..? kapan-kapan bisa dong aku main kekampungmu.?" ucap Hanif kembali.
Rena begitu sumringah mendengar ucapan Hanif. "boleh.."ucap Rena meluncur begitu saja. bahkan Ia tak menyadari ucapannya barusan.
terdengar suara tertawa renyah dari Hanif diseberang telefon. Rena menjitak keningnya sendiri. mengapa Ia bersikap begitu konyolnya. mengijinkan Hanif untuk datang kekampungnya, sedangkan Ia sendiri tak mengetahui siapa Hanif tersebut.
Hanif menghela nafasnya dengan lembut. suara helaan nafas Hanif saja sudah membuat Tena sedikit oleng. "oh Iya, seminggu lagi aku ada urusan pekerjaan ke Medan. nanti kita ketemuan ya..? nanti aku kabari lokasinya.?" ucap Hanif lagi.
"i..iya..boleh.... emang kamu tinggal dimana.?" ucap Rena yang hampir lupa menanyakan alamat teman barunya.
"aku tinggal di Pekan Baru. sudah dulu ya Rena, aku masih ada pekerjaan. maaf, ya jika aku mengganggu waktu. besok kita sambung kembali." ucap Hanif ingin mengakhiri telefonnya.
Entah mengapa, hati Rena ingin berlama-lama mendengarkan suara Hanif, hatinya begitu merasa nyaman dan seperti bahagia saat mendengar suara lembut Hanif.
"iya..assalammualaikum.." ucap Rena.. lalu dijawab salam kembali oleh Hanif. dan sambungan telefon terputus.
suara Hanif begitu mendayu-dayu ditelinganya. Rena menutup layar laptopnya. kaku bergegas ke ranjang tidurnya. Ia membuka kembali pesan dari Hanif diawal perkenalan mereka.
"kata Hai.." sebagai pembuka perkenalan itu, tak bosan-bosan Ia membacanya berulang kali. tersenyum sendiri. lalu menyimpan nomor kontak milik Hanif dengan nama "HAI". kata yang akan Ia ingat sepanjang hari.
__ADS_1
Ia tersenyum bahagia. memeluk gulingnya erat, sembari terus tersenyum. entah apa yang sedang difikirkannya. lalu mencoba memejamkan matanya, mencoba tertidur, merajut mimpi yang indah.
"boleh ketemuan gak..?"