
"Hubby.. Kenapa ya akhir-akhir ini Ren merasakan sesuatu yang tidak enak. ? Perasaan selalu tertuju pada Khanza. Apakah dia akan baik-baik saja?." ucap Rena dengan gelisah.
"mungakin kamu merindukan dia sayang..apakah kamu ingin menjenguknya kesana? Jika iya, Hubby akan pesankan tiket." ucap Hanif dengan lembut.
" minggu depan kita mengunjungi mereka ya Hubbby?" pinta Rena dengan memohon.
Hanif menatap Rena penuh cinta. baiklah sayang.. Hubby akan atur semuanya. Sekarang beri Hubby hadiah dulu ya.." ucapnya sembari menarik Rena dalam pelukannya.
----------‐♡♡♡♡---------
wina memakan sarapannya dengan sangat lahab. Ia sangat lapar sekali. "siapa gadis itu behijab itu.? Dia begitu baik, juga sopan. Aku merasa suka saat melihatnya tadi." Wina berguman lirih.
Setelah sarapan, Ia akan menemui sahabatnya, dimana sahabtnya itu menjanjikan untuk memberikannya pekerjaan. Ia bergegas mandi dan bersiap akan mencari pekerjaan.
-----------♡♡♡♡-------
"Khanza.. Mungkin kakkak akan kuliah lagi untuk mengambil gelar master. Lagi pula pekerjaan ini tidak mengganggu waktu juga. Kakak juga ada tawaran untuk menjadi asisten dosen di sebuah kampus." ucap Adillah sembari menyuapkan sarapannya.
"waah.. Bagus donk kak.. Kakak sungguh orang yang bersemangat." jawab Khanza dengan senyum senang.
Adillah tersenyum bahagia, Ia bahkan tidak menduga untuk mendapatkan tawaran sebagai asisten dosen, meski gajinya tidak seberapa, tetapi entah mengapa Ia sangat menyukainya.
"kakak bersiap dulu ya dik.. Hari ini ada temu janji dengan pak dosen yang menawarkan menjadi asdosnya." ucap Adillah sembari betanjak kekamarnya, dan membersihkan diri.
---------♡♡♡♡♡-----
Adillah menyusuri koridor kampus dilantai satu Sebuah institut negeri kebanggaan kota itu menjadi pilihan Adillah. Disini Ia akan memulai karir barunya menjadi asisten dosen dan sekaligus merangkap mengambil gelar master. Istilahnya sembari menyelam ya minum air. Tapi minumnya jangan kebanyakan, ntar kembung.
Adillah mencari sebuah ruangan yang bertuliskan Ridwan S.pd. M.Pd. "aku yakin ini ruangannya" ucap Adillah dengan sangat yakin.
Tok..tok..tok..
"masuk..." ucap seseorang dari dalam ruangan.
Adillah melangkah masuk. Tampak seorang pria sedang memillah buku dirak lemarinya. "duduk.." perintahnya dengan lembut.
Saat Adillah akan duduk, Pria itu berbalik, dan.. Adillah terpana oleh wajah tampan sang dosen. Seorang pria berusia 40-an tahun itu tampak tenang dan beribawa. Adillah memperkirakan umur pria itu sebaya dengan mamanya Rena. Prua itu menggunakan kacamata baca, mwskipun begitu tidak mengurangi ketampanannya.
__ADS_1
"mengapa kamu masih duduk terdiam disitu.." ucap Ridwan dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
Adillah tergugup dan tak dapat mengatakan apapun. Ia tak pernah merasakan debaran-debaran yang begitu aneh didalam dirinya.
"ya ampuun.. Ganteng banget ne pak dosen.? Tapi mungkin dia sudah beristri.." Adillah menepis dugaan hatinya. Ia ingin fokus pada karir barunya.
"kamu Adillah..?" tanyanya dengan datar.
"i..iya.." jawab Adillah gugup.
"gak perlu gugup, saya tidak makan orang. Saya harap kamu dapat bekerja dengan profesional dan loyal" ucap Ridwan menjelaskan.
"Ada 5 kelas yang harus kamu tangani, seluruhnya kelas reguler, dan tidak akan mengganggu kelas kamu. karena kamu mengambil kelas ekstensi." ucap Ridwan dengan sahaja.
"Kamu dapat meninggalkan email dan nomor WA kamu untuk memudahkan saya mengirimkan modul yang akan kamu pelajari." ucap Ridwan dengan sangat jelas.
Adillah mengangguk mengerti. Kalau begitu "sekarang kamu dapat memulai pekerjaan kamu. Dikelas reguler semester 1 , kelasnya paling ujung. Dan ini materi yang harus kamu sampaikan" ucap Ridwan menjekaskan.
Adillah terperangah. "haah.. Hari ini juga..? Bagaimana bisa? Saya belum menguasai materinya." ucap Adillah bingung.
"apakah kamu akan menyerah begitu saja.? Bahkan materi ini adalah mata kuliah yang sudah kamu pelajari saat masih menjadi mahasiswa, hanya bedanya kamu sekarang sudah meraih gelar." ucap Ridwan mengingatkan.
" kamu akan serius menjadi asisten saya atau akan memilih mengundurkan diri saja. Karena masih 2 kandidat yang menginginkan posisi ini. Namun karena kamu yang pertama datang diawal, saya menghargai usaha dan semangat kamu." ucap Ridwan, mencoba membangkitkan semangat gadis didepannya.
Adillah mengangguk. Lalu tersenyum."terima kasih pak.. Saya akan mencobanya." ucap Adillah penuh semangat.
Ridwan tersenyum manis. Senyum itu.. Senyum yang sudah lama tak pernah Ia tunjukkan. Entah mengapa tiba-tiba Ia membiarkan senyum itu menghiasi wajahnya.
"gadis lucu.." gumannya dalam hati, sembari kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.
"dia belum meninggalkan nomor WA dan emailnya." sungguh gadis yang ceroboh.." ucapnya dengan nada datar.
----------♡♡♡♡-------
Dag..dig..dug
Jantung Adillah sedikit berdegub lebih kencang. "aku pasti bisa. ini impianku. Aku ingin menjadi seorang dosen " ucap Adillah penuh semangat.
__ADS_1
Adillah mempercepat langkahnya, mencari kelas yang akan menjadi tempat pertamanya untuk menunjukkan kemampuannya.
"ini kelasnya. Aku pasti bisa.." ucap Adillah penuh semangat.
Adillah mengatur nafasnya, agar menormalkan degub jantungnya. Ia mulai melangkah masuk.
"Assallammualaikum.." ucapnya sembari melangkah menuju mejanya.
"waalaikum salam.." jawab mahasiswa serempak.
"cuuuuit...cuiiit.." terdengar suara siulan dari beberpa mahasiswa jahil. Membuat Adillah harus tahan mental.
"wiiih.. Bu dosennya cantik cuuy.. Jadi rajin masuk kelas kalau begini." ucap seorang mahasiswa yang terlihat sedikit brandal.
Adillah berusaha bersikap setenang mungkin.
"perkenalkan.. Nama saya "Adillah. S.Pd. Disini saya akan menjadi asisten dosen dari mata kuliah pak Ridwan. Sekian perkenalan dari saya." ucap Adillah dengan dibuat setenang mungkin. Meskipun hatinya sedikit gemetar.
"nomor WA bu Adillah yang cantik.." celetuk mahasiswa yang lain.
"nomor WA saya bisa diminta melalui ruangan biro ya. hubungi jika ada perlu dan dijam kerja saja." ucap Adillah menekankan.
"baik..bu dosen cantik.." celetuk mahasiswa jahil.
--------♡♡♡♡------
Duma tersadar dari tidurnya. Ia mendapati dirinya berada didalam sebuah ruangan kosong. Seperti gedung terbengkalai.
Ia mendapati pakaiannya sudah berhamburan dilantai berdebu. Ia melihat ada beberapa botol minuman keras. Ia merasakan sakit diarea palkng sensitifnya. Sepertinya Ia baru saja menyadari jika dirinya baru saja digilir oleh 4 orang pria dewasa yang membawanya semalam. Ia dicekoki minuman keras dan obat penambah gairah.
Duma memunguti pakaiannya, tampak kotor dan berdebu. Ia memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
Ia menemukan beberapa lembar uang ratusan ribu diatas pakaian dalamnya. Ia memunguti uang tersebut. Ia keluar dari gedung itu dengan terhuyung-huyung.
Kepalanya masih terasa berat, sisa dari pengaruh minuman berakohol tersebut. Duma memesan taksi online. Sepertinya Ia menginap didalam gedung itu sendirian, dan para pria dewasa itu telah meniggalkannya seorang diri, setelah menggilirnya secara brutal.
Namun, sepertinya Duma tidak menyesali apa yang sudah diperbuatnya. Sungguh seorang gadis yang sangat ceroboh. sikapnya tak jauh dari seperti alnarhum ayahnya. Jika ayahnya dahulu suka mempermainkan wanita, maka kini Ia yang menjadi mainan tersebut. Semua berbalik sesuai apa yang ditanam.
__ADS_1
Author ngantuk😴😴😴