
Hanif meraih kunci mobilnya. Lalu terburu-terburu keluar dari ruangan kerjanya.
Sesampainya Ia diparkiran. Hanif langsung tancap gas menuju ke sekolah.
Sesampainya didepan pagar sekolah, Ia melihat kedua buah hatinya sedang menunggu jemputan mamanya.
Mata kedua bocah itu yerus memandangi jalanan, berharap Rena menjemput mereka.
Hati Hanif kian miris. "apa sebenarnya yang terjadi pada istriku.? Mengapa Ia melupakan tugasnya..? jika aku memiliki salah padanya, maka bukankah Ia harus marah padaku? Lalu mengapa melampiaskannya kepada anak-anak..?" Hanif berguman lirih. Ia tidak mengerti permasalahan apa yang sedang dialami istinya.
Kedua bocah itu berteriak senang saat mengetahui Hanif menjemputnya.
"paaapaaa..." teriak mereka bersamaan. Lalau menghambur kepelukan Hanif.
"pa.. Lapar.." ungkap Khanza, sembari memutar telapak tangan di atas perutnya.
"emang gak beli jajan tadi..?" tanya Hanif.
"mama lupa beri uang saku pa.." ungkap kedua bocah itu bersamaan.
Deeegh..
Hati Hanif merasa miris. Ia tak menyangka sampai segitunya Rena melupakan hal yang biasa dilakukannya.
Hanif menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya.
"kita makan dulu ya pa..?" ucap Adillah dengan merengek.
"iya pa.. Lapar.." Khanza menimpali.
Hamif menganggukkan kepalanya. "ayo kita pulang, sekalian cari makanan." ajak Hanif kepada kedua bocah yang menjadi penyemangatnya.
kedua bocah itu bersorak gembira, lalu masuk kedalam mobil.
-------------*****---------
Sesampainya di halaman rumah. Hanif melihat Rena sedang duduk melamun seorang diri diatas balkon kamar mereka.
Matanya nanar memandang lurus kedepan. Seperti sebuah tatapan kosong, menantikan seseorang.
"pa.. Itu mama.." tunjuk Khanza ke atas balkon kepada Hanif.
"iya sayang.. Ayo kita keatas lihat mama.." ajak Hanif kepada kedua anaknya.
__ADS_1
khanza dan Adillah memasuki rumah, membuka sepatunya. Lalu Kedua bocah itu memasuki kamar, dan berlari menuju balkon tempat Rena duduk termenung.
Hanif menegekori kedua anaknya.
"mamaaaaa.."teriak keduanya, sembari memeluk Rena. Namun hal yang mengejutkan, Rena diam tak bergeming. Tanpa ekspresi.
"mama.. Kenapa Mama tidak menjemput kami..?" ucap Khanza dengan manja.
Namun Rena masih diam, tanpa menoleh kepada keduanya.
Hanif yang sedari tadi memperhatikannya, merasakan perubahan yang drastis pada Rena.
Khanza menyentuh pergelangan tangan Rena. "Ma..mama.. Ayo makan, Khanza lapar. Tadi kita beli makanan sama papa." ucap khanza sembari mengguncang tangan Rena.
Namun Rena menepiskan tangan mungil itu. Seolah tak ingin disentuh.
Hanif memejamkan matanya, merasa sangat sakit dihatinya, saat melihat Rena mengabaikan puteranya.
Hanif berdiri mematung didalam kamar, memperhatikan segalnya dari arah pintu yang terbuka. "Khanza.. Adillah.. Sini makan sama papa.." ajak Hanif kepada kedua anaknya.
"Khanza mau makan sama Mama.. Pa.." Khanza merengek. Lalu mengguncang tubuh Rena.
tetapi Rena masih diam membisu. Alam fikirannya tak lagi bersama raganya. Hatinya bersama orang lain.
Kembali Rena menepiskan tangan mungil Khanza.
"ayo makan sama Papa." ucap Hanif dengan lembut kepada keduanya.
"tapi pa..Khanza mau makan sama mama.." ucap Khanza merengek.
"Mama lagi tidak enak badan sayang.." ucap Hanif mendamaikan hati Khanza." seketika matanya ingin menumpahkan bulir bening yang sedari tadi Ia tahan.
Meskipun Ia seorang pria, namun Ia juga memiliki sisi lemah saat diabaikan. Apalagi ketika melihat buah hatinya ditepiskan.
Hanif membawa kedua bocah itu keruangan makan. Dengan hati yang pedih Ia menyuapi keduanya.
"Mama kenapa diam saja Pa..?" ucap Khanza penasaran. Karena tidak seperti biasanya Rena berbuat seperti itu. Semarah-marahnya Rena belum pernah mengabaikan anaknya.
"Mama lagi banyak fikiran sayang, lagi tidak ingin diganggu. Khanza dan Adillah jangn dulu ngerepotin Mama ya sayang..? Kalau ada perlu apa-apa bisa minta tolong sama bibi atau kang maman." Hanif mencoba menjelaskan.
"makan yang banyak, setelah ini papa mau berangkat kerja lagi. soalnya ada bamyak pekerjaan yang mau papa selesaikan." Ucap Hamif, sembari menyuapkan nasi kedalam mulut kedua bocah itu secara bergantian.
"Ok papa.. Kami akan jadi anak baik, biar Mama gak banyak fikiran." jawab Khanza dengan semangat.
__ADS_1
Hanif tersenyum pilu. Ia tidak mengerti dengan perubahan Rena yang begitu mendadak.
Setelah selesai memberi makan keduanya anaknya, Hanif mengajak mereka untuk shalat dzuhur berjamaah. Hanif sudah menegur Rena, namun tidak ada jawaban apapun. Akhirnya hanya mereka bertiga yang melakukan shalat berjamaah.
Setelah selesai, Hanif berpamitan kepada kedua jagoannya. Lalu meminta mereka untuk tidur siang.
Hanif bergegas keluar dari rumahnya, menuju mobil. Ia mengendarainya dengan terburu-buru. Saat melintasi pintu pagar, Hanif melihat selintas ada seorang pria bertubuh kecil yang sedang memarkirkan mobilnya didepan sebuah warung bakso.
Pria itu menggunakan kacamata hitam, namun Hanif dapat melihat jkka Ia sedang melihat kearah balkon tempat Rena duduk termenung.
Karena terburu-buru, Hanif mencoba mengabaikannya, karena menganggap mungkin pria itu akan membeli bakso.
Setelah mobil Hanif menghilang dipertigaan jalan. Bernard mulai melancarkan aksinya. Ia berjalan sedikit ke arah pagar. Memperlihatkan dirinya kepada Rena yang kini sedang merinduinya.
Melihat kehadiran Bernard, sontak Rena bangkit dari duduknya. Ia berlari keluar dari kamarnya. Lalu menuju arah pagar.
Namun tak ingin dicurigai para tetangga. Rena memilih keparkiran, lalu mengendarai mobilnya. Saat meljntasi mobil Bernad, Ia memberikan kode agar Bernard mengikutinya.
Mengerti maksud Rena, Bernard lalu mengikuti mobil Rena. Hingga akhirnya mereka sampai disebuah tempat jalanan sepi.
Rena menghentikan mobilnya, begitu juga dengan bernard.
Bernard keluar dari mobilnya, lalu menuju mobil Rena. saat Bernard berada didalam mobil, Rena dengan cepat memeluknya.
"Mengapa kamu sangat jahat, aku merindukanmu.." Rena terisak dalam pelukan Bernard.
Bernard merasa menang. Kini Rena akan melupakan suaminya yang tampan dan tajir itu, lalu jatuh kedalam pelekunnya.
Saat Rena sibuk melepaskan rindunya, diam-diam Bernard membuka sebuah botol parfum non alcohol ke leher Rena.
ini salah satu visual contoh parfum non alcohol yang biasa disalah gunakan oleh orang yamg menyimpang sebagai ilmu pelet, pengasih dan penglaris. Jangan ditiru ya readers..🙏🙏🙏
sebenarnya parfum digunakan untuk orang muslim beribadah shalat. Tetapi ada saja oknum-oknum yang menyalah gunakannya.
Wangi parfum yang dioleskan dileher Rena, membuat Rena seperti seakan melayang.
Ia tidak menyadari dengan apa yang diperbuatnya. Dihatinya kini hanya ada Bernard sang pujaan hatinya.
Rena melupakan suami dan anaknya. Hanya demi seorang pria yang tidak jelas.
Bernard merasa bangga, apalagi Ia juga pernah menaklukkan Wina si wanita cantik, namin dianghapnya sebagai pembawa sial.
__ADS_1
dengan ilmu pemikatnya, Ia dengan mudahnya menaklukkan wanita mana saja yang diknginkannya, dan melepaskannya kapanpun Ia telah bosan.
Bernard berniat ingin melarikan Rena dari Hanif. Ia menyusun sebuah rencana. Ia ingin Rena iku lari bersamanya dengan membawa sejumlah harta milik Hanif.