Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Buah Tangan


__ADS_3

Ridwan membuka akun media sosialnya. Ia melihat sebuah postingan Rena yang baru saja Ia unggah beberapa detik yang lalu.


Tertulis dalam unggahannya. ' sembuhkanlah My uncle ya Rabb...dengan menyematkan emoji sedang menangis. Lalu menandai lokasi dimana Ia kini berada.


"Apa yang terjadi dengan paman Rena? Mungkin sebaiknya aku melihat kesana. Saat ini pasti Rena sedang membutuhkan orang untuk menguatkan hatinya." Ucap Ridwan, Sembari bergegas untuk menemui Rena. Meski Rena tak pernah memberinya jawaban, namun tak membuatnya kecewa dan berputus asa. Entah mengapa Ia begitu menggila dengan gadis manis yang telah mencuri hatinya hingga kini tak ada yang mampu menggantikan rasa itu dihatinya. Menuggu selama 3 tahun lamanya tak membuatnya jemu.


Ridwan menggunakan stelan casual, Ia melihat penampilannya dicermin, memastikan jika Ia sudah tampan dan rapi, tak lupa Ia menyemprotka parfum maskulin ketubuhnya, yang membuatnya semakin tampan.


Kemeja ketat membentuk Tubuh sixpacknya. Ditambah dengan celana panjang dibawah lutut. Lalu memadukannya dengan sepasang sepatu casual berwarna putih gading yang Membuatnya begitu memesona.


Ia turun dengan terburu dari lantai 2 kamar nya. Mamanya yang hendak mengajak makan malam begitu heran melihat penampilan Ridwan malam ini.


"Waah...anak mama..tampan sekali kamu sayang." ucap mama Delia, sembari mengecup kening Ridwan dengan penuh kasih seorang ibu.


Ridwan tersenyum."ma Ridwan keluar bentar ya? ada urusan dikit" ucap Ridwan sembari mengatupkan ibu jari dan telunjuknya miring 180°.


"emangnya mau kemana anak mama yang tampan? sepertinya begitu terburu-buru." ucap Delia dengan selidik..


Ridwan nyengir kuda mendapati pertanyaan mamanya."ada deh Ma.. dah dulu ya ma, nanti Ridwan telat.." ucap Ridwan sembari mengecup pipi mama Delia. Iapun beranjak ingin pergi.


"jangan pulang malam-malam ya sayang.."teriak Delia yang dijawab Ridwan hanya dengan tautan ibu jari dan telunjuknya membentuk kata OK.


Delia menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Ridwan yang tak biasa, sembari tersenyum dan melangkah kemeja makan.


****


Ridwan menyetir mobilnya dengan perasaan yang tak dapat diartikan. Ia memutar lagu favoritenya, lagu yang tak pernah bosan Ia dengar. lagu debutan musisi Indonesia groub band Nano, yang mana liriknya begitu mengena dihatinya. yaitu judul lagu "Sebatas Mimpi".



ini author spill group band-nya ya.. mana tau pembaca ada yang penasaran dengan lirik lagunya, soalnya Si Ridwan begitu menghayati banget lagu tersebut.


Ridwan mengikuti lirik lagu tersebut sembari menyetir. " jadikan aku kekasih hatimu..aku takkan kecewakan kamu..walaupun semua itu..hanya sebatas mimpi.. jadikan aku..kekasih hatimu.. aku menginginkan kamu..sungguh..sungguh..kujatuh cinta..pada dirimu.." Ridwan menyanyikan lagu itu penuh penghayatan. hingga Ia sesaat, Ia menepikan mobilnya, lalu berhenti didepan sebuah toko cake yang menjual berbagai cake n brownies, dan lain sebagainya.


"mungkin Rena belum makan malam. aku beli 2 boks sebagai buah tangan untuk menjenguk pamannya yang sedang sakit dan untuk camilan Rena juga." ucap Ridwan sembari turun dari mobilnya, lalu memasuki toko cake tersebut.


Ia memesan 1 porsi brownies, dan donat dengan berbagai topping kepada pelayan toko. setelah selesai memilih, Ia menuju kasir dan membawanya kedalam mobil.


****


Ridwan sampai didepan Rumah sakit, lalu Ia menenteng plastik kresek yang bertuliskan brand toko cake yang akan diberikan sebagai buah tangan untuk menjenguk paman Rena yang sedang sakit.


saat akan membuka pintu depan rumah sakit yang terbuat dari kaca, tubuhnya menabrak seorang pria yang juga akan masuk bersamaan dengannya. Ia menoleh kearah pria tersebut, saat mata mereka beradu dalam satu pandangan.."kauuu...." ucap Ridwan dan pria itu bersamaan.


Ridwan mengernyitkan keningnya. "kenapa sih elo itu membuntutiku kemanapun? kamu gak punya kerjaan ya?" ucap Ridwan ketus kepada pria yang ditatapnya, yang tak lain adalah Rehan.

__ADS_1


"siapa juga yang membuntutimu..?ge...er banget lu.." ucap Rehan tak kalah ketus. mereka bukannya masuk, malah menghalangi pintu masuk, yang membuat orang-orang merasa terganggu.


"eh bang..kalau mau berdebat tu..disono..sekalian adu jotos saja.. minggir"ucap seorang pria dewasa dengan kesal, sembari tangannya mengibaskan kedua pemuda yang sedang berdebat. keduanya terpaksa minggir.


"lu ngapaian kesini? jangan bilang kalau mau jenguk paman Rena?!" ucap Ridwan, sembari melirik tangan Rehan yang menenteng plastik kresek berisikan buah dan botol air minum mineral.


Rehan tersenyum mengejek. "kalau Ia kenapa? masalah buat lho..?" ucap Rehan sembari menaikkan sebelah alisnya.


Rehan bergegas masuk kedalam rumah sakit, menuju ruangan lobi bagi keluarga pasien yang menunggu. Ridwan mengekor dari belakang. langkah mereka semakin dipercepat seperti seorang yang sedang berlomba lari.


langkah mereka sejajar satu sama lain. mereka melihat Rena yang sedang terduduk disofa lobi rumah sakit. Ia bersandar dan memejamkan matanya, Ia terlihat sesenggukan seperti habis menangis.


kedua pemuda itu mempercepat langkahnya dan duduk disamping Rena, Ridwan mengambil sisi kanan dan Rehan mengambil sisi kiri tubuh Rena. dengan mengapit tubuh Rena mereka seperti saling mengejek satu sama lain, layak seperti bocah yang sedang memperebutkan sesuatu.


Rena yang terpejam seketika terkejut dan membuka matanya, karena tiba-yiba saja merasakan ada dua orang yang mengapit tubuhnya. saat membuka matanya, Ia lebih kaget lagi mendapati Ridwan dan Rehan berada disisi kanan dan kirinya. Ia membenahi letak duduknya.


"kalian ini..?! bisa gak sih, gak ngagetin aku?!" ucap Rena ketus, karena Ia benar-benar kaget dengan tindakan konyol kedua pemuda itu.


Ia mengatur nafas dan detak jantungnya yang tadi hampir sempat copot.


"maafin aku ya sayang, jika membuat Renaku yang manis sampai kaget." ucap Rehan dengan gaya lebaynya.


Ridwan yang mendengar kata 'sayang dan Renaku' dari mulut Rehan menjadi eneg dan pengen muntah.


Rehan yang disindir merasa kesal "apaan sih lho?!..berisik banget.." ucap Rehan ketus.


Rena selalu pusing dengan tingkah kedua pemuda ini. sikap mereka tak ubahnya seperti bocil ketika bertemu. namun bersikap manis dan dewasa jika hanya sendirian bertemu dengannya.


"please..do not disturb me" ucap Rena memohon. (tolong, jangan ganggu saya). sembari menyandarkan kepalanya disandaran sofa dan memejamkan mata, air matanya mengalir kembali. Ia masih memikirkan nasib pamannya.


Ridwan dan Rehan saling berpandangan, mereka seketika terdiam, mencoba meredam perasaan ego dihati mereka. seharusnya mereka bersikap dewasa dan mengerti kondisi mental Rena saat ini.


"maafin kita Ren, kita gak bermaksud menambah kesedihannmu, tapi tolonglah, makan sedikit saja apa yang kami bawa untukmu." ucap Ridwan sembari menyerahkan kantong plastik kresek dari Ridwan.


Rehan juga menyerahkan parcel buah yang dibawanya. Rena mengambil kedua pemberian pemuda itu." makasih ya..aku tahu niat kalian baik..makasih udah support aku selama ini." ucap Rena sembari tersenyum tipis, dan menatap keduanya bergantian. Ia menghela nafasnya.


"makanlah Rena, meski hanya sepotong donat, menjaga pamanmu juga perlu energi, jika kamu sakit akan mengkhawatirkan mereka juga." ucap Ridwan dengan lembut.


Rehan yang mendengar ucapan Ridwan merasa jika buah pemberian darinya juga harus dicicipi oleh Rena. "Emm..iya Rena, kamu juga perlu asupan buah agar metabolisme kamu tetap baik setelah makan donat." ucap Rehan.


sepertinya mereka akan memulai lagi tingkah konyolnya, Rena menghela nafasnya dengan kasar.


****


sesaat Nisar berjalan dikoridor rumah sakit menuju lobi.

__ADS_1


"perutku lapar banget ne..dari tadi belum diisi" ucap Nisar sembari memegang perutnya.


"aku akan keluar bentar untuk mencari makanan, mungkin Rena juga belum makan dari tadi, aku ingin sekalian nawarin dia makanan." ucap Nisar sembari menyusuri koridor rumah sakit.


dari kejauhan, Ia melihat dua orang pemuda tampan sedang duduk mengapit Rena, Ia segera merapatkan tubuhnya kedinding koridor, dan memperhatikan kedua orang yang sedang mengapit Rena.


"siapa mereka..?" ucap Nisar penasaran.


sesaat Ia teringat akan pesan pak ucok tempo hari, yang menyatakan akan ada 3 pria yang dayang membawa cinta untuk Rena. "apakah keduanya merupakan salah satu diantara ke 3 pria yang diceritakan pak Ucok waktu itu?" ucap Nisar penasaran.


Nisar melanjutkan langkahnya mendekati ketiganya. sepertinya kedua pemuda itu membawa buah tangan untuk Rena, dan saling memaksa pemberian mereka harus dicicipi Rena. karena asyik dengan saran mereka, hingga tidak menyadari kehadiran Nisar yang sudah berdiri didepan mereka.


"eheeemmm..." Nisar berdehem menyadarkan kedua pemuda itu dengan tatapan penuh arti. lalu keduanya terdiam dan menggeser sedikit duduknya menjauhi Rena.


mereka tahu Nisar adalah orang pebisnis sukses, sekaligus kakak sepipu Rena, sehingga membuat keduanya merasa segan.


Nisa mendekati keduanya, lalu mengambil kota donat yang tadi dipegang oleh Ridwan untuk membujuk Rena agar mencicipinya. Ridwan hanya pasrah, jikapun donat itu harus dilempar kelantai.


namun dugaan Ridwan salah, Nisar malah mengambil satu buah donat dengan topping coklat keju, lalu mengunyahnya. perutnya yang lapar melahap habis donat tersebut. ketiga orang itu menatap bengong melihat sikap Nisar yang diluar dugaan. lalu Ia mengambil parcel buah molok Rehan, mengambil satu buah apel dan mengunyahnya.


tanpa merasa bersalah, Nisar mengunyah dengan lahabnya. tiba-tiba muncul Ocha dari arah belakang. "waah..donatnya enak banget ya yank...kamu beli dimana?" ucap Kak Ocha sembari mengambil satu buah donat dan mengunyahnya.


"emmm...tadi beli online..tu abang kurirnya..ucap Nisar sembari menaikkan kedua alisnya melirik kearah Rehan dan Ridwan.


kedua pemuda itu bengong dibilang kurir oleh Nisar.


Ocha membawa boks donat dan brownies berserta parcel buah milik Rehan. lalu berjalan di koridor rumah sakit menuju kamar papanya dirawat.


ketika berjalan sedikit menjauh, Nisar membisikkan sesuatu kepada Ocha " ini semua milik kedua pemuda itu, mungkin mereka salah satu pemuda yang dikatakan pak ucok waktu itu" bisik Nisar kepada Ocha istrinya.


"jadi kamu ngambil gitu aja ne donat dan buah?" ucap Ocah penasaran.


"he..eh..abisnya aku lapar, kebetulan sekali Rena jaim mau makannya, ya aku embat saja."ucap Nisar terkekeh.


Ocha menoleh kebelakang, melihat kedua pemuda itu masih menatap mereka dengan bingung. Ocha tertawa geli membayangkan sikap konyol suaminya yang mengambil begitu saja buah tangan kedua pemuda itu. tentu keduanya dengan berniat mencari perhatian dari Rena.


***


Rehan dan Ridwan saling pandang. usaha mereka untuk perhatian Rena malam ini gagal.


"aku lapar, siapa yang mau traktir aku.."ucap Rena yang ternyata perutnya keroncongan.


"aku.." jawab keduanya serentak.


"ya sudah..kita makan bareng-bareng saja. ucap Rena sembari melangkah keluar lobi, menuju kantin yang disediakan oleh pihak rumah sakit. diikuti oleh kedua pemuda tampan itu. layaknya seperti dikawal oleh dua ajudan pribadi saja.

__ADS_1


__ADS_2