
Hanif telah sampai dirumah Munah, Ibu mertuanya. Kehadiran mereka yang sangat mendadak membuat Munah merasa heran.
Apalagi Hanif membopong tubuh Rena yang tak sadarkan diri.
"ya Allah Rena.. Ada apa ini Nak.?" tanya Munah kepada Hanif dengan nada panik. Bagaimana Ia tidak panim, saat melihat puteri satu-satunya tak sadarkan diri.
"baringkan disini Nak.."ucap Munah, menggelar karepet Turkey miliknya dengan sebuah bantal untuk alas kepala Rena.
Tanpa menyahuti ibu mertuanya, Hanif mematuhi titahnya. Lalu meletakkan Rena disana. Hanif membenahi letak Tidur Rena, dan juga pakaiannya yang sedikit berantakan.
Hanif memandang wajah istrinya dengan penyesalan. "maafkan Hubby, tidak dapat menjagamu dengan baik.." Hanuf berguman lirih dalam hatinya. Lalu mengecup lembut kening Rena, tanpa menyadaru sedikitpun terhadap ibu Mertuanya yang sedari tadi berada di sisi kirinya. Hatinya kini masih kalut. Sehingga tak mampu melihat apapun.
Munah memilih untuk sedikit menjauh, mungkin menantunya itu membutuhkan waktu sendiri.
Beberap menit kemudian, Hanan dan Tony juga muncul secara bersamaan. Munah semakin bingung dengan semuanya, karena Hanan jarang berkunjung, namun tiba-tiba saja hadir tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Hanan menyalim tangan ibunya, lalu bergegas masuk kedalam rumah. Hanan menyentuh bahu Hanif. Tony kembali keluar, mengendari motornya, sepertinya Ia sednag menjemput seseorang.
"bisa kita bicara sebentar.." ucap Hanan setenang mungkin.
Hanif mengangguk, lalu mereka duduk bersila disudut ruangan, sembari menjaga Rena. Munah yang sedari tadi masih bingung, takntaunharus bertanya pada siapa tentang apa saja yang baru terjadi.
Munah mengmbil selimut tebal, lalu menutupkannya sampai batas dada Rena. Ia duduk disamping Rena sembari membelai lembut rambut puteri satu-satunya itu.
"Hanif.. Kakak ingin menceritakan sedikit tentang masa lalu Rena kepadamu. kakak harap kamu tidak gegabah dalam mengambil keputusan dalam rumah tangga kalian." kak Hanan menarik nafasnya.
Hanif mengangguk mengerti.
"Rena sebelum menikah denganmu pernah terjerat ilmu pelet 'Pemikat Sukma' oleh pria itu. Dia hampir saja gila jika kakak tidak cepat membawanya berobat keseorang paranormal. Kakak mengira pria itu sudah binasa atau bertaubat, tetapi malah semakin menggila." Hanan mencoba menjelaskannya, agar tidak ada kesalah fahaman sepada Hanif dan Rena.
Hanan ingin membersihkan nama adiknya, Ia tidak ingin Hanif menduga yang tidak baik terhadap Rena.
"aku sudah mendengarnya kak. Rena sudah pernah bercerita padaku sebelumnya. Bahkan sebelum kejadian ini, Ia pernah meminta bodyguard sebagai untuk melindunganya. Karena pria ini terus menerornya.
Karena menganggap waktu sudah membaik, maka bodyguard iyu mengundurkan diri karena adanhal penting dalam keluarganya.
Munah yang mencuri dengar pembicaraan keduanya, seketika menangis.
__ADS_1
Hanan dan Hanif menatap ke arah Munah. "ya Allah.. Jangan limpahkan kesalahan orang-orang tua terdahulu kepada anak cucu keturunannya." isak Munah dengan pilu.
"maksud ibu..?" tanya keduany dengan serempak.
Munah menarik nafas beratnya. Lalu menghelanya dengan kasar. "Ya.. Kakekmu adalah seorang yang memiliki banyak ilmu kanuragan. Kakek buyutmu berasal dari Kalimantas Selatan. Ketika ayah Ibu (Kakek Rena) berumur 5 tahun, Ia dibawa oleh kakek buyutmu merantau ke Sumatera Utara." Munah menarik nafasnya, lalu Menghelanya dengan berat.
Munah kembali melanjutkan ceritanya. "setelah kakekmu berusia 17 tahun, Ia bertemu dengan nenekmu yang saat itu sudah berumur 33 tahun, dengan status janda beranak 3.
"Kakekmu jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengan nenekmu disebuah acara pernikahan seorang warga. Tubuh nenekmu yang mungil dan langsing, dikira kakekmu masih berusia 20 tahun. Kakekmu merayu nenekmu, sehingga membuatnya berang."
"ketika kakekmu datang kerumah nenekmu, beliau melontarkan kata 'Najis kamu bocah' sembari meludahi kakekmu. Karena usia nenekmu lebih tua terpaut 14 tahun.
kakekmu yang sakit hati, membawa air liur kepada ayahnya (kakek buyut), dan meminta agar memikat janda beranak 3 itu. Hingga akhirnya Nenekmu tergila-gila pada kakekmu, dan bersedia menikah dengannya." Munah mengakhiri kisahnya sembari menyeka air matanya.
"lalu mengapa harus Rena yang menuai karma dari semua ini..? Bukankah cucu wanitanya juga banyak..? Bukan hanya Rena saja." tanya Hanan kepada Ibunya.
Munah menggelengkan kepalanya. "kita tidak tau kepada siapa takdir akan berpihak, apakah itu baik atau buruk, semua atas kehendak-Nya.. Dan semua itu karena ada sebab dan akibatnya. Semoga saja ini menjadi pembelajaran dimasa mendatang, agar berfikir terlebih dahulu ketika akan berbuat, bukan atas dasar panasnya hati" Munah memandang Rena, membelai lembut Wajahnya. Ia tidak mengira, jika kepada Rena Takdir itu memilihnya.
Hanif tertunduk lemah. Hampir saja Ia berfikir jika Rena telah mengkhianati cintanya. Karena sejatinya, Rena adalah wanita yang mencintainya, dan juga anak-anaknya.
"sekarang harus bagaimana kak..?" tanya Hanif kepada kak Hanan dengan suara lirih.
Hanif bernafas lega, Ia melirik ke arah Rena yang masih dalam pengaruh obat bius. Ia masih tertidur. "I Love U my secret heart." gumannya Lirih dalam hati. Hanif menatap sendu pada wajah yang masih tertidur pulas.
Sesaat kemudian, Tony datang membawa seorang sesepuh yang tampak bersahaja. Dibantu oleh Tony, sesepuh itu berjalan memasuki rumah Munah.
"Assalammualaikum" ucapnya ramah dan tegas.
"waalaikum salam." jawab semuanya serempak.
Sesepuh itu melangkah masuk, lalu duduk bersila. Ia melirik ke arah Rena dengan pandangan menelisik. "tolong ambilkan air mineral yang masih tersegel" titah sesepuh itu.
Tony segera beranjak, lalu membelikannya. Hitungan menit, Tony sudah kembali membawa satu botol besar minuman mineral. lalu memberikannya kepada sepuh tersebut.
Sesepuh itu membuka tutup botol yang masih bersegel, lalu memejamkan matanya, merafalkan ayat Ruqyah (Fatiha, ayat qursi, al ikhlas, an nas dan al falaq). Lalu meniupkannya kedalam botol tersebut. Setelah selesai, Ia kembali menutupnya.
Sesepuh itu melirik kepada Hanif. "kamu suaminyakan..? " tanya sesepuh itu.
__ADS_1
Semua memandang heran, karena beliau dengan tepat menebak.
Hanif menganggukkan kepalanya ." Ia Ki.. Saya suaminya" jawab Hanif cepat.
"berwudhulah.. Lallu tampung air wudhumu dengan menggunakan wadah yang lebih besar. Setelah itu bawa kepada saya." titahnya tak ingin dibantah.
Hanif segera beranjak bangkit, lalu pergi ke kamar mandi mengambil wudhu dan menampungnya dalam wadah yang lebih besar.
Hanif menyerahkannya kepada Sesepuh itu. Lalu beliau meraihnya dan kembali merafalkan ayat ruqyah tersebut.
"ayo, kita bawa Ia mandi berendam dilaut, untuk menghilangkan segala pengaruh sihir ini.
Sihir ini mampu menembusnya karena bersentuhan kulit langsung dengan pelaku, jika dengan jarak jauh, Ia tidak mampu menjangkaunya, karena diawal Wanita ini berobat, Ia sudah ditutup wajahnya dari pandangan pria itu. Allah masih melindunginya dari segala niat jahat pria itu.
"ayo segera kita bawa dia kelaut." perintah sesepuh itu.
Hanif membopong tubuh Rena dengan cepat. Kak Hanan menyetir mobil, sedangkan Sang sessepuh bersama Tony duduk dijok belakang.
Mobil melaju membelah jalanan lintas. Mereka menempuh perjalan satu jam untuk mencapai laut.
Sesampainya ditepi laut, Hanif kembali membopong tubuh Rena.
"mandikan Ia dengan air laut tersebut, rendamkan seluruh tubuhnya. Lallu basahi kepalanya dengan air laut, sembaribterus membacakan doa ruqyyah..Bawa air ini, siramkan jika sudah selesai.." beliau menjelaskan.
Hanif segera menuruti segala apa yang diperintahkan kepadanya. Ia berjalan menuju tepi laut. Lalu membenamkan tubuh Rena kecuali kepalanya. Hanif menyirami kepala Rena dengan lembut hingga basah kuyup, sembari terus merafalkan doa. "sembuhlah sayang.. Aku mencintaimu" bisik Hanif lembut ditelinga Rena.
Tony mendekati Hanif, sembari membawa botol air mineral dan air bekas wudhu yang ditampung dalam wadah plastik.
Hanif meraihnya, lalu mengguyurkannya pada Rena, sembari bershalawat.
Sesaat Rena mengerjapkan matanya, Ia tersentak kaget karena mendapati dirinya berada dilautan. "haaah..!!" Matanya memandang bingung. Lalu matanya tertuju kepada Hanif. "Hubby, kenapa kita berada dilaut.?" ucap Rena bingung.
Seketika Hanif memeluknya, mengecupnya dengan hangat. "terimakasih ya Rabb.. Kau kembalikan Ia padaku..kini Ia telah mengingatku kembali.." hanif berguman lirih dalam hatinya. Rena merasa bingung dengan apa yang dilakukan Hanif padanya, tanpa terasa, Hanif menitikkan bulir bening yang kini membasahi pipinya. Tak henti-hentinya Ia mengucapkan syukur kepada Illahi.
"mengapa kita berada di laut Bby?" tanya Rena kepada Hanif.
Lalu Hanif mengendurkan pelukannya. "kita lagi liburan sayang.." jawab Hanif sekenanya.
__ADS_1
"mana Khanza dan Adillah..?" Ia mulai mengingat keluarganya..
"mereka bersama kakek dan nenekmya." Hanif mencoba memberikan jawaban yang terbaik. Ia membawa Rena naik kepermukaan. Dan yang membingungkan, Hanif lupa membawa pakaian ganti untuk Rena. Lalu lagi-lagi Tony yang harus turun tangan membeli pakaian ganti untuk kakaknya.