Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
titisan


__ADS_3

Hatinya hancur bagaikan kepingan-kepingan hati. Kepergian Bernard membawa luka yang begitu dalam baginya.


Kini garis keturunannya hanya tinggalah satu saja. Namun semua tidak dapat ia elakkan lagi. Ia harus mencari penerus Bernard, untuk meneruskan warisan ilmu yang dititipkannya pada waktu saat Ia akan meninggal dunia.


Bernard telah membisikkan kata tentang dimana mantan istrinya itu tinggal dan juga mengatakan jika ada benih titipannya disana saat pernikahan sirri nya waktu itu.


Saat nanti bayi itu lahir, maka dan sudah berusia 17 tahun, maka warisan ilmu itu harus Safri serahkan kepada pewarisnya.


Kini Safri mendapatkan tugas yang lebih rumit dan Ia emban begitu sangat berat.


Jika wajah Wina, Ia masih mengingatnya, karena pernah bertemu satu kali saat itu.


"aku harus mencarinya, aku harus menemukan pewaris ilmu pelet ini, karena tidak mungkin aku yang setua ini harus mengembannya. Ini sangat berbahaya" Safri begitu gusar dengan semuanya.


Saat Ia menghisap ubun-ubun Bernard saat hendak sakaratul maut, saat itulah ilmu pelet itu berpindah padanya.


"mengapa harus seperti ini Bernard.? Mengapa takdir hidup ini begitu sulit untukku." Safri kian mengeluhkan nasibnya.


Safri berpamitan kepada Ambar istrinya. Ia ingin ke Pekan Baru untuk mencari mantan istrinya Bernard. Saat sebelum kematiannya, Bernard telah mengirimkan hasil penjualan rumah dan mobilnya kepada Ambar. Lalu mereka gunakan untuk usaha dan sisanya lagi, Safri meminta untuk membeli mobil secound agar mempermudahkan perjalanannya nati disana.


-------♡♡♡♡----------


Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Safri sampai di pekan baru. Ia mencari rumah kost, untuk sebagai tempat tinggalnya selama pencariannya mencari wina.


Setelah mendapatkan rumah kost yang ramah dikantong, Safri mengemasi barang bawaannya. Ia juga harus menghemat pengeluarannya.


Safri membutuhkan, bahan makanan untuk persediaannya selama Ia berada di Pekanbaru. Ia keluar ke minimarket untuk membeli kebutuhannya. Saat sedang berbelanja, tanpa sengaja, Ia menjatuhkan mie instan dari rak nya, dan saat Ia akan memungutnya, seorang gadis kecil membantunya.


"ini kakek, hati-hati ya.." ucapnya ramah, sembari tersenyum manis.


"makasih ya sayang.." ucap Safri, sembari membelai rambut gadis kecil itu.


"ok..kakek.." jawab si gadis kecil, sembari menautakan jemari telunjuknya dan ibu jarinya membentuk lingkaran.👌


Sesaat dari balik rak sebelahnya seirang wanita muda terdengar sedang memanggil si gadis. "Adilla.. Ayo pulang, mama sudah selesai belanjanya.." ajak ibu dari anak tersebut.


"iya Ma.. Adillah kesana Ne.." jawab sigadis berlari kecil menghampiri ibunya.


------♡♡♡♡♡♡------


Wina merasakan kepalanya sedikit pusing, rasa mual melandanya saat dipagi hari. Isi perutnya seolah terkuras habis.


"huuuuek...huuueek.."


Suara Wina saat menahan rasa mual, lalu dikuti cairan kuning yang terasa pahit saat tersentuh tenggorakan. Wina merasakan jika perutnya terasa seperti diaduk-aduk.


wina memandang cermin yang ada dikamar mandi. Ia melihat wajahnya tampak pucat seperti kapas.


"apakah aku sedang mengandung? Karena aku sempat melakukannya bersama pria sialan itu.! Mungkin saja benihnya tumbuh? Dasar sialan, badan saja yang kecil, tetapi sekali tancap langsung jadi..!" Wina menggerutu dengan kesal.

__ADS_1


Aku tidak ingin jika sampai janin ini tumbuh dan berkembang dari benih pria sepertinya." Wina menggerutui Bernard.


Wina mengambil tas sandangnya, lalu menuju garasi mobil dan mengendarainya dengan terburu-buru. Ia ingin membeli jamu untuk untuk menggugurkan janinnya, dan ini kedua kalinya saat Ia pernah untuk menggugurkan janin pertamanya yang lahir dengan bibir sumbing. Yaitu Sofia.


Wina singgah di apotik, Ia masuk dengan terburu-buru. Lalu memesan obat dan jamu pelancar tamu bulanan dan juga sebuah tespack. Setelah selesai membeli, Ia berbalik dan dan ingin segera pergi, karena Ia ingin segera meminumnya.


saat akan berbalik, Ia menabrak seseorang dengan tanpa sengaja, sehingga membuat jamunya terlempar kelantai.


seorang Pria dewasa berusia 54 tajun membantu memungut belanjaannya yang terlempar, lalu memberikannya kepada Wina. Saat pria itu menatap Wina, Ia sangat terkejut. " ka..mu.. Wina kan?" tanyanya ragu. Karena Ia merasa lupa-lupa ingat karena baru sekali bertemu.


"i..iya.. Bapak siapa ya..? Kenapa mengenal say.? " tanya Wina bingung, karena Ia memang lipa dengan pemilik wajah itu.


"apakah kita dapat berbicara sebentar?" tanya pria yang ternyata adalah Safri.


"ada keperluan apa bapak ingin berbicara kepada saya..?" tanya Wina penasaran.


"nanti saya jelaskan. Mungkin kamu tidak mengingat saya, tapi saya mengingat kamu." ucapnya menjelaskan.


Karena diliputi rasa penasaran. Akhirnya Wina ikut saja kemana Safri membawanya.


Mereka berhenti disebuah warung sarapan pagi. Lalu mereka memesan pesanannya. Wina menatap pria itu, seperti tidak asing, namun tetap tidak mampu untuk mengingatnya.


"bapak ini siapa? Mengapa mengenal saya?" tanya Wina penasaran, dengan nada menyelidik.


"saya Safri, ayahnya almarhum Bernard." Safri memperkenalkan dirinya.


Wina terperangah. "apa.? Almarhum.? Apakah Ia sudah meninggal dunia..?" tanya wina dengan rasa tak percaya apa yang sudah didengarnya.


"iya.. Bernard sudah meninggal dunia. Ada sebuah masalah yang menyebabkannya dehidrasi." ungkap Safri dengan mimik wajah sedih.


"ooh.. Saya turut berduka cita." ucap Wina dengan hati berdusta. Meski sejatinya Ia merasa senang jika Bernard telah tiada, karena Ia masih tak percaya bisa terjerat cinta dengan pria tersebut.


"kedatangan saya kemari Ialah untuk menyampaikan amanah Almarhum Bernard." Safri berkata lirih.


"amanah..? Amanah apa maksud..? " tanya Wina Penasaran.


"saya diminta untuk menemui kamu, dan jika kamu saat ini sedang mengandung, maka rawatlah kandunganmu dengan baik, dan lahirkanlahbIa dengan selamat. Saya akan memberikan jaminan uang kepada kamu." ungkap Safri dengan pengharapan.


Mendengar kata Uang, tentu saja membuat Wina sangat sumringah. Ia sangat ingin sekali dengan uang yang dijanjikan oleh Safri. " baiklah..aku setuju.." jawab Wina tak sabar dengan perjanjian mereka.


"baguslah.. Tetapi saya ingin buktinya terlebih dahulu, apakah kamu benar-benar mengandung." ucap Safri ingin memastikannya.


"baiklah, saya kekamar kecil dulu, kebetulan saya sedang membeli alat ini tadi di apotik." Wina memperlihatkan alat tes kehamilan kepada Safri.


Safri mengangguk menyetujuinya.


Wina pergi kekamar kecil, Ia lalu dengan air seninya Ia melakukan test kehamilan dengan alat tespack tersebut.


Ia terperangah, benar saja, Ia positif hamil. Ia sangat kegirangan. Berbeda saat menghamilkan sofia, ia sangat tidak menhinginkannya.

__ADS_1


Namun setelah bertemu dengan Safri, Ia menuruti semua perintah Safri.


Wina menghampiri Safri, lalu memperlihatkan hasil test tersebut. "hasilnya positif, lalu mana uang yang kamu janjikan padaku.?" tanya Wina tak sabar.


"Safri mengeluarkan uang yang sudah disiapkannya. "ini 5 juta sebagai DP-nya dahulu, setelah bayi ini lahir akan saya lunasi. Setiap bulannya akan saya kirim untuk menjaga janin ini agar tumbuh dengan baik." Safri menjelaskan kepada dengan detail kepada Wina.


wina menganggukkan kepalanya, lalu dengan cepat meraih uang tersebut dan memasukkannya kedalam tas sandangnya.


"saya minta nomor WA kamu, agar saya terus dapat memantau kamu." ucap Safri.


Lalu Wina menyebutkan nomor WA beserta nomor rekening-nya dan memastikan jika setiap bulannya Ia mendapatkan kiriman jaminan untuk janinnya.


"tetapi setelah bayi itu lahir, maka saya yang akan merawatnya." tegas Safri.


Hal itu sangat disetujui oleh Wina, karena Ia juga tidak ingin merawat anak itu , karena merepotkan baginya.


-------♡♡♡♡♡------


Safri mempercepat waktu kepulangannya di pekanbaru, ternyata Wina sangatlah mudah, jauh dari yang dikirkannya. Kini Ia harus mempersiapkan segala sesuatunya, untuk nanti menyambut kehadiran sang cucu.


Safri berencana akan menambah satu kamar dirumahnya, untuk nantinya tempat tidur Si calon cucu.


Hati Safri seakan terbang melayang, karena Ia telah menemukan pewaris sekaligus titisan ilmu pelet milik Bernard yang harus diserahkan kepada pemiliknya jika waktunya tiba nanti.


Karena bagi seorang Safri, memiliki ilmu seperti itu sangatlah berbahaya, karena akan menguji imannya. Dimana akan godaan wanita itu semakin banyak. Ia takut tidak mampu untuk mengontrolnya.


-------♡♡♡♡------


"Bagaimana bang? Apakah ada hasilnya? Dan mengapa abang pulang lebih awal dari perkiraan?" cecar Ambar tak sabar.


"tenang saja Dik, abang menemukannya dengan cepat. Dan ini akan membuat kenutan yang membahagiakan. Dimana wanita itu benar-benar mengandung anak Bernard." ucap Safri berbinar.


-syukurlah bang, setidaknya kau sudah menemukan garis keturunannmu. Adik gak rela saja jika abang menganut ilmu tersebut, karena dapat mengakibatkan hasrat abang berlebih, lalu mencari wanita lain, dan meninggalkanku." ucap Ambar dengan nada khawatir.


Safri terkekeh mendengarnya. Namun apa uang diucapkan oleh Ambar benar adanya. Godaan itu sangat besar. hampir saja Ia tergoda saat bertemu dengan Wina, dimana Wina yang selalu berpenampilan minim itu tentu membuat siapa saja berhasrat.


Namun akalnya masih berfungsi, karena tidak ada namanya mantan menantu dan mantan mertua dalam hukum Islam. Islam mengatur, jika Menantu atau mertua tidak dapat menikah meskipun anak menantunya sudah menjadi janda atau duda. Mereka tetaplah dalam hubungan yang sama.


Jika ada kata mantan suami atau Istri, namun sebaliknya, tidak ada kata mantan mertua.


Saat itu hasrat Safri sempat bergelora, menyaksikan kemolekan tubuh menantunya itu, namun Ia berusaha untuk menahannya. Hal ini sangat ditakutkan oleh Safri, jika harus berlama-lama menjadi titipan ilmu pelet tersebut.


Ilmu itu bukan saja mampu digunakan untuk lawan jenis saja, namun juga untuk digunakan menundukkan lawan bicaranya.


Safri kini harus berjuang menjaga pandangannya, agar tidak terlalu melihat hal-hal yang dapat membangkitkan gelorah asmaranya. Meskipun menyiksanya, Ia harus menunggu 18ntahun lagi dari sekarang, untuk mewariskannya kepada keturunan Bernard satu-satunya yang masih dalam kandungan.


"bang.. Kira-kira sanggupnya abang menjadi wadah sementra untuk titipan ilmu itu?" tanya Ambar penasaran.


"mudah-mudahan sanggup Dik, bantu doa saja, agar abang sanggup menjalaninya." Safri menghela nafasnya dengan berat.

__ADS_1


~maaf ya readers, cerita ini sedikit diperpanjang, hanya untuk mencapai 300 rb kata, author butuh 180 ribu kata lagi. Setelah target kontrak selesai, maka novel ini akan end. Semoga readers tidak bosan dan tetap setia mengikuti perjalanan menulis author..❤❤❤🙏🙏~


__ADS_2