Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Rasa


__ADS_3

Adillah kembali memasuki ruang kerjanya. Bekerja sebagai asisten dosen, mengharuskan Adillah banyak bertemu dengan Sang dosen tersebut.


Tok..tok..tok..


Adillah mengetuk pintu masuk ruangan Ridwan. Seirang dosen berusia 40 tahun, yang hingga kini tetap menjomblo, sepertinya pria itu pernah mengalami masa sulit.


"Masuk.." ucap Pria tampan yang kini terlihat sibuk dengan laptopnya.


Adillah memasuki ruangan itu dengan ragu.


"duduk..!" ucap Ridwan dengan dingin. Peristiwa duapukuh tahun yang lalu mengubahnya menjadi pria dingin, dan tak pernah membuka hati untuk cinta yang lain.


"ada perlu apa..?" tanya Ridwan tanpa menoleh sedikitpun.


"emmm... Besok saya bisa cuti satu haru pak, soalnya mama saya mau datang berkunjung." ucap Adillah ragu.


Ridwan menghentikan sejenak pekerjaannya, lalu menatap tajam pada gadis didepannya. "apakah Mamamu menghalangimu bekerja?" tanya Ridwan dengan ketus.


Adillah meeasa tergagap mendengar ucapan Ridwan. "jutek banget Ni dosen.. Papa dan Mama saja tidak pernah ngomong dengan kasar begitu." gerutu Adillah dalam hatinya, dengan sedikit kesal.


Adkllah mencoba setenang mungkin."bukan begitu maksudnya pak, mama saya datang berkunjung hanya satu hari saja, jadi saya ingin menghabiskan waktu bersama mama dengan kunjungannya yang singkat itu." jawab Adillah dengan nada gemetar.


"kalau begitu kamu jangan bekerja disini, karena kamu telah mengorbankan kepentingan mahasiswa dengan kepentingan pribadimu.." ucap Ridwan, telak dihati Adillah, membuat gadis itu menciut hatinya.


Menjadi dosen adalah impiannya. dan saat ini Ia sedang menapaki jalan masuk untuk meraih impiannya.


"ta..tapi.. Pak.." Adillah mencoba memprotes apa yang diucapkan oleh Ridwan.


"tidak ada tapi-tapian, semua terserah padamu. jika kamu sudah tidak ingin menjadi asisten dosen saya lagi, maka saya akan mencari penggantimu secepatnya." ucap Ridwan dengan sangat dingin.


Adillah membelalakkan matanya. Meskipun jika dipecat Ia tidak menjadi kehilangan pekerjaan, karena Ia juga bekerja diperusahaan papanya dengan gaji fantastis, namun Ia sangat menyukai pekerjaan ini, meski dengan gaji yang tidak begitu besar.


"iya..iya.. Saya tidak akan libur besok.." Jawab Adillah dengan wajah pucat.


"Ya sudah.. Kalau begitu, kamu masuk kekelas sekarang..!" perintah Ridwan tanpa ekspresi apapun.


Adillah bangkit dari duduknya "Iya pak.. Saya permisi dulu.." ucap Adillah berpamitan.


"ya.." jawab Ridwan datar.


Adillah beranjak pergi, sesampainya didepan pintu keluar ruangan kerja milik Ridwan, Adillah mempercepat langkahnya, seolah ingin memghilang dari hadapan Ridwan si Dosen dingin.


Setelah kepergian Adillah, Ridwan terkekeh sendiri saat melihat tingkah gadis itu, lalu menggelengkan kepalanya.


Satu tawa lepas yang tak pernah Ia keluarkan sejak 20 puluh tahun yang lalu. Tawa yang disimpannya rapi dalam relung hatinya yang terperosok jatuh dalam kisah kasih tak sampai. Kisah pengejarannya terhadap seorang gadia manis yang membuatnya begitu mendamba.


Ia mengambil phonselnya, memutar sebuah lagu dengan lirik yang Ia sukai pada masa itu, sebuah lirik lagu yang kembali membangkitkan kisah kasih tak sampainya, yang masih tersimpan rapi didalam hatinya.


Ridwan memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya.


Ia menghayati setiap lirik yang disenandungkan..


Saat pertama


Kudekati dirimu


Menuruti semua inginmu


Dan tiba waktumu


     


'tuk beri jawaban

__ADS_1


Ternyata kau anggap aku


Hanya teman


Bawalah aku ke dalam mimpimu


Aku tak 'kan kecewakan kamu


Walaupun itu semua


Hanya sebatas mimpi


Jadikan kekasih hatimu


Aku menginginkan kamu


Sungguh-sungguh merasa


Ku jatuh cinta


 


Telah berbagai cara


tuk dapatkan hatimu


Tetap saja kau anggap aku


Hanya teman biasa


Bawalah aku ke dalam hidupmu


Aku tak 'kan kecewakan kamu


Walaupun itu semua


Hanya sebatas mimpi


Jadikan aku kekasih hatimu


Aku menginginkan kamu


Sungguh-sungguh merasa


Ku jatuh cinta pada dirimu


Bawalah aku ke dalam mimpim


Aku tak 'kan kecewakan kamu


Walaupun itu semua


Hanya sebatas mimpi


Jadikan aku kekasih hatimu


Aku menginginkan kamu


Sungguh-sungguh merasa


Ku jatuh cinta pada dirimu


Ridwan terkenang akan wanita yang pernah mengisi relung hatinya. "bagaiamana kondisi saat ini? Pasti kamu sangat berbahagia dengan kehidupan barumu. Sedangkan aku tetap dalam kesendirkanku. Belum ada satupun wanita yang mampu menyentuh hatiku.." Ridwan berguman lirih dalam hatinya.

__ADS_1


Ia tersadar seaaat, teringat akan gadis manis yang kini menjadi asisten dosennya. Kini gadis itu tanpa sadar telah membuatnya tertawa lepas, tawa yang tak pernah Ia lepaskan selama ini.


Ia membayangkan betapa lucu dan menggemasknanya wajah gadis itu saat Ia mengancamnya tadi.


Namun seketika senyum manis diwajahnya menghilang. Ia tidak ingin terjerat kembali dalam permaianan perasaan, Ia tidak ingin akan mengalami hal serupa. Apalagi jika sampai Ia menaruh hati dan lalu tersungkur lagi. Ia sangat takut untuk memulai hal tersebut.


Ridwan beranjak dari tempat duduk, menutup laptopnya, lalu berjalan keluar untuk menuju kelas yang lain dan akan memberikan mata kuliah psikologi umum.


Saat ingin menuju kelasnya, Ia tak sengaja melintasi kelas tempat Adilkah memberikan materi kuliah kepada para mahasiswa.


Ia memandang sekilas kedalm ruang kelas dan menatap pada gadis itu. Tanpa diduga Adillah juga menatapnya, dengan pandangan yang terpana.


deeeeeeegh..


Deguban jantung keduanya seperti bertemu, menatap pada kebimbangan dua insan beda generasi dan terpaut usia yang sangat jauh.


Ridwan mempercepat langkahnya agar menghindari tatapan gadis manis tersebut.


Ia juga tidak mengerti dengan perasaannya. Degub jantungnya kian berdegub kencang, bagaikan genderang mau perang.


Hingga tanpa sadar, Ridwan melewati kelas yang akan dimasukinya. Setelah sampai di dekat kantin, Ridwan berhenti, lalu menatap bingung, karea telah larut dalam lamunannya, sehingga tidak menyadari, jika kelasnya telah terlewat.


Ia menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum geli, dalam hatinya Ia merutuki dirinya sendiri, karena sampai kehilangan konsentrasi.


"kenapa aku bisa sampai melewati kelasku..?" Ridwan berguman lirih dalam hatinya. Lalu berbalik kembali menuju ruang kelas tempat dia akan memberikan materi mata kuliah.


"selamat pagi menjelang siang..." ucap Ridwan dengan ekspresi datar.


"siaaaaang pak..." jawab para mahasiswa serentak.


Ridwan menuju meja Dosen, lalu memulai pemeberian materi mata kuliah tentang pengertian 'Motif' dan 'Motivasi' .


Ridwan menjelaskan dengan sangat gamblang, lalu mengajak mahasiswa untuk mencari tau apa saja peristiwa yang dapat menjadi gambaran dari kedua kata tersebut.


"siapa diantara kalian yang dapat menjelaskan arti dan juga gambaran tentang materi kita hari ini..?" Ridwan bertanya kepada seluruh mahasiswa dan mengarahkan pandangannya dengan cara menyapu.


Seorang mahasisiswi mengangkat tangannya "saya tau pak Dosen yang tampan." ucapnya dengan berani dan lantang. Sehingga menimbulkan kegaduhan dan sedikit sorakan dari mahasiswa lainnya.


"huuuuuuuuu..."


Seluruh mahasiswa bersorak dengan serentak.


Ridwan mengangkat tangannya setinggi pundak. "jangan berisik, berikan Ia kesempatan menjelaskan apa yang akan disampaikannya." ucap Ridwan dengan tenang.


Seketika suasana kelas yang riuh menjadi tenang.


"Ayo, silahkan kamu jelaskan, apa yang akan kamu sampaikan." ucap Ridwan mempersilahkan.


"emm.. Begini ya Pak Dosen yang ganteng. Motif itu adalah keinginan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, sedangkan motivasi itu adalah pendorong untuk melakukan pencapaian tujuan tersebut." jawab mahasiswi tersebut.


Ridwan menganggukkan kepalanya.


"Bagus.. Bisa kamu jelaskan seperti apa gambarannya?" ucap Ridwan kembali bertanya.


"Bisa pak Dosen yang ganteng.. Gambarannya itu seperti semisalnya saya rajin mengikuti kelas bapak, tidak terlambat, agar dapat nilai IPK yang baik, dan tentunya motivasinya juga biar dapat selalu melihat bapak yang ganteng dan membuat saya berdebar-debar.." ucap Mahasiwi itu tanpa gerogi sedikitpun.


"huuuuuuu..." sorakan suara mahasiswa secara serempak.


Ridwan mencoba menenangkan mahasisiwnya.


setelah suasan hening, Ridwan kemudia membenahi kacamatanya.


"Ya.. Seperti itulah kira-kira gambarannya.." ucap Rudwan, yang membuat mahasiswa saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2