Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Curhat Pertama Rena


__ADS_3

Pukul 19.00 wib, Rena baru sampai di rumah Paman Rasyid. Ia segera membersihkan diri. mandi, lalu menunaikan shalat maghrib, meski sedikit terlambat.


setelah menunaikan kewajiban shalatnya, Rena keluar kamarnya. suasana begitu sepi, akhir-akhir ini, Paman Rasyid dan tante Marti lebih intens ke Malaysia. sepertinya ada sesuatu yang sangat penting. sehingga Paman dan tante Marti lebih sering check up.


saat di meja makan, Rena berpapasan dengan tante Aning, hari ini sepertinya moodnya lagi baik, Ia tidak bersikap jutek hari ini pada Rena. "malam tante" sapa Rena ramah kepada tante Aning.


"ya.." jawab tante Aning singkat, tanpa ada omelan lainnya. tante Aning berlalu dari Rena, menuju kamarnya yang terletak dibagian belakang. Rena membuka pintu lemari kitchen set. Ia melihat ada ikan patin di asam pedas, tumis kangkung dan sambal teri. sepertinya masakan tadi siang, yang sudah dihangatkan.


karena saat ini hanya Rena, tante Aning dan suaminya. maka tanye Aning tidak begitu terlalu sibuk memasak. Rena mengambil satu bungkus mie Instan yang tersedia di lemari kitchen set.


Malam ini Rena ingin makan mie instan saja, Ia mengambil bahan-bahan lainnya, seperti telur, cabai rawit, dan tomat yang ada dilemari es. Rena mulai memasak. aroma harum mie instan menggugah seleranya. setelah semuanya selesai, Rena membawa semangkuk mie instan kedalam kamarnya. Ia ingin makan didalam dikamar. tak lupa Ia juga menyeduh minuman energi serbuk coklat yang selalu tersedia dikamarnya. paman Rasyid selalu membelikannya saat pulang dari Malaysia.


sesampai didalam kamarnya, Rena tersenyum sumringah, hatinya yang sedang melambung, karena baru saja bertemu Bernard. selain itu, Bernard juga telah kembali menyambumg kisah cinta mereka yang telah mengambang selama dua bulan lamanya.


"I love U my honey, everyday, always and forever.. emmuach.." Rena mengirim pesan kepada Bernard melalui handphonenya. Ia tak mampu melukiskan perasaannya saat ini. meski Bernard belum juga membalas pesannya, namun Ia merasa pertemuannya tadi telah cukup melegakan hatinya.


semangkuk mie instan habis dilahabnya. Ia teringat akan Amy, Ia ingin menanyakan prihal masalah tugas kuliah hari ini. Rena mencari nomor kontak Amy. setelah menemukannya, Rena menghubunginya.


[kriiiiing.....] suara panggilan telefon tersambung.


"hallo, ada apa Ren?" suara Amy diseberang telefon dengan nada seperti menguyah sesuatu.


"lagi makan ya Mi?" ucap Rena, karena Ia yakin kalau Amy sedang menguyah makanan.


"he..eh.. tau saja dirimu.." jawab Amy yang tentu saja mulutnya masih tersumpal dengan makanan.


Rena terkekeh sendiri, karena suara Amy terdengar sangat lucu, saat sedang menguyah sembari berbicara.


"cuma mau tanya, ada tugas kuliah gak hari ini?" ucap Rena.


"ada, ntar aku kirim via inbok di Facebook ya..." ucap Amy. masa itu, hanya media sosial facebook yang masih dikenal, itupun belum se booming sekarang.


"ok..cantik, lanjutin makanmu yang tertunda." ucap Rena seraya terkekeh.


terdengar juga suara kekehan Amy diseberang telefon, lalu mengakhiri panggilan telefon.


****

__ADS_1


Rena bertemu sedang berkutat dengan laptopnya. saat ini sedang waktu santai. perkuliahan sudah usai. Amy yang baru saja selesai dari kamar mandi, menarim bangku kosong dan duduk didekat Rena.


Rena yang menyadarinya hanya diam membisu, Ia sibuk membuka media sosial, mencari tau keberadaan Bernard. sejak tadi malam Bernard tidak lagi menghubunginya. hatinya mulai gekisah kembali.


"Ren.. kamu lagi liat apaan sih? serius amatbdari tadi.." ucap Amy penasaran.


Rena menghentikan sejenak kegiatannya. Ia menatap sendu sahabatnya. sekian lama mereka berteman, namun tak pernah sekalipun Rena memberi tahu permasalahannya. namun kali ini Ia ingin terbuka dengan sahabatnya itu. tak ada salahnya jika berbagi masalah kepada Amy.


"bisakah kamu berbagi masalah denganku Ren?" ucap Amy tulus, Ia menggegemgam jemari Rena. Amy merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya itu.


Rena menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya. mengatur ritme detak jantungnya.


"Mi, apakah kamu pernah jatuh cinta?" ucap Rena. karena selama ini Ia juga tak pernah melihat Amy bersama seorang pria.


"tentu, pernah. dan sekarang aku sedang merasakannya." ucap Amy lembut. kini Amy sadar, bahwa sahabatnya ini sedang berada dalam masalah percintaan. pantas saja sahabatnya ini selalu murung dan gelisah.


"oh..ya?" ucap Rena kaget, bercampur bahagia. ternyata sahabatnya itu bukan seorang jomblo yang difikirkannya selama ini.


Amy mengangguk sembari tersenyum, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. "siapa pria yang sudah membuat Rena-ku jatuh hati?" ucap Amy penasaran.


Rena menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi , matanya nanar menerawang jauh. "aku mencintai seseorang, yang ku kenal melalui media sosial." ucap Rena..


"Ia pria yang biasa saja, baik dari segi fisik maupun dari segi pekerjaan. bahkan pendidikan." ucap Rena, memberi jeda pada kalimatnya.


"kalian sudah saling bertemu?" dan Ia orang mana?" ucap Amy antusias.


"Dia orang Tebing Tinggi. kami sudah beberapa kali bertemu." ucap Rena.


"tahukah kau, selama ini aku bolos kuliah hanya untuk menemuinya." ucap Rena, dengan nada lirih.


"aku tidak tau, setiap kali Ia mengabaikanku, aku seperti gila. mendapat pesan atau telefon darinya saja, aku sudah merasa sangat bahagia." ucap Rena dengan mata kian sendu.


Amy masih mendengarkan curhatan Rena dengan seksama.


"Namun, akhir-akhir ini Ia mengabaikanku. dan semalam saat aku bolos, aku mendatangi rumahnya. Ia memutuskan hubungan kami, aku tidak bisa terima itu." ucap Rena dengan air mata yang mulai mengalir. Ia mencoba menahannya, agar bulir bening itu tidak sampai membasahi pipinya.


Amy mulai berfikir, mengapa sahabatnya ini sampai senekad itu. itu bukan sifat Rena.

__ADS_1


"bahkan, aku sering mengiriminya uang, dan barang-barang. aku hanya ingin menyenangkannya." ucap Rena dengan lirih.


Amy menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan tak percaya jika sahabatnya itu sampai berbuat seloyal itu pada seorang pria.


"apa boleh, aku tahu wajah pria yang membuatmu jatuh cinta sedalam itu?" ucap Amy hati-hati.


Rena mengangguk, Ia tak ingin lagi merahasiakan hubungannya dengan Bernard. Rena membuka aplikasi facebook, mencari pesan masuk setahun yang lalu. saat itu hubungannya dengan Rena masih berjalan mulus, dan Bernard mengirimikan fotonya.


Amy terpengarah, Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. ada dua foto yang dikirim Bernard kepada Rena, foto full body dan foto setengah body. "beneran ini cowok yang sudah membuat tergila-gila?" ucap Amy masih tak percaya.


Rena menganggukkan kepalanya. Matanya seperti menyiratkan kepedihan dan kegundahan.


"Ya ampuun... Ren.. no..no.. ini dah gak bener Ren." ucap Amy yang masih bingung, Ia tidak mempercayai semua ini.


"sepertinya, kamu sudah kena pelet sama ne bocah deh Ren." ucap Amy menegaskan.


"dia duadah berumur 25 tahun Mi, bukan bocah.." ucap Rena menegaskan. semua pasti tak percaya jika Bernard sudah berumur 25 tahun.


"what..? gila... ini beneran gila Ren. sebaiknya kamu berobat deh ke orang pintar" ucap Amy menyarankan.


"mana mungkin di zaman modern seperti ini ada ilmu seperti itu mi?" ucap Rena tak percaya. Ia yakin cintanya kepada Bernard beneran normal, bukan karena ilmu pelet.


"dengar ya Ren, sahabatku yang paling manis sejagad raya. meskipun ini zaman modern, namun ilmu seperti itu tak lekang oleh waktu. masih banyak orang yang mempelajarinya. makanya saat ini, banyak kasus hipnotis yang memoroti korbannya." ucap Ami mengingatkan.


"tapi aku sangat mencintainya Mi. sehari saja tanpa kabar darinya, aku seperti gila." ucap Rena yang kian pilu.


"nah, dari itu kamu ini, sudah tidak normal lagi. cintamu padanya itu karena sihir Ren." ucap Amy.


Rena hanya diam, matanya menatap kosong dinding kelas. Sepertinya apa yang dikatakan Amy tak mengena sedikitpun dihatinya.


"Ren, cinta sejati seorang pria itu dari tindakannya, bukan ucapannya. jika dia tulus mencintaimu, dia yang akan menemuimu, bukannya kamu." ucap Amy menasehati sahabatnya.


Rena tak bergeming, fikirannya saat ini hanya Bernard, dan Bernard. Ia masih berharap pria itu menghubunginya, agar rasa rindunya terobati.


"sadarlah Ren, aku akan membawamu berobat ke sesorang, Ia bisa menangani hal-hal mistis yang dialami oleh pasiennya." ucap Amy.


Rena menatap Amy, Ia menggelengkan kepalanya. "tidak mi, aku mencintainya. aku hanya menginginkannya." ucap Rena lirih. menolak tawaran yang diberikan Amy.

__ADS_1


Amy hanya memandang Rena dengan tertegun. Ia harus mencari cara dengan diam-diam, tanpa sepengetahuan Rena. Ia bertekad untuk menyelamatkan sahabatnya.


__ADS_2