
setelah menempuh 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga. Nisar menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah sederhana. "ini rumahnya Han?" ucap Nisar kepada Hanan. Hanan mengangguk "iya bener, ini rumahnya." sembari membuka pintu mobil dan beranjak turun, diikuti oleh Nisar.
"bang, bungkusan yang dalam plastik kresek jangan lupa dibawa sekalian ya?"ucap Hanan mengingatkan.
"oh, iya. hampir saja lupa." jawab Nisar, sembari membuka kembali pintu mobil dan mengambil bungkusan plastik kresek berwarna hitam yang berada di nakas mobil bagian depan.
Hanan yang berbadan kekar itu meraih tubuh Rena yang masih dalam pengaruh obat tidur. lalu membopong tubuh ceking adik perempuannya. Ocha beranjak turun dari jok mobil. lalu mengikuti Hanan dan Nisar yang berjalan menuju rumah tersebut.
"assalammualaikum.."ucap Hanan dengan nada bergemuruhIa tak sabar ingin segera menyelamatkan adiknya.
terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. lalu membuka pintu "waalaikumsalam.." tampak tubuh tinggi seorang pria yang selalu tersenyum ramah. "mari silahkan masuk.." ucapnya, sembari memberi ruang untuk tamunya.
mereka memasuki ruangan rumah pak ucok, rumah itu sederhana. tidak ada banyak barang didalam rumah itu.
Hanan meletakkan tubuh Rena dilantai rumah yang beralaskan tikar. mereka semua duduk dilantai, karena tidak adanya kursi tamu.
"waah..terlalu banyak sekali kalian mencampurkan obat tidur padanya" ucap Pak ucok sembari tersenyum.
"dari mana bapak tau kami memberinya obat tidur?" ucap Ocha penasaran. karena bagi wanita modern yang hidup dalam gemerlap kota metropolitan, tentu akan merasa aneh baginya.
pak ucok hanya terkekeh mendengar pertanyaan Ocha yang sangat penasaran. "bawa kemari ramuannya, biar saya olah." ucap pak Ucok. lalu Nisar menyerahkan bungkusan itu. "bu...tolong ambilkan air dalam ember plastik 2 ember ya.." ucap Pak ucok kepada istrinya yang sedari tadi berada didapur.
bu Ratih, istri pak ucok datang kedepan, memenuhi panggilan suaminya, sembari membawa 2 ember plastik berukuran sedang yang berisikan air bersih.
"ini airnya pak.." ucap bu Ratih, lalu menyerahkan ember yang dibawanya kepada suaminya. Ratih melirik kepada Rena yang sedang berbaring tidur pulas.
"kasihan sekali gadis ini? sunggu keji perbuatan orang yang sudah membuatjya menderita" ucap Bu Ratih dalam hatinya. Ia beranjak untuk kedapur lagi, menyiapkan hidangan sederhana untuk para tamunya.
pak ucok mengambil semua bahan yang sudah dibawa oleh Hananbdan tim-nya. semuar persyaratan sudah lengkap. tinggal melakukan prosesi ritualnya saja.
pak ucok menghitung jumlah daun bidara yang dimintanya, setelah cukup Ia meremas daun bidara tersebut hingga hancur, merafalkan doa lalu memejamkan matanya. setelah itu Ia mencampurkan daun bidara yang sudah diremas hancur pada ember yang satu. mengaduknya hingga tercampur rata.
setelah itu Ia mengambil ramuan kembang Macan Kerah yang terbungkus dalam daun pisang, lengkap dengan minyak duyungnya.
pak ucok mencampur seluruh ramuan itu, dan menuangkan seluruh isi minyak duyung kedalam ember yang satunya, beserta kembang macan kerah. setelah selesai, Ia memejamkan mata merafalkan doa lalu membuka matanya.
pak ucok membuat satu ramuan terakhir, Ia mengambil gelas kosong yang berada didekatnya dan menuangkan air mineral yang juga dibawa sebagai syaratnya. pak ucok mengambil satu buah jeruk nipis, memotongnya menjadi 4 bagian, dan memeras airnya, lalu mencampur dalam gelas yang berisi setengah gelas air mineral. " bawa adikmu kekamar mandi, disana sudah ada kursi untuk duduknya. biarkan istri saya yang memandikannya." ucap Pak ucok pada Hanan.
Hanan dengan segera membopong tubuh Rena, membawa kekamar mandi sesuai dengan perintah pak ucok.
__ADS_1
Nisar membantu membawa dua ember air yang berisi ramuan untuk memandikan Rena.
didapur, sudah ada bu Ratih yang menunggu mereka. Hanan meletakkan tubuh ceking adiknyanpada kursi plastik yang biasa digunakan bersantai.
Nisar memberikan 2 ember air berisi ramuan, dan Hanan meletakkannya diatas meja batu dekat kursi Rena yang tidur terlelap. setelah selesai, Hanan keluar dari kamar mandi dan diikuti oleh Nisar untuk kembali keruang depan. "mas, tolong bawakan sekalian nampan yang berisi makanan dan minuman itu ya, saya mau memandikan gadis ini" ucap bu Ratih kepada Hanan. sembari ingin masuk kekamar mandi.
"wah, jadi ngerepotin saja kami bu.."ucap Hanan sungkan" lalu membawa nampan tersebut.
"ndak ngerepotin koq" ucap bu Ratih sembari tersenyum tulus. lalu masuk kekamar mandi dan mengunci pintunya.
***
Pak Ucok menerawang jauh, Ia menghela nafas beratnya. "ketiga ramuan tesebut, Insya Allah mampu melunturkan pengaruh sihir tersebut. air perasan limau itu berfungsi agar wajah Rena tak mampu untuk ditembusnya. Ia tak dapat membayangkan wajah Rena lagi, sehingga pengaruh itu akan mengerucut." ucap pak ucok menjelaskan.
ketiga orang tersebut mangut-mangut. "berarti adik saya akan sembuh total kan pak?" ucap Hanan dengan penuh harap.
pak Ucok menggelengkan kepalanya, membuat ketiga orang tersebut saling pandang. "hanya 85% saja. sisanya, karena akan ada seseorang yang melunturkan pengaruh sihir tersebut hingga total." ucap pak Ucok sembari menarik nafas beratnya.
"siapa orang itu pak?" ucap Ocha yang penasaran. Ia kagum akan kemampuan supernatural yang dimiliki pak Ucok. karena seumur hidupnya, Ia tak pernah berurusan dengan orang yang memiliki ilmu kanuragan. karena Ia anggap itu hanya isapan jempol semata.
pak Ucok memandangi ketiga orang tamunya satu persatu. "dalam waktu dekat ini, akan ada 3 orang pria yang menemui Rena. mereka membawa cinta yang tulus, namun salah satu dari mereka terdapat yang memiliki jiwa yang bersih, hati yang murni. orang itu mewarisi darah kemurnian yang dijaga oleh beberapa pengawal ghaib. namun Ia tak menyadari jika ada yang mengawalny." pak Ucok menjeda ucapannya.
ketiga orang itu mendengarkan dengan seksama penjelasan pak ucok. mereka penasaran dengan siapa kelak sosok orang yang disebutkan oleh pak ucok.
"orang tersebut akan membawa perubahan dalam hidup Rena dimasa depan. kebahagiaan sedang menanti didepan matannya." ucapan pak Ucok memberi angin segar bagi ketiganya.
"seperti apa ciri-ciri orang tersebut pak?" ucap Nisar yang ternyata juga penasaran.
Pak Ucok memejamkan matanya, menerawang jauh kedalam penglihatan bathinnya. lalu membuka matanya kembali. "Ia seorang pemuda yang tampan, berperawakan kekar. Ia seorang pekerja keras, berbudi baik, serta akan bertanggungjawab pada kehidupan Rena kelak." ucap Pak Ucok dengan gamblang.
"jika Ia datang melamar dan ingin menikahi Rena, maka jangan pernah menolaknya. karena jika sampai kalian menolaknya, maka kesembuhan Rena yang menjadi taruhannya." ucap Pak Ucok mengingatkan.
Hanan, Nisar dan Ocah manggut-manggut pertanda mengerti. "bagaimana kami mengetahui pemuda itu salah satu dari ketiga orang yang akan dipilih Rena?" ucap Hanan meminta penjelasan.
"Rena akan merasakan getaran cinta saat bertemu pemuda tersebut. rasa cinta yang murni bukan karena pengaruh sihir. cinta itu akan tumbuh dan menghapus semua memori tentang pria bejad yang sudah membuatnya menderita." pak Ucok kembali menarik nafas berat.
"ketika Rena meminta kalian menikahkanya dengan pemuda pilihannya, maka turutilah keinginannya." ucap Pak Ucok lagi.
"dan satu lagi, ajak Rena shalat tahajjud, agar untuk mempercepat kesembuhannya." ucap pak ucok lagi.
__ADS_1
"baiklah pak, kami memgerti. demi kesembuhan Rena, kami akan melakukannya." ucap Hanan mantab. lalu diikuti anggukan Nisar dan Ocha.
****
Rena merasakan hawa dingin menjalar diseluruh tubuhnya. Ia mengerjapkan matanya yang terasa berat, namun sulit untuk dibuka. kepalanya terasa pusing. pengaruh obat tidur tersebut begitu sangat kuat. Ia hanya merasakan ada guyuran air keseluruh tubuhnya.
Ia memaksa membuka matanya, saat sebuah tangan menyapu wajahnya dengan air beraroma perasan jeruk nipis. Ia trus memaksa membuka matanya yang terasa berat. Ia terperanjat dan segera bangkit dengn sempoyongan.
Ia begitu terkejut mendapati dirinya berada dikamar mandi dengan tubuh tanpa busana dan basah kuyup. Ia melihat seorang wanita yang berumur 30-an tahun sedang bersamanya didalam kamar mandi. Ia memukul-mukul kepalanya dengan pukulan sedang, untuk mengembalikan kesadarannya.
"mengapa saya berada dikamar mandi? ibu siapa?" ucap Rena bingung berdiri dengan tunuh yang sempoyongan.
Ia memandang banyak kembang berada dilantai kamar mandi, potongan jeruk limau dan jeruk purut, serta ramuan lainnya, dengan aroma yang begitu menyengat. tubuhnya harum dengan berbagai jenis kembang, membuatnya tambah pusing.
"ibu siapa? mengapa saya berada dikamar mandi? dan ini kembang untuk apa?" ucap Rena dengan memegangi kepalanya pusing.
bu Ratih telah menyelesaikan ritualnya. Ia mengambil handuk dan membalut tubuh Rena dengan handuk tersebut. lalu menuntun Rena yang masih bingung.
Rena yang masih bingung dengan apa yang terjadi, menuruti saja apa yang dilakukan bu Ratih. bu Ratih membawa Rena kekamarnya, menyalin dengan baju ganti yang bersih.
setelah bersalin pakaian Ia dibawah keruang tengah, menemui pak Ucok dan yang lainnya.
"wah...anak gadis baru bangun tidur..lelap sekali tidurnya?" goda pak Ucok kepada Rena. yang lain tertawa melihat wajah bingung Rena. namun mereka bernafas lega, karena Rena akan segera menjemput kebahagiaannya. hampir 3 tahun Ia menderita karena perbuatan si Bernard sialan.
"awas kau Bernard, tunggu pembalasanku, cukup sudah kau membuat adikku menderita selama ini." rutik Hanan dalam hatinya.
"jangan membalas dendam pada seseorang yang telah mendzhalimi kita, serahkan semuanya pada Allah. yang penting Rena akan sembuh" ucap pak ucok yang membaca isi hati Hanan.
Hanan yang disindir terperanjat, lalu menundukkan kepalanya. dan pak Ucok terkekeh melihat Hanan yang kepergok ingin berniat membalas dendam.
hari mulai malam, mereka berpamitan pulang, lalu menyamkan sebuah amplop berisikan uang sebagai ucapan terimakasih kepada pak Ucok,bkarena dengan perantaranya Rena sudah membaik, dan akan sembuh.
mereka beranjak pulang, Hanan memapah tubuh Rena yang sempoyongan.bdan sesampainya didalam mobil, Rena kembali terlelap ,ternyata pengaruh obat tidur, serta guyuran air mandi kembangnya membuatnya kembali mengantuk. lalu dibuai mimpi.
"Han, dosisnya gak berlebihankan yang kamu campur ke air minum untuk Rena tadi?" ucap Ocha kepada Hanan. Ia melihat Rena sepertinya belum sadar juga.
"entahlah, lupa.. soalnya tadi mencampurnya karena emosi" ucap Hanan sembari mengangkat bahunya.
Ocha menggelengkan kepalanya. "dasar.. laki-laki, menyelesaikan masalah itu pakai otak ,jangan pakai emosi." ucap Ocha menggerutu.
__ADS_1
Hanan dan Nisar saling pandang, lalu terkekeh. Nisar melajukan mobilnya untuk kembali pulang kerumah.