
seminggu pasca perawatan, kondisi paman Rasyid mulai membaik. Rena dengan telaten merawat pamannya. Ia berharap membalas budi baik pamannya, sebelum nantinya Ia akan menikah, tentunya tidak akan dapat lagi merawat pamannya.
Rena selalu menjaga menu diet pamannya. asupan kalori yang sesuai rekomendasi dokter. ada beberapa sayuran tidak boleh dimakan, dan itu harus dipatuhi. pelarangan pemakaian seosoning atau penyedap masakan. semua aturan itu telah di terapkan Rena dalam memasak menu diet paman Rasyid.
****
Rena berbelanja di pasar tradisional se kambing, Medan. Ia memasukkan setiap barang belanjaan kedalam keranjang.
setelah selesai, Rena bergegas pulang. Ia menunggu angkot.
suasana siang ini begitu sangat panas, matahari bersinar sangat terik. Rena mencoba menutupi matanya dengan jemarinya yang seperti orang sedang menghormat. Ia memantau setiap angkot yang datang, mencari sesuai jurusan kejalan Gatot Subroto.
sebuah mobil menepi di dekatnya. mobil yang sangat Ia kenal. pemilik mobil itu menurunkan kaca mobilnya. " masuk.." ucap Ridwan dari dalam mobil.
Rena mengangguk, sembari memasuki mobil. "Ntar mobil kamu bau tak sedaplah, Rid." ucap Rena sungkan, sembari meletakkan keranjang belanjanya dilantai mobil.
"Gak apa-apa koq..ntar kalau sudah menikah juga akan begini, jika memgantar istri belanja.." ucap Ridwan, sembari melirik ke arah Rena.
[deeeeg..] jantung Rena berdetak kencang, mendengar penuturan Ridwan. Ia merasa kikuk.
"Ren...ntar malam kita ketemuan ya..? aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.." ucap Ridwan penuh harap.
Rena menjadi gelisah. mungkin sudah saat Ia memberitahu Ridwan begitu juga dengan Rehan, tentang perasaan mereka padanya.
Tidak baik jika Rena harus menggantung perasaan keduanya. karena itu sangat menyakitkan.
Rena menarik nafasnya dengan berat. "dimana kita ketemuan..?" ucap Rena lirih.
"di cafe Rooftop..ntar aku kabari alamatnya." ucap Ridwan bersemangat.
Rena membalas dengan senyum datar.."haruskan aku patahkan harapannya." Rena berguman lirih dalam hatinya.
"Rid...aku turun disimpang saja ya..soalnya masih ada yang harus aku beli.."
"oh..iya.." jawab Ridwan, sembari menepikan mobilnya.
"makasih ya Rid...atas tumpangannya." ucap Rena sembari tersenyum.
Ridwan menjawab dengan anggukan, sembari tersenyum lebar. hatinya tengah berbunga.
****
Rena meletakkan keranjang belanjanya, membersihkan semua bahan, lalu memyimpannya dilemari es.
Rena memasuki kamanya, membaringkan tunuhnya diranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya. "bagaimana nantinya jika aku berkata jujur..? apakah itu akan menyakiti hati..?" Rena berguman lirih.
Rena terus berfikir, bagaimana caranya merangkai kata untuk menyampaikannya kepada Ridwan, tanpa melukai hati pria itu.
****
__ADS_1
Rena telah bersiap-siap hendak menemui Ridwan. Rena sudah mengetahui lokasinya. tadinya Ridwan ingin menjemputnya. namun Rena menolak, dengan berbagai alasan.
tentunya Ia takut akan dimarahi oleh bang Nisar, jika sampai tau Ia keluar bersama pria lain, sedangkan Ia sudah bertunangan dan sebulan lagi akan menikah.
Rena meminta ijin keluar kepada bang Nisar, beralasan akan membeli sesuatu sebagai cindera mata untuk hari pernikahannya nanti.
Rena menggunakan stelan jumpsuit berbahan jeans. memadukannya dengan highless berwarna putih. Ia bersiap untuk pergi, dengan menggunakan jasa abang betor.
****
Ridwan berulang kali melirik arloji dipergelangan tangannya. senyum selalu menghiasi bibirnya. pemuda tampan itu tak mampu mengukirkan perasaannya dengan kata-kata.
Ridwan telah menyiapkan sebuah cincin yang indah untuk diberikannya kepada Rena malam ini.
Ia telah lama sekali menyimpan cincin pemberian ibunya. cincin itu sudah turun menurun diberikan kepada oleh orang terdahulu mereka. dimulai dari nenek buyutnya.
cincin itu begitu berharga bagi setiap anggota baru yang akan menjadi bagian dari keluarga mereka nantinya.
Rehan, yang kebetulan sedang mengadakan pertemuan dengan rekan kerjanya, untuk membahas membangun cabang yayasan yang akan mereka dirikan, dicaffe yang sama. Ia melihat Ridwan dari kejauhan sedang menanti seseorang.
sifat jahilnya seketika muncul. Ia ingin menggoda Ridwan. "siapa yang sedang ditunggu si Ridwan..? jika Ia sedang menunggu kekasih, berarti aku tidak perlu lagi bersaing dengannya untuk mendapatkan Rena." ucap Rehan sembari tersenyum nakal.
Ia tiba- tiba muncul dihadapan Ridwan yang sedang berkhayal indah tentang Rena. namun seketika wajahnya berubah menjadi masam dan ambyar, saat mengetahui saingannya berada disatu caffe yang sama dengannya.
"ciiiieee...ketahuan sedang mengkhayal jorok ya..?" tuding Rehan, sembari mengarahkan jari telunjukknya kearah Ridwan.
" lagi nungguin kekasih hati ya.." ucap Rehan, dengan nada menggoda.
Ridwan bingung, "mengapa sih, anak ini terus muncul saat Ia akan bersama Rena..sudah seperti nyamuk saja, ada disetiap tempat." rutuk Ridwan dalam hatinya.
dari kejauhan, Ridwan melihat Rena muncul dengan hanya menggunakan setelan anak ABG, sedangkan Ia sudah bergaya stylist. namun tetap saja Rena terlihat sangat manis baginya.
Rehan yang penasaran dengan arah pandangan Ridwan, mengikuti arah pandangannya. alangkah terkejutnya Ia dengan apa yang dilihatnya. Ia syok...tak menyangka jika yang ditunggu Ridwan adalah Rena.
hatinya berdegup kencang dengan pandangan terperangah, lalu melihat kearah Ridwan,nyang tersenyum mencibir, merasa menang karena telah mengalahkan Rehan.
"ka...kalian janji ketemuan..?" Ucap Rehan terbata..
"Iya..kasihan deh..lu..kalah dalam perang..!!" ucap Ridwan mencibir.
Rena telah sampai ditempat yang ditunjuk Ridwan . tak kalah dari Rehan, Rena juga sama terkejutnya. Ia tak menyangka jika Rehan juga bersama dengan Ridwan.
Rena mengira jika Ridwan yang mengundangnya. "wah..kenapa bisa kebetulan ada Rehan juga..?" ucap Rena, dengan senyum datar. Ia semakin kikuk menghadapi kedua pemuda ini.
Namun hati Rena berkata " sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui, mungkin ini rencana Allah yang terbaik, lebih baik mereka patah hati sekarang, dan akan sembuh bersama waktu" Rena berguman dalam hatinya.
Rehan masih terdiam, Ia tidak menyangka jika Ia kalah cepat dari Ridwan. namun sesaat dugaannya ditepis, saat Rena mengucapkan sebuah kalimat.
"kebetulan sekali kalian ada disini..aku ingin mengatakan sesuatu.." Rena menjeda ucapannya.
__ADS_1
"apakah kau ingin memilih satu diantara kami..?" sergah Ridwan.
"kalian adalah pria baik, dan bukan sesuatu yang harus dijadikan sebagai pilihan.." ucap Rena dengan tetap berusaha tenang.
Rehan dan Ridwan saling pandang satu sama lain, menanti kalimat Rena selanjutnya, dengan penuh debaran.
"maafkan aku..jika nantinya kata-kataku dapat menyakiti perasaan kalian." ucap Rena dengan nada yang terus dijaganya.
Ia begitu takut jika nantinya kedua pemuda itu akan terluka. namun Ia harus tegas untuk perasaannya.
"maksud kamu apa Ren..?" Ridwan menyela ucapan Rena. kotak cincin yang sudah Ia pegang ditangannya, ditahannya masuk kembali kedalam saku tuxedonya.
Ia merasakan kalimat Rena seperti sebuah isyarat kekecewaan.
"sebulan lagi aku akan menikah, dengan sepipu Amy yang kalian lihat waktu dikampus tempo hari.." ucap Rena memberanikan diri mengungkapkannya. dengan wajah terus menunduk, tak mampu memandang kedua pemuda itu.
"a..apaa..?" ucap kedua pemuda itu bersamaan. raut wajah mereka seketika berubah mendung.
seperti disambar petir disiang bolong, tanpa aba-aba mendung, dilangit yang cerah lalu petir menyambar dengan tiba-tiba. tentu sangat mengejutkan bagi siapa saja yang mengejarnya.
hati keduanya seolah tersayat ribuan silet.. sakit tak berdarah. keduanya merasa sesak meskipun tidak memiliki riwayat TBC.
seorang pria juga akan merasakan hal yang sama jika sedang patah hati, hanya berbeda penyalurannya saja.
Ridwan dan Rehan saling pandang, keduanya adalah korban perasaan yang tak sampai.
"maafkan aku.." ucap Rena dengan nada sendu.
"Tidak ada yang perlu disalahkan.. jodoh adalah rahasia Allah, kita sebagai manusia hanya bisa menerima kapan, dan siapa jodoh kita kelak." ucap Rehan membesarkan hatinya, meski terluka.
"Selamat ya Ren, semoga Ia menjadi imam yang baim untukmu. doaku selalu untukmu" ucap Ridwan menimpali. hatinya yang semula tengah berbunga, kini layu sebelum berkembang.
kedua pemuda itu mencoba menahan perasaan luka dihatinya, karena mereka tak ingin melihat Rena semakin merasa bersalah.
Rena tanpa terasa menangis haru.."kalian benar-benar pria yang baik..semoga kalian menemukan seseorang yang mampu menjadi cinta sejati kalian." ucap Rena tulus.
tanpa aba-aba..kedua pemdua itu menepuk lembut pundak Rena. "kita akan tetap berteman, selamanya." ucap keduanya bersamaan.
"terimakasih atas pengertian kalian.." ucap Rena terisak.
kedua pemuda itu mengangguk dengan senyum yang dipaksa.
"aku permisi untuk pulang, aku takut jika ada keluarga Amy yang melihat bersam kalian akan menjadi salah sangka.." ucap Rena dengan nada sendu.
"sebulan lagi aku akan kirimkan surat undangan untuk kalian. kuharapkan kalian datang dihari pernikahanku nanti." ucap Rena, sembari beranjak bangkit dati duduknya.
Kedua pemuda tampan itu memgangguk. "aku permisi.." ucap Rena sembari berlalu meninggalkan kedua pemuda yang kini terluka dan merana.
mereka sama-sama merasakan korban perasaan kasih tak sampai.
__ADS_1