
Setelah meminum obat pemberian dari Ibunya, perlahan Duma mulai mereda dari menggigilnya. Wina mengecup unung kepala puterinya, rasa penyesalan yang tak mampu bisa dikembalikan seperti semula.
"Kita makan yu, Ibu sudah memasak untukmu" ucap Wina dengan lembut. Lalu membantu gadis itu naik ke kursi roda, dan mendorongnya keluar kamar menuju meja makan.
Disana sudah ada Fredy hang menunggunya dengan siap untuk makan siang bersama mereka yang untuk pertama kalinya.
Wina membantu Duma untuk duduk dikursi makan, dan membenahi letak duduknya.
Saat Wina hendak menyendokkan nasi ke piring untuk Duma, suara klakson mobil terdengar didepan rumahnya. Karena penasatan, Ia mengjentikannya dan mencoba melihat siapa yang datang.
Alangkah terkejutnya Ia saat melihat seotang gadis tengah berdiri didepan rumahnya.
"Kamu...? Mengapa bisa secepat ini?" Tanyanya bingung dan seakan tak percaya.
Gadis itu tersenyum sumringah, menenyeng beberapa boks makanan cepat saji, lalu menghampirinya dan memberikan pelukan yang hangat
"Siapa sangka kita bisa bertemu disini, Bu? Ternyata bumi itu sempit, hanya selebar daun kelor." ucapnya menirukan sebuah pribahasa.
"Kan tadi Aku bilang ditelefon kalau Aku pulang kampung, siapa sangka ternyata kampung kita sama dan hanya berjarak 45 menit saja dari rumah orangtuaku" ucap Adillah sumringah.
Wina tersenyum tipis. "Mari masuk, kebetulan kita akan makan siang menjelang sore, mari makan bersama" Wina menawarkan.
Lalu Adillah menganggukkan kepalanya. Disana sudah Duma dan seorang pria renta.
Adillah menyalim pria renta itu, lalu menyapanya, ada getaran aneh merasuk didalam aliran darahnya, entah itu apa.
Lalu Ia beralih kepada Duma "Hei... Apakah sudah lebih baik dari kemarin?" sapanya lembut.
Duma hanya menganggukkan kepalanya. Lalu Wina membuka boks makanan yang dibawa oleh Adillah yang merupakan ayam goreng kentucky. Mereka makan bersama sembari bercengkrama.
Setelah selesai makan, Adillah membantu membereskan sisa piring kotor tersebut. Lalu kembali bergabung didalam perbincangan mereka.
"Nanti datang ya, Bu. Dihari pernikahanku, namun berbeda dengan hari resepsinya. Kakek dan Kamu juga ya, Dik" ucap Adillah bersemangat. Nanti tanggalnya saya kabari lagi, tapi munglin dalam seminggu ini acaranya." Adillah mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Jika tak ada halangan kami akan datang dengan senang hati" ucap Wina dengan sumringah.
"Makasih ya, Bu" ucap Adillah dengan perasaan yang begitu sangat bahagia.
Lalu Ia berpamitan pulang karena akan ada urusan lain yang akan membantu Rena, Mamanya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang terkesan begitu cepat dan mendadak.
Wina mengantarnya hingga didepan pagar, lalu kembali kedalam dan membawa Duma kekamar untuk beristirahat.
******
Hanif menerima paket surat rekomendasi dari kantor KUA untuk Ridwan karena menikah diluar daerah.
Lalu Hanif menuju catatn sipil, Ia merubah data diri Adillah dan juga akta kelahirannya. Meski mengalami sedikit masalah, namun Ia segera menyelesaikannya.
Dalam hitungan menit saja semuanya sudah hampir selesai. "Mengapa 'Binti-nya dirubah, Pak?" tanya petugas itu dengan penasaran.
"Karena nisbatnya bukan binti ke saya, namun.." Hanif menjeda Ucapannya. "Ganti binti Abdullah saja" Titahnya kepada petugas itu.
Meskipun banyak mendapat pertanyaan, Hanif hanya menanggapi dengan senyum datar saja.
Setelah menyelesaikan semuanya, Hanif pulang kerumah dengan perasaan yang tak menentu. Ia tak tahu harus menjawab apa jika sampai Adillah melihat seluruh data-datanya berubah.
Sesampainya dirumah, Adillah tampak sedang memilah pernak-pernik untuk hadiah para tamu undangan.
"Papa" ucapnya saat melihat Hanif membawa amplop coklat yang bertuliskan Kop surat dari KUA. Ia tak sabar untuk melihatnya, lalu menyambar amplop itu untul melihat isinya.
"Ja...jangan" cegah Hanif, namun terlambat, Adillah telah membukanya.
Seketika wajahnya yang semula ceria mendadak suram dan senyum dibibirnya menghilang. Ia memandang wajah papannya, meminta penjelasan dari apa yang sedang dibacanya.
Sesaat Rena muncul dari arah kamar, dan melihat ketegangan antara Hanif dan Adillah yang tampak diam mematung.
"Ada apa sayang?" tanya Rena bingung melihat kedua insan itu mematung.
__ADS_1
Seketika raut wajah Adilah berubah mendung " Siapa Abdullah, Pa? Mengapa Aku bukan anak Papa lagi" tanya Adillah dengan nada penasaran bercampur air mata yang tak mampu dibendungnya.
Seketika Rena terperangah, Ia tak mengetahui nika Hanif, suaminya, telah merubah srmua data-data tentang anak gadisnya itu.
"Hamba Allah, kamu adalah anak Hamba Allah, namun air susu Mamamu telah mengalir ditubuhmu" jawab Hanif setenang mungkin "Dan hal itu yang yang membuatmu memiliki ikatan dengan Khanza dan Kami, karena kamu adalah anak susuan Mamamu." Hanif menjelaskan kembali.
Seketika Adillah terduduk lemah dilantai. Rena bergegas menghampirinya. Lalu memeluk gadis yang kini sedang terluka itu.
"Mengapa baru sekarang Dilla mengetahuinya, Ma?" tanya Adillah meminta penjelasan.
"Maafkan, Papa. Ini semua harus diluruskan, karena ini menyangkut syariat Islam. Pernikahanmu bisa tidak sah, dan kamu akan melakukan zinah seumur hidup jika menikah menggunakan binti Papa" Hanif mencoba menjelaskan. Ia berharap Adillah menerima kenyataan yang ada, daripada Ia akan menanggung dosa dari pernikahan puterinya itu jika sampai menyembunyikan identitas asli sang gadis.
Rena memberikan pelukan cintanya kepada Adillah. "Maafkan kami sayang" ucap Rena mengecup lembut ujung kepala puterinya. "Dalam syariat, Papamu tidak dapat menjadi Wali nikahmu" ucap Rena dengan hati-hati.
"Lalu siapa orangtuaku sebenarnya, Ma, Pa" tanya Adillah dengan linangan air matanya.
Rena menggelengkan kepalanya "Maaf, Sayang. Mama dan Papa tidak tahu, karena kami menemukan seoarang diri dipinggir jalanan sepi ditengah malam, saat Mama dan Papa baru pulang dari rumah sakit saat melahirkan Khanza." Rena mencoba menceritakan kenyataan yang sebenarnya.
Adillah merasakan dirinya begitu sangat nelangsa. Ia bahkan dibuang oleh orantuanya, dan diadopsi penuh cinta oleh keluarga yang begitu sangat dermawan.
"Saat itu kamu sangat kehausan, kebetulan ASI mama sangat melimpah, lalu mama ikut menyusuimu. Oleh sebab itu kamu menjadi muhrim Khanza dan juga Papamu" ucap Rena menjelaskan kembali.
Adillah menyeka air matanya, Ia memeluk erat wanita didepannya. "Terimakasi, Ma. Sudah memberikan segalanya buat Adillah" ucapnya denhan tersedu.
"Apakah nanti kak Ridwan tetap mau menikahiku, jika mengetahui aku bukanlah anak kandung Papa dan Mama?" tanya Adillah sembari tersedu.
"Jika Ia mencintaimu dengan tulus, maka Ia kan tetap mencintaimu tanpa sebab apapun" ucap Rena meyakinkan hati puterinya yang kini sedang rapuh.
Hanif menghampiri puterinya, lalu ikut memberikan dekapan cinta kepadanya. "Kami bukan orangtua kandungmu, tetapi cinta kami untukmu sama besarnya dengan yang kami berikan untuk Khanza" ucap Hanif mencoba membesarkan hati gadis itu.
Khanza yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan itu, mencoba menghampiri saudara sesusuannya itu. Kakak tetaplah kakakku,dan tidak akan berubah, selamanya" ucap Khanza menguatkan hati kakaknya yang kini Ia tau sedang hancur menerima kenyataan yang ada.
Adillah semakkn tersedu menerima kenyataan hang ada, antara tak percaya dan juga terharu atas ketulusan cinta dari keluarga angkatnya itu.
__ADS_1