
Duma semakin gelisah saat pertemuannya dengan Khanza di Mall siang tadi. Ia tidak mengira jika pemuda itu menyukai tante-tante muda.
Duma memasuki kamarnya dengan perasaan semakin gelisah dan kalut.
Ia duduk bersila, membayangkan wajah pemuda tersebut. Namun Ia merasa sangat sial, karena wajah itu tak mampu Ia bayangkan. "Siaall.. Mengapa aku tidak membayangkan wajahnya.. Apa yang sebenarnya terjadi..?" ucap Duma dengan perasaan kesal. Ia merasakan jika seseorang telah ikut campur atas urusannya.
"Sepertinya ada seseorang yang sengaja mencoba untuk menghalangi niatku.. Namun siapa..? Berani sekali Dia."Duma berguman geram.
Gadis itu terus berusaha melafalkan mantranya, namun tak juga dapat membayangkan wajah pemuda itu Ia semakin kesal dan semakin meradang, karena tak mampu menembus bayangan wajah sang pemuda.
Duma mengacak rambutnya. Kekesalannya semakin bertambah setelah Ia melupakan untuk membeli makanan untuk makan siangnya.
Sementara itu, Khanza menuju kamar mandinya. Ia menuruti perintah Hanif untuk memandikan air limau itu keseluruh tubuhnya.
Khanza memulai ritual mandinya. Ia tidak menyadari jika air limau yang diberikan Hanif kepadanya untuk menangkal dari tindak kejahatan ilmu pelet seseorang.
Khanza pun segera memandikan air limau tersebut. Lalu Ia merasakan hal aneh dalam dirinya. Perlahan perasaan akan gadis aduhai itu kian memudar dan mulai luntur rasa debaran yang bersemayam didalam dadanya selama ini.
Khanza telah selesai dengan ritual mandinya, lalu bersalin pakaian dan menemui papanya kembali.
"Pa.. Khanza sudah selesai mandinya." ucap Khanza memberikan laporan kepada Hanif.
Pria itu memandang sang putera.."Duduklah.." titahnya. Lalu Khanza segera menuruti perintah sang Papa, duduk bersila menghadap Hanif.
"Dengarkan nasehat Papa.." ucap Hanif semabri menatap lekat wajah sang Puteranya." jangan pernah memakan apapun pemberian dari sang Gadis yang engkau curigai, menerima tissu beraroma wangi, permen, dan sebagainya.." Hanif mencoba mengingatkan.
"jika berpapasan dengannya, jangan pernah mencoba untuk menatap matanya, karena itu akan memudakan sihirnya merasuki hatimu dengan cepat." ucap Hanif menuturkan semua nasehatnya.
Khanza mengangguk mengerti, meskopun Ia bingung dengan apa uang diucapkan oleh Hanif.
__ADS_1
"Apakah ilmu pelet itu ada Pa..?" tanya Khanza penasaran.
"Ya.. Dan jenisnya ada dua macam.. Hitam dan putih.. Namun keduanya berfungsi membuat hati seseorang terasa terikat, dan tak mampu melepaskan diri dari sipemikat.." jawab Hanif mencoba memberi pengertian kepada puterany, agar tidak meremehkan keberadaan ilmu pemikat tersebut meski diera zaman modren saat ini.
Khanza menganggukkan kepalanya, pertanda mengerti.
"Dan asalkan kamu tahu, Mamamu sewaktu gadisnya adalah korban dari ilmu pelet tersebut.. Dan hampir saja Ia gila karena pengaruhnya yang sangat kuat, jika saja pamanmu Hanan tidak menolongnya, maka tidak akan ada kamu didunia ini.." ucap Hanif mencoba membuka lembaran kelam sang Istri.
"Apaaa..?! Mama pernah menjadi korban dari ilmu pelet..?" ucap Khanza seakan tak percaya dengan apa yang bary saja didengarnya.
"Ya.. Namun takdir berkata lain, Ia terselematkan dengan cepat. Jika tidak, Ia mungkin sudah mati bunuh diri, karena mencintai pria tersebut yang sengaja mempermainkan hati dan dirinya.." ucap Hanif kembali dengan pandangan nanar menatap Khanza.
"Bagaimana ceritanya Papa bisa bertemu dengan Mama..? Papakan tinggal dipekan Baru, sedangkan Mama waktu itu di Medan..?" tanya Khanza penasaran.
"Kamu kepo banget jadi anak.." jawab Hanif dengan senyum tipis.
Khanza yang sudah terlanjur kepo terus mendesak Papanya untuk menceritakan kisah pertemuan Papa dan Mamanya.
Sementara itu, Rena yang tak sengaja mencuri dengar percakapan suami dan anak lelakinya itu, merasakan hatinya sangat berbunga. Bagaimana mungkin tidak, saat seorang suami menceritakan tentang kebaikannya saat Ia tidak ada, itu adalah kebahagiaaan yang sangat mendalam dihati seorang istri manapun.
Bahkan hatinya seolah bergetar saat mengetahui ketulusan cinta sang suami terhadapnya, yang hanya wanita biasa, namun menjadi luar biasa, ditangan seorang pria yang istimewa.
Rena mencoba mengetuk pintu, memanggil kedua pria kesayangannya.
"Hubby.. Khanza.. Mari makan siang.. masakannya sudah siap.." ucap Rena, dengan suara sedikit bergetar.
Cintanya kian tumbuh dan berkembang diusia pernikahan mereka yang kini menginjak hampir 22 tahun lamanya.
"Iya Ma.. Sahut Khanza, dengan penuh semangat, lalu beranjak bangkit meninggalkan Hanif yang masih duduk bersila.
__ADS_1
Hanif kemudiqn menyusul puteranya yang sudwh terlebih dahulu keluar dari kamar.
Ia melihat sang putera yang berjalan sembari merangkul Rena, Istrinya. Iaenggelengkan kepalanya, karena kini putreanya sudah mencuri cinta sang istri dari dirinya.
Mereka bertiga sudah duduk di meja makan, bersiap akan makan siang, menyantap hidangan yang dimasak oleh Rena.
"Kita tunggu Adillah sebentar ya, Ia sudah diperjalanan menuju kemari, bersama calon tunangannya.." ucap Rena memberikan kabar kepada kedua pria tersebut.
Seketika Hanif mengernyitkan keningnya. "Calon Tunangan..?!" tanya Hanif mengernyitkan keninganya.
"Iya sayang.. Tadi Adillah baru saja memberi tahu akan mengenalkan calon tunangannya kepada kita.. Sebentar lagi kita akan mempunyai cucu donk.." jawab Rena tampak bahagia, namun tidak bagi Hanif, karena ada sedikit masalah yang harus diluruskan.
"Apa yang harus aku lakukan..? Jika sampai Adillah menikah, maka akan terbongkar siapa dirinya sebenarnya.. Dan bintinya akan dipertanyakan tentunya.. Tidak mungkin kami harus terus menutupi bintinya dengan namaku.." ucap Hanif dengan kegelisahan yang sangat dalam.
"Ada apa Hubby.. Kenapa terlihat sangat gelisah.." tanya Rena dengan raut wajah penasaran.
"Tidak ada sayang.. Hanya sedikit kaget saja, membayangkan kelak dipanggil kakek.." jawab Hanif mencoba berbohong.
Wajah pria itu tampak gelisah, membayangkan wajah puterinya, jika sampai mengetahui jika Ia hanyalah puteri yang dipungut dipinggir jalan ditengah malam gelap gulita.
Lalu bagaimana juga mereka menjelaskan semuanya kepada gadis yang tengah berbahagia itu, agar tidak melukai hatinya.
"Sepertinya mereka sudah dekat" ucap Rena yang membuka pesan masuk kepalikasi Whatshaap-nya. Wajah Rena tampak sumringah, menyambut kehadiran sang puterinya yang sudah hampir sampai menuju rumahnya.
"Sudah sampai mana Kak Adillah Ma..? Perut Khanza sudah keroncongan ini.. Mana sup buatan Mama aromanya menggoda lagi.." Celoteh Khanza bak seorang anak kecil.
"Sabar sayang.." jawab Rena dengan lembut. Bersamaan dengan itu, suara deru mesin mobil tampak memasuki halaman rumah mereka.
Ketiganya berhenti berbicara, menantikan orang yang mereka tunggu masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Rena beranjak bangkit, untuk menuju pintu utama, dan menyambut sang calon menantu, yang telah membuat hati dan hari-hari sang puteri merasa bahagia.
Ia kini berada diambang pintu, dengan senyum sumringah. Namun seketika senyimnya memudar, saat melihat siapa yang berada disisi sang Puteri, begitu juga dengan sosok pria yang berjalan dengan Adillah, seketika diam mematung, menatap wajah seseorang, yang kini berdiri dihadapannya.