
Toni berpamitan pulang pada kakaknya, sebenarnya Ia iba melihat kondisi Rena. namun Ia juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan ibunya dirumah yang seorang diri.
dini hari malam tadi, bang Nisar sepupunya sudah berada dirumah. Ia baru saja pulang mengurus bisnisnya di luar negeri. melihat kedatangan Toni, Ia begitu bahagia. karena adik sepupunya itu sangat jarang bermain kerumahnya.
Toni diantar Nisar ke stasiun siang ini, maka dipastikan Toni sampai kekampung halaman sekitar pukul 20.00 wib malam. Toni diajak berkeliling kota Medan, menaiki mobil alphard miliknya, Nisar membawa Toni ke Istana Maimun kebanggaan kota Medan sebagai wisata cagar budaya.
setelah puas menjelajahi kota Medan, Nisar membelikan oleh-oleh kesukaan Munah, bibinya. Ia membelikan makanan khas kuliner kota Medan, yaitu Bika Ambon.
makanan satu ini, memilki ciri khas yang begitu unik dalam setiap gigitannya, memanjakan lidah orang yang memakannya. rasa gurih, lemak, manis serta aroma rempah khas daun jeruk purut serta serai, membuatnya menggugah selera.
Nisar membelikan 8 boks sekaligus, sekalian untuk dibagikan kepada saudara yang juga bertempat tinggal dikampung yang sama.
Toni sudah berada distasiun, Ia berpamitan kepada Nisar, abang sepupunya. Nisar menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu, untuk diberikan kepada Munah, bibinya.
Toni menunggu kereta api datang. setelah kepala kereta menyatu dengan gerbong, Ia menaiki gerbong kereta, mencari kursi penumpang sesuai dengan nomor yang tertera ditiket.
saat Ia duduk, matanya tertuju pada seorang gadis yang asyik dengan handphonenya, gadis itu duduk berhadapan didepan kursinya. setelah ditelisiknya, ternyata gadis itu Amel, gadis cantik yang selalu memberikan perhatian padanya.
"hai.." sapa Toni sembari sepatunya menyentuh ujung sepatu Amel, gadis yang dicolek sepatunya terkejut, menghentikan aktifitas dengan handphone blackberry nya. Ia menoleh melihat siapa yang sudah sangat jahil padanya.
dengan terperangah ia berteriak "Tooni.." teriakannya hampir terdengar ke penumpang lainnya. Ia tersipu malu karena dipandangi banyak orang, lalu membekap mulutnya sendiri.
seketika matanya berbinar. siapa sangka tanpa sengaja Ia bertemu pujaan hatinya didalam gerbong kereta yang sama, dengan kursi yang berhadapan. sekian lama Ia ingin jalan berdua dengan pria itu, namun tak pernah kesampaian. tapi takdir mempertemukan mereka didalam gerbong kereta.
"dari mana?" sapa Toni lembut. Ia mentap Amel dengan senyum termanisnya, membuat hati gadis itu semakin tak karuan.
"aku liburan kerumah tante yang dibinjai, kamu sendiri dari mana?" ucap Amel antusias.
"sama, aku liburan jenguk kakakku." jawab Toni dengan santai.
"gak bilang sih, kalau bilangkan bisa barengan kemaren waktu perginya." ucap Amel cemberut.
"maaf, aku mendadak dan tidak ada perencanaan." ucap Toni jujur.
Amel mengangguk, lalu mereka ngobrol sepanjang perjalanan. kali ini, perjalanannya begitu sangat mengesankan dan menyenangkan.
saat berada di stasiun Bamban, ada penumpang yang duduk disebelah Toni turun, lalu Amel berinisiatif untuk pindah kursi sebelah Toni. mereka melanjutkan obrolan mereka. Amel yang sudah lelah mengobrol, merasa mengantuk, lalu tertidur dipundak Toni. terbuai mimpi bertemu pangeran tampannya, bersandar pada pundak pangeran itu.
****
Toni tiba dirumahnya, Ia kesulitan membawa 8 boks bingkisan bika Ambon, tadi Ia memberikannya 1 boks untuk Amel, dan satu untuk Bondan yang sudah menjemput dari sejak kepergiannya kemarin.
kini ada 6 boks lagi Ia tenteng dengan kedua tangannya. "Assallammualaikum.." ucapnToni dengan penuh kerinduan terhadap ibunya.
__ADS_1
"wa'alaikum salam" jawab Munah, yang melangkah dari dapur menuju depan pintu, lalu membukanya.
[kreeeek...] suara pintu dibuka, mendapati Toni yang berada didepan pintu, Ia memeluk anak bungsunya, menciumi pipi Toni seolah bertahun lamanya tak pernah bertemu. Toni mencium tangan ibunya. Ia memberikan 6 boks bingkisan Bika Ambon. mata Munah berbinar menerimanya.
"banyak banget sayang. siapa yang beli?" ucap Munah dengan lembut.
"bang Nisar yang beli bu, katanya ambil buat ibu 3 boks, sisanya bagiin sama keluarga dan tetangga."ucap Toni menjelaskan.
Munah mengangguk mengerti, lalu mencium aroma wangi gurih bika Ambon tersebut, Lalu Ia teringat akan Rena "Gimana kabar kakakmu Rena, sayang?" uvap Munah, namun tiba-tiba handphone Toni berdering, satu panggilan masuk.
melihat nama pemanggil yang ada dilayar handphonenya, Ia berucap kepada Munah, "bu, aku terima panggilan telefon dulu ya? ada urusan penting." ucap Toni sembari beranjak mencari tempat yang sepi. Ia terlihat begitu serius dalam obrolan dengan lawan bicaranya, Munah yang melihat itu segera berlalu kedapur, ingin segera memotong kue tersebut, dan memakannya.
setelah selesai dengan telefonnya, Toni menyusul masuk ibunya kedapur. mengambil sepotong bika Ambon dan mengenyamnya. "gimana kabar kakakmu Ton?" ucap Munah yang belum mendapat jawaban dari Toni, karena panggilan telefon tadi.
"emmmm...baik koq bu, kak Rena kirim salam sama ibu" ucap Toni berbohong. Ia ingin merahasiakan ini semua dari ibunya. sebelum dapat menyelamatkan kakak perempuannya.
****
"ok, Ton. abang akan segera kesana." ucap Hanan, kakak tertua Rena dan Toni. Ia sedang bertelefon dengan Toni.
Hanan, kakak tertua Rena, memiliki firasat yang tidak baik terhadap adik perempuan satu-satunya. Hanan bekerja di perkebunan karet milik Goodyear sumatera Plantations, namun kini beralih menjadi Brightstone sumatera rubber estate.
kakaknya hanyalah karyawan biasa, sebagai penyadap karet. Ia menghadap mandor lapangan untuk meminta cuti. setelah mendapatkan cuti, Ia menyusun rencana untuk menyelamatkan adik perempuannya.
setelah memasuki kota Medan, akhirnya Ia sampai di rumah paman Rasyid. Ia mengetuk pintu, dan ternyata kebetulan Nisar yang membukanya. baru saja kemarin Toni yang datang, kini Hanan abang sepupunya juga datang. Nisar sedikit penasaran dengan kedatangan sepupunya itu dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Hanan, mari masuk." ucap Nisar ramah.
Hanan yang terlihat kelelahan, masik kerumah, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa jati nan empuk milik paman Rasyid. Ia menarik nafas berat.
"makanlah kamu dulu?" ucap Nisar dengan ramah. Ia melihat wajah lelah adik sepupunya.
"tadi sudah makan dijalan bang, aku mau ketemu Rena" jawab Hanan dengan wajah yang terlihat khawatir.
"emangnya ada masalah apa?" ucap Nisar penasaran. karena kesibukannya mengurus bisnis, sehingga Ia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dirumahnya.
Hanan lalu menceritakan segala informasi yang didapatnya dari Toni. Nisar mendengarkan dengan seksama. Ia tak menyangka jika sesuatu yang buruk telah menimpa Rena.
Nisar berjanji akan membantu adik-adik sepupunya untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi Rena.
Hanan meminta ijin kekamar Rena, lalu beranjak berjalan menuju kamar yang disebutkan Nisar. Ia mengetuk pintu kamar Rena yang sedari tadi terkunci. tak lama pintu kamar terbuka. Ia melihat Rena mematung didepan pintu.
seketika Ia terperangah melihat kehadiran kakak tertuanya yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Ia menghamburkan diri, memeluk kakaknya. Ia terisak dalam pelukan kakaknya. entah tangisan apa yang sedang ditangisinya saat ini.
Rena melepaskan pelukannya. menyalim kakaknya. matanya terlihat sembab, seperti habis menangis dalam waktu yang cukup lama.
__ADS_1
saat ini, Hanan melihat kondisi adik perempuannya yang begitu miris. tubuh ceking dengan mata sembab. tatapan matanya kosong. Ia melihat bahwa adiknya dalam pengaruh ilmu sihir.
"kenapa abang tiba-tiba datang?" ucap Rena sembari menyeka air matanya.
"abang kangen sama kamu" ucap Hanan, Ia seperti rapuh, melihat kondisi adiknya yang sangat memprihatinkan.
"jalan-jalan yuk, abang pengen ajak kamu makan." ucap Hanan, yang berusaha menahan air matanya agar tak sampai jatuh. Ia begitu mengutuk pria yang sudah membuat adiknya menderita.
Rena mengangguk, lalu menyalin pakaiannya. setelah berpamitan dengan Nisar, mereka keluar untuk pergi. sesaat handphone Hanan berdering. seseorang diseberang sana sedang berbicara padanya.
"iya.. secepatnya" hanya itu kalimat yang didengar Rena.
Hanan meminta Rena memakai helm, lalu duduk diboncengan. motor milik Hanan melaju menuju suatu tempat.
****
Hanan menuju kota Binjai, Rena kebingungan mengapa abangnya sampai keluar kota Medan. setelah menempuh perjalan 30 menit, mereka sampai disebuah rumah minimalis, yang letaknya sedikit jauh dari keramaian.
seorang pria berusia 40-an tahun menyambut mereka. gayanya sangat modis. Ia terlihat seperti sudah mengetahui kedatangan mereka.
"mari masuk" ucap pria tersebut, dengan ramah.
pria berbadan kekar dengan raut wajah yang terlihat ramah, mempersilahkan kami masuk. bang Hanan berpelukan dengan Pria itu, sepertinya mereka saling mengenal dan sering bertemu. terlihat sangat akrab.
"apa kabar pak ucok?" ucap bang Hanan
"alhamdulillah baik" ucap pria yang dipanggil pak ucok.
"ini adikku yang kuceritakan semalam pak" ucap Bang Hanan kepada Pak ucok.
Rena kebingungan. sebernarnya apa yang direncanakan Hana kepadanya. Ia masih bertanya-tanya dalam hatinya.
Pak Ucok memandang Rena seksama. "siapa namanya" ucap pak Ucok, sembari mengalihkan pandangannya kepada bang Hanan.
"Rena " jawab bang Hanan singkat.
"apa-apaan ini" ucap Rena dalam hatinya, Ia kebingungan dengan semua yang terjadi.
sesaat pak Ucok memejamkan matanya, berkonsentrasi penuh. seketika tubuhnya tersentak, Ia membuka matanya, memandang Rena dengan membulatkan matanya. ada rasa keterkejutan yang sangat luar biasa.
pak ucok mengalihkan pandangannya pada Bang Hanan. "adikmu terkena pelet Pemikat Sukma" ucap pak ucok kepada bang Hanan.
bang Hanan membulatkan matanya, menggeram dengan berat. nafasnya tersengal dengan detak jantung yang memburu.
lalu mereka
__ADS_1