
Hanif sampai dirumah dengan kondisi sangat lelah. Hari ini pekerjaannya sangat menguras otak. rencana pembangunan waterpark di Dumai sudah hampir selesai.
"sayang, Hubby besok akan ke Dumai, mungkin beberapa hari disana. Kamu ikut tidak? Mungkin mau bawa Khanza dan Adillah bersama." ucap Hanif kepada Rena.
Rena memandang Hanif sekejap, lalu menghela nafasnya. "sepertinya Ren lagi gak enak badan bby, lain kali nanti Ren pastikan akan ikut." Jawab Rena dengan lirih. Sebenarnya Ia ingin ikut pergi, namun kondisi tubuhnya saat ini sedang tidak fit.
"Ya sudah, beristirahatlah. Semoga lain kali sayang bisa ikut." ucap Hanif. Sebenarnya Ia menginginkan Rena ikut bersamanya, karena perjalanan tanpa Rena membuatnya seperti serasa hambar.
ย
Hanif sampai dilokasi pembangun Waterpark. Hampir sempurnah. Namun entah mengapa Ia seperti tidak seperti bersemangat untuk melakukan pekerjaan.
Hanif memasuki ruangan yang nantinya akan digunakan sebagai ruangan kantor pribadinya saat berkunjung nanti.
Kriiiiiiing
Seseorang menelefonnya. Satu panggilan masuk dari mandor lapangan yang menagani pekerjaan itu.
"Ya hallo, ada apa..?" ucap Hanif kepada sang mandor.
"Bos, ini sekretaris dari pemegang kontraktor proyek ingin bertemu untuk melakukan negosiasi tentang penambahan harga untuk pembangun kolam renang air panas yang diluar dari perencanaan semula." uvap mandor Tami kepada Hanif.
"oh.. Iya, suruh Ia menemui saya diruangan kantor ." jawab Hanif dengan tegas.
"baik bos.." ucap Mandor Tami, sembari mengakhiri telefonnya.
ย
Tok...tok..tok..
Suara ketukan pintu dari luar ruangan.
"masuk.." ucap Hanif. Ia masih fokus dengan layar laptopnya. Ia sedang mengamati laporan yang diberikan oleh Mandor Tami kepadanya.
Suara derap langkah kaki menggunakan higless terdengar sangat jelas. Lalu langkah itu berhenti tepat didepan meja Hanif.
"duduk..!" titah Hanif, yang masih fokus dengan layar laptopnya.
wanita tersebutpun duduk dikursi didepan meja Hanif.
"mana berkas...nya" ucap Hanif terpotong saat mengetahui siapa orang yang ada dihadapannya.
Seketika Hanif membuang muka dengan malas. Lalu menghela nafasnya dengan kesal.
"mengapa kamu ada disini?" ucap Hanif kesal.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum sinis. "sejak 3 bulan yang lalu? Kenapa?" tanyanya dengan tatapan penuh arti.
"apa kau sengaja untuk bekerja disini?" ucap Hanif penuh selidik.
"hanya kebetulan saja.." jawabnya dengan tatapan menjelajah pria dihadapannya.
Hanif merasa risih dengan tatapan seperti itu. "tinggalkan berkas itu disini dan segera keluar dari ruangan saya." titah Hanif.
Seketika, raut wajah Wanita itu berubah. "mengapa kau begitu membenciku Hanif..? Satu kesalahan yang ku lakukan membuatmu meninggalkanku begitu saja.?!" ucap Wanita itu dengan nada menghiba.
Hanif memandangnya dengan tatapan dingin. "kau hanya masa laluku Wina, dan lupakan semua hal tentang kita..!" ucap Hanif penuh penekanan.
"tapi aku belum bisa move on dari kamu Hanif..!" ucapnya dengan isak tangis.
Hanif memalingkan wajahnya. "aku sudah beristri, dan jangan pernah kau hadir hanya untuk menjadi duri dalam rumah tanggaku" ucap Hanif penuh penekanan.
Wina semakin memainkan perannya. "aku rela menjadi istri keduamu.." Wina menawarkan dirinya.
Hanif beranjak dari kursinya. Lalu menghampiri Wina. "keluarlah, sebelum kesabaranku habis untuk mengusirmu..!" ucap Hanif sedikit kasar.
Wina bangkit dari duduknya, meletakkan berkas penawaran kerjanya. Lalu menghampiri Hanif. "kau tidak perlu repot mengusirku, aku bisa keluar sendiri. Tetapi.." Wina menggantung ucapannya.
"tetapi apa..?!" tanya Hanif penuh selidik.
Dengan cepat Wina meraih kepala Hanif, lalu menyambar bibir pria yang sedang tidak siaga itu. Ia ********** dengan dengan hasrat.
Plaaaaak..
"keluar..!! Sebelum aku melemparmu dari ruangan ini..!" ucap Hanif dengan penuh amarah.
Wina memegangi pipinya yang terasa panas dan sangat perih, pipinya yang putih merona tampak bekas 5 jari Hanif yang mendarat dengan kasar.
Hanif membuang wajahnya, tatapannya penuh amarah.
Wina melangkah keluar sembari terisak. Ia menutup dan membanting pintu dengan keras, dan berlari menuju kamar kecil. Sesampainya dikamar mandi, Ia menyandarkan tubuhnya didinding sembari memejamkan matanya.
"lama aku mencarimu, hingga akhirnya aku menemukanmu disini tanpa sengaja. Aku masih menyimpan rasa itu." Wina berguman lirihbdalam hatinya.
7 tahun berlalu, namun bayangan Hanif tak mampu lepas dari ingatannya. "aku mencintaimu, masih seperti dahulu. Bahkan kau semakin tampan. Bagaimana mungkin aku bisa menghapusnya?" Wina meratapi hatinya.
Ia menarik nafasnya dengan berat. Lalu menuju cermin yang tersedia dikamar kecil tersebut.
Ia memandang wajahnya yang terdapat bekas cap 5 jari hadiah dari Hanif.
ย
__ADS_1
Hanif kembali kekursinya, Ia mencuci bibirnya berulang kali menggunakan air mineral. Ia merasa sangat jijik dengan dengan ciuman itu.
Ia meraih berkas dari Wina, la memeriksanya. Setelah memberikan beberpa persetujuan, Ia mengembalikan berkas itu kepada mandor Tami.
Hanif menjadwalkan kepulangannya lebih awal. Iabtidak ingin terjebak lagi dengan wanita masa lalunya itu.
Setelah menyelasaikan urusannya dengan mandor Tami, Hanif kembali pulang ke Pekanbaru.
ย
Sesampainya dirumah, Hanif segera menuju kamarnya. Ia melihat Rena sedang tertidur pulas. Khanza dan Adillah sedang bermain dituangan bermain.
seramgan ciuman mendadak dari Wina membuatnya merasa panas. Bagaimanapun Ia hanyalah manusia biasa dan masih normal.
Dengan menyimpan hasratnya, Ia segera membersihkan diri dikamar mandi.
Setelah itu Ia mengganti pakaiannya dengan hamya berpakaian santai.
Rena, wanita yang sudah memberikannya seorang putera yang tampan dan menggemaskan, adalah wanita yang selalu sederhana. Tanpa pernah shoping ini itu dan perawatan yang juga tidak terlalu mengkuras kantong.
terkadang Hanif memberikannya uang untuk perawatan ke salon, namun Ia lebih memilih untuk melakukannya dirumah. Ia hanya membeli alat-alatnya saja.
Ia mendekati Rena ke atas ranjang. Menatap wanita yang Ia cintai sepenuh hatinya. Ia mencuri ciuman Rena ketika wanita itu sedang tertidur.
Lama Ia meresapinya. Hingga nalurinya menginginkan sesuatu yang lebih. Rena yang merasakan sesuatu menyentuh bibir dan anggota tubuhnya, merasa sangat kaget. Ia membuka matanya, saat akan berteriak karena kaget, Hanif sudah membungkamnya dengan ciuman penuh hasarat.
Setelah menyadari jika orang itu adalah suaminya, akhirnya Rena pasrah saja. Namun Ia masih bingung, mengapa suaminya mendadak pulang cepat dan tiba-tiba melakukan serangan dadakan.
Setelah menuntaskan hasratnya, Rena yang masih tersengal dan dalam dekapan tubuh Hanif yang kekar merasa sesak. "bby..jangan gini amatlah.. Ren Sesak ne .." ucap Rena memberitahu keluhannya.
Hanif cuma nyengir, lalu merubah posisi tubuhnya. Ia hanya melingkarkan tangannya dipinggang ramping milik Rena.
"Hubby kenapa tiba-tiba pulang mendadak.?" tanya Rena penasaran.
"Hubby takut disana..!" jawab Hanif dengan matanya yang masih terpejam.
Rena mengernyitkan keningnya ada rasa bingung dihatinya. " takut kenapa Bby..?" tanya Rena kembali.
"Ada singa disana, Hubby takut diterkam.." jawabnya asal.
Rena manggut-manggut.. "Ooo..gitu ya..?" ucap mengerti.
"he..eh.., sudah, gauk usah banyak tanya, temenin saja Hubby bobok." ucapnya, sembari mendekap tubuh Rena dan Hanif tertidur.
~ beri bintang 5 pada pojok novel dan komentar ya.. Buat menyemangati author๐๐๐๐~~
__ADS_1